Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab. 11 Mengakhiri Kesedihan


__ADS_3

Hah, kira-kira gimana ya rasanya waktu itu saat Dini memberikan napas buatan untukku? ucap Tejo dalam hati sambil berbaring di atas ranjangnya.


"Astaghfirullah, kok pikiran aku ke sana mulu sih? Sadar Tejo! Ingat kamu masih hilang ingatan. Seharusnya kamu mikir gimana mendapatkan petunjuk yang bisa menunjukkan siapa diri kamu sebenarnya, bukan malah mikirin napas buatan mulu!", lanjut Tejo kesal dengan isi kepalanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Tejo memejamkan matanya sembari mengingat sesuatu. Tapi, semakin Tejo berusaha pikirannya malah balik lagi pada Dini.


"Kenapa? Kenapa yang ada di pikiranku cuma Dini? Masa sedikitpun aku nggak mengingat sesuatu. Apa yang sebenarnya terjadi sampai aku hanyut di sungai? Tapi, kemarin sekilas ada bayangan anak-anak yang banyak sekali. Siapa mereka? Dan apa hubungannya denganku?Aaarrrggghhhh", Tejo menekan kepalanya karena terasa sangat pusing.


Tejo sudah sangat suntuk berada di kamar. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tejo memutuskan keluar dari kamarnya untuk menghilangkan penat di kepalanya. Namun, saat keluar dari kamarnya Tejo melihat Dini sedang berada di teras rumahnya. Tejo melangkahkan kakinya untuk memastikan apakah Dini sendirian atau tidak.


Ternyata memang benar, Dini sedang duduk sendirian. Dan dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tejo menghampirinya lalu menyapanya. Lamunan Dini buyar setelah melihat Tejo datang lalu duduk bersamanya. Masih melekat kejadian tadi tentang pengakuannya sebagai orang yang telah melakukan napas buatan. Sempat Dini menyesal telah mengatakannya, karena ia malu pada Tejo. Dan sekarang entah apa yang dipikirkan Tejo tentang dirinya.


"Kamu lagi mikirin apa sih? Sampai sekarang masih ada di luar", tanya Tejo yang ingin tau.


"Aku nggak yakin mau cerita sama kamu Jo. Terakhir kali kamu marah saat aku mengungkapkan isi hatiku pada Wahyu sampai saat ini", jawab Dini yang ragu.


"Oh, jadi kamu lagi mikirin Wahyu", tebak Tejo.


"Ya, aku merasa sedih aja. Kok kayaknya gampang banget dia nikah sama wanita lain. Tanpa ngasih tau aku terlebih dahulu. Ya, setidaknya aku harus taulah kalau dia udah di jodohkan sebelum ia sah menjadi suami wanita lain", ungkap Dini seperti ingin membela dirinya.


Hm, tadi katanya gak yakin mau cerita. Eh malah sekarang di ceritain, batin Tejo. Tapi, Tejo tetap diam menjadi pendengar yang baik untuk Dini. Ia masih ingat bahwa dirinya hanyalah orang asing diantara mereka.


"Waktu itu, Wahyu memberikanku hadiah sebuah cincin. Terus dia berjanji akan segera menikah denganku. Di situ aku senang banget, bahkan rasanya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata seberapa senangnya aku", lanjut Dini lagi.

__ADS_1


Lalu, Dini tersenyum dan menundukkan kepalanya. Ia menarik napas panjang dan menaikkan kepalanya lagi, "Tapi, janji tinggallah janji. Aku yang sudah terlalu berharap mendapatkan luka sayatan di hatiku saat aku tahu dia akan menikah dengan wanita yang telah dijodohkan dengannya. Mimpiku untuk hidup bersamanya selamanya telah sirna".


"Emangnya, sulit banget ya melupakan Wahyu?", tanya Tejo pada Dini.


Dini menatap Tejo sambil mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa Tejo nggak paham-paham juga apa yang dia rasakan. Dini sudah menceritakan semuanya dan itu sangat jelas jika Dini sangat sulit melupakan Wahyu.


"Ya, kan pria di dunia ini, atau di desa ini nggak cuma Wahyu. Kenapa kamu nggak cari pengganti Wahyu aja?", lanjut Wahyu lagi.


