Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 30. Malam Terakhir


__ADS_3

Sore hari yang cerah membawa Gilang berjalan menelusuri desa itu. Ia berjalan sambil berpikir bagaimana semua musibah yang menimpa Alan bisa terjadi. Apakah memang benar ada sangkut pautnya dengan Bobby. Kalau itu memang benar, betapa teganya Bobby bisa mencelakakan saudaranya sendiri. Begitulah di dalam pikiran Gilang.


Tapi, Gilang masih memikirkan bagaimana caranya membuktikan jika Bobby yang telah mencelakai Alan. Dan tanpa ia duga, dirinya telah berada di depan hutan. Sempat ia berpikir untuk masuk ke hutan tersebut. Tapi, ia urungkan lagi karena mustahil bisa mendapatkan bukti di sana. hutan itu begitu luas dan sungainya juga agak dalam. Akhirnya Gilang berbalik arah.


Namun, ia seperti nampak seseorang dari dalam hutan tersebut. Ia berbalik arah lagi untuk membuktikan penglihatannya. Dan benar saja, ada seseorang yang berjalan keluar dari dalam hutan. Seorang pria tua yang sedang membawa pancing dan jala. Bapak tersebut berjalan sambil melihat sebuah benda yang ia pegang.


"Habis nangkap ikan pak?", tanya Gilang saat bapak itu sudah dekat dengannya.


"Iya", jawabnya tersenyum.


"Banyak ikannya pak?", tanya Gilang lagi.


"Oh, ha, ha, cuma dikit yang dapat. Tapi lumayanlah", jawabnya sambil tertawa. "Tapi, saya dapat ini juga", sambungnya sambil memperlihatkan sebuah handphone.


Gilang melihat handphone tersebut. Dan sepertinya benda itu mirip sekali dengan yang sering di pakai Alan. Gilang permisi untuk memegang handphone tersebut. Ia membolak-balikkan benda itu dan ia benar-benar yakin itu milik Alan. Ia mencoba menghidupkannya tetapi, tidak bisa.


"Bapak dapat ini dimana?", tanya Gilang.


"Itu... tadi waktu bapak mau narik jala, kaki bapak seperti menendang sesuatu. Karena posisi bapak masih di pinggir sungai, dalamnya masih selutut jadi waktu bapak liat ke bawah nampak benda ini dan langsung bapak ambil. Emangnya ini punya kamu?", ucap Bapak itu menjelaskan.


"Iya, sepertinya ini milik teman saya. Katanya memang terjatuh di sungai itu. Oh, iya. Apa bapak nangkap ikannya dekat jembatan?" tanya Gilang lagi.


"Iya, saya memang selalu menangkap ikan di sana", jawabnya.

__ADS_1


Lalu, Gilang menawarkan sejumlah uang untuk menebus handphone tersebut kepada bapak itu. Namun, Bapak tersebut menolaknya. Ia mengatakan jika itu memang milik Gilang, maka ambil saja dan tidak perlu membayarnya. Gilang begitu berterima kasih atas kemurahan hati si Bapak. Lalu Bapak itu pun pamit untuk pulang terlebih dahulu.


Kini Gilang bisa bernapas lega. Apa yang diinginkannya langsung terwujud. Ia pun mengucap syukur ke pada Allah yang telah mengabulkan keinginannya. Dan kini ia tinggal memberikan handphone itu ke tempat servis untuk memperbaikinya. Gilang berharap ada sebuah petunjuk yang bisa membuktikan siapa pelaku kecelakaan itu.


***


Malam ini begitu dingin. Tapi, tidak membuat Dini takut untuk keluar. Ia berjalan di sekitar halamannya. Ada rasa gundah yang membuatnya tidak tenang. Kemudian, ia menoleh ke arah kamar Alan. Lalu ia berjalan ke arahnya. Baru beberapa langkah, pintu kamar itu terbuka dan membuat langkah Dini terhenti. Sosok pria yang ia sedang pikirkan dari tadi keluar dari dalam kamarnya. Ia pun melihat Dini yang telah berdiri di hadapannya.


