Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 26. Belum Menikah


__ADS_3

Dini menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Tejo. Mulai dari ia menemukannya di pinggir sungai sampai Tejo yang sadar dan lupa ingatan. Gilang berpikir keras seperti ada yang mengganjal.


"Pak Agra juga tidak kenal dengan saya? Saya Gilang, karyawan Bapak", tanya Gilang antusias.


"Maaf saya tidak ingat siapa kamu", jawab Tejo yang mengerutkan dahinya.


"Ya sudah Pak jangan di paksa. Oh ya Bah, bukannya jembatan penghubung ke kota Y di atas sungai itu ya?", tanya Gilang pada Abah untuk memastikan.


Abah membenarkan perkataan Gilang. Lalu, Gilang mulai menceritakan kejadian yang di alami oleh Alan yang dia dengar. Pasalnya Alan pergi bersama Bobby sebelum kejadian kecelakaan itu. Lalu beberapa jam kemudian mereka mendengar bahwa Alan mengalami kecelakaan dan mobilnya masuk ke jurang yang berada di sebelah jalan lintas ke kota Y. Dan setelah di telusuri mereka tidak dapat menemukan Alan. Karena kemungkinan besar tubuh Alan sudah di bawa oleh binatang buas untuk di mangsa.


"Tapi, saya bingung kenapa justru Pak Alan terdampar di sungai yang jauh dari lokasi tempat mobil Pak Alan jatuh? Atau ini rencana Pak Bobby?", ucap Gilang yang berpikir keras.


Semua orang yang berada di rumah itu, mendengarkan cerita Gilang dengan serius. Mereka juga ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Bobby? Siapa Bobby dan kenapa Bobby merencanakan kecelakaan itu?", tanya Alan yang sangat bingung.


"Itu baru dugaan saya pak. Karena Bobby sangat menginginkan berada di posisi bapak saat itu yang menjabat sebagai CEO...".


"CEO?", teriak Dini, Emak, Abah dan Tejo bersamaan karena terkejut dengan jabatan Tejo yang sebenarnya.


Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Tejo adalah orang yang sangat terhormat. Dini juga merasa minder mendengarnya. Karena kini ia tahu mereka berbeda kasta. Namun, Tejo juga belum bisa mengingat apapun.


"Iya. Jadi Pak Alan ini adalah CEO di perusahaan keluarganya. Dan Pak Bobby adalah sepupu dari Pak Alan. Saat Pak Alan menjabat sebagai CEO, Pak Bobby terlihat sangat tidak senang. Karena selama ini dia menunggu jabatan tersebut. Dan Pak Bobby ini dia sangat licik. Ya, mungkin saja dia yang membuat Pak Alan jatuh ke sungai saat melintasi jembatan tersebut lalu membuang mobilnya ke jurang yang lain supaya tidak ada yang bisa menemukan Pak Alan", jelas Gilang panjang lebar.


Dan suasana pun menjadi hening. Mereka semua tampak berpikir. Mencerna setiap perkataan Gilang dan menggabungkannya dengan cerita Dini. Dan memang benar kalau di pikir-pikir semuanya menjadi masuk akal.


"Apa tidak ada benda-benda yang bisa membuktikan Pak Alan? Seperti handphone. Em, karena kalau gak salah dompet Pak Alan di temukan di dalam mobil. Tapi, mereka tidak menemukan bekas handphone-nya", tanya Gilang lagi.

__ADS_1


"Em, kalau handphone kayaknya gak ada kak. Atau mungkin terjatuh di sungai. Yang ada hanya baju dan celana yang dipakainya dan juga sepatu...".


"Jam tangan!", potong Tejo.


"Oh, mana jam tangan itu. Saya tau betul jam tangan yang di pakai pak Alan", tanya Gilang semangat.


"Emm, sudah saya jual", jawab Tejo.


"Jual?", teriak semua orang.


Memang tidak ada yang tau saat Tejo menukarkan jam tangannya untuk sepasang gelang. Yang sekarang di pakai olehnya dan Dini. Termasuk Dini, ia juga tidak pernah tahu hal tersebut.


