
Sonia masih terpukau dengan sosok pria yang ada di hadapannya. Ia terus menatap Alan. Sampai Dini merasa aneh melihat sikap Sonia itu. Dini pun memanggil Sonia yang membuat Sonia sadar dari lamunannya.
"Oh, Ya. Siapa yang tidak kenal dengan Pak Alan? CEO muda yang perusahaannya sangat besar. Di dunia bisnis pasti pak Alan sangat terkenal", jawab Sonia yang berpura-pura. "Apa bapak lupa dengan saya? Kita kan pernah bertemu sebelumnya", tanya Sonia yang masih penasaran.
"Oh, maaf. Sepertinya saya tidak mengingat Anda", jawab Alan sambil mengerutkan dahinya ingin mengingat sesuatu.
"Sayang sekali. Padahal kita adalah rekan yang akrab", jawab Sonia sambil tersenyum.
"Kalau sebelumnya kalian memang pernah akrab, bagaimana kalau Sonia kita undang saja ke acara pesta pernikahan kita Mas?", ucap Dini dengan segala kepolosannya.
"Ya udah, terserah kamu aja sayang", ucap Alan tersenyum sambil mengelus kepala Dini. "Emang kamu bawa surat undangannya?", sambung Alan lagi.
Dini menganggukkan kepalanya. Kemudian ia merogoh tasnya untuk mengambil sebuah surat undangan yang akan ia berikan kepada Sonia. Dengan sebuah senyum yang terpaksa, Sonia menerima pemberian Dini.
***
Kini, di dalam sebuah taksi Sonia memegang surat undangan itu. Ia melihat nama mempelai yang tertulis di sana. Sebenarnya, Sonia bukanlah cemburu. Melainkan hanya heran, bingung, aneh menjadi satu dalam benaknya. Ia ingin sekali menanyakan keadaan Alan yang sebenarnya. Tapi, ia sangat segan untuk menanyakannya langsung pada Dini. Sonia takut nantinya Dini akan berpikiran buruk terhadapnya.
Tidak lama kemudian, Sonia sampai di sebuah restoran dimana ia mendatangi sebuah meja yang telah ada seseorang menunggunya di sana. Ia tersenyum dan duduk di hadapan pria itu.
"Aku kelamaan ya Mas?", tanya Sonia dengan perasaan tidak enak.
"Gak apa-apa. Kamu nggak usah khawatir gitu", jawab Salim, tunangan Sonia.
Mereka berdua pun memanggil pelayan dan memesan makanan. Kemudian, Sonia memberikan surat undangan itu pada Salim. Salim menerimanya dan membaca nama yang tertera di sana. Ia pun mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Ini Alan...", ucap Salim sambil melihat wajah Sonia.
Sonia menganggukkan kepalanya. Ia tahu pasti Salim juga akan merasa heran dan bingung.
"Tapi, kamu bilang dia sudah meninggal karena jatuh ke jurang", tanya Salim yang bingung.
"Iya Mas, sama aku juga kaget awalnya saat bertemu dengan dia. Dan anehnya lagi, Alan sama sekali tidak mengenali aku. Kalau aku nggak salah menduga... mungkin Alan amnesia", jelas Sonia.
"Bisa jadi sih. Tapi, gimana ceritanya kamu bisa sampai dapat surat undangan pernikahan mereka?", tanya Salim lagi.
Sonia pun menjelaskan pada Salim bagaimana dirinya berjumpa dengan Dini sampai pada akhirnya Dini memperkenalkan Alan sebagai suaminya. Yang kemudian memberikan sebuah suran undangan itu.
"Jadi, kamu mau kita ke sana?", tanya Salim.
"Aku sih terserah Mas aja", jawab Sonia menyerahkannya pada Salim.
Sonia menganggukkan kepalanya. Ia sangat senang karena Salim mau menghadiri undangan tersebut. Ia sangat bangga pada Salim yang berjiwa besar. Salim begitu mempercayai dirinya. Ya, karena bisa saja Salim cemburu atau marah jika Sonia menceritakan tentang Alan. Namun, Salim selalu mendengarkannya. Entah Salim cemburu dan menyimpannya, Sonia juga tidak tahu. Tapi, di mata Sonia, Salim adalah sosok pria yang bisa jadi panutannya.
