
Wahyu tertegun melihat Bella. Kala Bella yang tidak mau pulang bersamanya. Ada rasa sakit dan kecewa. Tapi, dirinya juga tidak bisa melakukan apa-apa. Wahyu sangat menyesali semuanya.
"Biarkan sampai Ayah merestui kita lagi. Dan sekarang tugas kita adalah meyakinkan Ayah. Aku hanya tidak ingin menambah masalah lagi Mas", lanjut Bella sambil menatap Wahyu.
Wahyu memegang kedua pundak Bella lalu, ia menempelkan keningnya di kening Bella. "Aku mencintaimu Bel", ucap Wahyu dengan meneteskan air matanya.
Air mata itu jatuh sampai membasahi pipi Bella. Hati Bella pun ikut terasa perih. Perasaan tulus dari Wahyu itu membuat hati Bella meluluh.
"Kenapa Mas? Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya. Di saat kisah ini sudah berada di ujung jalan. Aku hampir saja merelakanmu. Karena aku nggak sanggup merasakan kesakitan ini", ucap Bella sembari menangis.
Maaf. Hanya itu kata yang bisa Wahyu ucapkan. Karena memang tidak ada hal yang dapat membela dirinya. Isak tangis terjadi pada mereka berdua yang masih menempelkan kening mereka.
Langit yang sudah dari tadi mendung pun menurunkan air hujan yang begitu deras. Mereka masih terus menangisi nasib pernikahan mereka.
"Bella!", panggil Surya dari dalam rumah.
"Iya ayah, tunggu sebentar lagi!", jawab Bella dengan suara lebih keras.
Bella dan Wahyu saling bertatapan. Tangan mereka saling menggenggam erat. Seperti tidak ingin berpisah. Air mata keduanya masih terus mengalir.
"Bella!", teriak ayahnya lagi.
"Iya ayah!".
__ADS_1
Bella terpaksa membalikkan badannya walau hatinya belum ingin berpisah dengan Wahyu. Lalu, Wahyu menarik tangan Bella untuk mendekat lagi. Dan tiba-tiba saja tanpa di duga oleh Bella, Wahyu langsung mengecup bibir manis miliknya. Bella terdiam mematung. Ia terkejut dan melebarkan matanya. Dengan perlahan, Wahyu sedikit memainkannya dengan lembut. Bella tidak bisa dan tentu tidak ingin menolaknya. Ia hanya bisa merasakan sentuhan indah yang pertama kali ia dapat dari suaminya itu.
Setelah puas, Wahyu melepaskan tautannya. Dan berpamitan dengan Bella. Wahyu berjanji kepada Bella akan segera membawanya pulang. Wahyu pun melangkahkan kakinya dari teras rumah itu. Dirinya telah di guyur hujan yang deras itu. Bella sangat sedih melihat Wahyu yang sebentar saja sudah basah kuyup.
Hujan itu sangatlah deras sampai tidak ada satu orang pun yang berada di luar. Hanya ada Wahyu yang mengendarai motornya untuk pulang di bawah hujan lebat itu.
***
"Om bisa lihatkan? Gilang dan kedua orang ini adalah dalang dari semua ini!", ucap Bobby yang tengah memperlihatkan rekaman cctv yang berada di depan pintu ruangannya kepada Ibnu dan juga Gilang di ruang meeting.
Ibnu melihat Gilang dengan seksama, "Saya tidak percaya kamu bisa berbuat seperti ini Gilang. Saya sungguh sangat kecewa padamu!".
Bobby tersenyum, karena berhasil membuat Gilang terlihat jahat. Ia sudah memastikan Gilang akan di pecat tidak hormat dari perusahaan ini dan dirinya akan semakin leluasa menguasai perusaan tersebut. Dan Gilang tidak berkutik sama sekali.
"Tapi, Pak, Saya...", belum lagi Gilang menjelaskan.
"Cukup Gilang! Apalagi yang mau kamu katakan? Semua sudah sangat jelas. Kamu sudah tidak di perlukan lagi di sini! Mulai sekarang kamu di pecat! Dan kalian berdua juga saya pecat!"
Dengan begitu, puaslah hati Bobby. Karena tidak ada lagi yang akan menghalanginya. Tapi, Rere dan Doni tidak setuju dengan keputusan Ibnu. Mereka disini hanyalah suruhan Gilang. Mereka melakukannya karena Gilang mengancam mereka akan membahayakan keluarga mereka. Rere dan Doni pun memohon pada Ibnu agar tidak memecat mereka.
