
"Kamu Pikir akan ada yang percaya dengan semua ucapanmu? Jangan kamu merasa bahwa kamu adalah orang yang sangat berpengaruh di sini! Tidak ada bukti untuk menyatakan bahwa aku melakukan percobaan pembunuhan terhadapmu!", ucap Bobby pada Alan.
Sudah setengah jam Bobby beradu mulut bersama Alan di dalam ruangan Alan. Awalnya Alan mengira Bobby akan melarikan diri karena dirinya telah mengingat siapa yang mencelakainya sampai ia kehilangan ingatannya. Namun, nyatanya Bobby belum juga menyerah untuk merebut hak Alan.
"Semua bukti ada disini!", kata Gilang yang tiba-tiba masuk ke ruangan Alan dan memperlihatkan sebuah ponsel di tangannya.
Ya, itu adalah ponsel milik Alan yang terjatuh di sungai dan di temukan oleh warga desa. Setelah waktu yang lama untuk memperbaikinya, akhirnya ponsel itu bisa pulih kembali dan sebuah rekaman yang sebelumnya di rekam oleh Alan juga masih ada di sana.
"Saya perintahkan, cepat putar balik sekarang juga!".
"Siapa kamu berani memerintah ku!"
"Saya atasan anda! Sebaiknya anda menuruti perintah saya atau saya tidak segan-segan memecat anda!".
"Atasan? Saya tidak pernah menganggap kamu sebagai atasan. Kamu hanya anak kecil yang beruntung saja. Saya lah yang pantas menjadi CEO di perusahaan itu dan sebentar lagi semua akan saya dapatkan!"
"Tidak! Saya tidak akan membiarkan itu terjadi!".
"Ayo keluar! Saya pastikan kamu musnah dari muka bumi ini!
"Kurang ajar! Beraninya kamu memperlakukan saya seperti ini!"
Saat itu, Alan di paksa keluar dan ia langsung buru-buru menyimpan rekaman itu.
Bobby sangat terkejut melihat kedatangan Gilang terlebih mendengar rekaman suara dari ponsel yang ditunjukkan oleh Gilang. Bobby sudah habis akalnya. Ia mendekati Gilang lalu ingin mengambil ponsel tersebut. Tapi, Gilang dengan cepat mengamankan ponsel itu di saku dalam jasnya.
"Sudah merasa takut sekarang?", ejek Alan. "Itu adalah salah satu buktinya. Dan anda lupa jika kemarin ada warga yang melihat kamu yang ingin membunuhku lagi? Asal anda tau, mereka mau menjadi saksi".
Bobby hanya diam saja. Tapi, sangat tampak jika ia sudah sangat ketakutan. Kali ini ia mati langkah. Semua bukti sudah ada bahkan saksi mata.
"Dan tentu saja Dini. Anda tau, istri Pak Alan juga bisa menjadi saksi. Karena dia yang pertama kali menemukan Pak Alan yang hanyut di sungai", sambung Gilang sambil tersenyum senang.
"Dan jangan lupa soal anda yang telah korupsi di perusahaan ini!", tambah Alan lagi.
Bobby sangat geram, tapi kali ini ia tidak dapat berkutik. Ia berpikir untuk melarikan diri saja sebelum ia di serahkan ke polisi. Namun, saat ia hendak keluar dari ruangan Alan, dua orang polisi tiba-tiba muncul dan menodongkan pistol kearah Bobby. Ia pun pasrah saat polisi itu memborgol tangannya.
Bobby dibawa oleh polisi tersebut. Alan dan Gilang mengikutinya dari belakang. Saat sampai di lobby, Dini yang baru sampai terkejut melihat Polisi yang sedang membawa Bobby. Kemudian, Dini melihat Gilang dan juga Alan.
"Ada apa ini kak?", tanya Dini pada Gilang setelah mencium punggung tangan Gilang.
"Dia adalah orang yang telah mendorong Pak Alan hingga jatuh ke sungai", jawab Gilang. Gilang melihat wajah Dini yang kaget mendengar ucapannya. Dini terus melihat kemana Bobby di bawa oleh polisi itu. "Ya sudah, kakak tinggal dulu ya", sambung Gilang lalu berlalu pergi mengikuti polisi-polisi itu.
Alan langsung menarik Dini dan berjalan ke lift. Hanya ada mereka berdua di dalam lift saat itu.
"Apa yang membawa datang ke sini tanpa memberitahuku dahulu?", tanya Alan ketus.
