
Pagi ini Dini begitu merasakan kebahagiaan dan juga dilanda kecemasan. Namun, kecemasannya ia simpan dengan baik. Yang terlihat hanyalah senyuman di wajahnya. Ia begitu cantik dengan riasan diwajahnya. Saatnya ia tinggal menunggu hal yang paling mendebarkan.
Ya, sudah seminggu keluarga Dini dan juga Alan mempersiapkan segala sesuatunya untuk melangsungkan acara pernikahan Dini dan Alan. Walaupun dengan waktu yang begitu singkat, karena keinginan yang begitu tinggi semuanya dapat terselesaikan. Dari membeli mas kawin hingga mempersiapkan dekorasi pesta.
Kini mereka telah berkumpul di rumah Dini. Alan sudah siap dan duduk di hadapan sebuah meja dan begitu juga dengan Abah. Tuan kadi pun datang dan langsung duduk di dekat Alan. Ia memberikan beberapa nasihat mengenai pernikahan dan juga melatih Alan dan Abah untuk mengucapkan ijab Qobul.
Sementara Dini yang telah siap dengan gaun putihnya sedang berharap-harap cemas menunggu di kamar. Ia duduk di pinggir ranjang sambil mendengar samar-samar suara dari luar kamarnya. Jantungnya berdegup dengan kencang dan tak lupa ia terus berdoa untuk kelancaran pernikahannya.
"Alan Mahendra!", ucap Abah yang telah menjabat tangan Alan.
"Ya, saya", ucap Alan sambil menatap wajah Alan.
"Saya nikahkan..", ucap Abah dengan suara yang telah gemetar. "Engkau dengan anakku, hiks", lanjut Abah yang sudah meneteskan air matanya. "Dini Sutari dengan mas kawin sepuluh gram emas di bayar tunai!", Abah melanjutkan sampai selesai dengan tangisan dan suara gemetarnya.
Abah begitu sedih bukan karena ia tidak bahagia dengan pernikahan anaknya. Tapi, ia sedih karena masih tidak menyangka gadis kecilnya telah menikah sekarang. Anak yang ia timangnya dulu dan selalu ia manja kini ia telah menyerahkannya kepada orang lain. Ia selalu menganggap Dini adalah gadis kecilnya.
Begitu pula halnya Emak. Mendengar tangisan Abah, hatinya juga ikut sedih. Abah adalah pria yang tegas dan tegas. Emak baru ini melihat Abah menangis dan itu sangat mengharukan. Emak juga tidak bisa bisa menahan air matanya. Karena Emak juga merasakan apa yang Abah rasakan. Apalagi mengingat Dini akan dibawa oleh keluarga Alan nantinya setelah pernikahan ini. Emak pun semakin merasa sedih.
Dan juga dengan orang-orang yang ikut hadir di acara akad nikah itu. Semua orang merasa sedih mendengar tangisan Abah. Suasana begitu haru hanya terdengar suara abah dan isak tangisnya. Membuat yang lainnya ikut bolak-balik menghapus air mata mereka. Mereka juga tidak menyangka pernikahan ini begitu sedih.
"Saya terima nikahnya Dini Sutari binti Dede Abdullah dengan mas kawin sepuluh gram emas di bayar tunai!", jawab Alan tegas dengan satu tarikan nafas.
__ADS_1
"Bagaimana para saksi?", tanya pak penghulu kepada dua orang saksi yang duduk di samping Alan dan Abah.
"Sah!", ucap mereka.
Semua orang pun mengucap hamdalah sebagai rasa syukur atas kelancaran pernikahan ini. Namun, tangisan Abah pun belum berhenti. Ia masih merasa sedih sekaligus bahagia. Sedangkan Dini yang sedang berada dikamar, ikut meneteskan air mata namun hatinya begitu lega. Semua yang diharapkannya terkabul. Ia pun ikut bersedih mendengar tangisan Abah yang begitu sedih.
Kemudian dilanjutkan dengan Alan yang mengucapkan janji-janji sebagai suami yang tertera di dalam buka nikahnya. Setelah itu di panggilnya Dini untuk bergabung bersama mereka dan duduk di sebelah Alan.
