Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 44. Tanda Hamil


__ADS_3

Alan sedang berada dikantornya. Saat lagi sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba Bagas datang menemuinya. Tentu saja hal itu membuat Alan heran. Ia menanyakan ada keperluan apa yang membuat Bagas datang ke kantornya.


Bagas menjelaskan bahwa ia hanya ingin menawarkan kepada Alan untuk mengonsumsi obat yang bisa memicu ingatannya kembali. Bagas ingin Alan segera bisa mengingat semua masa lalunya.


Tapi, mendengar hal itu Alan berpikir keras. Ia ragu untuk menerima tawaran Bagas. Ia masih ingat apa yang menjadi ketakutan Dini. Yaitu, Alan yang mengingat masa lalunya yang mungkin saja akan tidak menerimanya. Tidak di pungkiri Alan juga takut akan hal tersebut. Ia tidak mau menyakiti Dini.


"Sepertinya, aku sudah nyaman dengan kondisiku sekarang ini. Lagi pula, semuanya juga baik-baik saja. Aku rasa aku belum membutuhkan itu", jawab Alan tegas.


"Ya, memang saat ini semuanya baik-baik aja. Tapi, lama kelamaan tidak menutup kemungkinan semua orang yang ada di perusahaan ini akan tahu jika kamu amnesia. Dan itu bisa saja menurunkan eksistensi mu", bujuk Bagas.


"Kalau itu urusan nanti. Lagi pula, ayah sudah mempersiapkan semuanya jika hal itu memang terjadi", jawab Alan dengan tenang.


Bagas tau kalau dirinya tidak bisa memaksa Alan. Walaupun Alan lupa akan masa lalunya, namun sikapnya tetap sama. Ia tidak bisa di paksa jika memang ia tidak mau melakukannya. Padahal Bagas ini Alan segera mengingat masa lalunya. Ia ingin melihat setelah itu, Alan akan menerima Dini atau tidak.


Sejak pertemuan pertamanya dengan Dini, Bagas tidak bisa melupakan Dini. Wajah Dini terus saja ada di ingatannya. Ia begitu berharap agar Dini bisa menjadi miliknya. Dan itu terjadi jika Alan ingat dengan masa lalunya yaitu, Sonia.


***


Hari-hari yang di jalani oleh Alan dan Dini begitu bahagia. Alan sangat senang dengan perhatian Dini terhadap dirinya. Setiap harinya Dini selalu menyiapkan kebutuhan Alan. Ia pun menjadi terbiasa bergantung dengan Dini. Dini begitu telaten mengurus Dirinya. Makanya terkadang Alan juga suka manja pada Dini.


Selain itu, Alan juga suka mengajak Dini untuk makan malam di luar rumah. Kadang mereka ke restoran dan kadang juga mereka makan di warung sederhana yang berada di pinggir jalan. Hal itu membuat mereka semakin tahu satu sama lain.


Beberapa kali Dini menanyakan apa yang Alan sukai dan benci kepada Mira. Dengan semangat Mira selalu menceritakan apapun tentang Alan. Mira juga senang dengan sikap Dini yang memang begitu sangat perduli dengan Alan. Sikap Dini itu sangat sama dengan dengan Sarah yang selalu baik dan peduli sama siapa pun. Mira berpikir ia tidak salah dengan menjadikan anak sahabatnya menjadi menantunya.


Malam harinya, mereka makan bersama di meja makan yang telah di penuhi berbagai macam makanan. Beberapa diantaranya Dini yang memasaknya. Dini menghidangkan nasi di piring Alan dan juga menuangkan air ke dalam gelas Alan. Perhatian ini juga membuat Alan senang. Pasalnya baru saat ia menikah ia merasakan segalanya di urus oleh orang lain. Dan yang membuatnya lebih bahagia orang itu adalah istrinya sendiri.


"Din, gimana? Udah ada tanda-tanda nggak?", tanya Mira tiba-tiba.

__ADS_1


Pertanyaan yang di lontarkan Mira begitu ambigu. Dini sampai bingung harus menjawab apa. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari pertanyaan ibu mertuanya itu.


