Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 14. Meyakinkan Dini


__ADS_3

Pagi hari Dini dan Tejo sudah siap-siap untuk pergi ke pasar menjual sayuran mereka pada pedagang di pasar. Tejo begitu senang, karena Dini ikut bersamanya. Ia terus tersenyum melihat Dini yang sedang menunjukkan arah padanya.


"Kenapa Jo? Kamu dari tadi kok senyum-senyum gitu? Ada yang salah ya?", tanya Dini sambil melihat dirinya sendiri.


"Aku senang aja, kamu ada di dekatku", jawab Tejo yang terus tersenyum. "Em, Din. Gimana dengan hubungan kita?"


Dini melihat ke arah Tejo. Ia tidak percaya Tejo menanyakan soal itu lagi. Jantungnya kini berdegup kencang.


"Hu.. hubungan apa ya Jo maksudnya?", tanya Dinda pura-pura tidak mengerti.


Tejo tersenyum, "Serius kamu nggak tau maksud aku?".


Iya, terlalu bodoh aku nggak mengerti yang dia maksud, batin Dini.


Dini mencoba memberikan pengertian pada Tejo. Bukan berarti ia menolak cinta Tejo. Karena Dini tau nama Tejo mulai muncul dihatinya juga. Cuma, ia juga tidak bisa memastikan bahwa dirinya telah melupakan Wahyu. Jika ia menerima Tejo sekarang, hanya karena dia ingin memulihkan hatinya, maka pada akhirnya ialah yang akan menyakiti Tejo. Dini tidak ingin menyakiti siapapun. Ia tahu bagaimana rasanya sakit hati saat dirinya benar-benar cinta pada seseorang dan sudah menaruh harapan. Lalu, tiba-tiba saja semuanya sirna bagai debu yang tertiup angin.


Tejo tersenyum kecut. Ia pikir akan Dini akan mudah menerimanya. "Tidak apa-apa Din. Tidak apa-apa jika aku harus menjadi pelampiasan hatimu. Aku tidak akan menyesali keputusanku ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku cinta padamu. Dan Yang penting aku bisa melihatmu terlepas dari kesedihanmu. Aku tidak mau orang lain memandangmu sebelah mata hanya karena Wahyu selalu mengejar-ngejarmu", jelas Tejo penuh keyakinan.


Dini hanya tersenyum pada Tejo. Ia tidak mampu menjawabnya. Ia memandang ke depan lagi.


"Atau apakah kamu ragu karena aku amnesia?", tebak Tejo lagi.


Kebetulan mereka sudah sampai di pasar, Dini pun mengajak Tejo untuk turun. Hal ini menjadi kesempatan Dini untuk tidak menjawab pertanyaan Tejo.


Dini memberitahukan pada Tejo mengangkat sayuran-sayuran itu untuk di berikan ke pada pedagang di pasar yang memang sudah berlangganan dengan mereka. Sedangkan Dini menghitung harga dan menerima uang dari pedagang tersebut.


Di sela-sela kesibukan mereka, Sonia melintas dengan mobilnya. Sekilas ia melihat sosok Alan di pasar itu.


"Alan?", gumam Sonia sambil memperhatikan pria yang dilihatnya seperti Alan.

__ADS_1


Sonia pun menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobilnya. Sesaat ia kehilangan sosok Alan.


Kemana dia? Aku sangat yakin, aku melihatnya. Batin Sonia sambil memperhatikan semua orang di sekelilingnya.


Apakah aku salah lihat? Atau cuma khayalan ku? Aku rasa aku terlalu memikirkannya sampai berhalusinasi melihatnya disini. Sonia masih berkata-kata dalam hati.


Akhirnya Sonia kembali lagi masuk ke mobilnya. Ia menarik napas panjangnya dan menyandarkan tubuhnya ke badan kursi mobil. Jantungnya masih terasa berdegup kencang. Ia pikir, ia benar-benar akan bertemu dengan Alan. Tapi, itu semua hanyalah imajinasinya saja. Lalu, ia kembali mengendarai mobilnya.