"Ini", jawab Dini sambil memperlihatkan sebuah map kuning pada Alan. "Waktu aku ke kamar tadi, aku menemukan ini di atas kasur. Dan aku lihat memo di dalamnya untuk rapat hari ini. Jadi aku pikir kamu akan memerlukannya".
Alan langsung mengambil map itu. Kemudian ia membuka dan melihat isinya. Alan pun teringat ia memang meletakkannya di atas kasur tadi saat hendak mandi.
Alan tidak suka dengan Dini yang langsung datang ke sini tanpa memberitahunya. Dini bisa saja menghubunginya dan dirinya akan menyuruh orang lain mengambilnya. Dengan kata lain, Alan benar-benar tidak ingin melihat Dini disini. Sudah cukup baginya melihat Dini di rumah.
"Aku sudah telfon kamu, Mas. Tapi, kamu tidak menjawabnya", ucap Dini.
Alan terdiam. Ia mencoba mengingat apa yang ia lakukan saat di mobil tadi. Memang benar saat ada panggilan telfon dari Dini, Alan sengaja mematikannya.
"Kamu bisakan ngirim pesan ke saya?"
"Tapi, sepertinya kamu telah memblokir nomorku, Mas. Sampai semua pesanku tidak ada yang terkirim", jawab Dini lagi.
Ya, Alan juga baru ingat jika ia memang telah memblokir nomor Dini.
"Aku hanya ingin membantu kamu, Mas", ucap Dini sambil tersenyum.
Walaupun sakit yang di rasa Dini, ia akan tetap bersikap tenang. Ia tidak ingin Alan akan semakin membencinya. Melihat senyuman Dini, jantung Alan pun terasa bergetar. Ingatannya kembali pada saat ia di desa bersama Dini. Semua kejadian, yang melibatkan senyum yang indah itu bermunculan di benak Alan. Tapi, Alan mencoba menepis rasa itu.
Ting! Tiba-tiba lift itu berhenti, tapi belum di lantai dimana ruangan Alan berada. Saat pintu lift terbuka, terlihatnya begitu banyak karyawan yang ingin masuk ke lift tersebut. Alan menekan sebuah tombol agar pintu tetap terbuka.
"Kalian, tunggu lift berikutnya saja!", perintah Alan.
"Maaf Pak, tapi kami sudah hampir terlambat untuk rapat bersama manajer kami. Kami mohon Pak, izin kami masuk", pinta salah satu karyawan.
Akhirnya Alan mengizinkan mereka masuk. Lalu, mereka pun masuk satu persatu sampai Dini melangkah mundur hingga terhimpit. Melihat hal itu, tanpa pikir panjang Alan menarik Dini ke sudut dan Alan berdiri di hadapan Dini menjadi tameng untuknya dengan kedua tangannya yang memegang dinding lift itu.
Dini terus memandangi mata Alan. Tidak di sangka, jantung Alan berpacu dengan kencang saat melihat mata Dini. Alan memalingkan wajahnya untuk meredam rasa itu. Begitu juga dengan Dini, ia menundukkan kepalanya.
Tidak lama, lift pun berhenti tepat di lantai ruangan Alan berada. Dan ruang rapat juga berada di lantai yang sama. Semua pegawai itu langsung buru-buru keluar. Dan tinggallah Alan dan Dini. Kemudian, Alan langsung keluar dari lift juga. Ia mengira Dini akan ikut bersamanya. Saat Alan berbalik, Dini masih diam di tempatnya.
"Aku pulang ya, Mas", ucap Dini sambil tersenyum sebelum pintu lift benar-benar tertutup.
Alan mengakui jika ada rasa sedih melihat Dini seperti itu. Sekilas ia merasa sudah sangat jahat kepada Dini. Bahkan Dini adalah istri sahnya. Tapi, lagi-lagi ia meneruskan rasa itu. Sekali lagi ia bertekad akan membawa Sonia bersamanya.
***
Tok.. tok.. tok...
Lagi-lagi sebuah ketukan pintu terdengar di apartemen Sonia pada malam hari. Sonia sudah menyangka pasti Alan yang datang. Dan benar saja, saat Sonia mengintip dari lubang pintu Alan sudah berdiri di sana.
__ADS_1
Sonia benar-benar sudah jengah dengan Alan yang tidak bisa mengerti juga dengan keadaan mereka. Sonia masih menunda untuk membukakan pintu. Ia masih berpikir apa yang harus ia lakukan. Dan sekelebat ia langsung mendapatkan sebuah ide.
"Alan, mau apa lagi kamu datang ke sini?", tanya Sonia.
"Apa seperti itu cara kamu menyambut kekasihmu?", Alan bertanya balik.
"Alan, kenapa kamu tidak mengerti juga! Kamu sudah...."