Gilang tidak dapat berkata apa-apa lagi. Karena memang begitulah rencana mereka. Untuk melepaskan Doni dan Rere agar tidak ikut di pecat. Ibnu tidak ingin banyak bicara. Ia menyerahkan semuanya pada Bobby. Ibnu langsung keluar dari ruangan itu. Lalu, Bobby tersenyum mengejek Gilang.
"Makanya, tau diri sedikit. Kamu bukan siapa-siapa disini!", ucap Bobby mengejek Gilang. "Baiklah karena kalian terpaksa melakukannya, kalian masih bisa bekerja di sini!"
__ADS_1
Rere dan Doni pun langsung mengucapkan syukur dan berterima kasih pada Bobby. Kemudian, Bobby keluar dari ruangan itu dan di ikuti oleh Rere dan Doni. Begitu juga dengan Gilang. Ia menyusul keluar dari ruangan itu. Namun, berita itu begitu cepat menyebar. Dalam langkahnya kembali ke ruangannya, rekan-rekan kerjanya menatap sinis pada Gilang dan ada juga yang membicarakan kejahatannya. Mereka semua tidak menyangka jika Gilang bisa setega itu pada perusahaan yang telah membuat kehidupannya jauh lebih baik.
Sampai di ruangannya, Gilang kemudian membereskan semua barang-barang miliknya. Ia tahu teman-temannya sedang memperhatikannya. Tapi, ia memilih untuk pura-pura tidak tahu saja.
Setelah selesai membereskan semua barang-barangnya, ia langsung pergi dari ruangannya dengan membawa kotak besar berisi barang-barangnya tersebut. Rere dan Doni tidak tega melihat Gilang yang telah di pecat itu. Padahal Gilang mempunyai maksud yang baik. Tapi, Rere maupun Doni tidak punya kuasa untuk menahan Gilang.
Gilang pun mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Dan saat dia sampai di gerbang rumahnya, ia melihat Ibnu telah berada di rumahnya dan tengah mengobrol dengan istrinya. Gilang pun merasa penasaran dan heran. Ia cepat-cepat turun dari mobilnya dan menghampiri Ibnu.
"Ada apa Bapak sampai datang ke rumah saya?", tanya Gilang penasaran.
Ibnu langsung memeluk Gilang, dan meminta maaf pada Gilang karena telah memecatnya dari perusahaan. Ibnu juga menjelaskan bahwa dirinya masih mempercayai Gilang. Ibnu sangat yakin Gilang bukanlah orang jahat. Lalu, Ibnu meminta penjelasan pada Gilang mengenai penyelidikannya.
Tentu Gilang sangat bersyukur karena dirinya masih dipercayai oleh Ibnu. Lalu, Gilang memberikan fotocopy berkas yang ia dapat dari ruang Bobby. Itu adalah berkas asli yang belum di ubah oleh Bobby dan terlihat banyak sekali penyimpangan. Melihat kebenaran itu, Ibnu begitu geram. Ia akan menindaklanjuti perbuatan Bobby yang telah merugikan perusahaannya.
Ibnu juga menyuruh Gilang untuk tidak tersinggung atas keputusannya yang memecatnya. Karena ini hanya bersifat sementara sampai Bobby keluar dari perusahaannya. Selama itu juga Ibnu berjanji akan tetap membantu Gilang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Setelah semua beres, Ibnu pun berpamitan. Sekarang lega sudah hati Gilang. Ternyata itu semua hanyalah rencana dari Ibnu saja. Kemudian, Dara mendekati suaminya.
"Mas, bagaimana kalau kita mengunjungi Emak dan Abah saja selagi kamu tidak bekerja. Aku udah kangen banget sama mereka terutama sama Dini", pinta Dara pada Gilang.
Tanpa pikir panjang, Gilang pun menyetujui permintaan Dara. Karena memang mereka sudah lama tidak mengunjungi paman dan bibi mereka. Dara adalah seorang yatim piatu. Ayah Dara adalah abang dari ayah Dini. Sejak di tinggal kedua orang tuanya, Abah dan emak lah yang merawat Dara.
***
__ADS_1