
Brak! Akan menutup pintu dengan kuat.
Plak! Ibnu menampar Alan saat ia berbalik badan.
"Kamu tidak pantas berkata sekasar itu pada istrimu!", ucap Ibnu geram.
"Ingat Alan, kamu sudah punya istri! Kamu tidak boleh mendekati wanita lain!", sambung Mira yang juga kesal.
Alan hanya diam dengan semua kemarahan yang di lontarkan kedua orang tuanya. Ia menatap mereka dengan malas. Setelah keduanya selesai berbicara Alan langsung bergegas meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya. Ia akan bermalam di sana.
Mira menjadi tidak tega dengan Dini karena mendapat perlakuan kasar dari anaknya. Namun, saat ia hendak masuk ke kamar, pintu kamar itu telah di kunci dari dalam. Mira terus saja memanggil-manggil nama Dini. Tapi, tidak ada jawaban dari dalam. Ibnu mencoba menenangkan Mira dan menyuruhnya agar memberi waktu pada Dini.
***
Pagi harinya, Alan yang sudah terbangun, bergegas ingin mandi. Tapi, ia masih kesal karena harus bertatapan muka dengan Dini lagi. Kalau bukan karena semua perlengkapannya di sana, ia tidak akan mau masuk ke kamar itu.
Dan ternyata saat Alan masuk ke kamarnya, tidak ada siapapun di sana. Ia kembali teringat gertakannya tadi malam pada Dini. Ia pun senang karena Dini menuruti perintahnya. Lalu, ia melihat pakaiannya telah tersedia di atas kasur. Tapi, dalam hati Alan ia tidak akan sudi memakai pakaian pilihan Dini itu
Dan tidak lama kemudian, setelah mandi pun Dini masih belum juga ada dikamar tersebut. Ia memandangi pakaian yang ada di atas kasur itu. Alan mengakui jika pilihan Dini tidak buruk. Hanya saja ia gengsi. Ia pun, membuka lemarinya dan memilih pakaian yang akan ia gunakan ke kantor.
Sudah beberapa kali ia bolak-balik baju jas yang tergantung di dalam lemari itu, tapi ia tidak menemukan warna dan model yang ia suka. Begitu juga dengan kemeja dan celananya. Apalagi celana pendeknya juga tidak di temukan olehnya. Ia lupa bahwa isi lemari itu telah di rubah sejak kehadiran Dini dikamar itu. Dan ia juga lupa jika setiap hari Dini lah yang menyiapkan pakaiannya dari dalaman hingga luaran.
"Din... Din...!", Alan tanpa sadar memanggil nama Dini sambil tetap mengobrak-abrik isi lemari tersebut.
Tapi, karena Dini tidak kunjung datang, dengan jengkel Alan berjalan ke arah pintu. Ia membuka sedikit pintu itu lalu meneriakkan nama Dini lagi. Setelah mendengar sahutan dari bawah, ia kembali ke lemarinya lagi untuk mencari lagi.
Klek! Dini buru-buru masuk ke kamar setelah mendengar dirinya dipanggil oleh Alan. Namun, dirinya terkejut ketika melihat isi lemari yang sangat berantakan.
"Astaghfirullah Mas, kok pada berantakan gini sih?", ucap Dini sambil berjalan ke arah lemari.
Ternyata Alan begitu terkejut melihat kedatangan Dini. Ia langsung menutup tubuh bagian atasnya yang belum menggunakan sehelai benang pun dengan kedua tangannya membentuk tanda silang. Sedangkan bagian bawahnya masih dililit oleh handuk.
__ADS_1
"Stop! Stop! Ngapain kamu ke sini? Kan aku udah bilang jangan menampakkan wajahmu di depanku!", ucap Alan dengan gugup.
"Lah, tadi kan Mas sendiri yang teriak-teriak manggil aku. Terus aku harus gimana?", jawab Dini yang terus menatap Alan.
Alan tersadar, memang benar tadi ia memanggil Dini. Tapi, ia melakukannya tanpa sadar. Tapi, ia tidak mau ambil pusing. Ia melihat Dini yang masih terus saja menatapnya.
"Kamu, ngapain liat-liat aku terus? Ayo berbalik!", pinta Alan ketus.
"Apaan sih Mas?", jawab Dini sebel.
"Nggak usah banyak tanya! Putar balik!", perintah Alan lagi.
"Biasanya juga telanjang, sekarang sok nyuruh putar balik, putar balik", gumam Dini mengejek sambil memutar balik badannya.
"Kamu bilang apa barusan?", tanya Alan yang mendengar ocehan Dini.
"Bilang apa? Nggak bilang apa-apa", jawab Dini berbohong.
"Sebenarnya kamu mau ngapain manggil aku mas?" tanya Dini yang telah lama berdiri menunggu Alan.
"Kamu sengaja ya, nyimpan semua pakaian aku di tempat yang hanya kamu yang tahu supaya kamu kelihatan perhatian sama aku!", jawab Alan masih ketus.
