
Setelah beberapa hari menjalani kehidupan yang romantis, kini tibalah saat mereka berada di pelaminan kembali. Dini sangat senang dengan kedatangan emak dan abah. Di tambah Bella dan Wahyu juga ikut datang.
Emak dan Bella menemani Dini yang sedang berias. Emak sangat senang dengan pancaran kebahagiaan di wajah Dini. Emak yakin Dini sangat bahagia dengan kehidupan barunya.
"Bel, kamu yakin nggak apa-apa? Kamu kan lagi hamil muda", tanya Dini yang khawatir.
"Tenang aja Din, aku nggak apa-apa kok. Kamu nggak perlu khawatir", jawab Bella.
"Kamu ingat ya. Jangan pecicilan! Kamu harus duduk aja! Kalau mau makan minta ambilkan Wahyu atau yang lainnya. Aku nggak mau kalau kamu sampai kelelahan", ucap Dini memperingatkan Bella.
"Iya bawel!", jawab Bella manyun.
***
Tap.. tap.. tap... bunyi langkah sepatu hak tinggi. Langkah itu terhenti saat berada di depan pintu ruangan dimana pesta pernikahan Alan dan Dini di langsungkan. Ia adalah Sonia.
Dari jauh, Mira melihat Sonia yang datang. Mira buru-buru menghampirinya. Ada perasaan yang tidak enak di hatinya.
"Sonia? Kamu kenapa ada di sini?", ucap Mira mengerutkan dahinya.
"Hai tante apa kabar?", tanya Sonia yang tidak menjawab pertanyaan dari Mira.
"Kamu belum menjawab pertanyaan tante", jawab Mira tegas.
Sonia tersenyum melihat wajah khawatir Mira. Coba saja Salim tidak berada di luar negeri pasti saat ini ia tidak akan datang sendirian dan membuat orang tua Alan mencurigainya.
"Kemarin saya bertemu dengan Alan dan Dini. Kemudian Dini memberikan undangan ini kepada saya", jawab Sonia memperlihatkan surat undangannya.
"Kamu kenal dengan Dini?"
"Ceritanya panjang Tan. Ada kejadian yang membuat kami sedikit akrab", jelas Sonia lagi. "Oh ya Tan, emang benar ya kalau Alan itu amnesia?"
__ADS_1
Ucapan Sonia itu sontak membuat Mira gelagapan. Kabarnya selain keluarga mereka, tidak ada yang tahu jika Alan amnesia. Mira langsung mengkodekan agar Sonia berhenti berbicara. Lalu, ia menarik Sonia jauh dari perhatian orang-orang.
"Siapa yang memberitahu kamu soal Alan yang Amnesia?", tanya Mira pada Sonia saat ia merasa tempat itu aman.
Mira tidak tahu saja sejak tadi ada seseorang yang mengikuti mereka. Dia sedang bersembunyi untuk mendengar apa yang Mira dan Sonia bicarakan. Dan orang itu adalah Bobby.
"Itu hanya tebakanku saja Tan. Karena aku lihat dia sama sekali tidak mengenali aku", jawab Sonia.
"Kalau kamu sudah tahu, Tante harap kamu jangan merusak rumah tangganya", ancam Mira.
"Maaf Tan, aku bukan wanita murahan yang suka melihat penderitaan orang lain. Aku memang pernah menjalin hubungan dengan Alan tapi, saat ini aku sudah tidak mencintainya lagi. Aku telah bertunangan dengan pria lain", jelas Sonia.
Ucapan Sonia itu, membuat hati Mira merasa lega. Ia juga berharap suatu hari nanti Alan juga semudah itu melupakan Sonia. Tidak lupa Mira mengucapkan terimakasih pada Sonia yang mau mengerti keadaan mereka. Dan Mira juga berharap Sonia tidak memberitahukan soal Alan yang amnesia. Karena ini sangat fatal jika para rekan bisnis mereka sampai mengetahuinya. Sonia pun berjanji kepada Mira akan tutup mulut mengenai hal tersebut.
Tapi, sayangnya hal itu diketahui oleh Wahyu. Ia juga tidak menyangka dengan hal itu. Ia berpikir kenapa ia baru sadar jika Alan amnesia.
