
Setelah acara resepsi yang meriah itu, kini siang ini Alan dan orang tuanya harus segera pulang karena urusan pekerjaan mereka yang banyak. Dan mereka juga akan membawa Dini bersama mereka.
Mau tidak mau Abah dan Emak harus merelakan anaknya tinggal bersama suaminya. Mereka sedang mengemas-ngemas barang ke dalam mobil. Setelah itu Mira memeluk sahabatnya itu dengan erat. Rasanya baru saja mereka berjumpa dari sekian lama tidak berjumpa. Kini mereka kembali berpisah. Namun, Mira juga senang karena ia pulang dengan membawa menantu tersayangnya. Dan di ikuti dengan Ibnu yang juga memeluk Abah sebagai salam perpisahan.
Setelah itu Dini juga memeluk ibunya. Pelukan itu begitu erat dan rasanya tidak ingin ia lepas. Begitu pilu hati Dini meninggalkan kedua orang tuanya. Pasalnya Dini adalah satu-satunya anak mereka.
"Baik-baik di sana ya sayang. Jadi istri yang baik. Jalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri. Jangan kecewakan kami", ucap Emak yang masih memeluk Dini.
Dini mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengusap air matanya kemudian tersenyum kepada ibunya dan juga mengusap air mata yang telah membasahi pipi ibunya.
"Sudah jangan sedih, dua minggu lagi kita bertemu lagi. Semua juga sudah kami persiapkan. Oke", ucap Mira untuk menenangkan Emak.
Lega rasanya mempunyai besan sahabat sendiri. Karena Emak tau jika Mira begitu baik padanya. Dan ia yakin Mira juga akan sangat menyayangi Dini. Ya, tidak ada yang perlu di khawatirkan olehnya.
Setelah puas, mereka pun kini berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Mesin mobil telah menyala. Mereka saling melambaikan tangan. Perlahan mobil itu telah bergerak meninggalkan area rumah Abah. Terlihat Emak dan Abah sedang mengusap air mata mereka. Dan mereka juga melihat Wahyu dan Bella yang datang melihat kepergian Dini. Bella pun ikut melambaikan tangan pada Dini.
Seketika Abah dan Emak merasa kesunyian. Tidak ada lagi suara manja yang nyaring di telinga mereka. Emak masuk ke rumah dan membuka pintu kamar Dini. Ia masih membayangkan Dini di sana. Tapi, Emak bahagia karena kini Dini menemukan kebahagiaanya.
__ADS_1
***
Setelah berjam-jam dalam perjalan, akhirnya mereka pun sampai. Dini yang baru melihat rumah keluarga Alan begitu terperanjat. Ia begitu tidak menyangka jika rumah mereka sangatlah besar seperti istana kerajaan.
Mira mengajak Dini untuk keluar dari mobil dan segera masuk ke rumah barunya. Di depan pintu sudah ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Dini seperti berada di dunia dongeng yang menikahi seorang pangeran. Dini terlihat masih canggung. Namun, Alan terus menggenggam tangan istrinya itu.
Karena hari sudah larut, mereka masing-masing langsung pergi ke kamar. Di perjalanan tadi, mereka sempat singgah untuk menikmati makan malam. Dan kini perut mereka sudah kenyang dan tinggal memanjakan tubuh mereka di atas ranjang yang empuk.
Saat masuk ke dalam kamar, Dini lagi-lagi di buat terperanjat melihat kamar yang begitu luas, rapi, dan juga wangi. Ini seperti mimpi baginya. Ia melihat, barang-barangnya telah berada di sana. Matanya masih melihat sekeliling kamar itu. Alan yang melihatnya pun tersenyum.
"Sudah, nanti lagi lihat-lihatnya. Sekarang kamu mandi dulu, biar bisa tidur nyenyak", ucap Alan sambil memeluk Dini dari belakang.
Ini adalah pertama kalinya Alan melihat Dini tanpa memakai hijab. Ia begitu cantik alami. Dengan rambut panjangnya yang ikal di bagian bawah. Ia begitu mengagumi istrinya itu. Alan berjalan ke arah Dini lalu membelai wajah Dini serta mengecup keningnya. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya juga.
Dini yang melihat barang-barangnya masih berantakan, dengan cepat ia merapikannya dan menaruhnya di lemari. Di sela-sela kesibukannya itu, Alan pun keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja. Dini yang melihat pemandangan itu seketika merinding. Karena belum pernah ia melihat yang seperti itu.
Karena Dini yang berada di hadapan lemari, jadi Alan meminta tolong pada Dini untuk mengambil pakaiannya. Dini pun memilihkan baju tidur untuk Alan. Dan saat Alan memakainya, ternyata dua buah kancing bajunya terlepas. Dini menyuruh Alan untuk memakai baju yang lain saja. Tapi, Alan tidak mau ia tetap ingin memakai baju yang pertama kali Dini pilihkan untuknya.
__ADS_1
Dini hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Alan. Tapi, di sana tidak ada alat untuk menjahit. Lalu, Alan ingat jika ia pernah melihat mbak Sri sedang menjahit. Mbak Sri adalah juru masak di rumahnya. Akhirnya Dini pun keluar dari kamar dan mencari Mbak Sri di dapur.
Dini melihat seorang wanita paruh baya sedang berada di dapur membersihkan barang-barang di dapur. Dini datang menghampirinya untuk menanyakan keberadaan Mbak Sri.
"Em, maaf Bu. Saya nyari yang namanya Mbak Sri", tanya Dini pada wanita itu.
"Oh, ada apa ya Non? Saya yang namanya Sri", jawab wanita itu yang terkejut dengan kedatangan nona barunya.
Dini terkejut dengan pengakuan wanita itu. Dini pikir Mbak Sri itu masih muda namun, ternyata dia salah. Lalu, Dini menjelaskan maksudnya yang ingin meminjam jarum jahit, benang dan gunting. Dengan senang hati Mbak Sri akan meminjamkannya. Ia langsung bergegas mengambilnya di kamarnya. Setelah itu ia berikan pada Dini.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Dini kembali masuk ke kamar. Ia lihat Alan sedang memainkan laptopnya tanpa memakai bajunya. Ia langsung duduk di pinggir ranjang yang menghadap ke Alan. Dini mulai memasukkan benang itu ke lubang jarum. Beberapa kali Dini mencoba namun tidak berhasil. Dini sampai mengucek-ngucek matanya. Ia merasa matanya sedikit kabur. Alan yang melihat Dini belum juga selesai menjahit langsung mendatanginya.
Di luar kamar, Mira sedang berjalan dari kamarnya dan ingin turun ke bawah untuk mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti kala ia mendengar sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Gimana mau masuk lubangnya kecil begini", terdengar suara Alan yang begitu vulgar di telinga Mira.
"Jadi gimana? Adanya cuma ini ya terima ajalah", terdengar suara Dini menjawab ocehan Alan.
__ADS_1
Mira tidak berani untuk melihat. Ia hanya tertarik mendengarnya. Padahal pintu kamar itu sedikit terbuka. Makanya suara mereka bisa terdengar sampai keluar. Mira ternganga mendengar pembicaraan mereka. Namun, juga terdengar sangat lucu dan keduanya begitu terdengar polos menurut Mira.
***