
Setelah mengantar Bella pulang, Dini kembali lagi ke rumahnya dengan jantung yang berdegup kencang. Sepertinya ia sangat malu untuk bertemu dengan Alan dan keluarganya. Dini tidak tahu, pada saat dia pergi, mereka telah membicarakan lamaran Alan pada Dini.
Saat sampai, ia melihat Alan yang sedang duduk di teras rumahnya sendirian. Dini pun menghampirinya. Dan di lihatnya ruang tamunya kini telah sepi. Ia menanyakan keberadaan orang tua Alan pada Alan.
"Kamu kok malah nanya orang tua aku sih? Bukannya nanya kabar aku. Dari tadi aku nungguin loh", ucap Alan yang meminta di perhatikan.
Dini tersenyum lalu menghampiri Alan dan ikut duduk di hadapan Alan. Dini menatap Alan. Ia masih tidak menyangka bisa bertemu dengan Alan lagi. Kini kerinduannya perlahan sirna melihat penantiannya ada di hadapannya saat ini. Dan itu bukanlah sebuah mimpi.
"Kamu apa kabar?", tanya Dini pada Alan yang juga terus menatapnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Dini, Alan malah tersenyum sambil tidak berhenti menatap Dini. Bahkan senyum Alan semakin melebar. Itu membuat Dini sangat keheranan.
"Ada apa? Dari tadi aku lihatin kamu senyum terus sama aku. Emangnya ada yang lucu?", tanya Dini penasaran.
"Kamu tau? Tadi aku baru saja melamar kamu".
"Apa?", ucap Dini yang begitu terkejut. "Kenapa nggak nunggu aku dulu?"
"Kalau kamu di sini, yang ada aku grogi mengungkapkan isi hati aku sama orang tua kamu", jawab Alan sambil cengar-cengir. "Tapi, kamu senangkan udah aku lamar?", tanya Alan.
"Apaan sih nanyanya kayak gitu", ucap Dini dengan wajah yang memerah.
"Ya, aku kan mau tau kamu senang apa nggak".
Tiba-tiba saja seluruh tubuh Dini menjadi memanas. Ia begitu malu di tanya seperti itu oleh Alan. Lama-lama keringatnya pun keluar membasahi wajahnya. Jantungnya juga terus berdegup dengan kencang.
"Dah ah", ucap Dini sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Loh kamu mau kemana? Jawab dulu dong, kamu senang gak aku lamar!", teriak Alan karena Dini sudah berjalan masuk ke rumah.
"Ih, Alan apaan sih. Malu ah!" ucap Dini dan langsung masuk ke kamarnya.
Dini bersandar di balik pintu kamarnya. Ia mengatur napasnya. Ia memegang dadanya dan sangat terasa jantungnya masih berdegup kencang. Namun, di balik itu ia tersenyum bahagia. Ia tidak mengerti mengapa dirinya bisa grogi seperti itu. Pasalnya ia kan sudah terbiasa dengan Alan sebelumnya.
Dini berjalan ke arah tempat tidurnya dan naik di atasnya. Ia berbaring sambil memeluk gulingnya. Belum hilang rasa malunya terhadap Alan. Apalagi kata-kata Alan tadi masih terngiang di telinganya yang telah melamarnya. Dini begitu bahagia. Karena akhirnya cintanya terhadap Alan tidak ada yang menghalangi. Semua pikiran buruknya tidak menjadi kenyataan. Kini sebentar lagi keinginannya bersama Alan akan segera terwujud. Membayangkan itu, Dini kegirangan tersenyum-senyum memeluk gulingnya sambil berguling-guling di kasurnya. Bruuk! Sampai pada akhirnya Dini terjatuh dari atas kasurnya. Ia pun mengeluh kesakitan.
Tok, tok, tok. Pintu kamar Dini di ketuk. Dini pun terdiam. Ia menunggu suara seseorang itu. Dan ternyata itu adalah Mira, ibunya Alan. Dini pun tersadar saat mendengar suara Mira memanggil dirinya dari luar. Ia langsung membereskan kasurnya yang berantakan akibat ulahnya tadi. Dan juga merapikan pakaiannya serta hijab yang dipakainya. Kemudian, ia membukakan pintu untuk Mira.
"Tante", ucap Dini sambil tersenyum. "Masuk Tan", sambung Dini mempersilahkan Mira masuk ke dalam kamarnya.
"Panggil Mama aja. Sebentar lagi kamu kan menikah dengan Alan", pinta Mira sambil berjalan lalu, duduk di pinggir ranjang.
Mira menyuruh Dini untuk duduk di sebelahnya. Saat Dini telah berada di sampingnya, ia membelai kepala Dini sambil tersenyum. Ia juga tidak menyangka akan bertemu sahabatnya dan akan menikahkan anak-anak mereka. Ia bahagia jika Dini memang jodoh Alan.
"Mama seneng banget karena sebentar lagi mama punya menantu. Kamu mulai persiapkan diri kamu ya, karena seminggu lagi kamu akan menikah dengan Alan...".
"Iya. Kenapa? Kelamaan ya? Atau kamu mau besok?"
