
Dini mengajak Tejo ke kedai bandrek yang tidak jauh dari rumah Dini. Lagi asik-asiknya mengobrol, tiba-tiba terdengar suara yang memekakkan telinga.
Brum.. brum.. brum...
Wahyu sengaja menggeber sepeda motornya karena melihat Dini dan Tejo yang semakin hari semakin bertambah dekat.
"Din, kamu kenapa sih masih aja dekat-dekat sama pria yang gak jelas asal usulnya!", ucap Wahyu kesal sambil turun dari sepeda motornya.
"Ketimbang kamu, gak jelas kehidupannya", ejek Tejo berkata pelan agar tak terlalu terdengar.
"Kamu bilang apa?", Wahyu geram mendengar perkataan Tejo dengan mencengkram kerah baju Tejo
Tejo menyunggingkan senyumannya. Tejo bersikap tenang. Ia melepaskan tangan Wahyu dari kerahnya dengan sedikit hentakkan. Kemudian Tejo mengibaskan kerahnya dengan tangannya.
"Cukup ya Yu, kamu sadar nggak sih? Aku tuh malu Yu", jawab Dini yang kesal kepada Wahyu.
"Din, tolong. Kasih aku waktu untuk bicara berdua denganmu", pinta Wahyu dengan penuh harap.
Dini melihat mata Wahyu yang sangat berharap padanya. Dini akhirnya memberi kesempatan untuk Wahyu berbicara empat mata dengannya. Dini meminta Tejo untuk pulang lebih dahulu. Dini sangat memohon pada Tejo. Dini tahu kalau Tejo tidak ingin meninggalkannya. Tapi, Dini juga penasaran apa yang ingin di bicarakan Wahyu.
Akhirnya Tejo pun terpaksa meninggalkan Dini bersama Wahyu. Ada sedikit rasa kesal pada Dini karena Dini tidak benar-benar tegas pada Wahyu.
Tejo berjalan dan sesekali menoleh kebelakang untuk melihat Dini dan Wahyu. Dan saat itu juga Tejo menabrak seseorang.
"Eh, maaf mbak saya gak sengaja", ucap Tejo yang gugup karena merasa bersalah.
"Em, kamu Tejo ya? Yang tinggal di rumah Dini", tanya wanita yang berparas cantik itu.
Tejo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tidak disangka ternyata Tejo cepat terkenal di desa itu.
"Maaf Mas Tejo, saya mau tanya. Em, kira-kira Dini itu masih suka nggak sama Mas Wahyu?", ucap wanita itu dengan nama memelas.
Tejo sedikit heran, kenapa wanita di depannya menanyakan tentang isi hati Dini kepada Wahyu. Dan, teng..., Tejo baru sadar bahwa mungkin wanita yang di depannya adalah istri Wahyu.
__ADS_1
"Kamu, Bella ya? Istrinya Wahyu?", tanya Tejo untuk memastikan lagi.
Bella menganggukkan kepalanya. Tejo paham, pasti Bella sedang mengikuti Wahyu. Perasaan Bella saat ini juga pasti sangat terpukul.
"Maaf Bel, soal itu saya tidak tau", jawab Tejo.
"Masa Mas Tejo nggak tau. Mas Tejo kan kelihatan dekat banget sama Dini", ucap Bella lagi yang penuh harap.
Keterlaluan kamu Yu. Tega banget sih sama istri sendiri. Segitu cintanya ya kamu sama Dini, sampai istri kamu sendiri kamu abaikan gini? Kasihan banget lihat Bella kayak gini. Ucap Tejo dalam hati.
"Bel, saya memang dekat dengan Dini. Tapi, beneran saya nggak tau apa-apa soal hati Dini", ucap Tejo meyakinkan Bella kalau ia memang tidak tahu apa-apa.
Bella menarik napas panjang. Tatapannya sangat sendu melihat Dini dan Wahyu sedang berduaan. Bella tidak berani untuk ke sana menghampiri mereka. Bisa-bisa akan menjadi keributan dan akan membuat jelek nama keluarga mereka.
"Kalau tau begini, lebih baik kami tidak menikah saja", ucap Bella yang tengah bersedih.
"Kamu nyesel nikah dengan Wahyu?", tanya Tejo menangkap makna ucapan Bella.
"Nggak, saya nggak nyesel nikah dengan Mas Wahyu. Hanya saja, seandainya saya tahu Mas Wahyu cinta dengan Dini, saya tidak akan menyetujui pernikahan ini. Walaupun saya sangat cinta dengan Mas Wahyu. Sakit banget rasanya terus diabaikan dan tidak dihargai", jelas Bella sambil menatap Dini dan Wahyu dari jauh kemudian air matanya pun mengalir.
"Eh, maaf Mas Tejo, saya jadi curhat sama Mas Tejo", ucap Bella yang tiba-tiba sadar.
Tejo tersenyum pada Bella. Ia bisa memaklumi Bella. Tejo menyuruh Bella untuk segera pulang karena sudah hampir larut malam. Setelah meyakinkan Bella, mereka pun akhirnya berjalan untuk pulang.
