
Wahyu terus memandangi wajah Dini. Ia merasa senang bisa bersama Dini saat ini tanpa gangguan dari siapapun. Wahyu berkhayal betapa indah hidupnya jika yang bersandingan dengannya adalah Dini, pujaan hatinya.
Dini sedang memakan makanannya. Pandangannya lurus ke depan. Sejenak ia lupa pada pria di sampingnya. Khayalnya tidak berhenti memikirkan hubungannya bersama Tejo.
Maaf Jo, aku tau kamu pasti kecewa banget sama aku. Batin Dini.
"Din, kamu cantik banget", ucap pria yang berada di sampingnya.
Seketika Dini langsung terbatuk-batuk karena terkejut mendengar ucapan tersebut. Ia baru teringat ada Wahyu di sampingnya. Dini buru-buru mengambil air mineral yang ada di hadapannya dan langsung meminumnya.
Wahyu ingin membantu Dini untuk mengusap-usap punggungnya, tapi Dini menolaknya. Ia meyakinkan Wahyu bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Yu, kamu kan udah punya istri. Jangan gitu ah!", ucap Dini menjadi kesal pada Wahyu.
"Tapi, aku cintanya kan sama kamu Din. Tapi ya, aku merasa kamu memang sudah tidak mencintai aku lagi. Apa itu semua karena pria yang tidak tau asal usulnya?", kata Wahyu dengan nada mengejek.
"Aku heran sama kamu Yu", balas Dini sambil melihat wajah Wahyu dengan mengerutkan dahinya. "Kamu sekarang beda banget sama Wahyu yang aku kenal dulu. Atau selama ini kamu menyembunyikan ini dari aku? Ternyata aslinya kamu seperti ini ya", lanjut Dini dengan wajah tidak sukanya melihat Wahyu.
"Aku seperti ini juga karena aku cemburu Din. Aku nggak mau kehilangan kamu. Apa sih yang kamu harapkan dari dia? Dia itu hilang ingatan. Kita nggak tau siapa dia yang sebenarnya. Iya kalau dia orang baik, kalau jahat giman? Atau kalau dia seorang buronan bagaiman?", ucap Wahyu yang ingin membuat Dini tidak menyukai Tejo lagi.
"Jangan asal bicara kamu Yu. Kalau Tejo buronan pasti sudah banyak berita mengenai dirinya!", jawab Dini kesal.
__ADS_1
"Oke di bukan buronan. Tapi, apa kamu yakin dia belum berumah tangga? Kalau kalian menjalin hubungan lalu, tiba-tiba ingatan dia pulih kembali. Dan ternyata dia memang sudah memiliki istri bahkan anak, siapa yang akan terluka? Kamu Din. Aku nggak mau itu terjadi sama kamu. Aku tau kamu orangnya tidak tegaan", jawab Wahyu lagi berusaha meyakinkan Dini agar tidak menyukai Tejo lagi.
Dini pun terdiam memikirkan perkataan Wahyu. Ia pun memikirkan hal yang sama dengan apa yang di ucapkan Wahyu. Seandainya hal itu memang terjadi, maka dirinya akan merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Sungguh rasanya sangat tidak enak. Dini tidak ingin merasakan hal itu lagi.
"Din, cuma aku yang bisa membuatmu bahagia. Ya, aku pernah menyakitimu. Tapi, itu bukan atas dasar kemauanku. Aku dipaksa dan terpaksa menikah dengan Bella", ujar Wahyu yang masih berusaha meyakinkan Dini.
Wahyu mendekatkan wajahnya pada Dini. Lalu berbelok sedikit mendekati telinganya, "Aku berjanji akan menceraikan Bella dan akan menikahi kamu secepatnya".
Dini terkejut mendengar pengakuan Wahyu. Matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang telah di ucapkan Wahyu.
***
Sore harinya Dini baru sampai di rumah dan di antar oleh Wahyu. Tejo yang sedari tadi menunggu di teras pun merasa kecewa dengan sikap Dini. Ia tampak terlihat bahagia bersama dengan Wahyu. Sampai-sampai Dini mau melambaikan tangannya pada Wahyu.
