
"Sayang kita udah sampai", ucap Dini pada Bunga yang di gendong Tejo.
"Bang, aku mau tulun", kata Bunga yang masih belum bisa menyebut huruf "R".
Tejo tersenyum karena lucu mendengar suara Bunga yang menggemaskan itu. Tejo pun menurunkan Bunga. Dan langsung berlari masuk ke rumahnya.
Tejo dan Dini tersenyum melihat anak yang lincah itu. Kemudian mereka berdua berbalik. Tapi, baru beberapa langkah, suara Bunga terdengar kembali memanggil mereka.
Bunga berlari sambil membawa bungkusan yang berisi sebuah kotak. Ibu Bunga mengikutinya dari belakang.
"Ini, untuk kak Dinda. Ini, untuk Bang Tejo", ucap Bunga sambil memberikan bungkusan itu.
"Apa ini sayang?", tanya Dini berjongkok lalu mengusap rambut Bunga.
"Ini, kue buatan Mama. Sebagai ucapan telimakasih kalena Kak Dini sama Kak Tejo udah antelin aku", jawab Bunga menjelaskan dengan pelan.
Lagi-lagi Tejo di buat tersenyum dengan ucapan dan suara Bunga. Entah mengapa Tejo begitu senang melihat anak-anak seperti Bunga.
"Makasih ya sayang", ucap Dini sambil memencet hidung Bunga pelan.
"Makasih ya Bunga", sambung Tejo sambil mengusap rambut Bunga.
"Makasih ya, Nak Dini dan Nak Tejo. Bulek takut sekali. Untung saja Bunga bertemu kalian", ucap Ibu Bunga sambil memegang tangan Bunga.
"Iya, Bulek sama-sama. Makasih juga kuenya", balas Dini. "Kalau begitu kami pamit dulu ya, Bulek".
Dini dan Tejo pun berbalik arah. Mereka berjalan tanpa membicarakan apapun. Mereka berdua saling melirik. Tapi, tidak berani untuk lebih dahulu mengobrol.
Tiba-tiba saja Wahyu datang dengan mengendarai sepeda motornya dan berhenti di depan Tejo dan Dini. Wahyu buru-buru melepaskan helmnya dan turun dari motornya.
"Din, kamu kok masih dekat-dekat sama dia sih? Kamu taukan, aku gak suka!", ucap Wahyu mengungkapkan kecemburuannya.
Dini tersenyum lalu menarik napas, "Jangan pikir, kalau kita masih memiliki hubungan. Kisah kita udah berakhir Yu".
__ADS_1
"Itu tidak akan pernah terjadi Din. Aku masih tetap cinta sama kamu! Menikah dengan Bella bukan kemauanku!", ucap Wahyu mencoba menjelaskan situasinya.
Dini kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak perduli dengan apa yang dikatakan Wahyu. Dini pun melangkahkan kakinya ingin menghindari Wahyu.
Tapi, di saat itu juga Wahyu menarik tangan Dini, "Ayo Din, ku antar kamu pulang. Kamu tidak perlu jalan kaki bersamanya".
"Lepas!", tegas Dini.
"Din, please.... ".
"Wahyu, aku bilang lepas!", suara Dini mulai keras.
"Nggak! Tidak akan aku lepas sebelum kamu mau ikut denganku!", ucap Wahyu yang tidak mau kalah.
"Kamu tuh sadar nggak sih? Kamu udah punya istri. Kamu kira dengan begini, tidak membuat orang berpikir negatif sama aku!", tegas Dini lagi yang sudah hampir menangis.
"Aku nggak perduli apa kata orang.... ", belum lagi Wahyu menyelesaikan ucapannya.
"Tapi, aku perduli!", ungkap Tejo yang mencengkram tangan Wahyu yang memegang tangan Dini. "Kamu telah menyakitinya, apa kali ini kamu ingin mempermalukannya juga? Lepaskan Dini!", lanjut Tejo yang ikutan geram melihat perlakuan Wahyu terhadap Dini.
"Siapa kamu yang berani ikut campur!" ucap Wahyu geram sambil mengeratkan giginya.
"Orang asing saja tidak sampai hati melihat Dini yang ditindas oleh mu!", jawab Tejo yang tidak kalah tegas sambil menghempaskan tangan Wahyu dari bajunya.
