Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 33. Bertemu Kembali


__ADS_3

Di sebuah tempat yang begitu ramai dengan orang-orang dan musik yang sangat keras. Asap rokok dimana-mana. Bobby sedang duduk dan meminum minuman yang membuat kepalanya pusing. Ia duduk sendirian sambil mengoceh-ngoceh.


"Alan sialan! Berani-beraninya dia kembali!", ucapnya setelah menenggak minumannya. "Susah payah aku menghilangkannya dari muka bumi ini. Mustahil dia kembali. Seharusnya dia sudah mati, maatii!", sambungnya dan meneriakkan kata 'mati' lalu badannya lemas dan bersandar di badan sofa. "Aku yakin dia bukan Alan. Karena Alan sudah mati, mati, mati", ucapnya lagi lalu lama-lama badannya lemas dan ia mulai tertidur.


***


Satu bulan kemudian.


Perusahaan milik Alan lambat laun makin berjalan stabil dan bahkan progresnya makin hari semakin meningkat walau tidak signifikan. Bobby selalu diancam oleh Ibnu makanya dia tidak bisa mengungkapkan kekesalannya lagi.


Alan sangat mahir dalam dunia bisnis. Membuat pemangku saham merasa tidak sia-sia mereka memilih Alan sebagai CEO. Ibnu juga bangga pada Alan bahkan terkadang ia lupa jika Alan masih amnesia.


Di malam hari, saat makan malam tiba. Alan beserta kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam mereka. Mira kini telah pulih seperti sedia kala. Dan saat ini ia kembali mengatakan jika ia ingin Alan segera menikah. Ia telah mempunyai calon untuk Alan, jika Alan mau.


"Saya sudah punya calon sendiri, Ma", jawab Alan tanpa ragu sambil mengunyah makanannya.


"Maksudmu Sonia? Mama sudah katakan tidak menyetujui kalian!", jawab Mira kesal.


"Sonia?", tanya Alan bingung. Ia sama sekali tidak mengenal nama Sonia. "Siapa Sonia?", tanya penasaran.


Mira pun mengerutkan dahinya. Ia heran dengan Alan yang menanyakan kekasihnya sendiri. Lalu, saat Mira ingin menjelaskan siapa Sonia, Ibnu menahannya.


"Dia hanya mantan kekasihmu", ucap Ibnu.


Ucapan itu membuat Mira terkejut. Mengapa Ibnu bilang seperti itu. Dan Alan hanya mengangguk tanpa marah kepadanya. Padahal dulu ia sangat keukeuh mempertahankan hubungannya dengan Sonia.


"Hanya seorang mantankan Pa? Tidak lebihkan?", tanya Alan ingin memastikan.


"Tentu saja. Dia hanya masa lalu kamu yang ingin kamu lupakan", jawab Ibnu lagi.

__ADS_1


"Lalu, siapa wanita yang kamu maksud?", tanya Mira penasaran.


"Dini?"


"Dini?", jawab Mira dan Ibnu bersamaan. Mereka tengah berpikir siapa wanita yang disebutkan oleh Alan.


Mira sama sekali belum pernah mendengar nama tersebut. Sedangkan Ibnu, ia masih mencari-cari nama itu di otaknya karena terdengar tidak asing.


"Oh, Dini. Dini yang telah menyelamatkan kamu?", ucap Ibnu yang telah mengingat ucapan Gilang sebelumnya.


Alan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mira semakin bingung mendengar. Kemudian, ia baru tersadar jika selama ini dirinya belum pernah mendengar bagaimana Alan bisa selamat. Ia begitu bahagia sampai ia lupa dengan apa yang telah menimpa anaknya.


"Saya ingin segera melamarnya. Apakah boleh?", tanya Alan berharap.


"Em, Mama dan Papa akan bicarakan dulu ya sayang", jawab Mira yang masih ragu.


Mira menanyakan pada Ibnu bagaimana ia bisa tahu dengan Dini. Ibnu pun akhirnya menceritakan apa yang ia dengar dari Gilang pada Mira. Dan tak lupa juga Ibnu memberitahu jika selama ini Alan mengidap amnesia. Mendengar hal itu, Mira terkejut bukan main. Setelah rasa syukurnya karena masih ada orang baik yang menyelamatkannya. Ia merasa sedih dengan apa yang tengah di alami oleh Alan.