Dini pun keluar dari kamarnya. Semua orang kagum dengan kecantikan Dini. Termasuk Alan yang tidak berkedip melihat Dini yang begitu cantik.
Cantik. Untung aja tadi Dini di dalam kamar. Kalau tidak, bisa-bisa aku gagap pas ijab qobul tadi, ucap Alan dalam hati.
Dini pun berjalan ke arah Alan lalu duduk di sampingnya. Kemudian mereka menyuruh Dini untuk mencium tangan suaminya. Momen itu pun membuat jantung Alan berdegup kencang karena begitu bahagianya. Setelah itu, mereka menandatangani berkas-berkas serta buku nikah mereka. Dan seperti biasa, mereka pun menunjukkan buku nikah itu lalu yang lainnya pun ikut memfoto momen bahagia itu.
Tidak di sangka cara Allah menyatukan dua insan begitu indah. Rasa kecewa di ganti dengan rasa bahagia yang tiada tara. Dan kekecewaan itu pun membuat mereka menjadi seperti keluarga. Dini dan Bella, Alan dan Wahyu tidak ada yang menyangka mereka berakhir menjadi seorang sahabat.
Pesta mereka sangat meriah. Bukan hanya pelaminan dan dekorasinya saja yang indah. Bahkan makanan pun begitu beraneka ragam. Mereka duduk sambil menikmati hidangan yang lezat itu.
"Astaghfirullah Bim, penuh banget mejanya?", tanya Edo yang terkejut melihat keramaian di meja mereka.
Pasalnya saat Edo meninggalkan meja untuk mengambil makanan, meja itu masih kosong. Dan saat Edo kembali, ia melihat sudah banyak sekali makanan di meja tersebut. Ada kue-kue, es buah, rujak serut, roti jala, ayam bakar, bakso, mi rebus dan juga nasi dengan rendang daging yang lagi di santap oleh Bima. Edo sampai merinding melihatnya.
__ADS_1
"Aku nggak tau harus pilih yang mana Do. Ya udah aku ambil aja semua. Dari pada aku pusing mikirin mana yang aku mau aku makan. Kan lebih baik aku makan semuanya", jawab Bima dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Terserah kamu deh Bim. Awas meledak tuh perut. Udah kayak gentong juga! ", oceh Edo yang masih heran melihat Bima.
Teng, teng, teng... terdengar suara yang tidak asing di telinga Bima. Lalu, ia mengerutkan dahinya melihat sesuatu yang berada jauh di hadapannya.
"Do.. do.. bang Ajo ke sini Do bawa gerobaknya. Sate Padang Do", ucap Bima sumringah saat tau ada menu favoritnya ikut serta memeriahkan acara tersebut.
Edo langsung melihat kebelakang melihat gerobak sate itu langsung ramai. Dan saat itu juga Edo melihat Bima yang sudah buru-buru ke arah gerobak sate itu juga.
"Astaghfirullah Bim!", ucap Edo sambil menepuk jidatnya melihat tingkah sahabatnya itu. "Ini aja yang di meja belum di makan, udah mau ngambil yang lain lagi? Ya Allah kenapa aku punya sahabat rakus banget sih. Bisa-bisa Dini rugi ini", ucap Edo sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tubuh Edo yang "kutilang dara" (kurus tinggi langsing dada rata) tidak bisa makan banyak karena mungkin lambungnya tidak sebesar Bima. Makanya, ia bergidik melihat banyak makanan di meja mereka. Dan tidak lama kemudian, Bima datang membawa dua piring sate padang.
"Wuih, baik banget sih bawain aku juga", ucap Edo yang senang melihat Bima yang sangat baik dengannya.
"Apaan? Ini semua.... aku punya", jawab Bima sombong sambil menunjuk dirinya dengan ibu jarinya.
Sangking geramnya, Edo sampai melemparkan tisu yang sudah di genggamnya ke wajah Bima. Namun, Bima tetap tidak perduli. Ia terus menikmati makanan-makanan tersebut.
Begitulah peristiwa bahagia ini. Semua orang punya cerita masing-masing di bawah tenda pernikahan Alan dan Dini
__ADS_1
***