"Menikah, punya istri? Terus kenapa?"
"Kamu benar-benar keras kepala!"
"You know me so well".
"Oke, kalau begitu tinggal disini! Dan carilah apa yang kamu cari!", ucap Sonia dengan geram.
"Kamu serius mengizinkan ku tinggal di sini? Oh, thank you so much baby", jawab Alan kegirangan.
Sonia benar-benar mengizinkan Alan untuk tinggal semalaman bersamanya. Tapi, Sonia tetap tidak memperdulikan Alan. Walaupun mereka makan bersama tapi, Sonia tetap tidak ingin terlalu memperdulikan Alan.
Alan menyadari bahwa sikap Sonia begitu dingin padanya. Hatinya sangat terluka melihat Sonia tidak seperti Sonia yang ia kenal dahulu. Tapi, pikir Alan dengan ia bersama Sonia sekarang ia akan bisa membujuk Sonia kembali lagi padanya.
Namun, nyatanya Alan merasa dirinya benar-benar mengantuk saat itu. Sampai-sampai ia tidak sempat mengobrol dengan Sonia. Ia pun terlelap di sofa itu. Ya, tanpa Alan ketahui Sonia telah memasukan obat tidur dalam minuman yang ia buat untuk Alan.
***
Alan masih merasakan pusing di kepalanya. Matanya sedikit terbuka dan melihat ponselnya di atas meja di hadapannya. Dengan keadaan yang masih mengantuk, Alan mencoba mengambil ponselnya itu. Kemudian, ia memperhatikan waktu yang ada di layar ponselnya. Seketika Alan terperanjat dan langsung terduduk.
"Din, kamu kok nggak bangunin aku sih?", ucap Alan tanpa pikir panjang setelah melihat waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Namun, Alan malah melihat sosok wanita yang sedang duduk di kursi lainnya memperhatikan Alan. Wanita itu ialah Sonia. Alan terkejut begitu menyadari perkataannya.
"See? Hati kamu nggak bisa berbohong Alan. Wanita yang ada di hatimu adalah Dini bukan aku. Bahkan saat kamu bangun tidur yang kamu panggil pertama kali adalah Dini. Sadarlah Alan. Kamu membutuhkan Dini. Kamu sudah terbiasa dengannya. Aku bisa melihat waktu itu, kalian sama-sama saling mencintai. Cinta kalian tulus tanpa ada paksaan sama sekali", jelas Sonia panjang lebar.
Alan hanya bisa terdiam merenungi ucapannya dan juga ucapan Sonia. Ia juga tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Ia memang membenarkan tadi yang ia ingat hanyalah nama Dini. Karena memang Dini yang selalu mengurusnya.
Tap.. tap.. tap... Suara sepatu terdengar dari arah dapur. Belum saja Alan selesai dengan terkejutannya soal ucapannya, kini ia juga terkejut melihat seorang pria berada di apartemen Sonia.
"Minumlah kopi ini", ucap Salim sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Siapa kamu?", tanya Alan penasaran.
"Dia, Salim. Tunangan ku", jawab Sonia.
"Apa?", Lagi-lagi Alan terkejut.
"Ya, Alan. Bahkan hatiku sudah mengganti sebuah nama yang dulu kamu tempati. Kami juga akan segera menikah. Aku harap kali ini kamu benar-benar mengerti", pinta Sonia.
"Tega kamu Mas!", ucap Dini sambil menangis lalu berlari pergi.
Alan merasa hatinya begitu sakit melihat Dini yang kecewa padanya. Ia pun mengejar Dini yang sudah masuk ke dalam lift. Ia terlambat. Lift itu sudah berjalan. Tanpa pikir panjang lagi, Alan langsung mencari tangga darurat untuk mengejar Dini.
Setelah cukup banyak anak tangga yang di lalui Alan, akhirnya ia sampai ke lobby. Alan terus berlari sampai keluar dari apartemen. Tapi, ia tidak menemukan Dini. Ia bingung, apakah Dini masih di dalam atau sudah pergi. Alan terus mencari sosok Dini.
"Dini!" teriak Alan sekuat-kuatnya.
Dadanya begitu sesak karena tidak dapat menemukan Dini. Ia kebingungan sendiri, melihat sekelilingnya. Dini begitu cepat hilang dari hadapannya. Lalu, sekelebat ingatan muncul di benaknya. Wanita yang pertama kali ia lihat saat sadar dari pingsannya ya itu Dini yang tengah menolongnya.
*
"Emangnya kamu mau kasih nama siapa Din?" tanya Abah yang penasaran.
