
Bagas masuk ke rumah Alan dengan membawa peralatan medisnya. Mbak Sri yang menyambut kedatangan Bagas langsung mengantarkan ia ke kamar Alan.
Tok.. tok... Mbak Sri mengetuk pintu kamar itu seraya memberitahukan kedatangan Bagas. Dengan cepat Dini membukakan pintu. Ia tersenyum lebar kepada Bagas karena lega Bagas mau memeriksa kondisi Alan. Dan senyuman itu di balas oleh Bagas. Ia begitu terpesona melihat wanita cantik di hadapannya. Dini mempersilahkan Bagas masuk. Kemudian Dini pergi meninggalkan mereka.
"Hai Al", sapa Bagas sambil membuka tasnya.
Alan hanya mengangkat alisnya untuk menyapa Bagas. Kemudian, Bagas menanyakan apa saja yang dikeluhkan oleh pasiennya itu. Alan pun mengatakan apa yang ia rasakan. Dan saat itu juga Bagas memeriksa keadaannya.
Di lain tempat, Dini sedang membuat secangkir teh untuk Bagas. Setelah selesai, ia segera membawakannya untuk Bagas. Namun, belum lagi sampai, Bagas sudah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Melihat itu, Dini meletakkan cangkir yang dibawanya di meja makan dan mempersilahkan Bagas untuk meminumnya terlebih dahulu.
"Gimana keadaan su.....", ucapan Mala terpotong.
"Ah, hanya demam biasa. Sebentar lagi juga sembuh. Aku sudah menyuntiknya dan memberikan resep padanya", kata Bagas bersemangat dan duduk sambil menikmati teh buatan Dini. "Alan itu, sikapnya memang dingin. Jadi, kamu harus sabar-sabar menghadapinya. Bahkan saat ia hilang ingatan, sikapnya juga tidak berubah", lanjut Bagas.
Mendengar ucapan Bagas, jelas membuat Dini merasa heran. Apa maksud dari ucapan Bagas itu. Tapi, Dini segan untuk bertanya. Ia hanya tersenyum kecil mendengar celotehan Bagas.
"Oh, ya kamu sudah berapa lama jadi asisten pribadi Alan?", tanya Bagas penasaran.
Asisten pribadi? Oh, jadi dia pikir aku ini asistennya Alan. Apa aku nggak pantas ya, bersanding dengan Alan sampai dia saja menyangka aku ini asisten pribadi Alan, ucap Dini dalam hati.
"Kamu kenapa diam?" tanya Bagas lagi yang melihat Dini tidak menjawab pertanyaannya. "Oh iya nama kamu siapa?"
"Dini. Dan dia adalah menantu di rumah ini", jawab Mira yang tiba-tiba muncul dan merangkul Dini.
Sontak jawaban itu membuat Bagas terkejut dan tersedak. Pasalnya dia ada bertanya pada Alan siapa wanita itu tadi. Jadi, dia hanya berpikir mungkin Dini adalah asisten pribadinya. Ia langsung jatuh hati saat pertama kali melihat Dini. Dan ingin sekali dekat dengan Dini. Namun, harapannya pun pupus saat tau wanita pujaannya itu adalah istri sahabatnya.
__ADS_1
"Yah, putus deh harapan", ucap Bagas sedih.
Mira langsung menarik telinga Bagas, "Apa kamu bilang? Awas ya kalau kamu sampai mengganggu hubungan Alan dan Dini, Tante pastikan telinga kamu ini hilang".
Bagas pun merintih kesakitan. Ia terus meminta ampun pada Mira untuk di lepaskan. Sedangkan Dini hanya tersenyum melihat pertikaian itu. Lalu, Mira menanyakan kenapa Bagas malam-malam datang ke rumahnya.
"Itu, Ma. Mas Alan sakit", jawab Dini.
Mendengar itu, Mira pun terkejut. Ia langsung bergegas hendak menemui Alan untuk melihat keadaannya. Ia begitu merasa khawatir.
"Kalian kapan nikahnya? Kok nggak ada kabar tentang pernikahan kalian?", tanya Bagas penasaran.
"Baru empat hari yang lalu dok", jawab Dini.
