
Setelah selesai sarapan, Abah memanggil Tejo ke teras rumah. Abah bertanya pada Tejo, bisakah ia mengendarai mobil? Tejo ragu, tapi untuk membuktikannya, Tejo meminjam mobil Abah dan menggerakkannya.
Tejo hanya menggerakkan mobil itu lurus ke depan. Tapi, ia meyakinkan pada Abah kalau dia tidak lupa cara mengendarai mobil. Abah pun tersenyum dan mengatakan niatnya ingin mempekerjakan Tejo di kebunnya sebagai supir. Tugasnya mengangkut sayur dan buahan untuk di antar ke pasar yang ada di kota.
"Serius Bah? Abah lagi nggak bercanda kan?" tanya Tejo untuk memastikan.
"Apa wajah Abah terlihat sedang bercanda?" jawab Abah sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Tejo begitu kegirangan karena Abah mau mempekerjakannya. Sampai-sampai ia memeluk Abah sambil lompat-lompat.
"Cukup Jo, pinggang Abah sakit!"
"He.. he.. he... Maaf Bah. Abisnya saya senang banget", jawab Tejo melepaskan pelukkannya.
Setelah itu, Abah memberikan kunci mobil pickup itu kepada Tejo. Abah mengatakan Tejo bisa bekerja mulai sekarang. Lalu, Abah pun pergi lebih dahulu ke kebun. Karena Tejo akan pergi bersama Dini.
"Dini mana sih? Aku kan nggak sabar mau pergi kerja", ucap Tejo sambil menunggu Dini.
Tidak lama, Dini pun keluar dari rumah dan mereka pun pergi bersama menggunakan mobil pickup yang dikemudikan oleh Tejo.
***
Sesampainya di kebun, Abah sudah menunggu Tejo dengan berbagai sayuran dan buah yang sudah siap untuk di angkut ke pasar.
"Jo, ini sayuran dan buah-buahan yang harus kamu antar ke pasar. Sebelum itu, kamu angkat dulu semuanya ke mobil", ucap Abah memberikan pengarahan kepada Tejo.
Dengan penuh semangat Tejo mengangkat sayur dan buahan itu ke atas mobil. Dini pun tersenyum melihat kegigihan Tejo. Setelah selesai memberikan penjelasan pada Tejo, abah pun pamit untuk pergi ke peternakan dan akan di gantikan oleh Dini untuk membimbing Tejo.
__ADS_1
"Din, besok pagi kamu berangkat sama Tejo ya ke pasar. Kamu bantu Tejo menjelaskan bagaimana menjual sayur ke pada pedagang di pasar", jelas Abah sebelum berlalu pergi.
Dini menganggukkan kepalanya. Lalu, Dini melihat ke arah Tejo lagi yang sedang keberatan mengangkat sayuran dan buah-buahan tersebut. Dini mengira, sepertinya Tejo tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tapi, Dini menepis lagi, karena mungkin saja ini efek hilang ingatannya.
"Semangat Tejo, go Tejo go...", Dini memberikan semangat untuk Tejo yang sedang bekerja.
"Semangat-semangat, bantuin dong", jawab Tejo.
"Oh, tidak bisa. Saya adalah bos kamu!", ucap Dini meledek Tejo
Mendengar itu, Tejo menarik napasnya. Kemudian ia kembali bekerja lagi. Dini suka melihat wajah Tejo yang cemberut itu. Dini ingin sekali menggodanya. Ia pun mengambil setangkai daun sawi lalu mengibas-ngibaskannya pelan di wajah Tejo.
Tejo pun merasa risih karena rasa geli yang di sebabkan oleh daun itu. Tapi, setiap Tejo ingin mengambil daun itu, Dini berhasil menariknya kembali dan menyembunyikan di belakang badannya. Setelah itu, Dini mengulang lagi keusilannya.
Tejo sangat jengah dengan keusilan Dini. Ia pun berusaha mengambil daun itu sampai mengejar Dini yang berlari mengitari mobil. Karena Tejo belum berhasil mendapatkan daun itu, Dini terus menjulurkan lidahnya mengejek Tejo.