Pantas saja Alan tidak pernah membicarakan soal kecelakaannya itu. Jelas-jelas Alan tau jika aku yang mendorongnya hingga jatuh ke sungai. Bodoh, kenapa tidak terpikirkan olehku? Tapi, tunggu. Kalau Alan memang lupa ingatan itu tandanya dia tidak tahu sifatku yang sebenarnya. Aku bisa mengulang kejadian itu lagi dan memastikan dia tewas, ucap Bobby dalam hati sambil tersenyum jahat.
***
"Selamat ya Pak, Alan. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah", ucap Bahar saat menjabat tangan Alan.
"Makasih ya Pak Bahar sudah mau datang jauh-jauh menyempatkan ke sini", jawab Alan melihat rekan bisnisnya menghampirinya.
"Selamat ya Bu Dini", ucap Hana sambil cipika-cipiki kepada Dini.
"Makasih", ucap Dini sambil tersenyum.
Dini juga tersenyum pada bayi yang menggemaskan yang di gendong oleh Hana. Kemudian Hana menyodorkan anaknya agar Dini bisa menciumnya.
"Biar cepat nular", bisik Hana pada Dini.
__ADS_1
Dini pun menjadi tersenyum malu saat mendengarnya. Kemudian, mereka bergantian dengan Sakti dan Nilam yang juga ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Dini dan juga Alan.
"Makasih ya Pak Sakti, Bu Nilam", ucap Alan sambil tersenyum senang.
"Tidak usah tegang seperti itu Pak Alan", ucap Sakti sambil menepuk-nepuk pundak Alan.
Alan menjadi malu dan salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Memang kalau pengantin baru gitu. Suka salah tingkah. Hahaha", goda Bahar yang masih di atas pelaminan.
"Kita dulu begini juga kan sayang?", sambung Nilam yang menggoda Sakti.
Mendengar ucapan istrinya, Sakti pun berdehem untuk mengatur kegugupannya di depan orang banyak karena ulah istrinya yang menggodanya. Sakti langsung menyingkir dari tempat berdirinya. Di lanjutkan oleh Nilam yang berjabat tangan dengan pengantin.
"Mereka tuh, gitu. Pura-pura tenang. Padahal kalau digodain dikit aja langsung salting", oceh Nilam yang mengatakan para suami mereka.
Dini langsung tersenyum nyaris tertawa mendengar apa yang dikatakan Nilam. Dini juga mengangguk-angguk setuju dengan Nilam.
"Padahalkan kalau di rumah yang kebanyakan salting kamu", jawab Alan menggoda Dini sambil mencolek dagunya.
Tentu saja sontak Dini menjadi malu dengan ucapan suaminya itu. Apalagi melihat yang lainnya ikut menertawakannya. Ia benar-benar malu sambil mencubit lengan Alan.
Dini benar-benar tidak mengenal rekan bisnis suaminya. Makanya ia tidak bisa berbicara banyak. Ia takut membuat Alan malu. Dan akhirnya, mereka pun merapatkan barisan untuk berfoto bersama.
Dari jauh, Sonia memandangi adegan bahagia itu. Separuh rasa kekhawatirannya hilang. Melihat Alan yang bahagia dengan pernikahannya. Ia berharap suatu hari Alan juga bisa dengan cepat melupakannya. Sonia yakin, Dini adalah wanita hebat makanya Alan memilihnya sebagai pendamping hidupnya. Dan juga bisa meluluhkan hati kedua orang tua Alan. Tidak seperti dirinya. Ia pun pergi tanpa menyapa kedua mempelai itu.
Dan di sisi lain, Bobby juga melihat mereka dari kejauhan. Namun tatapannya beda. Wajahnya datar tidak ada kebahagian.
Kamu nikmati saja kesenangan ini. Karena sebentar lagi kamu akan kehilangan semuanya untuk kedua kalinya. Akan ku pastikan itu. Bahkan semesta pun mendukungku. Buktinya aku tetap berada di sini di hadapanmu dan sekali lagi aku masih bisa menghancurkanmu Alan. Tunggu saja, waktu itu akan segera tiba, ucap Bobby dalam hati yang masih geram dengan apa yang dimiliki Alan.
***
__ADS_1