"Eh, jangan Ma. Iya seminggu lagi aja", jawab Dini dengan senyum terpaksanya.
Mira mengatakan, jika mereka semua sepakat untuk menikahkan Alan dan Dini secepatnya. Itu karena dirinya, Alan dan Ibnu tidak bisa berlama-lama berada di rumah Dini. Dan Alan juga sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk menjadikan Dini sebagai istrinya. Pesta pernikahan akan digelar di rumah Di setelah akad Nikah. Dan setelah itu Dini akan ikut pulang bersama dengan suaminya.
Lalu, Mira mengingat sesuatu. Ia menanyakan pada Dini mengenai masalah anak. Mira berharap Dini tidak menunda-nunda untuk memiliki anak. Karena, Mira juga sangat ingin segera menimang cucu.
"Insya Allah Ma. Dini juga nggak pernah berpikiran seperti itu", jawab Dini sambil menundukkan kepalanya karena merasa malu menjawabnya
__ADS_1
Mira pun memeluk Dini dengan erat. Ia sangat bahagia memiliki menantu dan yang akan ia anggap seperti anaknya sendiri. Apalagi Dini adalah anak dari sahabatnya. Sudah pasti ia akan menyayanginya.
Kemudian, Emak juga masuk ke kamar. Ia melihat keakraban sahabat bersama anaknya. Rasa cemas yang selama ini menghantuinya jika saja Dini harus di bawa keluarga suaminya rasanya telah pudar. Ia tidak perlu khawatir lagi dengan kehidupan Dini nantinya. Karena ada Mira, sahabatnya yang akan menjaga Dini menggantikan dirinya. Bulir air matanya pun timbul di ujung matanya. Kemudian cepat-cepat Emak menghapusnya.
Dini mengetahui hal itu. Ia lalu memeluk Emak dan juga ikut mengeluarkan air matanya. Ia mengerti apa yang sedang Emak rasakan. Tapi, Emak berusaha tegar. Ia tidak mau membebankan hati Dini.
"Ini air mata bahagia Nak. Mak tidak menyangka kamu sudah dewasa sekarang dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri", ucap Emak sambil memegangi kedua pipi Dini.
"Kok jadi sedih-sedihan gini sih", ucap Mira merasa bersalah. "Sebentar lagi kan hari bahagia kita semua".
Ya, sebentar lagi Dini akan menjadi istri Alan. Tapi, Dini masih bingung bagaimana mereka mempersiapkan semuanya dalam waktu seminggu. Dini menanyakannya tapi ia takut dianggap cerewet. Jadi, lebih baik ia mengikuti rencana orang tuanya saja.
Setelah selesai bercengkrama, Mira dan Emak kembali ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Sedangkan Dini ia berjalan kearah beranda rumahnya. Lalu, saat itu ia mendengar Alan sedang menelepon seseorang. Dini penasaran dan langsung menghampiri Alan. Dini duduk di kursi menunggu Alan selesai menelepon.
"Iya, Pak Bagas. Pokoknya sesuai dengan yang saya bilang tadi. Acaranya sekitar tiga minggu lagi. Oke. Em, sudah dulu ya Pak. Assalamu'alaikum", ucap Alan dan mengakhiri telponnya.
"Baru sebulan, tapi kamu sudah berubah", ucap Dini sambil menatap Alan.
"Nggak ada yang berubah dari aku Din. Aku tetap Tejo kamu", jawab Alan tersenyum.
Dini pun ikut tersenyum. Ia teringat kembali bagaimana Alan yang biasa ia panggil Tejo. Ya, memang sikap dan cinta Alan tidak ada yang berubah. Namun, penampilan dan kehidupannya yang telah berubah. Dari seorang Tejo yang hanya warga desa yang sederhana sekarang menjadi Alan seorang pemimpin di perusahaan ternama.
"Apa yang masih membuatmu resah?", tanya Alan yang melihat Dini melamun.
"Aku takut aja. Suatu hari nanti aku akan kehilangan cinta kamu yang sekarang telah aku miliki", jawab Dini dengan senyum terpaksa.
"Setelah kita menikah, kita akan selalu bersama. Kamu adalah istriku. Aku akan selalu membutuhkanmu. Seorang suami pasti akan terbiasa dibantu, di perhatikan, di persiapkan kebutuhannya oleh istrinya. Kamu tau aku pasti kesulitan tanpa kamu. Apapun yang terjadi aku yakin aku pasti akan mencari kamu. Dan jika saat itu terjadi, kamu harus meyakinkanku jika aku begitu mencintai kamu", jelas Alan dengan suara yang begitu lembut di telinga Dini.
__ADS_1
Dini tersenyum kepada Alan. Ia memperlihatkan dirinya baik-baik saja. Ia tidak ingin kecemasannya mengganggu Alan. Dini pasrah saja dengan apa yang akan dialaminya nanti. Pasalnya kemarin saja dia mencemaskan sikap orang tua Alan kepada dirinya yang akan memandangnya rendah. Tapi, kenyataannya malah orang tua Alan begitu menyayanginya.
***