"Itu loh, tanda-tanda kamu hamil", sambung Mira saat melihat wajah bingung menantunya.


Sontak ucapan itu membuat Alan tersedak. Ia tidak menyangka ibunya menanyakan hal tersebut di meja makan. Dini pun menjadi kaget melihat Alan yang tiba-tiba tersedak. Ia langsung memberikan Alan segelas air untuk di minum.


"Ma, kami baru beberapa hari loh menikahnya. Ia kali langsung hamil Ma", jawab Alan.


"Ma, ma, sempat-sempatnya nanya begitu!", ucap Ibnu yang malu dengan pertanyaan istrinya. "Tapi, kalian sudah melakukan hubungan itu kan? Ya, berarti nggak lama lagi kita punya cucu Ma".


Mira tersenyum dan mengangguk setuju dengan Ibnu. Ia juga tidak sabar untuk menimang cucu yang menggemaskan.


"Pa!", ucap Alan tegas.


Alan melihat kearah Dini yang sedang tertunduk malu. Ia sangat pusing dengan tingkah kedua orang tuanya yang selalu saja blak-blakkan.


Mira meminta maaf pada Dini saat ia tahu Dini sedang malu mendengar ucapan mereka. Entah mengapa Mira selalu saja tidak bisa mengontrol mulutnya dan harus membuat menantunya malu.


***


Sudah jam sebelas malam. Tapi, Alan masih saja berada di ruang kerjanya. Dari selesai sholat isya ia telah berada di sana. Dini yang menunggu Alan di kamar sudah tidak tahan lagi. Ia ke dapur dan membuat beberapa cemilan untuk menemani Alan yang masih bekerja.


Setelah beberapa menit berkutat di dapur, Dini membawa hasil masakannya ke ruang kerja Alan. Sampai di pintu ruangan itu, Dini mengetuknya. Alan heran, siapa yang tengah mengetuk pintu itu.


"Siapa?", tanya Alan dari dalam.


"Ini, aku Mas", jawab Dini.

__ADS_1


"Masuk Din", ucap Alan saat tahu itu adalah istrinya.


Mata Alan pun berbinar melihat sang istri masuk dengan membawa hidangan untuknya. Dini meletakkan itu di meja kerja Alan. Alan melihat ada kentang goreng, pisang goreng dan juga secangkir kopi panas.


"Makasih ya. Kamu perhatian banget sih", ucap Alan tersentuh.


"Apaan sih Mas. Jangan gitu ah. Aku kan jadi malu", ucap Dini yang malu di goda oleh suaminya. "Ini tuh namanya penyemangat", ucap Dini lagi.


Alan tersenyum mendengar ucapan Dini. Ia memegang tangan Dini. "Tapi, penyemangat aku yang sebenarnya adalah kamu", ucap Alan sambil menarik tangan Dini sampai ia terduduk di pangkuan Alan.


Alan langsung memeluk Dini dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Dini. Dini pun hanya bisa tersenyum menerima perlakuan suaminya itu. Ia sangat senang dengan sikap Alan yang manja padanya.


"Kenapa capek ya?", tanya Dini.


Alan menganggukkan kepalanya yang masih menempel di punggung Dini. Ia mengeluh pekerjaan sangat banyak akhir-akhir ini. Alan juga meminta maaf karena dari tadi tidak bisa menemani Dini.


"Tidak bisa menemani aku atau Mas yang ingin di temani?", tanya Dini sambil mengambil sebuah kentang goreng.


Kemudian, ia dekatkan kentang goreng yang diambilnya itu ke mulut Alan. Dengan senang hati Alan menerimanya. Ia sangat senang Dini memperlakukannya seperti itu.


"Sering-sering ya", pinta Alan pada Dini.


Dini tersenyum lalu mencubit hidung mancung prianya itu. Ia sangat gemas dengan sikap manja Alan. Ia berharap selamanya mereka akan tetap seperti ini.


***


Harap maklum, dalam beberapa hari ini saya tidak update. karena anggota keluarga pada sakit.. jadi super sibuk...

__ADS_1


__ADS_2