Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 20. Aku Tidak Gila


__ADS_3

"Oh, jadi ini yang kamu lakukan kalau lagi di luar. Pantas sekarang kamu tidak pernah lagi membuatkan makanan untukku rupanya karena pria asing ini?", ejek Wahyu pada Bella.


"Wah, beneran? Kamu melakukan itu karena aku? Sumpah aku beruntung banget", jawab Tejo senang sambil memegang pundak Bella dan menatapnya.


Melihat hal itu, api di hati Wahyu semakin membara. Ia langsung turun dari motornya lalu menolak Tejo hingga sedikit terhempas kebelakang. Namun, Tejo tersenyum seperti mengejek Wahyu.


"Santai aja kali. Lagian, kamu juga nggak menginginkan dia kan? Sana kamu sama Dini aja biar aku yang membahagiakan Bella", lanjut Tejo sambil tersenyum pada Bella.


Bella juga ikut tersenyum pada Tejo. Hal itu jelas membuat Wahyu semakin naik pitam. Kali ini Wahyu mencengkram kerah baju Tejo dengan wajah yang sangat terlihat jelas sedang sangat marah.


"Jangan coba-coba kamu deketin Bella!", ucap Wahyu geram. "Nggak usah berlagak bodoh! Bella sudah punya suami, aku!", sambung Wahyu yang masih marah.


"Kamu, suami Bella? Masa? Bukannya selama ini kamu nggak pernah menganggap Bella sebagai istri kamu? Lagian barusan juga Bella bilang kalau di rumah dia seperti makhluk halus. Ada tapi tidak tampak oleh kedua matamu!", ucap Tejo yang nggak mau kalah.


Wahyu masih menatap tajam pada Tejo. Tapi, pikirannya bisa mencerna yang dikatakan Tejo. Ada sedikit rasa bersalah dirinya terhadap Bella. Dan entah mengapa hatinya begitu panas saat tau kalau istrinya curhat pada pria lain.


"Mas, cukup ya. Kamu udah keterlaluan pada Mas Tejo", ucap Bella membela Tejo sambil memaksa tangan Wahyu untuk melepaskan dari cengkramannya. "Kamu nggak usah sok peduli deh sama aku. Aku capek mas. Kalau mas mau kita bercerai sekarang aku siap kok!", lanjut Bella.


Wahyu menjadi diam seribu bahasa. Karena sebelumnya, Bella selalu berusaha mempertahankan pernikahan mereka. Tapi, sekarang malah sebaliknya. Wahyu menyangka bahwa Tejo yang telah mencuci otak Bella sehingga Bella bisa berkata seperti itu.


Kemudian, Bella menarik tangan Tejo untuk pergi meninggalkan Wahyu. Tejo tersenyum pada Wahyu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Wahyu terus menatap tajam Tejo yang sudah menghinanya. Ia sangat tidak rela jika Bella jatuh ke tangan Tejo.


Tidak lama kemudian, sampailah mereka ke rumah Bella. Sebelum berpamitan, Bella mengucapkan terima kasih pada Tejo karena telah membantunya dan membelanya di depan Wahyu.


"Nggak masalah Bel. Tapi, sepertinya tadi dia benar-benar marah deh. Kayanya dia nggak rela kalau kamu beneran jatuh ke tanganku", ucap Tejo.


"Sudahlah Mas. Aku udah malas membicarakannya", jawab Bella.

__ADS_1


***


Mira, ibu Alan masih saja bersedih dengan kepergian Alan yang begitu cepat. Tidak ada keceriaan lagi di wajah Mira. Bahkan hari-hari Mira, ia lalui dengan duduk di kursi roda, melamun sambil memeluk foto Alan.


Ibnu sangat prihatin dengan kondisi Mira. Ibnu sudah berusaha menguatkan Mira bahkan memanggil psikolog, namun Mira marah menyatakan bahwa dirinya tidak gila yang harus di periksa kejiwaannya.


Mira hanya mau Alan kembali. Alan adalah anak satu-satunya yang ia miliki. Mira masih yakin pada hatinya jika Alan masih hidup. Terlebih jasad Alan tidak di temukan. Mira pun akan sangat marah bila ada seseorang yang meyebut Alan telah tiada.


"Pa, antarkan Mama menemui Alan yuk", pinta Mira pada suaminya.


Ibnu tahu apa yang dimaksud istrinya. Ia pasti ingin ke jurang dimana Alan hilang. Lalu, Ibnu pun memenuhi keinginan istrinya untuk membawanya ke sana.


