
Mira masih saja memeluk tubuh Alan. Seakan ia tidak mau kehilangan anaknya lagi. Alan dapat merasakan kehangatan yang sepertinya ia rindukan. Alan yakin, pasti seperti inilah perasaan ibu dan anak. Walaupun Alan tidak mengenali ibunya, namun tubuhnya bisa mengenal akan sentuhan ibunya.
Ibnu begitu senang melihat mereka yang saling melepas rindu. Lalu, Ibnu teringat dengan apa yang sedang alami. Ibnu tidak ingin Mira bingung nantinya. Ia akan mencoba menjelaskannya pada Mira.
"Sayang, aku juga ingin memberitahu bahwa sebenarnya Alan, anak kita sedang tidak...", ucapan Ibnu terputus.
Alan memegang tangan Ibnu dan menggelengkan kepalanya. Alan tidak ingin apa yang sedang ia alami diketahui oleh ibunya. Melihat ibunya yang sedang lemah, ia tidak mau ibunya semakin sedih lagi.
"Ada apa?", tanya Mira lirih.
"Nggak apa-apa Ma. Sudah, nggak usah Mama pikirkan. Aku sudah ada di sini sekarang bersama dengan Mama dan Papa", jawab Alan sambil memegang pipi Mira.
Ibnu merasa tenang sekarang. Seolah Alan berlaku tidak melupakan apapun. Jika memang demikian yang Alan inginkan, Ibnu juga merasa senang. Ia berharap istrinya segera pulih karena Alan telah kembali bersama mereka.
"Oh, iya. Mama sudah makan? Pasti belum kan? Kalau gitu Alan ambilkan makanan untuk Mama ya", ucap Alan sambil tersenyum lalu ia keluar dari kamar.
Ibnu mengikutinya keluar dari kamar tanpa sepengetahuan Alan. Ia melihat Alan menuruni anak tangga dan berjalan menuju arah dapur. Ibnu mengerutkan dahinya. Karena ia merasa Alan seperti tidak lupa dengan rumahnya. Bahkan, ia dapat mengambil makanan dengan gampang. Mungkin kebiasaan itu tidak akan lepas begitu saja, pikir Ibnu.
Ibnu kembali lagi masuk ke kamar. Ia duduk di pinggir ranjang di samping istrinya. Ia melihat wajah Mira kini sudah tidak begitu kusam lagi. Ia pun juga melihat keceriaan di sana.
__ADS_1
"Benarkan Mas, Alan masih hidup. Aku bisa merasakannya", ucap Mira pada Ibnu.
Ibnu pun tersenyum, mengiyakan ucapan Mira. Kemudian, ia membantu Mira untuk duduk. Dan saat itu pula Alan masuk membawa makanan untuk ibunya. Ibnu kembali berdiri dan di gantikan oleh Alan duduk di samping Mira. Alan sengaja ingin menyuapi ibunya. Dan hal itu tidak di tolak oleh Mira. Bahkan hatinya begitu senang. Dan entah mengapa saat ini ia merasa begitu lapar. Sudah sekian lama Mira tidak berselera untuk makan karena terus memikirkan Alan. Tapi, kali ini ia begitu lahap. Di tambah dengan disuapi oleh putranya. Ibnu ingin membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama. Ia pun keluar dari kamar.
Setelah selesai makan, Mira ingin segera mandi dan ingin mengganti bajunya yang sudah lusuh itu. Alan juga ingin membersihkan dirinya. Ia pun berjalan ke arah kamarnya. Saat masuk ke dalam kamarnya ia baru menyadari bahwa dirinya sejak tadi memang tidak asing dengan rumah ini. Ia seperti sudah terbiasa disini. Bahkan ia tahu dimana kamarnya berada.
Alan berjalan ke arah balkon. Sampai di sana ia menatap ke atas. Dia lihat terlukis wajah Dini di langit senja itu. Alan begitu merindukan Dini. Senyumnya, suaranya, selalu muncul dibenak Alan.
Tunggulah aku, Dini. Aku akan kembali ke sana dan akan membawamu bersamaku. Ucap Alan dalam hati sambil menutup matanya.
