Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 31. Saling Merindu


__ADS_3

Keesokan harinya.


Alan, Gilang dan Dara sudah mengemasi barang-barang mereka masuk ke bagasi mobil. Mereka bersalaman dengan Abah, Emak dan Dini secara bergantian. Dara memeluk Dini dengan erat. Pasalnya rindu itu belum hilang namun mereka harus berpisah kembali. Lalu, saat yang lain sibuk mengobrol, Alan mendekati Dini lagi.


"I love you", bisik Alan pada Dini.


Dini pun tersenyum mendengarnya. Hatinya terasa bergetar. Tapi, ia sudah berjanji tidak akan sedih ataupun menangis saat melepaskan kepergian Alan.


"I love you too", balas Dini.


Alan pun menyusul Gilang dan Dara masuk ke dalam mobil. Merekapun saling melambaikan tangan sampai mobil itu melaju menjauh dan tak terlihat lagi.


Setelah itu, Dini merasa hampa. Abah pergi bekerja dan Emak kembali ke aktivitasnya. Dini masih masih berdiri melihat jalanan yang sepi itu. Tidak ada yang tahu bagaimana hampanya hati Dini saat ini. Rasa rindu langsung saja muncul padahal baru beberapa saat Alan meninggalkannya.


Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana Alan meninggalkanku adalah hari yang selalu aku takutkan. Batin Dini.


Sedangkan di sisi lain, Alan yang tengah berada di mobil, sedang melamun dengan tatapan yang kosong. Masih terngiang di benaknya saat-saat bersama Dini. Gilang yang melihat Alan diam dan melamun itu menjadi heran. Ia berpikir mungkinkah apa yang ia pikirkan itu benar jika Alan dan Dini saling mencintai. Beberapa hari mereka tampak selalu bersama. Dan kedekatan mereka itu terlihat berbeda. Ya, seperti ada ketertarikan diantara mereka.


"Anda baik-baik saja pak?", tanya Gilang.


Alan tersadar dari lamunannya, "Seperti yang kamu lihat. Saya baik-baik saja. Oh, ya. Kira-kira sampai kapan saya akan berada di rumah orang tua saya?"


"Itu adalah rumah orang tua Pak Alan. Sudah pasti Anda bisa tinggal selama-lamanya di sana", jawab Gilang sambil tersenyum.

__ADS_1


Alan pun terdiam. Jawaban Gilang memang benar. Dia salah menanyakannya. Alan merasa ia ingin segera kembali ke desa tempat Dini berada.


"Apa aku bisa kembali ke rumah Abah?", tanya Alan lagi.


"Apakah ada yang tertinggal Pak?", Gilang balik bertanya.


"Ya", jawab Alan singkat.


"Apakah sangat penting Pak? Soalnya kita sudah sangat jauh kalau kembali lagi", ucap Gilang.


Tentu sangat penting. Aku akan membawanya bersamaku saat aku kembali lagi ke sana. Aku berharap ini akan mudah. Batin Alan.


"Ya sudah, lanjutkan saja perjalan kita", ucap Alan sembari menutup matanya dan melipat tangannya di dadanya.


***


Ibnu berjalan perlahan ke arah mobil itu. Ia melihat Gilang dan istrinya keluar dari mobil tersebut dan langsung tersenyum menyapanya dari kejauhan. Kemudian ia melihat pintu belakang mobil itu terbuka. Ia tidak sabar menunggu seseorang yang ia harapkan keluar dari sana. Dan benar saja bahwa orang itu adalah Alan.


Ibnu langsung berjalan cepat ke arah Alan dan langsung memeluknya. Tangisnya pecah, tak hentinya ia mengucapkan rasa syukurnya atas kepulangan anaknya. Namun, ia merasakan jika Alan tidak merasakan hal yang sama dengannya. Alan tidak membalas pelukannya. Ia pun melepaskan pelukannya dan melihat anaknya yang seperti orang kebingungan.


"Ada apa Alan?", tanya ayahnya yang bingung.


Gilang mengerti mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Ibnu. Pasti Ibnu sedang kebingungan melihat sikap Alan. Gilang pun meminta maaf pada Ibnu jika dirinya belum memberitahukan kondisi Alan yang sedang Amnesia.