Ibnu menyuruh supirnya untuk segera menyiapkan mobil untuk pergi ke lokasi dimana Alan terjatuh. Dan tidak lama kemudian, Ibnu dan Mira pun sudah siap dan berangkat menuju lokasi.


"Dimana kamu Nak. Kembalilah Nak. Mama kangen sama kamu", gumam Mira sambil menangis saat dalam perjalanan.


Sudah beberapa menit berlalu. Dan Mira masih saja menyebut nama Alan. Mereka pun kini tengah melewati sebuah pasar. Pasar itu begitu ramai dan itu membuat jalanan sedikit macet. Mira yang sedang melihat keluar jendela tiba-tiba ia melihat sosok pria yang sangat mirip dengan Alan. Mira pun menyuruh supirnya untuk menghentikan mobil.


"Stop, stop, stop!", ucap Mira sambil menepuk-nepuk kursi pengemudi dari belakang.


"Ada apa Ma?", tanya Ibnu yang heran melihat Mira.


"Pa, itu Pa, Alan. Mama tadi lihat Alan ada di sana Pa", jawab Mira sambil tersenyum kesenangan.


"Apa? Nggak mungkin Ma, nggak mungkin Alan ada di sini", ucap Ibnu yang khawatir dengan kondisi kejiwaan istrinya.


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya!", ucap Mira dan langsung keluar dari mobil.

__ADS_1


Ibnu pun menjadi kelabakan. Ia tidak mungkin membiarkan istrinya sendirian diantara kerumunan orang-orang itu. Dan Ibnu pun akhirnya ikut keluar dari mobil dan mengejar istrinya.


Mira terus berlari mencari sosok yang dia lihat tadi. Di ingat betul Alan lagi memakai baju kaos berwarna biru muda. Mata Mira terus mencari pria dengan baju biru muda. Lalu, ia pun melihat ada seorang pria yang memakai baju biru muda. Memang dari belakang terlihat begitu mirip dengan Alan. Mira sangat yakin itu adalah putranya. Ia tidak mungkin salah. Ia pun mendekati orang itu dengan hati yang begitu senang. Kini harapannya untuk bertemu dengan putranya kembali pun akan segera terwujud sebentar lagi.


Mira sudah berada di belakang pria itu. Perlahan ia mengulurkan tangannya dan memegang pundak pria itu. "Alan", panggilnya dengan senyum sumringah.


Pria itu tampak kaget dan langsung menoleh kebelakang. Saat melihat wajah pria itu, senyum di wajah Mira pun memudar. Pasalnya pria itu bukanlah Alan. Mira begitu sedih dan kecewa. Ibnu datang dan menangkan Mira yang tengah bersedih.


"Ma, sudah yuk. Lebih baik kita masuk lagi ke mobil dan melanjutkan perjalanan kita", ucap Ibnu sambil merangkul istrinya.


Mira begitu sedih. Harapan itu tiba-tiba datang dan dalam sekejap juga telah musnah. Ia pun akhirnya menuruti perintah suaminya. Ia kembali berjalan menuju mobilnya. Dan tiba-tiba Mira sedikit terserempet seseorang yang sedang membawa sayuran di pundaknya hingga sayuran itu menutupi wajahnya.


"Maaf, maaf saya lagi buru-buru", ucap seseorang itu yang tengah membawa sayur.


Deg! Tiba-tiba hati Mira seperti tertegun. Ia seperti mengetahui suara itu. Suara yang begitu mirip dengan suara Alan. Sekilas Mira menoleh pada pria pembawa sayur itu dengan memakai kaos berwana biru muda.


Mungkinkah?, batin Mira.


"Ma, ada apa?", tanya Ibnu yang heran dengan sikap Mira yang sedang menoleh kebelakang melihat orang itu.


Ah mungkin itu pria tadi, batinnya lagi.


Mira menggelengkan kepalanya pada Ibnu. Ia pun kembali berjalan untuk masuk ke mobil dan melanjutkan perjalan mereka ke tempat dimana Alan menghilang.


Dan di sisi lain, ternyata pria berkaos biru muda yang dilihat Mira adalah benar Alan. Terakhir kali pria pembawa sayur itu yang menabraknya memang Alan. Seperti biasanya Alan setiap harinya pergi ke pasar untuk bekerja menjual hasil kebun Abah kepada para pedagang di sana.


***

__ADS_1


__ADS_2