"Mas...", ucap Dini yang ingin menjawab sambil hendak menoleh ke arah Alan.
"Jangan lihat ke arahku!"
"Kamu sebenarnya nyari apa sih mas? Itu baju kerja kamu udah aku siapin", ucap Dini sambil menunjuk pakaian yang ada di atas kasur. "Kamu mau nyari apa lagi sampai berantakan semuanya".
"Aku nggak mau pakai yang itu! Aku mau pakai pilihanku!"
Dini menarik napas mendengar ucapan Alan. Ia mencoba menguatkan hatinya. Sampai sebegitu bencinya Alan terhadapnya. Sampai baju yang ia pilihkan pun Alan tidak mau memakainya.
__ADS_1
Bukannya Dini menyimpan pakaian-pakaian Alan di tempat rahasia. Hanya saja kebetulan seminggu ini orang yang biasa mencuci baju mereka tidak datang karena sakit. Dan akan kembali bekerja besok. Jadi memang pakaian sudah menumpuk. Awalnya, Dini ingin mencuci pakaiannya dan Alan sendiri. Karena menggunakan mesin cuci jadi, menurut Dini itu tidak terlalu merepotkan. Namun, ternyata Mira melarangnya dan akan marah padanya jika Dini tetap mencuci.
"Ya udah kalau kamu tidak mau memakainya!", jawab Dini cuek dan langsung keluar kamar.
"Eh tunggu! Aku mau tanya celana pendek ku dimana?", ucap Alan lesu saat ia tahu jika ia tidak akan mendapatkan apa yang dia cari.
Di dapur, Dini menyiapkan sarapan seperti biasanya. Karena memang keluarga itu begitu menyukai masakan buatan Dini. Dan tidak lama kemudian, anggota keluarga yang lainnya datang sudah bersiap untu sarapan. Termasuk Alan yang memakai pakaian yang telah tersedia di atas kasur tadi.
Dini sangat geli melihatnya. Ia menahan tawanya melihat Alan yang akhirnya mengalah pada dirinya sendiri. Dini sibuk memalingkan wajahnya agar senyumnya tidak di ketahui oleh Alan. Walaupun, Alan tahu jika Dini telah menertawakannya.
Dan setelah Alan duduk, Dini langsung bergegas hendak meninggalkan mereka. Mira memanggil Dini dan menanyakan padanya mengapa dirinya tidak ikut sarapan. Dini menjawab bahwa dirinya sedang berpuasa. Setelah itu tidak ada pertanyaan yang terlontar lagi padanya.
Dini kembali melangkah memasuki kamarnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam karena harus merapikan isi lemari yang berantakan itu.
"Kamu tau Al? Kamu akan menyesal jika kamu menyia-nyiakan istri sebaik Dini", ucap Ibnu sambil menikmati sarapan mereka.
"Apakah hanya Dini yang bisa menjadi istri yang baik? Tidak bisakah Mama dan Papa membuka hati untuk Sonia? Dia juga bisa menjadi istri yang baik untukku" jawab Alan dengan lugas.
Mira seketika menghentikan tangannya dan meletakkan sendoknya. Ia menatap Alan dengan tajam. Ibnu khawatir jika istrinya akan marah besar kepada anaknya.
"Kamu tau siapa yang mencuci baju yang kamu pakai ini? Dini, istri kamu", ucap Mira dengan wajah serius. "Minah sakit jadi, ia tidak bisa bekerja dalam seminggu ini. Tapi, untuk menghindari amarah Mama, Dini malah bangun pagi-pagi buta untuk mencuci sampai menyetrika baju kamu sendirian".
Alan terdiam sejenak mendengar cerita Mira. "Dari mana Mama tau semua itu?", tanya Alan yang tidak percaya.
"Mama melihat sendiri saat Mama terbangun dan ingin mengambil air minum. Mama melihat Dini dari depan pintu ruang laundry. Ia terlihat sangat mengantuk saat menyetrika baju kamu. Yah, memang sebegitu perhatiannya ia melayanimu. Jadi, Mama mohon jangan kamu sakiti hatinya. Lagi pula, pernikahan ini terjadi juga kalian yang saling mencintai. Tidak ada paksaan dari siapapun", ucap Mira panjang lebar.
Alan tertegun mendengar lanjutan cerita mamanya. Tidak dapat dipungkiri ada rasa kasihan pada hatinya untuk Dini. Dan juga rasa kagum atas tindakan yang Dini lakukan padanya. Ia tidak menyangka Dini begitu baik walaupun ia telah menyakitinya semalam. Ya, Alan sadar bahwa ia telah berkali-kali menyakiti Dini semalam.
"Jadi, tolong lupakan Sonia. Ia adalah masa lalu kamu!", sambung Mira.
Brak! Tiba-tiba Alan berdiri dan menghentakkan tangannya di atas meja. Ia tidak senang mendengar Mamanya menyebut Sonia adalah masa lalunya. Ia berjanji akan terus memperjuangkan Sonia untuk menjadi istrinya.
__ADS_1
***