Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 8. Peternakan dan Perkebunan


__ADS_3

Srek.. srek...


Tejo sedang mencuci baju yang kotor karena ulahnya. Ya, setelah membantu Dini memberikan penjelasan yang sebenarnya terjadi, Tejo di beri hukuman oleh Dini. Dan disinilah Tejo sedang mencuci pakaian.


"Loh, Tejo! ngapai kamu?", tanya Emak yang kaget melihat Tejo mencuci. "Udah nggak usah, biar emak ajak yang lanjuti".


Betapa senangnya Tejo mendengar ucapan Emak. Tangannya sudah terasa pegal dan ia sangat tidak ingin mencuci lagi. Padahal Tejo baru mencuci satu pakaian, itu pun belum selesai.


"Kesenengan tuh di belain Emak", ucap Dini mengejek dari pintu belakang.


Dini pun masuk lagi ke dalam rumah. Tejo berlari mengikuti Dini. Tejo melihat Dini sedang bersiap-siap untuk bekerja. Karena Tejo mulai merasa bosan di tinggal sendirian di rumah, kali ini Tejo memohon pada Dini agar dirinya diajak ke peternakan dan kebun Abah.


Lalu, Dini tersenyum serta menganggukkan kepalanya. Tejo pun kegirangan. Mereka pergi menggunakan mobil pickup dan Dini yang menyetir mobilnya.


Sekitar lima belas menit, mereka pun sampai ke peternakan. Tiba-tiba terlihat seorang gadis yang berlari kearah mereka.


"Pagi mbak Dini", ucap gadis itu. "Eh, mbak ini pasti mas Tejo kan? Bener loh yang di bilang orang-orang mas Tejo ganteng banget", lanjutnya bersikap centil.


Dini merasa jengkel dengan Rara yang bersikap centil di depan Tejo. Dan Tejo melihat jelas wajah Dini yang tidak suka melihat Rara.


Rara melihat Tejo sambil senyam-senyum. Badannya terus bergoyang sambil memelintir salah satu kuncirnya.


"Yuk Jo. Aku temenin keliling....", Dini belum selesai dengan ucapannya.


"Eh, nggak usah mbak. Mas Tejo biar Rara aja yang temenin. Mbak udah di tunggu sama Abah. Katanya ada yang mau dibicarain", potong Rara.


Dini sungguh tidak rela meninggalkan Tejo bersama Rara. Dini merasa Rara menyukai Tejo. Sampai-sampai ia bertingkah centil seperti itu. Padahal waktu dengan Wahyu, ia tidak pernah seperti itu.


Dini menarik menghembuskan napasnya dengan kasar. Lalu berjalan ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena sangat kesal. Tejo tersenyum karena merasa lucu melihat tingkah Dini seperti orang yang sedang cemburu. Dan begitu juga dengan Rara, ia juga ikut tersenyum geli melihat Dini.


"Cemburu tuh", ucap Rara sambil menunjuk Dini.

__ADS_1


"Tau dari mana kamu?", tanya Tejo penasaran.


"Taulah Mas, ketara banget gitu. Mas Tejo juga pasti ngerasa gitukan? Hayo...", celetuk Rara menggoda Tejo.


"Dasar anak kecil", ucap Tejo sambil memencet hidung Rara. Entah kenapa Tejo sangat suka dengan Rara yang sikapnya sangat ceria.


Rara pun mempersilahkan Tejo untuk melihat-lihat peternakan Abah. Tejo sangat kagum melihat peternakan Abah yang luas. Rara menjelaskan bahwa di sana ada hewan lembu, kambing, dan ada juga ikan mas dan ikan nila. Tejo sangat terkesan melihat keadaan peternakan yang bersih.


"Bersih banget ya", ucap Tejo yang kagum.


"Harus dong mas. Biar hewannya sehat yang makan juga sehat. Hehehe", jawab Rara sambil bercanda.


"Oh ya, kalau kamu tugasnya apa disini?", tanya Tejo.


"Em, jadi teman sejatinya hewan-hewan di sini", jawab Rara percaya diri.


Sontak membuat Tejo tertawa terbahak-bahak. Rara begitu polos dan sangat lucu. Tejo tidak tahu bahwa Dini sedang melihatnya dari kejauhan. Dini lagi berbicara pada Abah dan beberapa staf. Namun, mata dan pikiran terus mengarah pada Tejo. Terlebih melihat Tejo dan Rara yang begitu dekat dan terlihat bahagia. Padahal mereka baru saja berkenalan.


Tejo tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rara. Masa iya sih, nama hewan disini sama dengan namanya.


"Jadi, Tejo itu adalah kambing kesayangannya mbak Dini", lanjut Rara dengan nada centilnya.


