Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 19. Ciuman Pertama


__ADS_3

Di sore hari, di langit Desa Tanjung yang kuning ke emasan. Tejo yang sudah selesai dengan pekerjaannya, sedang berjalan untuk pulang. Di saat perjalanan pulang itu, ia berhenti dan duduk di pinggir sawah. Hatinya belum bisa menghapus nama Dini. Tidak bisa di pungkiri ia masih saja berharap dan terus memikirkan Dini. Ia sangat menyayangkan sikap Dini yang masih menerima Wahyu. Hatinya begitu hancur saat mengingat kembali kejadian itu.


Tejo merasa cemburu dan itu membuatnya marah. Kenapa harus wanita yang dicintainya begitu tega menggores luka di hatinya. Tapi, bagaimana pun Dini adalah wanita satu-satunya yang dicintainya saat ini. Namun, walaupun Tejo rindu pada Dini, ia belum ingin menemui Dini untuk saat ini.


"Mas Tejo?", ucap seseorang sambil memegang pundak Tejo.


Hal itu membuat Tejo sedikit kaget dan langsung membuyarkan lamunannya. Ia melihat Bella telah berada di sampingnya sambil tersenyum ke arahnya. Tejo langsung membalas senyuman itu dan menyuruh Bella untuk duduk di sampingnya. Pasalnya Bella baru saja pulang dari rumah pasien yang baru saja melahirkan. Dan kebetulan melihat Tejo yang sedang duduk sendirian di tepi jalan sambil melihat pemandangan sawah yang ada dihadapannya.


"Kamu, kenapa nggak langsung pulang? Nanti di marahi loh sama suami kamu", ucap Tejo mengejek Bella.


Bella pun tersenyum mendengar itu, "Sepertinya mau saya pulang atau tidak, dia tidak akan perduli. Aku inikan di anggap makhluk tak kasat mata sama Mas Wahyu. Ada tapi tidak terlihat olehnya."


Wajah Bella menjadi sedih setelah menjelaskan pada Tejo. Pandangannya ke depan melihat pemandangan sawah itu juga. Angin sore yang berhembus begitu menyejukkan. Pikiran yang sangat kacau itu, bisa sedikit reda. Tejo melihat wajah sendu itu dan lagi-lagi ia merasa sangat kasihan pada Bella.


"Kamu pasti terluka banget ya. Sama aku juga lagi merasakannya", ucap Tejo lalu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu, benar-bener cinta banget ya sama Dini?", tanya Bella sambil melihat Tejo yang sedang terluka hatinya itu. Bella pun menarik napas, "Dini, dia memang cantik dan juga pintar. Memang pantas kalau dirinya di sukai banyak orang".


"Eh, Bel maaf bukan maksud aku...", ucap Tejo belum selesai, ia begitu tidak enak pada Bella.


"Gak apa-apa Mas. Aku paham kok. Mungkin aku memang kecewa, marah, dan kesal pada Dini. Tapi, aku nggak mau sampai ribut dengannya. Aku ingin sekali berbicara padanya. Tapi, sepertinya belum ada kesempatan", potong Bella meyakinkan Tejo.


"Bel, kamu juga wanita yang sangat luar bisa. Wahyu sangat beruntung punya istri yang sangat baik dan pengertian seperti kamu. Dia sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan mu", jawab Tejo sambil memegang pundak Bella.


Bella pun tersenyum mendengar pujian dari Tejo. Pasalnya suaminya saja tidak pernah memujinya sedikitpun walau ia telah berusaha menjadi seorang istri yang baik. Akhirnya, karena sudah sangat sore Tejo mengajak Bella untuk pulang. Karena jalannya searah dengan rumah Bella, Tejo ingin mengantar Bella sekalian.


Di lain sisi, Dini yang di rumah sedang bersedih dengan sikap Abah terhadap dirinya. Baru kali ini Abah tidak mau mengalah pada Dini. Dini pun mengurung dirinya di kamar sepanjang hari.