Di tempat lain, ada dua pemuda yang melihat drama percintaan mereka. Mereka bersembunyi di balik semak-semak. Mereka melihat Dini dan Wahyu di kedai bandrek. Lalu melihat Tejo dan Bella yang sedang berduaan juga di tepi jalan.
"Do.. Do.. liat deh mereka. Ini yang dinamakan jodoh yang tertukar", ucap pemuda yang bernama Bima dengan berbisik kepada temannya Edo.
"Iya, ya Bim. Hi.. hi...", mereka berdua pun terkekeh. Mereka menyangkanya bahwa Tejo dan Bella saling suka.
Di kedai Bandrek.
"Kenapa Din, aku ngerasa kamu berbeda sekarang. Aku memang sudah menikah dengan Bella, tapi tidak membuat cintaku kepadamu hilang. Aku masih mencintaimu Din", ujar Wahyu sambil memegang tangan Dini.
__ADS_1
"Lepas Yu", ucap Dini sambil melepaskan genggaman Wahyu di tangannya. "Ini tidak benar Yu. Kalau kita mempertahankan cinta ini, akan banyak hati yang terluka. Ada Bella, orang tuanya, orang tuamu, mereka akan merasa kecewa Yu. Sudahlah kita ikhlaskan saja perjalan cinta kita ini. Kamu sadar kamu bukan hanya menyakitiku tapi, Bella juga. Apa kamu nggak mikir gimana perasaan Bella sekarang melihat suami yang mengejar-ngejar cinta wanita lain?", sambung Dini yang menjelaskan pemikirannya.
Memang rasa cinta Dini masih ada untuk Wahyu. Tapi, Dini tidak mau orang lain menganggapnya perusak rumah tangga orang. Dini mencoba menjelaskan secara baik-baik dengan Wahyu. Dengan penjelasan ini, Dini berharap Wahyu sadar dan tidak mengejar-ngejarnya lagi.
"Aku tidak perduli dengan perasaannya. Aku hanya perduli perasaan kita, aku dan kamu", jawab Wahyu yang terus berusaha meyakinkan Dini.
"Bagaimana kalau demi aku. Ya Yu, demi aku kembalilah ke istrimu. Aku nggak mau di cap sebagai orang ketiga diantara kalian. Dan jika emak dan Abah tau mereka akan sangat kecewa padaku", pinta Dini penuh harap pada Wahyu.
Dan pada akhirnya, Wahyu pun mengalah. Dini menyuruhnya pulang, padahal awalnya Wahyu ingin mengantarnya. Tapi, Dini menolaknya. Wahyu pun menaiki sepeda motornya tapi, sebelum pergi, Wahyu mengatakan kalau dia akan selalu memantau Dini dan Tejo.
Dini hanya bisa menarik napas karena sangat susah memberi pengertian pada Wahyu. Rasanya lelah menjelaskan tapi tidak di hiraukan sama sekali.
Saat Dini telah sampai di depan rumahnya, ia melihat Tejo yang masih menunggunya di teras rumah. Melihat kedatangan Dini, Tejo pun beranjak menemui Dini. Tejo menanyakan apa saja yang Dini dan Wahyu bicarakan sangking penasarannya.
Dengan wajah sedihnya, Dini mengatakan apa yang sebenarnya. Mendengar itu, Tejo sangat kesal dengan sikap Wahyu yang tidak bisa menghargai hati orang lain.
Tejo mengatakan jika dirinya juga kecewa pada Dini. Mengapa Dini mau saja di ajak ngobrol berduaan dengannya. Itu sama saja Dini mempermalukan dirinya di depan warga desa yang melihat mereka sedang berduaan. Seharusnya Dini lebih tegas lagi kepada Wahyu, agar Wahyu paham bagaimana perasaan Dini padanya sekarang.
"Makasih atas sarannya Jo. Aku tau kamu perhatian denganku. Tapi, nggak mudah Jo melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Saat aku bertemu dengan Wahyu melihat wajahnya, ada getaran di hatiku seolah aku masih menginginkannya lagi. Aku... ", Dini mencoba menjelaskan isi hatinya.
" Ya sudah, terserah kamu saja Din. Gimana baiknya aja", potong Tejo yang juga lelah menjelaskan pada Dini.
Tejo pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Dini seorang diri. Rasanya terpukul sekali. Dini masih belum mengerti dengan hatinya sendiri. Mungkinkah dirinya mencintai dua pria sekaligus.
Ya, Allah kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku ya Allah. Kenapa aku sangat serakah? Aku nggak mau merasakan ini, ucap Dini dalam hati.
Seketika air matanya pun berlinang. Sedih mengingat nasib percintaannya yang begitu rumit. Di tambah melihat wajah Tejo yang terlihat begitu jelas sangat kecewa padanya.
Di kamar Tejo berbaring di kasurnya menatap langit-langit kamar. Rasa kesalnya belum juga berkurang pada Dini.
Kenapa aku ini? Aku hanya orang asing di sini. Rasanya tidak pantas kalau aku mencintai Dini. Ya, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu tadi. Seharusnya aku memberikan support pada Dini sebagai bentuk balas budiku bukan malah marah padanya. Ucap Tejo dalam hati.
***
__ADS_1