Dini masih saja mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti kearah mana perkataan Tejo, "Pengganti?"


"Iya, misalnya aku", jawab Tejo dengan cepat.


Dini kaget mendengar jawaban Tejo. Apakah Tejo serius dengan ucapannya ya? Pikir Dini. Saat itu, Dini merasa hatinya berbunga-bunga. Tapi, dia sadar kembali bawa Tejo tidak mungkin serius. Dini mengira Tejo hanya ingin menghiburnya saja.


"Siapa yang bercanda, aku serius", ungkap Tejo yang telah memutuskan untuk jujur dengan perasaannya. "Sebenarnya, aku sudah jatuh cinta padamu, Din. Tapi yah, aku sadar aku disini hanya orang asing yang hilang ingatan dan tidak jelas asal usulnya. Di dalam ingatanku hanya ada kamu, Din. Aku nggak apa-apa jadi pelampiasan hatimu jika memang kamu ingin belajar melupakan cintamu kepada Wahyu. Atau anggap aja aku sedang membalas budi padamu untuk membuatmu tertawa dan bahagia lagi", ujar Tejo yang mengharapkan Dini.


Dini bingung harus menjawab apa. Jika ditanya apakah dia senang, tentu dia sangat senang mendengar pengakuan Tejo. Tapi, ada yang mengusik pikirannya. Sehingga ia ragu untuk menjawabnya.


Di saat yang bersamaan, ternyata Abah mendengar pembicaraan mereka berdua. Abah pun menghampiri mereka, lalu duduk di antara mereka berdua.


"Kok Abah belum tidur?", tanya Dini yang terkejut.


"Abah dengar semuanya. Abah tidak keberatan, kalau Tejo mau membantu kamu melupakan masa lalu kamu", jawab Abah pada Dini.

__ADS_1


Walaupun Abah setuju, tetap saja ada mengganjal di hati dan pikiran Dini. Ia tidak dapat mengungkapkannya. Bisa-bisa menjadi beban untuk Tejo dan akan membuat bahaya kondisinya.


"Abah hanya ingin, melihat putri Abah bahagia dan melupakan kesedihannya. Masa depan masih panjang Nak. Kamu tidak harus berputar-putar di sini saja", lanjut Abah sambil membelai kepala Dini yang ditutupi hijab.


***


"Mas, bisa nggak sih sedikit aja kamu menghargai aku di sini sebagai istri kamu? Apa kamu gak malu di lihatin orang ngejar-ngejar Dini terus? Kalau orang tua kita sampai tau bagaimana?", ungkap Bella yang kesal dengan Wahyu.


"Bagus dong, kalau mereka tau. Sekalian biar mereka yang meminta kita bercerai. Aku juga udah bosan tiap hari sama kamu!", jawab Wahyu tak kalah kesal.


"Tega kamu mas sama aku! Aku istri sah kamu mas", ucap Bella sambil menangis.


Wahyu mencengkram pipi Bela dengan kuat, "Dengar ya, sedetik pun aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku!"


Kemudian Wahyu melepaskan cengkramannya dengan kasar. Ia langsung pergi masuk ke kamarnya dan membanting pintu tersebut. Bella yang masih menangis pun bertambah terkejut mendengar suara pintu itu.


Bak sebuah kaca yang terjatuh, begitu juga dengan hati Bella yang hancur berkeping-keping mendengar pengakuan Wahyu yang tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri bahkan sedetik pun.


Tubuh Bella serasa sudah tidak bertulang lagi. Ia terduduk lemas di lantai sambil meratapi nasibnya. Sejujurnya ia juga tidak tahan harus berhadapan dengan Wahyu yang tidak pernah menganggapnya. Bahkan Wahyu selalu bicara ketus padanya yang membuat hatinya berkali-kali terasa retak.


Tapi, untuk bercerai rasanya tidak mungkin. Mengingat pernikahan mereka yang masih seumur jagung. Apa kata orang-orang nanti? Dan bagaimana nanti perasaan kedua orang tuanya? Apalagi Bella akan menjadi janda, memikirkannya saja Bella sangat takut.


***

__ADS_1


__ADS_2