Namun, semakin Dini mencoba menghindari semakin menyiksa rasa dihatinya. Dini sebenarnya terus mengingat Tejo. Ciuman pertamanya terus melekat di pikirannya. Dan rasa itu masih membekas di bibirnya.Bagaimana ia bisa melupakan itu semua. Bahkan dekat dengan Wahyu pun ia tetap tidak bisa melupakan ingatannya dari Tejo. Namun, pikirannya berkutat lagi mengenai jati diri Tejo yang sebenarnya. Rasanya ia tidak sanggup untuk sakit hati lagi jika Tejo pun bukanlah miliknya juga.


Terdengar suara sepeda motor dari halaman rumah Dini. Walaupun, Dini sudah tau siapa pemilik sepeda motor itu, ia tetap mengintipnya dari jendela. Dan benar saja, Wahyu datang ke rumah dan mencari Dini. Saat ini, Dini sangat malas untuk bertemu dengan Wahyu. Ia mengabaikan panggilan Wahyu dan tetap berada di kamarnya.

__ADS_1


"Din, aku tau kamu di dalam. Aku kesini ingin mengajak kamu jalan!", panggil Tejo yang kesekian kalinya.


Karena merasa sangat bising, Emak pun menghampiri Wahyu. Emak menanyakan kepentingan Wahyu datang ke rumahnya. Kalau untuk mengganggu Dini, emak tidak akan mengizinkannya dan menyuruh Wahyu untuk jangan pernah dekat-dekat dengan Dini lagi. Tapi, Wahyu bersikeras untuk menemui Dini. Ketika itu Abah baru pulang dan melihat kelakuan Wahyu. Abah sangat marah dan langsung menampar Wahyu untuk memberinya peringatan.


"Apa kamu tidak punya harga diri lagi? Kamu sadar kamu siapa? Pergi kamu dari sini!", bentak Abah yang sudah marah besar pada Wahyu.


"Bah, saya mohon izinkan saja untuk menemui Dini. Kami ini saling mencintai Bah", jawab Wahyu memelas.


"Pergi! Saya tidak mau Dini dekat dengan kamu lagi. Pergi dari sini!", bentak Abah lagi sangking tidak sukanya dengan sikap Wahyu.


Wahyu tidak punya pilihan lain lagi ia pun terpaksa pergi meninggalkan rumah tersebut. Ia kembali mengendarai motornya dan berlalu pergi. Abah pun langsung masuk ke rumah dengan langkah marahnya. Ia kemudian duduk di sofa sambil menarik napas panjangnya.


"Astaghfirullah al'adzim", ucap Abah sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Hah, Abah nggak nyangka si Wahyu bisa seperti itu!", ucap Abah sambil memperhatikan istrinya yang juga ikut duduk dengannya. "Dia sudah mempermalukan keluarga kita. Dini juga, bisa-bisanya dia masih saja dekat dengan Wahyu. Abah malu orang-orang membicarakan mereka!", sambung Abah lagi mengeluarkan isi hatinya yang membuat kesal dirinya.


Emak pun juga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa mengelus-ngelus punggung Abah untuk menenangkan Abah dari rasa kesalnya kepada Wahyu.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, dari jauh Wahyu melihat Bella jalan berdua dengan Tejo. Entah mengapa hal itu membuat hati Wahyu merasa sangat terbakar. Wahyu ingin sekali tidak memperdulikan Bella tapi, rasanya ia tidak bisa. Dia berpikir lagi-lagi Tejo mengambil apa yang menjadi miliknya. Tejo merupakan dalang kehancuran kisah cintanya menurut Wahyu. Ia tidak terima jika Tejo mendekati Bella, istrinya. Ya, biar bagaimana pun Bella adalah istrinya. Ia lebih berhak atas Bella. Akhirnya Wahyu pun mendekati mereka dan menghalangi jalan mereka. Dan seketika langkah Bella dan Tejo pun terhenti.


***


__ADS_2