"Em, siapa ya Bah kira-kira. Oh, gimana kalau Tejo aja!"
*
"Iya, Jo. Waktu itu aku memberikanmu napas buatan. Karena aku nggak mau kamu kehilangan nyawamu. Dan asal kamu tau, itu adalah ciuman pertamaku dengan seorang pria".
*
"Maafin aku Jo. Aku nggak bermaksud melukai hatimu. Aku cuma ingin memastikan apakah aku mencintai Wahyu atau aku mencintai dirimu. Jujur Jo aku sangat takut kehilanganmu. Suatu saat nanti, saat ingatanmu telah kembali kamu akan pergi dariku. Dan aku tidak bisa Jo. Karena aku sangat mencintaimu".
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Maaf telah membuatmu memikirkan hal ini sendirian. Dan kalau kamu ingin menjauhiku ya sudah tidak apa-apa. Aku akan mencoba untuk mengerti".
"Sudah aku coba untuk menjauhimu. Tapi, yang aku dapat adalah rindu. Rasanya hari-hariku tidak lengkap tanpa kehadiran kamu. Aku sudah terbiasa denganmu. Dan tidak bersama denganmu itu sangat menyiksaku".
*
"Saya terima nikahnya Dini Sutari binti Dede Abdullah dengan mas kawin sepuluh gram emas di bayar tunai!".
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!".
*
Tidak ada satupun dari ingatan itu yang terlewat. Bagaimana suara Dini memanggil namanya, tawa Dini dan juga tangisan Dini untuknya. Semua itu bermunculan satu persatu di benak Alan. Bahkan Alan mengingat bagaimana malam-malam indah mereka bersama setelah menikah.
__ADS_1
Tidak di sangka ingatan-ingatan itu membuat air mata Alan menetes membasahi pipinya. Tubuhnya mendadak lemas. Ia sampai berlutut menyesali semua perbuatannya ke pada Dini.
*
"Aku takut aja. Suatu hari nanti aku akan kehilangan cinta kamu yang sekarang telah aku miliki".
"Setelah kita menikah, kita akan selalu bersama. Kamu adalah istriku. Aku akan selalu membutuhkanmu. Seorang suami pasti akan terbiasa dibantu, di perhatikan, di persiapkan kebutuhannya oleh istrinya. Kamu tau aku pasti kesulitan tanpa kamu. Apapun yang terjadi aku yakin aku pasti akan mencari kamu. Dan jika saat itu terjadi, kamu harus meyakinkanku jika aku begitu mencintai kamu".
*
Bahkan Alan mengingat bagaimana ia meminta Dini agar meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar mencintai Dini. Alan menarik napasnya, menguatkan dirinya. Ia kembali berdiri dan bergegas mengambil mobilnya. Yang ia pikirkan adalah rumahnya. Itu adalah tempat satu-satu dimana Dini bernaung. Alan pun mengendarai mobilnya pulang ke rumah.
***
Brak!
"Aaaa!"
Bugh!
Dini yang sedang berjalan dengan langkah gontainya di serempet oleh sebuah sepeda motor yang melaju begitu kencang. Membuat Dini terhempas ke aspal dan pingsan seketika. Orang-orang yang berada di lokasi kejadian pun, langsung mengerumuni Dini.
"Dini!", teriak seorang pria yang datang dari kerumunan orang-orang.
Dini dapat mendengarnya. Ia mencoba melihat siapa orang itu. Tapi, Dini merasa tidak sanggup lagi. Seorang pria yang memanggil namanya itu hanya tampak samar dimata Dini.
***
"Din!" teriak Alan saat memasuki rumahnya.
"Dari mana saja kamu Alan!", ucap Mira yang tengah duduk di sofa sambil melipat tangannya di dada. "Semalaman kamu tidak pulang. Tega kamu membuat Dini menunggu tanpa jawaban darimu! Jangan bilang kalau kamu menginap di rumah Sonia!", sambung Mira yang sudah murka pada Alan.
"Dimana Dini Ma?", tanya Alan yang menghiraukan ocehan Mira.
"Dini pergi pagi-pagi sekali", jawab Ibnu sambil menuruni anak tangga. "Ia terlihat buru-buru. Sampai sekarang ia belum pulang. Kamu cari dia sekarang juga. Atau Papa akan mengeluarkan mu dari keluarga ini!".
Alan menjadi frustasi. Bukan karena kedua orang tuanya yang murka padanya dan bukan pula karena akan di keluarkan dari keluarganya. Tapi, ia frustasi karena Dini juga tidak berada di rumah. Kini ia harus mencarinya kemana.