Rindu, sangat rindu itu yang dirasakan Sonia. Bagaimana rasa rindu itu bisa terlampiaskan? Sedangkan orang yang dirindukan telah hilang dari bumi ini. Kehidupannya yang dulu bersama kekasihnya hanya tinggal sebuah kenangan. Tapi, kini ia akan pergi untuk beberapa waktu untuk mencari kebahagiaan lainnya. Ia tinggalkan tempat itu dengan segala kenangan indahnya saat bersama Alan. Ia harus bisa menghapus nama Alan di hatinya agar tidak berlarut dalam kesedihan. Kehidupannya masih panjang dan ia akan menjalaninya tanpa mengingat kenangannya lagi. Mungkin suatu saat nanti Sonia akan kembali lagi ke tempat itu.


Setelah beberapa jam berlalu, Dini mengajak Tejo untuk pulang. Karena sayuran dan buah yang mereka bawa sudah habis. Lalu, Dini mengatakan ia ingin dirinya yang mengemudikan mobil. Karena merasa kasihan pada Tejo yang sudah berusaha keras mengangkat sayur kesana-kemari.


Tejo pun duduk di bangku sebelah supir. Saat itu, pandangan Tejo seperti terpaku melihat jalanan di depannya. Baru saja beberapa saat mobil mereka bergerak, tiba-tiba muncul bayangan di benak Tejo yang sedang berada di dalam mobil dan tampak seseorang lagi yang sedang mengemudikan mobil. Dalam bayangannya ada pertengkaran di dalam mobil itu.


"Aaaarrggghh!", rintih Tejo sambil memegangi kepalanya.


Seketika Dini menghentikan mobilnya. Ia melihat Tejo yang memegangi kepalanya. Tejo kesakitan dan Dini sangat panik.


Tejo mendengar Dini dengan suaranya yang bergetar. Dini begitu mengkhawatirkannya. Ia mencoba menenangkan dirinya dan perlahan melihat kearah Dinda yang berada disampingnya. Wajahnya tampak begitu cemas dan air matanya telah berlinang. Tejo tidak sampai hati melihat Dini seperti itu.


Tejo pun berusaha tenang dan mencoba menghilangkan bayangan-bayangan itu. Ia menarik napas panjang perlahan lalu mulai menegakkan badannya lagi lalu bersandar pada kursi. Dini begitu khawatir, sampai ia terus menanyakan keadaan Tejo.


Lalu, Tejo mengeluarkan sapu tangannya dari saku dan menghapus air mata Dini, "Aku nggak apa-apa Din. Tadi, cuma ada bayangan dari masa lalu aku".


"Aku khawatir banget Jo. Aku takut banget kamu kenapa-napa, hiks", ucap Dini sambil nangis tersedu-sedu.


"Aku minta maaf ya, udah buat kamu khawatir", jawab Tejo.


"Atau kita ke rumah sakit aja yuk. Aku benar-benar nggak tenang kali ini Jo".

__ADS_1


Tejo mencoba menenangkan Dini. Ia menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Jadi tidak perlu di bawa ke rumah sakit. Tejo lebih memilih pulang agar bisa ke kebun abah dengan cepat.


***


Saat Tejo dan Dini sudah balik ke kebun, Wahyu menghampiri Dini kembali. Kali ini ia mempunyai strategi lain. Ia akan merayu Dini dan tidak akan bertengkar dengan Tejo. Wahyu berharap dengan begitu Dini bisa luluh.


"Assalamu'alaikum", ucap Wahyu saat menghampiri Dini dan Tejo.


" Wa'alaikum salam", jawab Dini dan Tejo.


Tumben dia ngucap salam? Biasanya juga langsung marah-marah kayak angsa, batin Tejo yang kesal melihat Wahyu gak taubat-taubat.


"Mau apa lagi sih? Ganggu orang mulu!", ketus Tejo.


Tapi, kali ini Wahyu tidak mau melawan Tejo. Ia mau bermain cantik saja. Dia yakin, bujuk rayunya akan meluluhkan hati Dini kembali.


"Din, kamu ada waktu nggak?" tanya Wahyu pada Dini.


"Nggak!", Tejo yang menjawab.


"Eh, ada kok. Kenapa emangnya?", jawab Dini pada Wahyu.


"Makan siang bareng yuk, di warung Pakde Anto", ajak Wahyu.


"Ogah!", Tejo menjawab lagi.


"Ih, Tejo kamu kenapa sih? Aku mau kok Yu", jawab Dini lagi.


Wahyu pun begitu senang karena Dini tidak menolak ajakannya. Baru pancing pertama, udah langsung dapat strike begitulah yang dipikirkan Wahyu.

__ADS_1


***


__ADS_2