***
Awalnya, Alan merasa tidak percaya diri untuk masuk ke dunia bisnis. Dengan ingatannya yang belum kembali. Ia takut akan membuat suasana kantor akan semakin runyam. Tapi, Ibnu meyakinkan Alan bahwa Alan mampu bekerja di perusahaan itu. Ibnu berjanji tidak akan melepas Alan begitu saja. Ibnu akan selalu mendampinginya.
Ibnu akan menguji Alan, untuk membaca beberapa informasi perusahaan mereka dan juga laporan-laporan keuangan mereka. Jika Alan bisa menemukan kesalahan di sana maka, Alan masih pantas untuk menjadi CEO.
Alan pun mulai mengamati berkas-berkas yang di berikan ayahnya. Ia membacanya halaman demi halaman. Dan dalam waktu sebentar saja Alan bisa memahaminya dan mengetahui kesalahan yanga ada di laporan tersebut. Ibnu pun merasa bangga pada Alan. Walau dia sedang lupa ingatan, tapi ia tidak melupakan ilmu yang di milikinya.
Dan keesokan paginya, semua karyawan termasuk Bobby terkejut dengan kemunculan Alan. Mereka tidak menyangka jika Alan masih hidup. Ibnu juga melakukan rapat untuk menjadikan Alan sebagai CEO lagi. Dan hal itu, tentu di tolak oleh Bobby. Karena tidak ada alasan untuk menggantikannya. Ia merasa Ibnu tidak adil jika menggantinya secara tiba-tiba. Namun, di sisi lain, para pemangku saham setuju jika Alan kembali lagi menjadi CEO.
__ADS_1
Ibnu mengajak Bobby untuk berbicara berdua. "Maaf Bobby, kamu harus melepaskan jabatanmu sekarang", ucap Ibnu pada Bobby.
"Ini tidak benar Om. Aku akan di permalukan jika begini caranya!", jawab Bobby yang marah besar.
"Kalau kamu tetap keras kepala, saya akan membawamu ke penjara atas tuduhan korupsi. Saya punya semua bukti-buktinya. Kamu tinggal pilih saja", sambung Ibnu lagi.
"Oh, jadi Gilang sudah memberitahukan semuanya ya?.
"Tanpa Gilang beritahu pun, saya sudah tahu. Tapi, saya diam karena saya masih menganggapmu sebagai anak".
"Om sudah berlaku tidak adil dengan saya!"
"Tidak adil bagaimana? Kamu yang telah berlaku tidak adil di sini. Kamu menghambur-hamburkan uang perusahaan untuk kesenangan kamu sendiri. Kamu pikir bagaimana jika pemangku saham mengetahuinya? Bukan hanya masuk penjara. Bahkan kamu tidak punya kesempatan lagi untuk kembali bekerja di sini. Saya masih bisa menutupi semua kerugian perusahaan. Kamu seharusnya tau diri!"
"Ahh! Terserah Om saja! Aku muak dengan ketidakadilan ini semua!", jawab Bobby dan langsung pergi meninggalkan Ibnu begitu saja.
Ibnu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Bobby yang pemarah itu. Ia jadi teringat tentang apa yang di jelaskan Gilang mengenai pelaku kecelakaan itu yang tidak lain mengarah pada Bobby. Kalau melihat dari antusiasnya dengan jabatan CEO itu, bukan tidak mungkin memanglah Bobby pelakunya. Dan juga mengingat sikapnya yang suka menghalalkan segala cara.
Ibnu kembali lagi ke ruang rapat. Ia menjelaskan jika Bobby sudah bersedia melepas jabatannya sebagai CEO dan jabatan tersebut akan kembali pada Alan. Semua pun mengucapkan selamat atas kembalinya Alan ke perusahaan. Tapi, mereka sama sekali tidak tahu jika Alan telah hilang ingatan. Alan juga sangat luwes bersikap pura-pura sebagai Alan yang mereka kenal sebelumnya. Dengan di dampingi Ibnu, Alan pun semakin percaya diri.
__ADS_1
***