Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 28. Pulanglah


__ADS_3

Ibnu sedang mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Wajahnya begitu kelihatan cemas. Dan pada saat itu, ponselnya berdering. Tapi, sangking cemasnya ia langsung mematikannya. Namun, ponselnya berdering lagi. Ia lihat dilayar ponselnya nama Gilang.


"Halo, ada apa Gilang?" ucap Ibnu menjawab panggilan Gilang. Kemudian dia mendengarkan jawaban dari Gilang. Wajah yang tadi cemas berubah menjadi senyuman. "Alhamdulillah, kamu serius Lang? Ya udah. Kalau begitu kamu kirim lokasinya biar saya segera ke sana".


Betapa bahagianya Ibnu mendapat kabar bahwa Alan masih hidup dan baik-baik saja. Rasanya ia ingin segera memberitahukan hal ini kepada istrinya.


Klek! Pintu kamar terbuka dan Dokter Roy pun keluar dan menyatakan bahwa Mira, istri Ibnu harus istirahat total. Ia tidak boleh banyak pikiran dan harus mengonsumsi makanan. Bagaimana pun caranya jangan sampai Mira tidak makan sama sekali. Dokter Roy juga meminta pada Ibnu agar tidak membicarakan sesuatu yang dapat memicu stresnya.


Ibnu menjadi bingung. Padahal ia akan memberikan kabar bahagia pada istrinya. Tapi, sepertinya saat ini tidak memungkinkan jika Mira menempuh perjalanan jauh. Dan tidak mungkin juga ia meninggalkan Mira sendirian di rumah.


Setelah Dokter Roy pamit, Ibnu langsung masuk ke kamar melihat kondisi istrinya. Hatinya begitu perih melihat istrinya yang berbaring tak berdaya. Ibnu kembali keluar kamarnya dan kembali menelpon Gilang. Tidak lama Gilang pun menjawab telpon dari Ibnu.


"Halo Gilang. Sepertinya kami tidak bisa menjemput Alan ke sana. Karena, istri saya sedang sakit", ucap Ibnu penuh kesedihan. "Tolong kamu bawa Alan kembali untuk menemui mamanya. Siapa tau Mamanya bisa sembuh seperti sediakala setelah melihat Alan", lanjut Ibnu.


Kemudian, Ibnu mendengarkan jawaban dari Gilang. Dan setelah itu ia mengucapkan terimakasih pada Gilang karena telah banyak menolongnya.


Setelah menutup panggilannya, ia masuk lagi ke dalam kamarnya. Ia memegang tangan istrinya dan menyatukan jari-jari mereka.


"Sayang, Alan akan pulang menemui kamu. Cepatlah sembuh. Aku sangat rindu denganmu dan juga senyumanmu", ucap Ibnu sambil menciumi punggung tangan istrinya.


***


Di rumah Abah...

__ADS_1


Gilang yang baru dapat kabar dari Ibnu langsung mencari Alan kembali. Ia mengajak Alan untuk berbicara empat mata. Dan mereka pun kembali ke teras rumah.


Gilang pun memberi tahu kepada Alan bahwa tadi ia menerima telepon dari ayahnya bahwa ibu Alan sedang sakit. Jadi, mereka tidak bisa datang kesini dan meminta agar Alan yang pulang menemui mereka.


Seketika Wajah Alan terlihat bingung. Hatinya sama sekali tidak ingin pergi dari desa ini dan juga tidak ingin jauh dari Dini. Alan yang juga lupa dengan kedua orang tuanya itu memberi tawaran bahwa ia tetap tinggal di desa ini sambil menunggu orang yang di sebut sebagai ibunya itu sembuh.


Gilang menjadi bingung dengan jawaban Alan. Gilang paham jika Alan masih terasa asing dengan ini semua. Makanya dia lebih memilih tinggal di desa ini ketimbang balik ke rumahnya. Gilang tidak pandai dalam hal membujuk. Ia berpikir membutuhkan bantuan Dini untuk membujuk Alan. Karena Dini yang sangat dekat dengan Alan saat ini.


***


Malam harinya, Dini sedang membereskan dapurnya yang berantakan. Saat itu, Gilang melihatnya sendirian dan mungkin adalah waktu yang tepat untuk berbicara pada Dini.