Mira memberikan pendapat jika, tidak ada salahnya mereka mengunjungi keluarga Dini. Selain untuk melihat keadaan keluarga mereka, Mira juga ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolong Alan. Lagi pula, Mira tidak akan memandang status jika memang wanita pilihan Alan itu memang wanita baik-baik dan dari keluarga yang baik. Yang terpenting baginya wanita itu sayang kepada Alan, menjadi istri dan menantu yang baik, serta tidak menunda-nunda untuk memiliki seorang anak. Mendengar penjelasan Mira, Ibnu pun menyetujuinya.


Mira begitu semangat menghampiri Alan di kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Alan dan Alan pun segera membukanya. Tidak ada basa-basi, Mira langsung bilang kepada Alan jika ia dan papanya besok akan mengajak Alan ke rumah Dini. Alan pun begitu bahagia dan langsung memeluk ibunya.


"Makasih ya Ma. Aku sayang Mama", ucap Alan yang sedang memeluk ibunya.


***


Keesokan harinya hampir tengah hari. Alan dan kedua orang tuanya telah sampai di rumah Dini. Abah yang baru pulang heran melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya. Abah tidak jadi masuk ke rumah. Ia menunggu seseorang keluar dari mobil tersebut.


Tidak lama, Ibnu pun keluar dari mobil lalu di susul oleh Mira. Mereka menghampiri Abah yang sedang berdiri di teras rumahnya. Dari kejauhan mereka saling memandang. Seperti ada sesuatu yang sulit untuk di jelaskan.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian...


"De, Dede?", ucap Ibnu sambil menunjuk ke arah Abah.


Abah mengerutkan dahinya, "Ibnu? Kamu Ibnu?"


Tawa mereka pun pecah. Ibnu dan Abah saling berpelukkan kegirangan. Mira tertawa melihat mereka karena sangat lucu. Mereka seperti anak-anak di mata Mira.


Emak yang sedang menyiapkan makanan untuk Abah mendengar keributan dari luar. Ia begitu cemas karena takut ada masalah lagi. Emak pun berjalan ke arah depan rumahnya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan betapa kagetnya emak melihat Abah yang sedang berpelukkan sambil lompat-lompat dengan seseorang. Dan emak sadar ia mengenal orang itu.


Kalau itu memang Ibnu lalu, ucap Emak dalam hati sambil mencari sesuatu.


"Mira!" teriak Emak saat melihat Mira.


"Sarah!", Mira pun ikut berteriak.


Mereka berdua juga saling berpelukkan dengan sangat erat. Alan yang melihat kedua orang tuanya dan kedua orang tua Dini yang saling berpelukkan itu dari dalam mobil pun sangat heran. Alan tidak menyangka jika mereka saling mengenal satu sama lain. Lalu, Alan pun segera keluar dari mobil.


"Assalamu'alaikum Abah, Emak", ucap Alan sambil jalan ke arah mereka.


Abah dan Emak yang masih belum selesai melepas rindu itu pun langsung kaget melihat Alan yang datang bersama Ibnu dan Mira. Bukannya menjawab salam Alan, Abah dan Emak malah terdiam dan ternganga.


Ibnu tahu apa yang sedang di pikirkan oleh suami istri itu. Ibnu pun memperkenalkan Alan sebagai putranya. Tentu saja Abah dan Emak sangat terkejut mendengar kabar itu. Pasalnya mereka tidak pernah menyangka jika Alan adalah anak dari sahabat mereka.


"Pantesan, dari awal aku seperti mengenal wajahnya tapi, aku tidak bisa ingat kalau dia mirip dengan Mira", ucap Abah pada Ibnu.


"Iya. Pantesan aja dari awal aku udah merasa sayang banget sama Alan. Kayak aku sayang sama kamu", ucap Emak sambil merangkul Mira. Dan mira juga ikut merangkul Emak. Mereka sudah seperti tidak mau di pisahkan.


***

__ADS_1


__ADS_2