Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 7. Nasi Goreng dan Tikus


__ADS_3

Di rumah keluarga Mahendra, Mira begitu sedih dengan nasib yang menimpa Alan. Mira terus saja menangis saat tahu Alan tidak di temukan di dalam jurang itu. Dan yang lebih membuat Mira bersedih adalah polisi memberitahukan kemungkinan Alan dimangsa binatang buas seperti harimau. Bisa jadi tubuh Alan di bawa entah kemana oleh binatang itu sehingga tubuh Alan tidak dapat mereka temukan.


Hal itu sungguh tidak masuk akal menurut Mira. Tapi, seandainya hal itu memang terjadi, Mira sangat kasihan pada anaknya yang malang. Bagaimana Alan bertahan menahankan rasa sakitnya. Alan pasti sangat menderita, pikirnya.


Ibnu memegang pundak Mira untuk menenangkannya. Ibnu juga menutup kedua matanya dengan tangannya. Ia pun ikut menangis mengingat Alan.


Malam itu adalah malam terberat bagi mereka. Rasanya tubuh mereka sedang tersambar petir. Tidak ada suara lain selain tangisan mereka yang sedang kehilangan putra mereka satu-satunya. Bahkan jika memang Alan sudah tiada, jasadnya pun tidak ditemukan. Hal itu pula yang membuat mereka semakin sedih dan terpuruk.


***


"Jo, Tejo!", Dini memanggil Tejo sambil menggedor-gedor pintu kamar Tejo.


Pagi hari, Dini membangunkan Tejo untuk sholat subuh. Tapi, Tejo sangat susah untuk di bangunkan. Akhirnya Dini kesal sendiri dan membiarkan Tejo tetap terjaga dalam mimpinya.


Setelah sholat subuh, Dini bergegas ke belakang rumahnya. Ia hendak mencuci pakaian. Langit masih tampak gelap. Tapi, memang begitulah keseharian Dini.


Tidak lama kemudian, Dini pun selesai mencuci pakaiannya. Ia mengangkat seember penuh berisi pakaian basah, lalu ia menjemurnya.


Dini merasakan aroma sedap yang tidak asing di hidungnya. Dini tahu pasti itu adalah nasi goreng buatan emak. Seketika perut Dini berbunyi. Dini pun buru-buru menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah itu, Dini berlari ke dapur untuk melihat ibunya yang sedang memasak nasi goreng kesukaannya. Dini menghirup aromanya dalam-dalam. Emak hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku anaknya.


Dini langsung mengambil piring, dan kembali lagi ke samping emak dengan menyodorkan piringnya. Dan tiba-tiba saja ada seseorang yang menyodorkan piring juga dari samping emak juga.


"Tejo? Sejak kapan kamu disini?", tanya Dini yang terkejut melihat kehadiran Tejo.


"Barusan, abisnya aku mencium aroma yang enak banget..", belum lagi Tejo menghabiskan perkataannya.


"Kebangetan kamu ya Jo. Aku dari tadi teriak-teriak manggil kamu, sampai jakun pun bakalan tumbuh di leherku! Kamunya nggak bangun-bangun juga. Aku kira kamu udah mati!", ucap Dini kesal.


"Ih, Dini jahat banget sih. Bilang aku mati", ucap Tejo pura-pura sedih. "Tapi, ya Din, setahu aku jakun itukan cuma ada pada pria. Haaahh, jangan-jangan kamu...."

__ADS_1


Dini menarik napas dalam-dalam. Malas menanggapi Tejo. Dini memalingkan wajahnya. Sikapnya seperti anak kecil yang sedang marah. Membuat Tejo sangat gemas melihatnya. Namun, Tejo menahan raut wajahnya agar tetap terlihat biasa saja.


"Sudah... pamali loh, marah-marah di depan makanan", ucap emak meleraikan Dini dan Tejo.


Emak pun mengisi piring Dini dengan nasi goreng yang sudah matang dan siap untuk di santap. Dini melengkapinya dengan telur ceplok yang sudah sedia di meja makan serta timun, tomat dan pastinya yang tidak pernah ketinggalan adalah kerupuk. Dan begitu juga dengan Tejo yang menyontek apa yang dilakukan Dini.


Dini membawa sepiring penuh nasi gorengnya ke ruang sebelah untuk makan sambil menonton tv. Tapi saat berjalan, melintaslah seekor tikus di depan Dini.