__ADS_1


"Apa Amnesia? Bagaimana bisa?", tanya Ibnu tidak percaya.


Ibnu meminta Gilang menceritakan semuanya. Tapi, sebelum itu Ibnu menyuruh mereka masuk ke dalam rumah. Setelah mereka duduk bersama, Gilang pun mulai menceritakan awal dimana Alan di temukan oleh Dini, adik dari istrinya. Saat itu keadaan Alan hanyut sampai ke tepi sungai dengan kondisi yang tidak sadarkan diri. Gilang juga menceritakan bagaimana Dini dan keluarganya menolong Alan. Saat mereka menanyakan siapa Alan, Alan tidak bisa mengingat siapa dirinya.


"Jadi, selama ini Pak Alan dibantu oleh keluarga Dini. Pak Alan tinggal di rumah mereka dan juga bekerja di kebun Abah, ayah Dini", jelas Gilang lagi.


Ibnu merasa sangat kasihan pada Alan. Namun, ia juga bersyukur karena ada orang-orang baik yang masih mau menolong Alan. Tapi, ia baru teringat pada kecelakaan yang telah lalu. Bukannya kecelakaan itu ada di dalam hutan? Dan tidak ada sungai di sekitar hutan itu. Tapi, kenapa Alan bisa sampai hanyut di sungai? Ibnu menanyakan hal itu pada Gilang.


Gilang mengutarakan pendapatnya bahwa, kemungkinan kecelakaan itu telah di rencanakan oleh Bobby. Karena saat itu yang sedang bersama Alan hanya Bobby. Sedangkan Alan hanya diam mendengarkan cerita mereka. Alan mencoba mengingat-ingat apa yang mereka bicarakan. Tapi, tidak ada yang bisa di ingat oleh Alan.


Setelah puas bicara, Gilang dan istrinya pamit untuk pulang. Alan merasa sangat canggung untuk tinggal di rumah yang besar itu. Hatinya sungguh merasa tidak enak. Tapi, mereka bilang ini adalah rumahnya.


Ibnu mengajak Alan untuk menemui ibunya. Alan pun menuruti Ayahnya. Mereka pun menaiki anak tangga menuju kamar dimana Mira tengah tertidur. Saat pertama kali Alan melihat wanita yang disebut sebagai ibunya itu, hatinya terasa begitu hancur. Walau ia tidak bisa mengenali wanita itu sebagai ibunya, tapi hatinya seolah berkata bahwa wanita itu adalah orang yang paling dekat dengannya.


Alan perlahan mendekat pada ibunya. Hatinya pun semakin terluka. Ia memegang tangannya dan perlahan mencium tangan itu. Aroma yang seperti tidak asing di hidungnya. Kemudian, Alan membelai wajahnya. "Ma", panggilnya secara tidak sengaja.


Setelah Alan memanggil ibunya, tiba-tiba tangan Mira bergerak. Mira mulai membuka matanya. Samar-samar ia melihat sosok yang sedang berada di sampingnya. Lalu, lama kelamaan Mira dapat melihat jelas bahwa orang itu adalah Alan, anaknya.


Air mata Mira langsung mengalir. Ia berusaha menyebut nama Alan, tapi suaranya tidak keluar. Mira mengangkat tangannya perlahan dan membelai wajah Alan. Air matanya semakin membanjiri pipinya. Kini ia percaya jika yang ada di hadapannya memang benar anaknya. Anak yang selama ini ia nanti-nanti kepulangannya. Anak yang selalu ia rindukan. Kini penantiannya telah usai. Alan telah berada di hadapannya lagi.


Alan pun merasakan yang sama. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan. Dan entah mengapa rasanya ingin sekali ia memeluk wanita yang tengah berbaring itu. Alan pun perlahan memeluk Mira dan Mira pun membalas memeluk Alan. Tangis Mira pun pecah. Ia sangat bahagia bisa memeluk anaknya kembali.


"Anakku", ucap Mira yang masih memeluk Alan.

__ADS_1


***


__ADS_2