Dini hanya tersenyum mendengar jawaban Bagas. Tidak ada lagi yang harus ditanyakan lagi oleh Bagas. Semuanya sudah jelas. Ia pun pamit untuk pulang. Ia pun berjalan keluar rumah yang megah itu. Sesampainya di dalam mobil, ia teringat sesuatu.
"Bukannya, Alan menjalin hubungan dengan Sonia ya? Tapi, kenapa dia malah menikah dengan wanita lain? Ah, iya. Alan kan lagi lupa ingatan. Pasti dia juga lupa sama Sonia. Tapi, gimana kalau Alan ingat semuanya? Tadi aja kayaknya aku nggak melihat mereka seperti pasutri. Jangan-jangan Alan di paksa menikahi Dini. Kan orang tuanya gak setuju sama Sonia. Oke, kalau sampai Alan sudah ingat semuanya dan menceraikan Dini, aku pastikan Dini akan menjadi milikku", oceh Bagas dengan berbagai asumsinya. "Atau aku coba aja membuat Alan mengingat masa lalunya. Ya, semakin cepat semakin bagus", tukasnya lagi.
***
Di dalam kamar, setelah Mira keluar kini Alan dan Dini telah berbaring bersama. Alan memiringkan tubuhnya ke arah Dini dan begitu pun sebaliknya.
Dini mengelus pipi Alan dengan lembut, "Apakah sudah baikan sekarang?"
Alan tersenyum melihat wajah yang khawatir itu. Ia pun menyentuh rambut Dini yang mengenai pipinya dan meletakkan di belakang telinganya.
__ADS_1
"Aku sudah baik-baik saja", jawab Alan sambil mengelus rambut Dini. "Kamu khawatir?"
"Sangat khawatir", ucap Dini dengan wajah sedih.
Alan sudah tidak tahan lagi melihat wajah cantik itu. Ia pun memeluk Dini dengan erat. "Tamunya udah pergi belum?", bisik Alan.
Dini mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud Alan. Tapi, setelahnya ia baru paham apa yang dimaksud Alan. Ia pun memukul pelan bahu Alan karena malu.
"Apaan sih. Mas tuh lagi sakit", ucap Dini.
"Siapa bilang aku sakit? Nih kamu pegang kening aku", ucap Alan sambil meletakkan tangan Dini di keningnya. "Udah gak panaskan?", lanjut Alan sambil mengkode dengan matanya.
"Ih Mas apaan sih!", jawab Dini antara malu dan geli. "Pokoknya Mas masih harus banyak istirahat!"
"Hmm, kamu malu ya?", tanya Alan sambil mencolek hidung Dini.
Dini pun semakin malu. Raut wajahnya begitu tampak kebingungan. Antara, ya... mau tapi malu. Akhirnya Dini membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Alan karena ia tidak tahan lagi sangking malunya.
Tapi, tidak sampai di situ saja. Alan langsung memeluk Dini dari belakang. Hal itu langsung membuat tubuh Dini menegang. Apalagi merasakan sentuhan lembut di tengkuknya. Ia merasa geli sampai bulu kuduknya berdiri. Namun, ia menikmatinya. Alan terus saja menghujani ciuman di tengkuk Dini. Aroma tubuh Dini yang wangi itu menambah gairahnya.
Tangannya yang tadi berada di perut. Kini perlahan mulai memegang benda kenyal yang begitu menggodanya sejak tadi. Mereka bermain dalam diam. Menghayati dan juga menikmatinya. Alan merasakan jika Dini sudah mulai resah. Jelas Alan mengerti apa yang diinginkan tubuh Dini sekarang ini. Tapi, Alan mencoba menundanya sedikit lebih lama. Karena ia juga ingin menjelajahi semua bagian milik Dini yang kini menjadi miliknya.
Dini tidak membalas apa yang di lakukan Alan. Ia hanya diam saja menerima perlakuan lembut suaminya. Saat Alan merasa Dini sudah memberikan jalan untuknya. Ia pun semakin liar dalam permainannya. Kemudian, Alan bergegas mematikan lampu kamarnya. Membuat ruangan itu menjadi gelap gulita. Alan mengerti jika Dini masih malu-malu untuk melakukannya. Dan pada akhirnya, malam itu menjadi malam yang panjang dan juga malam yang begitu indah bagi pengantin baru itu.
***
__ADS_1