"A... ti.. tikus.. tikus...", teriak Dini kaget.


Tanpa Dini sadari, piring yang berisikan nasi goreng itu tercampak entah kemana. Dini menjadi heran dimana piringnya berada. Dini mencari-cari piringnya dan saat ia berbalik, ia menemukan Tejo yang kepalanya dihinggapi piring beserta nasi goreng milik Dini.


"Pfftt", Dini menahan tawanya melihat Tejo yang kacau karena ulahnya.


Tejo sudah memasang wajah kesalnya, namun dia menahan marahnya. Tentu saja Dini semakin lucu melihatnya.


Cit.. cit.. cit... Suara tikus itu terdengar lagi. Dan sontak Dini berteriak dan reflek melompat ke arah Tejo. Dan Tejo juga reflek menangkap Dini dan menjatuhkan piringnya juga. Tejo menggendong Dini ala bridal. Dan itu membuat mata mereka saling bertemu. Mereka merasakan seakan waktu berhenti. Hanya ada mereka berdua yang saling terpaut.


Seketika Dini tersadar ia sedang di gendong oleh Tejo. Itu membuat Dini kelabakan dan membuat jantungnya berdetak tak karuan.


"Turunkan aku Jo! Kamu mau ngambil kesempatan ya?", teriak Dini marah untuk menutupi kegugupannya.


Tejo yang kaget mendengar teriakkan Dini dan melihat Dini yang sedang digendongnya langsung melepaskan tangannya. Bruk! Dini pun terjatuh ke lantai.


"Aaau", rintih Dini sambil memegangi punggungnya yang terbentur lantai.


"Astaghfirullah, kamu gak apa-apa Din?", tanya Emak yang masih berkutat dengan penggorengnya.


Tejo angkat tangan sambil mundur beberapa langkah. Karena takut Dini memarahinya. Saat Dirinya berhasil keluar dari pintu belakang, ia kembali mengintip lagi.


"Mak, ternyata Dini berat juga ya?", ucap Tejo usil.

__ADS_1


"Tejo....!", teriak Dini sekuat-kuatnya.


Tejo langsung lari lintang pukang. Tapi, saat ia menoleh kebelakang malah menabrak pakaian yang di jemuran. Membuat beberapa pakaian terjatuh.


Dini yang berusaha mengejar Tejo dengan menahan rasa sakit di tubuhnya, langsung bertambah marah setelah melihat jemurannya berantakan.


"Tejo..!", teriakan Dini makin naik beberapa oktaf.


Tejo kembali lari terbirit-birit menuju kamarnya. Sampai di dalam kamar, Tejo langsung mengunci pintu kamarnya. Sambil mengatur napasnya.


"Ih, serem banget sih kalau udah marah gitu", ucap Tejo bergidik.


Tok.. tok.. tok... Dini mengetuk-ngetuk pintu kamar Tejo sambil mencoba membukanya. " Jo, keluar kamu! Cepat tanggung jawab!", Dini berteriak sangat kuat.


Dini tidak sadar para tetangga mendengar teriakannya. Dan mereka menjadi salah paham.


"Jo, pokoknya kamu harus bertanggung jawab! Kamu dah ancurin semuanya!", lanjut Dini.


"Maaf Tejo sedang tidak ada di kamar, silahkan meninggalkan pesan setelah bunyi Biiiib", ucap tejo yang langsung teringat kata-kata itu di benaknya.


Dini semakin kesal mendengar jawaban Tejo yang ingin menghindarinya. Tapi, saat Dini ingin menggedor pintu kamar Tejo lagi, tiba-tiba sekelompok emak-emak sudah berkumpul di belakang Dini.


"Nak Dini ada apa ini? Kenapa kamu meminta Tejo untuk bertanggung jawab? Emangnya apa yang telah Tejo lakukan sama Nak Dini?", tanya seorang dari ibu-ibu itu.


Tejo mendengar ada suara lain di luar. Dan Tejo mendengar dengan sangat jelas apa yang orang itu tanyakan. Ternyata hal ini membuat orang-orang desa salah paham. Tejo tidak tega harus membiarkan Dini sendirian menghadapi dan menjawab pertanyaan mereka.


Cklek! Suara pintu kamar Tejo terbuka. Semua mata pun tertuju pada Tejo yang keluar dari kamarnya.


***


 

__ADS_1


__ADS_2