Setelah cukup dekat, Tejo malah menyenderkan tubuh Dini ke badan mobil. Mata Tejo masih memandangi Dini dengan tajam. Napas mereka yang terengah-engah karena berlari tadi pun sampai terdengar begitu dekat.
Tejo menaikkan tangan Dini yang memegang daun itu ke atas. Lalu, Tejo memajukan wajahnya mendekati wajah Dini. Jantung Dini semakin tidak karuan. Tapi, entah mengapa Dini tidak dapat menolak perlakuan Tejo. Seolah dirinya terpaku dan mulutnya dibungkam.
Tup!
Tejo mengambil daun yang ada ditangan Dini, lalu menghempaskannya ke tanah, "Jangan ganggu orang lagi kerja!".
Setelah itu melepaskan Dini dan berjalan ke sisi lain untuk bekerja kembali. Dini ternganga melihat Tejo yang meninggalkannya begitu saja setelah melakukan hal yang membuatnya mati kutu. Dini merasakan ada gejolak yang tidak terlampiaskan dan itu membuat kepala Dini terasa berdenyut.
Dan ternyata dari kejauhan, Wahyu melihat adegan mesra Tejo dan Dini tadi. Hal itu membuat hatinya memanas seperti ada bara api di dalamnya. Kali ini Wahyu sangat marah sekali. Apalagi terlihat jelas Dini sangat menginginkannya. Untung saja Tejo tidak melakukan apa yang Wahyu pikirkan.
__ADS_1
Wahyu pun melihat Dini tampak bahagia berdekatan dengan Tejo. Lama-lama ia tidak sabar lagi karena rasa cemburu yang sudah memenuhi hatinya. Ia pun segera mendekati mereka. Tapi, ia tidak menghampiri Dini. Malah ia melabrak Tejo dengan menolak bahu Tejo.
"Jangan kurang ajar kamu ya sama Dini!", ucap Wahyu dengan wajah yang memerah karena marah.
Tejo pun tidak senang atas perlakuan Wahyu terhadap dirinya. Ia pun balik membalas Wahyu dengan menolak bahunya juga, "Apa! Datang-datang cari masalah!"
"Eh, kamu kira aku nggak lihat apa yang kamu lakukan tadi sama Dini!"
"Kenapa? Nggak suka? Nggak terima? Emang kamu siapanya Dini? Hah!", jawab Tejo dengan menolak kedua bahu Wahyu secara bergantian.
"Beraninya kau!", ucap Wahyu geram sambil mencengkram baju Tejo.
Wahyu dan Tejo bersama-sama bersiap ingin memukul satu sama lain. Tapi, Dini datang dan menghalau mereka.
"Stop! Aku bilang stop!", teriak Dini yang melihat Wahyu dan Tejo hampir berkelahi.
Dini berada di tengah-tengah Wahyu dan Tejo. Dini pun mengungkapkan kekecewaannya pada mereka karena mereka ingin berkelahi.
Dan tanpa mereka sadari, Bella juga sedang melihat pertengkaran mereka dari kejauhan. Bella tidak sengaja melihat Wahyu saat ia pulang berbelanja. Lalu, Bella melihat kemana Wahyu pergi yang tak lain adalah ke arah kebun Abah Dede.
Saat itu, Bella berinisiatif mengikuti Wahyu karena ia ingin tahu apa yang akan dilakukan suaminya di sana. Dan saat ini, Bella sedang melihat suaminya bertengkar dengan pria lain hanya karena merebutkan satu wanita. Bella benar-benar sangat cemburu melihatnya.
"Kamu benar-benar tega mas. Kamu telah mempunyai istri tapi malah mengejar-ngejar wanita lain. Dan itu kamu lakukan secara terang-terangan. Kenapa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku mas, hiks", gumam Bella dengan linangan air mata yang telah membanjiri pipinya.
Ingin sekali dirinya datang ke sana menjemput suaminya. Tapi, saat ingin melangkah kakinya terasa begitu berat. Setelah dipikir-pikir, Bella pun tidak ingin melanjutkan niatnya. Ia lebih memilih untuk pergi dari pada melihat pemandangan yang membuat hatinya terluka.
***
__ADS_1