"Jadi, kenapa Dini ngasih nama aku Tejo juga ya?", Tejo masih tidak habis pikir.


"Mungkin Mas Tejo kesayangannya mbak Dini", jawab Rara langsung.


Tejo tersenyum mendengar jawaban Rara. Ia seperti tidak percaya bahwa dirinya menjadi kesayangan Dini. Walaupun ia berharap juga begitu.


Sedangkan Dini, yang telah selesai berbicara dengan Abah dan staf lainnya kini sedang duduk dan melamun. Ia memegang dadanya sendiri. Ia merasa aneh sebab hatinya begitu panas melihat kedekatan Tejo dan Rara.


Mungkinkah aku sedang cemburu? Tapi, bagaimana mungkin. Masa secepat ini aku jatuh hati pada pria lain. Hanya karena napas buatan itu. Ini nggak masuk diakal. Ayolah Din, jangan mempermalukan diri sendiri. Apa kata Tejo nanti kalau dia tau, bahwa aku punya rasa terhadapnya, ucap Dini dalam hati.

__ADS_1


Dengan tekad yang kuat, Dini menghampiri Tejo dan Rara. Dini tidak boleh kalah dengan hatinya. Ia harus bersikap biasa saja. Dini yakin ini bukan cinta.


"Mbak Dini udah selesai?", tanya Rara yang melihat Dini datang dari arah belakang Tejo. "Kalau gitu Rara permisi dulu ya. Mau lanjut kerja lagi. Mas Jo, ingat kata Rara ya", lanjut Rara sambil melambaikan tangannya.


Tejo mengangguk dan membalas lambaian tangan Rara. Rasanya Tejo seperti dapat teman untuk curhat. Walaupun Rara masih terbilang muda, tapi kadang-kadang perkataannya seperti orang dewasa.


Dini pun mengajak Tejo melanjutkan berkeliling peternakan. Percakapan mereka pun sangat panjang. Dini menjelaskan bagaimana cara mereka merawat hewan-hewan ternak serta mengajak Tejo memberi makan hewan-hewan itu.


"Awal aku masuk kemari, aku sih kagum sama kebersihan disini", ucap Tejo pada Dini sambil memberi makan kambing.


"Ya, kebersihan kandang dan tubuh hewan itu kan yang paling di utamakan. Seperti lembu, kalau nggak telaten lembu bisa kurus banget. Jadi, ya selain dikasih makan, mereka juga harus dikasih vitamin. Terutama di musim hujan. Kalau tidak waspada lembu bisa terserang berbagai penyakit. Seperti, kembung, diare,demam yah banyaklah. Apalagi sampai banyak lalat yang mengerubungi tubuh lembu. Lalat itukan juga bisa membawa penyakit pada lembu...", Dini menjelaskan pada Tejo semua yang Ia tahu.


Tejo terus menatap Dini yang tengah berbicara. Ia begitu terpikat pada kecantikan wajah Dini. Dan ia pun kagum dengan pemikiran Dini yang luas dan juga ia begitu giat bekerja. Tejo beranggapan bahwa pesona Dini berbeda dengan gadis lainnya.


Setelah beberapa lama di peternakan, Dini juga mengajak Tejo untuk melihat-lihat kebun Abah. Jelas Tejo sangat senang dengan ajakan Dini. Apalagi bisa seharian bersama Dini.


Mereka kembali menaiki mobil pickup milik Dini. Tidak lama kemudian mereka pun sampai ke tempat tujuan. Kali ini mata Tejo di suguhkan oleh pemandangan yang hijau-hijau, yang menyehatkan matanya.


"Gimana? Kamu suka gak?", tanya Dini pada Tejo yang tidak berkedip melihat pemandangan di depannya.


"Ini sih, bagus banget. Semuanya kelihatan subur", ungkap Tejo.


"Setiap harinya, hasil panen dari kebun akan dijual ke pasar yang ada di kota", lanjut Dini.


"Oh ya, Din. Yang bekerja di sini warga desa semua ya?", tanya Tejo penasaran.


Dini mengangguk, "Yah, ini memang kemauan Abah. Abah mau warga desa semuanya punya pekerjaan, membantu perekonomian mereka juga. Abah bilang, kalau bukan kita sebagai sesama manusia siapa lagi? Kita bisa terus berharap dan berdoa pada Allah. Tapi, kalau tidak melakukan apa-apa juga nggak ada gunanya".


Tejo pun semakin kagum dengan keluarga Dini. Mereka punya jiwa sosial yang tinggi. Walaupun tinggal di desa tapi, mereka bisa berpikir maju.


Selain itu, Tejo juga cepat sekali akrab dengan warga desa terutama yang bekerja di kebun dan peternakan Abah. Ia menyapa dan memberi semangat untuk warga desa yang bekerja.

__ADS_1


***


__ADS_2