Tejo mengingatkan bahwa Wahyu telah memiliki istri. Dan Dini tidak pantas berdekatan dengan pria yang berstatus suami orang. Tejo membicarakan Bella yang selalu patah hati karena suaminya terus saja mengharapkan Dini. Dan sekarang malah Dini seperti memberikan kesempatan itu pada Wahyu.
"Apa kamu mau jadi pelakor Din?" ucap Tejo yang sudah sangat geram.
Dini terbelalak saat mendengar ucapan Tejo. Ia tidak menyangka Tejo akan menyebut dirinya sebagai pelakor. Tapi, sejenak ia tampak berpikir.
"Kenapa? Kenapa kalau aku jadi pelakor? Makasih karena kamu sudah memberikan aku ide!", jawab Dini dan berlalu melangkahkan kakinya melewati Tejo.
__ADS_1
Akhirnya Tejo pun terdiam mencermati kata-kata Dini yang menunjuk dirinya telah membuat ide untuk Dini. Tejo mengusap wajahnya dengan kasar, "Aaarrgghh!"
Tapi, mereka tidak tahu. Wahyu sedang bersembunyi di balik pohon untuk melihat pertengkaran mereka. Wahyu merasa senang melihat hubungan mereka merenggang. Ini akan menjadi kesempatan Wahyu terus masuk untuk meluluhkan hati Dini. Setelah melihat Tejo dan Dini masuk, Wahyu pun melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Wahyu pulang ke rumahnya dengan hati yang bahagia. Bahkan ia mengajak Bella untuk makan bersamanya karena sangking bahagianya. Bella merasa aneh dengan sikap Wahyu. Yang biasanya dingin seperti es sekarang malah wajahnya tampak ceria dan tidak marah-marah pada Bella seperti biasanya.
Bella tidak ingin banyak bertanya pada Wahyu. Yang terpenting bagi Bella adalah sekarang Wahyu terlihat bahagia bersamanya. Dan Bella juga merasakan sangat bahagia. Ini adalah pertama kalinya mereka makan bersama setelah menikah.
Tapi, di sela-sela itu Wahyu menjelaskan alasan dia berbahagia, "Kamu tau, aku sangat bahagia saat ini. Dengar, sebentar lagi Dini akan menjadi milikku. Dan nanti kita akan bercerai. Tapi, sebelum itu aku ingin membuat satu kenangan untukmu. Makan malam ini adalah kenang-kenangan untukmu".
Bella membanting sendok makannya di atas piring. Matanya berkaca-kaca memandangi wajah Wahyu. "Bisa kamu ya Mas, mengatakan hal itu padaku? Kenapa sih, kamu nggak pernah memikirkan gimana sakit hatinya aku?", ucap Bella mengatakan isi hatinya.
"Siapa suruh kamu mau nikah sama aku? Kamu kan yang ngebet mau nikah sama aku. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa membahagiakan mu!", balas Wahyu yang tidak mau disalahkan.
Hati Bella sangat hancur mendengar ucapan itu. Wahyu ternyata tidak sebaik yang dia kira. Dulu Bella pikir, Wahyu adalah pria yang sangat manis. Bila mereka bertemu, Wahyu selalu membuatnya bahagia dan obrolan mereka selalu nyambung. Tapi, setelah menikah sikap Wahyu berubah 360 derajat. Bella juga merasa tidak mengenal Wahyu. Karena memang Wahyu yang di kenalnya dulu sangat berbeda jauh dengan Wahyu yang ada di hadapannya sekarang ini.
Padahal dirinya sudah sangat bahagia tadi. Tapi, kini bahagianya berganti kecewa. Bella tidak bisa melanjutkan makannya. Ia beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Wahyu hanya melihat Bella yang berjalan masuk ke kamarnya. Ia tersenyum seperti mengejek Bella. Ia benar-benar tidak perduli dengan perasaan Bella.
Bella langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, menangis sambil memeluk guling. Bella sedang menangisi nasibnya yang entah sampai kapan ia bisa bertahan. Sejenak terlintas dipikirannya, untuk bercerai. Sungguh ia tidak tahan berlama-lama merasakan sakit hati. Tapi, ia takut akan mengecewakan orang tuanya.
__ADS_1
***