
Wahyu dan Bella sedang asik bercengkrama di atas motor yang Wahyu kendarai. Mereka baru saja selesai makan siang di tempat kesukaan mereka. Dan saat Wahyu ingin mengantar Bella ke kliniknya, dari jauh mereka melihat Dini yang sedang sendirian melamun di kedai.
Bella meminta Wahyu untuk menurunkannya sampai di situ saja. Karena Bella ingin menemui Dini. Wahyu pun menuruti permintaan Bella. Setelah itu Wahyu pamit untuk bekerja lagi.
Bella berjalan mendekati Dini. Walau Bella sudah duduk di samping Dini, tapi Dini masih betah untuk tetap melamun.
"Melamunin siapa hayo", ucap Bella sambil menyenggol bahu Dini dengan bahunya.
"Udah tau pake nanya", jawab Dini ngambek.
"Ih jutek banget sih!", balas Bella ikutan ngambek.
Dini menjelaskan pada Bella jika dirinya sama sekali belum bisa melupakan Alan. Bayangan Alan selalu saja menghantui dirinya. Ia ingin mengikhlaskan Alan walaupun sesungguhnya Dini ingin bersama dengan Alan. Bella menjadi heran mengapa Dini mengatakan hal seperti itu. Dini pun menghela napasnya. Ia menjelaskan lagi antar Alan yang kastanya lebih tinggi sangat jauh dari Dini. Mana mungkin orang tua Alan mau mempunyai menantu seperti dirinya.
"Kamu nggak boleh mikir kayak gitu. Kan belum tentu juga keluarga Alan seperti itu".
"Tapi, kemungkinan itu adakan? Aku nggak apa-apa kok. Jika memang Alan bukan jodohku".
"Nggak apa-apa gimana? Mata kamu aja udah sembab gitu. Uuwweek", ucap Dini yang di akhiri dengan suara akan muntah. "Aku juga lagi nggak enak badan deh dari kemarin. Mual, pusing, nggak selera makan...".
"Bel, kamu itukan bidan. Masa kamu nggak tau tanda-tanda sedang hamil....".
Bella langsung membekam mulut Dini. Bella menyuruh Dini untuk diam dan jangan bicara terlalu kuat. Jika tidak orang-orang yang ada di sekita mereka akan mendengarnya. Dini pun tersenyum. Ia mendapatkan suatu ide. Ia berusaha melepaskan tangan Bella dari mulutnya.
"Dengar semuanya! Bidan kita, Bella ternyata lagi hamil loh..!", teriak Dini mengumumkan kabar baik itu.
Bella begitu kesal dengan Dini yang dengan tanpa persetujuannya mengumumkan kehamilannya yang mana suaminya saja belum mengetahuinya. Dan semua yang mendengarnya ikut berbahagia. Mereka mengucapkan selamat kepada Bella. Tidak ketinggalan Bi Jujuk yang memberikan sekantong penuh buah mangga.
"Bu bidan, tapi mangganya mateng-mateng semua. Nggak ada yang muda. Tapi enak kok", ucap Bi Jujuk.
"Makasih ya Bi. Jadi, nggak enak nih".
__ADS_1
"Terus buat aku mana Bi? Masa cuma Bella yang di kasih", oceh Dini cemburu.
"Duh, gimana ya. Soalnya ini spesial untuk bu Bidan yang lagi hamil. Emang Dini hamil juga?"
"Ya, enggak sih. Tapi, Dini kan mau juga Bi", celetuk Dini. "Bel, bagi dong".
Bukannya membagi pada Dini, Bella malah mengejek Dini dengan menjulurkan lidahnya. Dini pun semakin kesal dengan Bella. Lalu, Dini beranjak dari duduknya dengan langkah yang di hentak-hentakkan. Melihat Dini yang menuju ke arah motornya, Bella juga buru-buru mengikuti Dini dan langsung duduk di bangku belakang saat Dini telah menaiki motornya.
"Nggak gratis ya. Kalau mau bayar pakai 2 mangga", celetuk Dini lagi
"Iya, iya. Kok jadi kamu sih yang kayak orang ngidam!", ucap Bella kesal.
Akhirnya mereka berdua pun pulang menggunakan sepeda motor. Karena harus mengantar Bella, Dini harus melewati rumahnya terlebih dahulu. Namun, Dini menghentikan motornya karena melihat rumahnya seperti kedatangan seorang tamu.
