
Di sebuah apartemen, seorang wanita sedang asik bercengkrama dengan kekasihnya melalui panggilan video. Ya, Sonia sedang bersantai sambil mengobrol dengan Salim. Salim masih berada di luar negeri saat itu. Hanya dengan cara itu mereka bisa saling bertatap muka.
"Kamu jangan lama-lama dong di sana. Aku udah kangen banget", ucap Sonia manja.
"Iya. Beberapa hari lagi aku balik kok. Nanti setelah aku balik kita langsung fitting baju pernikahan kita. Gimana mau nggak?" jawab Salim.
"Ya maulah. Gitu aja pakai di tanya", ucap Dini tersenyum malu-malu.
Salim tersenyum melihat wajah cantik Sonia yang sedang malu itu. Pada kenyataannya bukan hanya Sonia yang begitu rindu pada Salim, namun Salim juga sangat rindu pada Sonia. Bukan ia tidak ingin menyentuh Sonia saat berada di dekatnya. Ia tidak ingin mengotori tubuh indah milik ke kasihnya itu dengan tangannya. Walaupun hasrat selalu ingin membawanya untuk bercumbu namun, ia tetap memakai akal sehatnya. Lagian, semua yang ada pada Sonia akan ia miliki juga setelah menikah nanti. Kesabarannya akan berubah indah juga pada akhirnya.
"Oh, iya kamu mau oleh-oleh apa?", tanya Salim.
"Sayang, aku nggak butuh oleh-oleh apapun. Aku cuma butuh kamu pulang, kamu di sini, di samping aku", jawab Sonia yakin.
"Oh ya? Yakin cuma butuh aku? Nggak mau di bawain oleh-oleh? Ntar nyesel loh", ucap Salim menggoda Sonia.
Mendengar itu, Sonia pun jadi tampak berpikir. "Ya, kalau kamu mau bawain oleh-oleh.... Ya, aku terima-terima aja", ucap Sonia malu-malu dengan tidak menatap wajah Salim di layar Hp-nya.
Salim pun tersenyum lagi melihat tingkah Sonia. Ia paham betul hati wanitanya. Tapi, ia maklumi karena makhluk indah ciptaan Tuhan ini memang begitu adanya. Dan hal itu yang membuat Salim selalu terhibur.
"Ya, udah. Pokoknya kamu tenang aja. Sebentar lagi aku pulang, bawain oleh-oleh, setelah itu kita fitting baju, jalan-jalan, belanja, semuanya deh sama kamu. Ya. Udah dulu ya. Kita udah satu jam lebih video call", ucap Salim.
"Mmm... tapi aku masih kangen sama kamu", rengek Sonia.
"Aku juga kangen banget sama kamu", jawab Salim.
__ADS_1
Lalu, Sonia pun mau mengakhiri panggilan video itu. Ia menarik napas panjang kala sudah mematikan Hp-nya. Jelas, hatinya sangat merindukan Salim berada di dekatnya.
Ting Tong.
Bunyi bel apartemennya dan itu membuat bingung Sonia. Siapa yang datang malam-malam ke apartemennya. Di ingat-ingatnya sepertinya ia tidak buat janji dengan teman-temannya.
Sonia pun kemudian berjalan ke arah pintu dan mengintip dari lubang di pintunya. Ia sangat kaget melihat sosok pria yang telah berada di depan apartemennya. Sangat tidak mungkin Alan yang sekarang mengetahui keberadaannya.
Dengan ragu, Sonia membukakan pintu untuk Alan. Ia memandangi Alan yang tersenyum manis padanya. Tapi, senyum itu membuat kekhawatiran di hatinya. Dan benar saja, Alan langsung memeluk dirinya.
"Alan lepasin!", tolak Sonia.
Alan melepaskan pelukannya. Ia tampak heran dengan sikap Sonia yang berbeda. Tidak seperti biasanya, Sonia tidak pernah menolak perlakuan Alan terhadapnya.
"Ada apa? Kamu nggak senang aku datang ke sini?", tanya Alan.