Dini kaget dengan sikap tegas Tejo. Seakan Dini melihat orang asing. Karena sejak Tejo sadar yang Dini tahu Tejo memiliki sikap yang lembut dan manja. Sebab suka merengek padanya. Contohnya tadi, merengek minta di ajak keluar rumah. Tapi, kali ini Dini melihat sisi lain Tejo. Dini menjadi penasaran siapa Tejo sebenarnya.
"Eh, jangan asal ngomong! Siapa yang menindas Dini... ", Wahyu belum sempat menyelesaikan perkataannya.
"Stop!", ucap Dini kuat. "Ayo Jo kita pulang!" lanjut Dini sambil menarik tangan Tejo dan berlalu pergi tanpa melihat wajah Wahyu lagi.
Wahyu begitu kesal sampai-sampai ia menendang motornya sendiri. Tidak masuk di akal Wahyu, Dini sampai mengacuhkannya seperti itu. Padahal dirinya ingin sekali memperbaiki hubungannya lagi dengan Dini.
"Ehem!", Tejo berdehem. "Kenceng banget sih pegangnya", lanjut Tejo ingin menggoda Dini.
__ADS_1
Dini yang sadar maksud Tejo cepat-cepat melepaskan tangan Tejo. Dini menjadi salah tingkah. Ia mengutuk dirinya sendiri karena ia seperti menggoda Tejo.
Tejo tersenyum melihat wajah Dini yang merah seperti tomat. Rautnya begitu menggemaskan. Tejo merasa ingin sekali mencubit pipi Dini.
"Kamu masih cinta nggak sama Wahyu?", tanya Tejo tiba-tiba yang mengagetkan Dini.
Dini menoleh pada Tejo, lalu ia memperhatikan wajah Tejo. Kemudian ia melihat mata Tejo dengan seksama. Beberapa detik Dini tertegun memandangi bola mata yang meneduhkan itu.
"Astaghfirullah", ucap Dini tiba-tiba yang sadar akan kesalahannya sambil menutup matanya.
Tejo terkejut mendengar Dini yang tiba-tiba istighfar, "Kamu kenapa Din?"
Duh, malu banget sih. Dini bego, Dini bego! Ucap Dini dalam hati yang merutuki dirinya.
"Em", Dini pura-pura tenang. "Soal cinta sama Wahyu, aku belum bisa mengartikan hatiku Jo", lanjut Dini tersenyum kecil tapi seperti bersedih.
"Tapi, aku penasaran. Gimana ceritanya sampai dia menikah dengan wanita lain", tanya Tejo yang penasaran.
"Wahyu itu bekerja di kantor kelurahan. Wahyu sangat dekat dengan Pak Surya, lurah di sini. Dan beliau adalah ayah Bella, istri Wahyu. Nah, yang aku dengar dari orang sih katanya, sejak Bella balik lagi ke desa ini, mereka pun di jodohkan", jelas Dini yang tampak lesu.
"Bella balik lagi ke desa ini? Maksudnya gimana?", tanya Tejo yang masih penasaran.
"Jadi, Bella itu sekolah kebidanan. Setelah selesai, dia balik lagi ke sini dan membuka praktek Bidan di Desa ini", lanjut Dini menjelaskan.
Dini melihat Tejo tampak memikirkan sesuatu. Dini menjadi penasaran apa yang sedang Tejo pikirkan. Dini menduga-duga barangkali Tejo sedang mengingat sesuatu seperti sebelumya.
"Jo, kamu kenapa? Kok kayak mikir sesuatu gitu?" tanya Dini cemas.
"Enggak apa-apa kok. Oh ya, kamu jangan sedih ya. Aku yakin suatu hari nanti, kamu pasti akan mendapatkan cinta sejati kamu yang lebih baik dari Wahyu", ucap Wahyu tulus sambil tersenyum.
Dini membalas senyuman Wahyu. Dalam hati, Dini mengingat hari dimana ia patah hati. Rasanya saat itu ia ingin merebut Wahyu kembali. Ia ingin sekali mendapat kesempatan untuk kembali pada Wahyu. Tapi, entah sejak kapan keinginan itu perlahan sirna.
Sesekali Dini menatap wajah Tejo. Ada rasa getaran di dadanya. Apakah sebegitu gampangnya ia pindah ke lain hati? Benarkah ini cinta? Atau aku hanya ingin memuaskan hatiku dengan mendapatkan cinta dari pria lain. Dini bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
***