"Mobilnya bagus Din, jangan-jangan juragan kaya mau beli tanah abah", kata Bella menebak.
Tapi, Dini membenarkan perkataan Bella. Ya, mungkin saja hal itu memang terjadi. Dan Dini tidak ingin Abah menjual tanahnya ke pada siapapun. Bisa-bisa warga desa tidak punya mata pencaharian lagi. Begitulah yang ada di pikiran Dini.
Dini mengajak Bella untuk ke rumahnya terlebih dahulu melihat situasi yang sedang terjadi. Mereka pun masuk ke halaman. Dini buru-buru masuk ke rumahnya.
Namun langkahnya terhenti begitu melihat seorang pria tampan dengan berpakaian rapi serta rambut yang juga tertata dengan baik. Ia mengenali pria itu. Hanya saja penampilannya yang sekarang begitu memukau. Memakai pakaian sederhana saja sudah sangat tampan. Konon melihatnya seperti itu.
"Alan", ucapnya pelan.
Alan tersenyum melihat Dini. Begitu lucu melihatnya yang kaget dan mematung. Bella pun penasaran dan mengikuti Dini. Ia mengintip dari belakang badan Dini setelah mengucapkan salam.
"Hai Mas Alan", sapa Bella dari belakang badan Dini.
"Hai Bel", ucap Alan sambil tersenyum.
"Cie, yang mau dilamar...".
__ADS_1
Dini langsung menutup mulut Bella. Ia begitu malu dengan ucapan Bella. Dini terus melototi Bella untuk menyuruhnya diam. Semua orang tersenyum melihat tingkah Dini yang salah tingkah itu.
"Oh, jadi ini Dini, anak kamu", ucap Mira kepada Sarah. "Nggak ada mirip-mirip sama kamu deh. Malah cantiknya mirip sama aku", sambung Mira lagi.
"Mungkin, waktu Sarah hamil, dia kangen sama kamu sayang", jawab Ibnu terkekeh.
Mereka pun tertawa mendengar ucapan Ibnu. Dini menjadi bingung dengan situasi yang dilihatnya. Khayalannya mengenai keluarga Alan yang elit, berwibawa dan akan memandang rendah dirinya musnah begitu saja saat melihat mereka begitu akrab dengan kedua orang tuanya. Bahkan mereka terlihat seperti remaja yang sedang berkumpul bareng sahabatnya.
"Eh, Bel. Kamu ngerasa ada yang aneh nggak?", bisik Dini pada Bella
"Aneh gimana? Biasa aja tuh", jawab Bella santai.
"Ck!", Dini sangat kesal pada Bella.
Lalu, Emak teringat dan langsung menyuruh Dini untuk bersalaman serta berkenalan dengan kedua orang tua Alan. Lalu Bella juga ikut bersalaman dengan mereka. Emak menjelaskan bahwa kedua orang tua Alan adalah sahabat mereka. Tapi, Emak tidak menceritakan detailnya karena ceritanya sangat panjang.
"Eh, Din ini sih kayaknya kalian langsung sah", celetuk Bella lagi.
Dini benar-benar kesal pada Bella yang tidak bisa menjaga omongannya. Membuatnya malu dan mati kutu.
"Oh iya, kalian abis dari mana?", tanya Alan.
"Oh iya, aku lupa harus nganterin Bella pulang. Dia nggak boleh jalan soalnya lagi hamil. Ntar kecapean lagi", balas Dini.
"Apa? Bella hamil?", ucap Abah, Emak dan Alan bersamaan.
"Terus aja Din umumin ke semua orang", ucap Bella yang kesal pada Dini.
"Balasan!", ucap Dini mengejek Bella. "Om, Tante, Dini permisi dulu ya. Nganterin Bella", ucap Dini sambil tersenyum manis.
"Iya, cantik. Tapi, jangan lama-lama ya. Tante mau ngobrol sama kamu", jawab Mira yang membalas senyuman Dini.
__ADS_1
Dini begitu tersipu malu mendengar pujian dari Mira. Wajahnya memerah dan senyumnya juga belum memudar. Ia pun semakin selah tingkah di hadapan mereka. Belum lagi Bella yang selalu menggodanya. Dan Alan yang juga selalu melihatnya sambil terus tersenyum padanya.
***