Aku sudah menghapus nama Alan dari hatiku. Saat aku tahu Alan tidak ada lagi di dunia ini, hatiku begitu hancur. Namun, Salim masuk ke kehidupanku dan memberikan hatinya padaku. Ia sangat lembut dan begitu menghargaiku, mempercayaiku dan tentunya sangat mencintaiku. Entah mengapa kenyamanan itu membawa cinta terhadapnya. Aku sampai melupakan masa laluku bersama kamu, Alan. Ucap Sonia dalam hati sambil terus memandangi Salim sambil tersenyum tipis.
"Kamu kenapa?", tanya Salim yang heran melihat tingkah Sonia.
"Aku cinta kamu, Mas", jawab Sonia dengan senyum ketulusan dari wajahnya.
Salim pun ikut tersenyum mendengar pengakuan calon istrinya itu, "Mas, juga cinta sama kamu sayang".
__ADS_1
Entah mengapa ada perasaan yang tidak enak di hati ini. Aku merasa takut jika Alan sampai mengingat diriku sebagai kekasihnya. Apa yang akan terjadi nanti kalau Alan tidak bisa menerima semua kenyataan ini? ucap Sonia dalam hati lagi.
***
Saat pulang dari kantor, Alan langsung bergegas membersihkan dirinya. Kemudian, makan malam bersama Dini. Sedangkan orang tuanya sedang pergi. Dini memperhatikan Alan yang tampak lesu. Tidak seperti biasanya yang sangat bernafsu makan jika melihat masakan Dini.
"Kamu kenapa Mas? Masakanku nggak enak ya?", tanya Dini sedih.
Alan yang melihat raut wajah Dini yang sedih itu pun menjadi tidak tega. Ia pun tersenyum pada Dini dan bilang masakan Dini sangatlah enak. Ia langsung bersemangat menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
Namun, Dini tau jika Alan kelihatan seperti terpaksa memakannya. Saat Alan telah selesai ia langsung pamit ke kamar. Sedangkan Dini masih belum menghabiskan makanannya. Tapi, saat sudah selesai Dini langsung menemui Alan di kamar. Dan ternyata Alan sudah terlelap dalam tidurnya.
Dini pun semakin heran. Ia mencoba memegang pipi Alan. Dan ternyata sangat panas. Ia juga memegang dahi Alan. Dini menjadi panik dan bergumam sendirian. Ia tidak tega harus membangunkan Alan untuk minum obat. Jadi, ia pun berinisiatif untuk mengompres Alan sebagai pertolongan pertamanya.
Ia bergegas mengambil air ke dapur lalu kembali lagi ke kamar. Ia membasahi handuk kecil itu dengan air yang di bawanya tadi dan meletakkannya di dahi Alan. Dini begitu telaten menjaga Alan. Sampai waktu sholat isya, ia pun bergegas untuk sholat dan tidak lupa mendoakan untuk kesembuhan suaminya. Sampai selesai sholat pun, Alan belum juga bangun. Dengkurannya begitu terdengar sangat berat. Dini semakin merasa resah melihatnya. Ia tetap berjaga sambil terus mengompres Alan.
Tidak lama, Alan terbangun karena ia merasakan ada sesuatu yang dingin di keningnya. Ia melihat Dini dengan wajah yang begitu cemas. Melihat Alan yang sudah terbangun, Dini langsung mengajak Alan untuk berobat. Namun, Alan menolaknya karena badannya sangat lemas dan kepalanya sangat pusing.
"Terus kamu mau gimana? Kalau nggak di obati ntar makin parah loh", tukas Dini yang begitu cemas.
"Oh, aku ingat. Aku punya teman dokter. Aku akan coba panggil dia ke sini", ucap Alan.
"Kamu ingat sama teman kamu?", tanya Dini heran mendengar Alan yang mengingat temannya.
"Ya, kemarin dia pernah ke sini saat tau aku telah kembali. Dan Mama bilang kami memang sahabat dekat", jelas Alan.
__ADS_1
Dini pun menganggukkan kepalanya mengerti dengan penjelasan Alan. Kemudian Alan mencari nomor telepon dokter Bagas dan menghubunginya.
***