"Tentu. Kamu adalah wanita yang paling aku cintai. Oh, iya. Ini pasti soal amnesia ku kan? Ya, sayang aku sudah mengingat semua, termasuk kamu", jawab Alan dengan penuh kegembiraan.
Bukannya senang, Sonia malah terlihat murung. Hal itu sungguh di luar ekspetasi Alan. Alan pun menjadi semakin bingung dengan sikap Sonia.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu malah kelihatan sedih?", ucap Alan sambil memegang kedua pundak Sonia. "Ya sudah, lebih baik kita bicara di dalam aja, oke!", lanjut Alan dengan menarik tangan Sonia untuk memasuki kediaman itu.
Namun, Sonia tetap mematung. Membuat langkah Alan terhenti. "Aku sendirian di sini. Bukankah tidak sopan memasuki rumah dengan seorang wanita yang sendirian di dalamnya?", ucap Sonia tanpa menoleh ke belakang.
"Apa yang kamu katakan Sonia? Sejak kapan kamu melarang ku masuk ke sini?", ucap Alan yang mulai jengkel dengan sikap Sonia.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh sembarangan masuk ke rumah ini!", jawab Sonia tegas.
Alan kembali berhadapan dengan Sonia. Ia melihat Sonia dengan seksama. Benarkah wanita yang di hadapannya Sonia yang dia kenal ataukah ia adalah Sonia yang berbeda? Alan tampak sangat bingung. Sonia yang selalu welcome dengannya kini tampak seperti tidak mengenalnya.
"Alan, kamu harus sadar kamu itu siapa! Kamu sudah mempunyai istri. Apa begini sikap kamu sebagai suami? Kasihan Dini yang menunggu kamu di rumah!", jelas Sonia.
"Oh, ternyata masalah itu. Aku kira ada apa. Dengar Sonia, aku menikahinya tanpa dasar atas cinta", ucap Alan santai.
"Tanpa cinta katamu? Bahkan aku tidak pernah mendapatkan cinta sebesar cinta yang kamu berikan pada Dini" jawab Sonia membantah pernyataan Alan. "Aku lihat dengan mataku sendiri kamu begitu mencintainya bahkan kamu seperti tidak ingin jauh-jauh darinya. Lalu, apa yang aku dapat? Saat kita berhadapan, jangankan mengenaliku, sedikitpun kamu tidak memperdulikanku malah kamu bermesraan dengan Dini di hadapanku. Sudahlah Alan, kisah cinta kita telah berakhir dan kamu harus menerimanya", jelas Sonia panjang lebar. "Maaf Alan".
Sonia langsung menutup pintu membiarkan Alan tetap berada di sana tanpa memperdulikannya. Alan terdiam, mematung di sana. Ia tidak menyangka dengan perlakuan Sonia terhadap dirinya. Hatinya begitu terasa perih di acuhkan oleh wanitanya. Apalagi kedatangannya begitu tidak di hargai.
Ini semua salah wanita itu! Kenapa dia harus menerima pernikahan ini! ucap Alan dalam hati dengan mengepalkan tangannya karena teramat kesal pada Dini.
***
Brak!
Suara pintu yang di buka itu membuat kaget Dini yang sedang berbaring di ranjangnya. Ia langsung duduk melihat orang yang membuat suara yang mengejutkan dirinya itu. Dan orang itu adalah Alan.
Alan masuk dengan wajah marah dan mata yang merah. Ia langsung menghadap pada Dini, "Ini semua karena kamu! Kalau saja kamu tidak menikah denganku, Sonia tidak akan bersikap seperti tadi padaku! Aku sungguh sangat membenci dirimu!".
Seketika jantung Dini terasa seperti ditusuk belati. Bukan hanya ucapan Alan saja, bahkan wajah Alan begitu menyeramkan saat itu. Tubuh Dini menjadi gemetar sangat takut melihat Alan yang sedang marah padanya. Tidak pernah ia melihat Alan sampai seperti ini. Rasanya ia nyaris pingsan sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Aku tidak sudi sekamar denganmu! Dan aku minta padamu, jangan pernah memperlihatkan wajahmu di depanku! Camkan itu!", ucap Alan penuh kekesalan pada Dini.
__ADS_1
***