Kring.. Kring... Suara itu berasal dari ponsel Alan. Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya yaitu nama Gilang. Alan pun segera menjawab panggilan itu.
"Ya Halo", ucap Alan sambil menunggu balasan dari Gilang. "Apa? Dini masuk rumah sakit? Ya, saya segera ke sana."
Alan langsung bergegas langsung mengendarai mobilnya ke rumah sakit. Tidak cuma Alan, Mira dan Ibnu juga langsung buru-buru mengikuti Alan menggunakan mobil mereka.
Alan melakukan mobilnya dengan sangat kencang. Ia mencoba fokus sambil menahan air matanya. Yang paling penting untuknya adalah bertemu terlebih dahulu dengan Dini.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Alan terus saja berlari sambil mencari ruangan Dini di rawat. Lalu, tidak lama sampailah ia di hadapan pintu kamar itu. Alan membukanya perlahan. Ia melihat Dini yang tengah berbaring di atas bangsal dengan perban di kepalanya. Di sana juga ada Gilang dan Dara. Mereka bertiga langsung melihat Alan yang tengah berdiri di depan ruangan itu.
Tap.. tap... Suara langkah kaki Alan begitu terdengar. Alan buru-buru masuk dan langsung memeluk Dini. Ia mengeratkan pelukannya seolah-olah tidak ingin kehilangan Dini lagi.
"Maafkan aku.. hiks... maafkan aku", ucap Alan yang masih memeluk Dini.
Dini merasakan tubuh Alan yang gemetar. Dini juga sangat terkejut sampai ia tidak bisa berkata apa-apa. Namun, tidak bisa di pungkiri hati Dini juga perih mendengar tangisan suaminya. Ia pun ikut mengeratkan pelukannya pada tubuh Alan.
Di depan ruangan itu, Mira dan Ibnu juga sudah berada di sana. Mira ingin segera menemui Dini, tapi Ibnu menghentikannya dengan menarik tangannya.
"Beri mereka ruang", ucap Ibnu lalu menarik tangan istrinya untuk pergi dari ruangan itu.
Dan begitu pula dengan Gilang, ia mengajak istrinya untuk meninggalkan Alan dan juga Dini. Mereka pun keluar dari ruangan tersebut meninggalkan dua insan yang masih berpelukan.
Alan melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah Dini. "Bagaimana kamu bisa sampai kecelakaan?"
"Nggak apa-apa Mas, aku cuma keserempet doang".
"Cuma keserempet katamu? Aku nyaris mati mendengar kamu kecelakaan dari Gilang. Tapi, ini semua juga salahku", ucap Alan menyesali perbuatannya.
Dini melihat wajah yang sendu itu. Ia terlihat benar-benar menyesal. Dini tidak tega melihat suaminya merasa bersalah seperti itu. Dengan apa yang ia lakukan sekarang, Dini rasa itu cukup membuktikan bahwa ada butiran-butiran cintanya dari Alan.
Dini tersenyum, "Aku hamil, Mas".
Alan langsung memandang Dini dengan seksama, "Kamu hamil?"
Dini menganggukkan kepalanya. Lalu, Alan langsung memeluk Dini kembali. Alan begitu bahagia mendengar kabar tersebut. Sampai ia menangis sangking bahagianya.
"Makasih sayang. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu", ucap Alan yang masih memeluk Dini.
"Makasih Mas, karena kamu masih mencintaiku. Aku juga mencintaimu", balas Dini dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh Alan. Hatinya begitu bahagia mendengar pernyataan cinta Alan untuknya.
Alan melepaskan pelukannya. Lalu, ia melekatkan dahinya pada dahi Dini. "Aku akan menebus semuanya. Rasa sakit hati kamu dan penderitaan yang kamu alami karena diriku. Setiap waktu aku akan selalu berusaha membuat kamu bahagia", ucap Alan dengan menutup matanya.
"Kamu juga harus selalu bahagia Mas".
"Kebahagiaanku adalah melihat kamu bahagia. Bagaimana bisa aku jauh dari kamu sedangkan aku telah terbiasa denganmu", ucap Alan yang kemudian menangkup wajah Dini.
Sebuah kecupan di bibir ranum istrinya sebagai tanda dihatinya masih tertulis indah nama Dini, istrinya. Namun, kecupan itu berlanjut lebih lama.. lama.... Suasana ruangan itu berubah menjadi begitu romantis.
TAMAT
__ADS_1
Terimakasih untuk para readers yang telah setia membaca Kisah cinta CEO amnesia, Terbiasa Denganmu.
Semoga kalian sehat selalu ya. Sekali lagi Terima kasih...