Gilang pun mengendap-endap masuk ke dapur lalu memanggil nama Dini dengan pelan. Dini yang mendengar suara yang memanggilnya langsung menoleh dan mendekat pada Gilang.


Dini heran dengan sikap Gilang yang seperti menyembunyikan sesuatu itu. Kemudian ia pun bertanya kenapa Gilang memanggilnya seperti itu.


"Minta tolong apa Kak?", ucap Dini dengan mengerutkan dahinya.


"Jadi begini. Ibunya Alan sedang sakit dan mereka tidak bisa kemari untuk menemui Alan. Jadi, terpaksa Alan yang harus pulang untuk menemui mereka. Tadi, kakak sudah bilang pada Alan tapi, dia tidak mau. Jadi, kakak butuh bantuan kamu untuk membujuk Alan pulang. Kasihan ibunya sakit-sakitan semenjak kehilangan Alan", jelas Gilang panjang lebar.


Dini pun tersenyum dan mengiyakan permohonan Gilang. Padahal jauh di lubuk hatinya sama seperti Alan. Tidak ingin jauh darinya. Sekarang rasa sedih menghampiri hatinya. Tapi, lagi-lagi Dini tidak boleh egois. Biar bagaimanapun Alan juga punya kehidupannya sendiri. Ini sudah menjadi takdir mereka. Karena dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dini memang sudah mempersiapkan dirinya mengenai hal ini. Dan sekarang ia harus merelakan kepergian Alan.


***

__ADS_1


Gilang sedang melihat jam tangan yang pernah di tukarkan oleh Agra. Syukurnya jam tangan itu tidak di jual oleh si pedagang. Gilang yakin betul jam tangan tersebut adalah milik bosnya. Ini pertanda pria yang berada di rumah Abah selama ini memang Alan. Gilang pun mencoba bernegosiasi dengan pedangan tersebut.


Di sela-sela itu, Dini mengajak Alan untuk makan bakso di tempat biasa. Saat mereka makan, Dini kelihatan gelisah. Ia bingung harus memulainya darimana. Alan yang melihat Dini kegelisahan pun menjadi bingung.


"Din, kamu kenapa? Kok gelisah banget?", tanya Alan.


Kemudian Dini menarik napasnya dan melepaskan sendok dan garpu yang ia pegang dari tadi, "Jo, em Alan. Semalam Kak Gilang udah cerita semuanya sama aku".


"Cerita apa?"


Dini menarik napas lagi, "Kamu harus pulang Alan. Ibumu membutuhkan mu. Dia sakit karena kehilangan kamu."


"Kamu tau Din, alasanku tidak mau pulang adalah kamu. Aku nggak mungkin bisa jauh dari kamu Din", jawab Agra.


"Tapi, kamu harus pulang Alan. Kamu nggak boleh egois. Dia adalah ibu kamu. Orang yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan mu. Aku tidak ingin kamu menyesal pada akhirnya hanya karena aku. Pulanglah Alan", jelas Dini dengan lembut agar Alan mau mengerti.


Alan memandangi mata Dini yang berbinar itu. Alan tau jika Dini sebenarnya juga berat melepaskannya. Tapi, Dini sudah mengatakannya untuk segera pulang. Dan Alan akan menuruti perkataan Dini.


"Baiklah. Ini kamu yang minta. Aku akan pulang. Tapi, aku akan kembali lagi untuk kamu. Aku janji akan segera melamar kamu", jawab Alan sambil tersenyum.


"Tidak Alan, kamu tidak perlu berjanji padaku untuk kembali. Dunia kita berbeda. Aku adalah gadis kampung, sedangkan kamu pria dengan segala kemewahan yang kamu miliki. Aku tidak mungkin layak untuk bersanding denganmu. Tapi, berjanjilah padaku untuk selalu bahagia".


"Dan kebahagiaan aku adalah kamu. Bagaimana aku bisa bahagia sedang kebahagiaanku jauh dariku. Sudahlah, kamu tungguhlah aku. Aku akan menepati janjiku", sambung Alan untuk meyakinkan Dini.

__ADS_1


Dini pun diam karena tidak ada lagi ucapan yang bisa ia lontarkan untuk mengelak. Karena memang sesungguhnya Dini juga ingin hidup bersama Alan. Tapi, Dini ragu apakah orang keluarga Alan akan merestui hubungan mereka.


***


__ADS_2