Tentu hal itu menjadi pertanyaan mereka semua. Kenapa Tejo sampai menjual jam tangannya. Dengan malu-malu ia menjelaskan bahwa jam itu sebagai alat tukar untuk gelang yang dipakainya dan juga dipakai oleh Dini. Mendengar hal itu, wajah Dini menjadi memerah karena malu. Karena semuanya jadi tahu bagaimana isi hati mereka berdua.


Kemudian Gilang meminta Tejo untuk mengajaknya ke penjual gelang tersebut untuk melihat jam tangan itu. Dan kebetulan sekali, Dini mengatakan kalau besok pekanan itu dibuka.


Dini melirik ke arah Alan. Sepertinya ia menjadi minder karena tahu kalau pria yang dicintainya ternyata orang kaya raya dan juga terhormat. Dini yakin, pasti Alan sudah ada pemilik hati sebelumnya. Secara dia tampan dan juga kaya pasti mudah bagi Alan untuk mendapatkan wanita yang dicintainya.


Alan melihat Dini yang terus melihatnya. Ia memberikan kode seperti bertanya "ada apa?". Dan Dini membalasnya sambil tersenyum mengartikan semua baik-baik saja. Tapi, Alan tahu jika ada yamg dipikirkan oleh Dini. Dan tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dan dia akan menanyakannya nanti setelah selesai makan.


Dan tidak lama kemudian, mereka pun selesai makan. Dini, Emak dan Dara membereskan peralatan makan mereka. Lalu, Abah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Gilang berjalan ke teras hendak menghubungi keluarga Alan.


Alan melihat kesempatan dan mengikuti Gilang ke teras. Ada sesuatu yang sangat ingin dia tahu. Dan itu akan menentukan kisah cintanya.


"Lang, saya boleh bertanya sesuatu?", tanya Alan saat Gilang duduk di kursi.


"Tentu Pak. Apa yang ingin bapak tanyakan?", Gilang balik bertanya.

__ADS_1


Alan cepat-cepat duduk di dekat Gilang. "Aku ini sudah berkeluarga atau belum?", tanya Alan dengan suara pelan takut yang lain mendengarnya.


Awalnya Gilang heran dengan pertanyaan bosnya itu. Tapi, seketika dia mengerti apa yang sedang terjadi pada hati Alan. Dengan tersenyum Gilang menggelengkan kepalanya. Ya, karena memang Gilang tidak pernah tahu jika Alan menjalin hubungan dengan seorang wanita. Yang Gilang tahu Alan memang belum menikah.


"Serius?" ucap Alan kegirangan.


"Iya, Pak. Bapak belum menikah", tegas Gilang lagi sambil tersenyum.


"Alhamdulillah", ucap Alan bersyukur.


Akhirnya Alan bisa bernapas lega. Karena ketakutan Dini dan dirinya semua sudah terjawab. Dini tidak perlu khawatir lagi hatinya akan terluka. Karena kenyataannya dirinya belum menikah. Jadi, tidak ada halangan lagi bagi dirinya untuk menjalin hubungan dengan Dini.


Alan langsung berlari kecil masuk ke rumah. Ia mencari Dini untuk mengatakan hal bahagia ini. Ia melihat Dini sedang menyusun piring di lemari piring. Diam-diam Alan menarik tangan Dini sampai ke halaman belakang.


"Ada apa?", tanya Dini penasaran.


"Kamu harus tau Din. Mulai sekarang kita tidak perlu khawatir untuk menjalin hubungan ini. Dan aku pastikan kamu tidak akan terluka lagi. Karena... Aku belum menikah", ucap Alan begitu senang.


Namun, berbeda dengan Dini. Ya, walaupun ia senang mendengarnya tapi, yang ada di pikirannya sekarang apakah dirinya pantas bersanding dengan pria seperti Alan.


"Hei, kenapa kok kamu diam aja? Kamu nggak senang ya?", tanya Alan bingung melihat sikap Dini.


Dini langsung tersenyum kepada Alan, "Aku senang kok. Baguslah kalau kamu belum menikah".


Alan memegang kedua pundak Dini, "Kamu nggak perlu khawatir lagi sekarang. Aku janji akan segera melamar mu".


***

__ADS_1


__ADS_2