Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 21. Bernama Alan


__ADS_3

Pagi hari dan waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi. Tapi, Bella sudah sibuk beraktivitas. Ia sudah berpakaian rapi memakai baju kebesarannya yang menunjukkan siapa dirinya. Di tengah kesibukan Bella yang sedang bersiap ingin pergi bekerja, Wahyu pun keluar dari kamarnya dan sangat heran melihat Bella pagi-pagi buta sudah pergi bekerja.


"Kamu mau pergi sepagi ini?", tanya Wahyu sambil melipat tangan di dadanya.


Bella tidak menggubris pertanyaan suaminya. Ia masih sibuk mengecek perlengkapan medisnya yang akan ia bawa.


"Bel", ucap Wahyu sambil menarik lengan Bella karena terlalu sibuk sampai mengabaikannya. "Aku sedang bertanya sama kamu".


"Maaf ya Mas, aku buru-buru....", jawab Bella sembari menenteng tasnya.


"Terus bagaimana denganku. Bukannya kamu harus menyiapkan sarapan untukku? Kopi?", potong Wahyu yang kelihatan panik.


Bella menghela napasnya, "Mas, kayaknya selama ini kamu bisa mengurus diri kamu sendiri. Tapi, kenapa sekarang kamu merengek minta diperhatikan. Percuma juga aku masak, kamu kan gak pernah makan masakan aku".


Wahyu terdiam mendengar ucapan Dini. Karena selama ini memang begitulah keadaannya. Tapi, entah mengapa di saat Bella cuek padanya, rasa penasarannya malah tumbuh. Apalagi setelah ia memergoki Bella bersama dengan Tejo. Rasanya ada perasaan yang memanas di hatinya.


"Oke, aku minta maaf. Tapi, aku mohon kamu jangan sepagi ini dong kerjanya", ungkap Wahyu lagi.


"Kamu masih tidak mengerti aku Mas, pekerjaanku. Kamu terlalu sibuk dengan urusan percintaanmu. Inilah duniaku mas. Aku harus siap saat dipanggil oleh orang yang membutuhkan bantuanku. Dan itu tidak kenal waktu. Mau itu pagi, siang dan malam", jawab Bella tegas.


"Aku tetap tidak mengizinkanmu keluar sepagi ini!", kata Wahyu bersikeras.


Bella memandang tajam ke mata Wahyu, "Kamu kalau tidak bisa menghargai aku setidaknya kamu hargai profesi aku". Lalu, pandangan Bella turun ke dada Wahyu. Yang memang tinggi Bella hanya setinggi pundak Wahyu. Bella pun menunjuk dada bidang milik suaminya itu, "Dan kalau kamu tidak bisa menghargai hati seseorang, setidaknya tolong harga nyawa seseorang! Ini antara hidup dan mati Mas. Aku harus membantu orang melahirkan".


Wahyu tertegun mencerna perkataan Bella. Selama ini ia tidak perduli kemana dan dimana pun Bella berada. Bella di rumah atau tidak. Sebelumnya memang Wahyu tidak perduli. Bahkan sampai ia tidak tahu apa yang sedang Bella kerjakan diluar sana.

__ADS_1


Bella menghempaskan tangan Wahyu yang masih memegangi lengan Bella. Dan seketika itu Bella langsung bergegas keluar dari rumahnya. Sedangkan Wahyu hanya berdiri membisu seribu kata.


***


"Loh, Mas Tejo disini juga?", tanya Bella yang heran melihat keberadaan Tejo di rumah pasiennya.


Tapi, Tejo tidak menjawab pertanyaan Bella. Melainkan menyuruh Bella untuk cepat-cepat membantu pasiennya. Bella pun menuruti Tejo dan dia langsung masuk ke dalam rumah itu.


Tidak lama kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi. Semua orang yang ada di rumah itu tidak hentinya mengucap syukur. Dan beberapa saat kemudian, Bella pun keluar dan menyuruh suami dari pasiennya untuk mengadzankan putranya yang telah lahir ke dunia.


"Oh iya, Mas Tejo tadi belum jawab pertanyaanku loh", ucap Bella yang ikut duduk di sebelah Tejo.