Alan berjalan mendekati Dini. Ia lihat mata Dini yang berkaca-kaca. Alan mengerti apa yang sedang Dini rasakan. Karena Alan juga merasakannya.


"Apa kamu menyesal dengan keputusanmu?", tanya Alan sambil menatap kedua mata Dini.


Dini langsung memalingkan wajahnya, "Nggak, aku nggak menyesal".


"Dengar, aku nggak tau selama apa aku akan berada di sana. Tapi, aku akan kembali untuk kamu", ucap Alan. Lalu, Alan memegang kedua pundak Dini, "Aku janji, aku akan kembali dan di hari itu juga aku akan melamar kamu".


"Aku cuma berpikir, gimana hari-hariku tanpa kamu. Pasti rasanya sunyi sekali. Aku mulai terbiasa denganmu. Dan rindu pasti datang untukmu", ucap Dini mengungkapkan isi hatinya.


"Jika Allah menghendaki. Akan aku balas semua rasa rindu kamu dengan rasa bahagia yang tiada terkira. Kamu ingat, aku sangat mencintaimu Dini. Aku tidak ingin membuatmu lama-lama merasakan sakit karena rindu. Kamu percayakan sama aku?"


Dini menganggukkan kepalanya dan menumpahkan air matanya. Rasanya begitu berat melepaskan kepergian orang terkasihnya. Begitu banyak janji yang di ucapkan Alan. Dan itu membuat membuat Dini semakin sedih. Ada pikiran yang datang jika Alan tidak pernah kembali untuknya. Dan apakah hatinya akan tertutup untuk selamanya jika hal itu terjadi. Rasanya Dini akan malas untuk jatuh cinta lagi.


"Jadi, kamu udah mengemasi barang-barang kamu?" tanya Dini.

__ADS_1


"Nggak banyak yang akan aku bawa. Karena aku datang ke tempat ini juga tidak bawa apa-apa selain yang alu kenakan. Tapi, nanti jika aku kembali lagi, aku akan membawamu bersamaku sebagai istriku", jawab Alan sambil tersenyum.


Dini tersenyum, "Sepertinya kamu sangat berniat untuk mempersuntingku ya?"


"Jangan ragukan aku".


"Ini adalah malam terakhir kita. Tapi, tidak banyak yang bisa kita lakukan selain mencurahkan isi hati ini".


"Kalau kamu ingin aku tidak pergi, aku tidak akan pergi Dini".


Dini menundukkan kepalanya. Rasa sedih yang dari tadi dia tahan sudah tak terbendung lagi. Air matanya mengalir hingga jatuh ke tanah. Walau dirinya tidak menginginkan Alan pergi tapi, Alan harus pergi. Ia harus segera bertemu keluarganya. Apapun konsekuensinya. Dini tidak ingin menjadi orang yang egois. Menjadi penghalang bagi Alan untuk bersatu kembali bersama kedua orang tuanya.


"Din".


"Aku nggak apa-apa. Jangan pedulikan tangisanku ini. Aku ingin kamu segera bertemu dengan keluargamu. Aku... aku akan menunggumu. Aku.. aku percaya padamu", ucap Dini sambil menangis tapi ia ingin meyakinkan Alan bahwa dirinya tidak apa-apa melepas kepergiannya.


"Bisakah aku melihatmu tersenyum? Tolong jangan berikan aku kesedihan saat aku pergi. Atau aku tidak akan pernah pergi".


" Jangan begitu.. ".


"Din, bagaimana aku bisa tenang jika kamu terus bersedih. Kamu yang menyuruhku pulang. Kamu yamg bilang jika kamu tidak apa-apa. Tapi, sekarang buktinya kamu yang terus merasa bersedih. Kamu tau, aku jadi merasa serba salah".


Dini langsung menghapus air matanya. Lalu, seketika ia tersenyum dan wajahnya memancarkan kebahagiaan. Alan benar, bahwa dirinya harus tegar. Alan tidak boleh melihat kesedihannya. Alan tidak boleh sampai ragu untuk meninggalkannya.

__ADS_1


"Aku janji, aku tidak akan sedih. Aku akan selalu tersenyum untuk kamu, Alan".


***


__ADS_2