"Tadi itu, aku nganter sayur ke pasar di temani Mang Didi. Eh tiba-tiba Mang Didi dapat telpon katanya istrinya mau melahirkan. Jadi, ya aku antar Mang Didi pulang", jawab Tejo menceritakan kejadian yang di alaminya.


"Oh iya, kalian akhir-akhir ini kelihatan dekat....", ucap Mang Didi yang belum selesai.


"Hush Mang! Aku ini anggap Bella sudah seperti saudara jadi nggak ada apa-apa diantara kami", jelas Tejo yang kelihatan panik.


"Iya Mang. Saya juga sama Mas Tejo ini sudah seperti abang buat saya", jawab Bella juga.


Mang Didi pun menjadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat malu karena telah menyangka yang bukan-bukan. Lalu, Mang Didi ingin pamer pada Tejo bahwa dia punya nama yang keren untuk anaknya.


"Alan Wijaya Kusumo Negoro, gimana Jo keren gak?", tanya Mang Didi sambil tersenyum bahagian.


Alan? , batin Tejo.

__ADS_1


"Keren sih Mang, tapi apa nggak kepanjangan?", kritik Bella.


Saat Bella dan Mang Didi berbincang tentang nama anak tersebut, Tejo malah menjadi pusing. Dalam ingatannya nama Alan seperti sering sekali di sebut. Dan sepertinya nama Alan itu tidak lepas dari kehidupannya. Beberapa panggilan muncul di benaknya. Alan, Alan, Alan nama itu terus bermunculan.


Dan saat itu juga Tejo merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya. Ia merasakan sakit yang teramat. Kepalanya seperti tertindih batu yang sangat besar. Tentu saja hal itu membuat Bella dan Mang Didi panik.


"Mas Tejo ada apa?", tanya Bella panik.


Tapi, Tejo sudah tidak bisa berkata-kata lagi akibat sakit kepala yang ia rasakan. Karena Bella melihat Tejo yang merintih sambil memegang kepalanya, Bella berinisiatif ingin memberi obat pereda nyeri yang dibawanya. Walaupun sempat Bella khawatir takut tindakannya itu salah. Tapi, hatinya tidak tega melihat Tejo yang sudah berteriak kesakitan. Dan akhirnya Tejo meminum obat dari Bella. Setelah itu Bella menyuruh Mang Didi untuk membantu Tejo naik ke mobil. Karena Bella akan mengantar Tejo pulang.


Saat, Tejo sudah berada di dalam mobil, Bella pamit pada Mang Didi sembari menitip motornya di rumah Mang Didi. Beberapa saat kemudian, Tejo terlihat lebih rileks, tapi sepertinya ia masih merasakan sakit kepalanya. Tidak ada percakapan selama perjalanan. Dan tidak lama mereka pun sampai di rumah Abah dan Bella memarkirkan mobilnya di halaman.


Bella keluar dari mobil dan langsung menolong Tejo untuk turun dari mobil. Di sela-sela itu, Dini yang sedang berada dikamar mengintip dari jendela karena ia tahu bahwa Tejo sudah pulang. Ia ingin melihat Tejo walau dari kejauhan. Tapi, betapa terkejutnya Dini melihat pemandangan di depan matanya.


"Tejo!", ucapnya terkejut.


Dini langsung berlari keluar sambil memanggil-manggil nama Tejo. Ia melihat kondisi Tejo yang lemah sedang di papah oleh Bella. Dini buru-buru ikut membantu Bella yang terlihat tidak kuat memapah Tejo sendirian.


"Tejo kenapa Bel?", tanya Dini sambil memapah Tejo.


"Nanti aku jelasin. Kita bawa aja dulu Mas Tejo untuk istirahat", jawab Bella yang juga sedang memapah Tejo di sisi lainnya.


Mereka pun membantu Tejo untuk masuk ke kamarnya. Dan langsung merebahkan tubuh Tejo di atas ranjangnya. Dini sangat tidak tega melihat Tejo yang tidak berdaya seperti itu. Tapi, Bella memberi saran agar Tejo di biarkan istirahat dulu.


***

__ADS_1


__ADS_2