
Dia orang warga berlari menuju Alan dan Bobby yang sedang berkelahi. Namun, Bobby ketakutan melihat mereka karena kali ini ia memiliki saksi. Ia pun langsung kabur membawa mobilnya meninggalkan Alan sendirian. Kedua warga yang tidak sengaja melintas itu ingin menangkap Bobby tapi, di halau oleh Alan.
"Tidak usah di kejar pak. Biar polisi saja yang menangkapnya", ucap Alan yang masih terduduk lemas
Kedua warga itu merasa kasihan pada Alan yang terlihat tidak berdaya. Mereka pun membantu Alan untuk berdiri dan membawanya untuk duduk di bangku yang tak jauh dari jembatan itu.
Alan merasa bersyukur karena bantuan segera datang sebelum Bobby menghabisinya lagi. Ia mengucapkan Terima kasih kepada kedua orang yang telah membantunya itu. Setelah itu, Alan segera memesan taksi online untuk menjemputnya.
***
Brak!
"Pa! Ma!", teriak Alan buru-buru masuk ke dalam rumah.
Kedua orang tua yang di panggilnya yang tengah berbincang di meja makan bingung mendengar teriakan anaknya. Namun, saat Alan menemukan mereka, ia langsung memeluk ibunya dengan erat.
"Ma, aku udah ingat semuanya", ucap Alan penuh semangat.
Sangking terkejutnya Mira dan Ibnu terdiam tidak percaya dengan yang di katakan Alan.
"Iya, ingatanku sekarang udah kembali", ucap Akan lagi.
"Kok bisa?", tanya Mira yang masih tidak percaya.
"Panjang cerita. Ya udah nanti aku ceritain. Aku mau mandi dulu ya Ma, Pa", jawab Alan dan berlalu ke arah kamarnya.
__ADS_1
"Eh tapi itu wajah kamu kenapa?", tanya Mira lagi yang baru sadar melihat wajah Akan yang penuh luka dan lebam.
"Iya nanti aku ceritain!", jawab Alan sambil berjalan.
Dan... Klek!
Alan membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Ia mematung kalau melihat seorang wanita di kamarnya yang sudah menanti kedatangannya. Namun, Dini tak kalah terkejut melihat wajah Alan yang penuh luka dan lebam.
"Astaghfirullah Mas, wajah kamu kenapa?", tanya Dini khawatir dan mendekat pada Alan.
Ia memegang pipi Alan untuk melihat lukanya lebih detail lagi. Alan yang terperanjat melihat Dini hanya bisa diam. Ia baru ingat bahwa dirinya telah menikahi wanita tersebut. Tapi, kini hatinya telah berkata lain. Ya, ia kembali mengingat Sonia wanita yang selalu ia cintai.
"Sudah, aku tidak apa-apa", ucap Alan menipis tangan Dini.
"Apanya yang tidak apa-apa! Ya udah kamu mandi dulu! Aku akan menyiapkan obat untuk lukamu", perintah Dini.
Selesai mandi, tidak seperti biasanya Alan selalu seenaknya di depan Dini tanpa sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya. Tapi, kini ia sudah berpakaian rapi dan itu membuat Dini merasa ada yang aneh pada suaminya. Tapi, ia singkirkan pikiran itu karena yang paling penting adalah mengobati luka di wajah Alan.
Dini menarik Alan untuk duduk di tepi ranjang. Ia pun mengambil kapas yang diberikannya beberapa tetes obat. Kemudian dengan lembut ia mengobati luka tersebut. Alan hanya diam saja. Dalam hatinya ia tidak tega mengatakan hal itu pada Dini. Tapi, tetap saja Dini harus mengetahuinya.
"Maaf Din, aku sudah tidak mencintaimu. Kamu tau kan aku amnesia? Dan sekarang aku telah mengingat semuanya. Aku ingin kamu tahu bahwa aku memiliki kekasih yang sangat aku cintai sebelumnya. Dan aku akan kembali padanya", ucap Alan tanpa ragu.
Seketika Dini menghentikan gerakan tangannya. Tapi, kemudian ia tersenyum dan melanjutkan kegiatannya mengobati Alan.
"Aku sudah tau. Tadi, saat aku keluar kamar, aku dengar kamu membicarakan hal itu pada Mama dan Papa", jawab Dini berusaha untuk tetap tenang. "Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
__ADS_1
Alan terperanjat melihat Dini yang sangat tenang menanggapi ucapannya. Ia sudah berpikir jika Dini akan menangis di hadapannya. Tapi, menurut Alan itu sangatlah bagus karena ia tidak susah-susah untuk membuat Dini mengerti.
"Aku akan segera menemui Sonia", jawab Alan.
Sonia? Sepertinya nama itu tidak asing. Tapi, siapa ya? Dini bertanya-tanya dalam hati.
Dini menyudahi kegiatannya dan membereskan isi kotak P3K-nya sambil tetap mencari-cari nama Sonia di dalam ingatannya. Lalu, Alan langsung bergegas keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana Mas?", tanya Dini.
"Sudah aku katakan aku akan menemui Sonia. Oh, ya kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak ingin mempermainkan hati siapapun. Aku akan segera menceraikanmu", jawab Alan lalu menutup pintu kamarnya.
Dini terduduk lemas di tepi ranjangnya. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Alan yang barusan itu. Hati yang sedari tadi sudah terasa sangat perih kini akan segera terlampiaskan. Tidak butuh waktu lama, air matanya langsung mengalir deras. Ia telah merasakan sakit hati sebelumnya. Namun, ini jauh lebih sakit. Tapi, ia tidak ingin Alan mengetahui kepedihan yang ia rasakan. Karena ini bukanlah salah Alan. Dan juga bukan salah siapapun.
Setelah kita menikah, kita akan selalu bersama. Kamu adalah istriku. Aku akan selalu membutuhkanmu. Seorang suami pasti akan terbiasa dibantu, di perhatikan, di persiapkan kebutuhannya oleh istrinya. Kamu tau aku pasti kesulitan tanpa kamu. Apapun yang terjadi aku yakin aku pasti akan mencari kamu. Dan jika saat itu terjadi, kamu harus meyakinkanku jika aku begitu mencintai kamu.
Dini sangat ingat dengan ucapan Alan itu sebelum mereka menikah. Dan ucapan itulah yang membuat Dini yakin bahwa Alan benar-benar ingin bersama dengan dirinya. Tapi, walaupun begitu tidak bisa di pungkiri hati Dini teramat perih. Pada kenyataannya suaminya malah memilih wanita lain dan bertekad menceraikannya. Kata cerai itu sangatlah menusuk hati Dini. Badannya terasa tidak mempunyai tulang lagi. Ia terus saja menangis sampai mengeluarkan suara yang kuat sangking terasa perih di dadanya. Dini tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia hanya ingin menangisi nasibnya sekarang ini.
Di luar kamar, saat menuruni anak tangga, tiba-tiba Alan menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang melihat pintu kamarnya. Ia bingung karena ia merasa tidak tenang.
Perasaan aneh apa ini? Kenapa hatiku rasanya tidak tenang. Apakah ini ada hubungannya dengan Dini? Apa yang sedang terjadi padanya? Alan bertanya-tanya dalam hati.
Pandangannya masih saja ke pintu kamarnya. Walaupun tidak mendengar suara tangisan Dini, tapi Alan bisa merasakan kesedihan Dini di hatinya.
Saat dua hati telah menjadi satu, keduanya akan saling terhubung. Kesedihan seorang istri bisa sampai ke hati suami. Walau tidak saling berdekatan, tapi rasa itu bisa sangat terasa. Kesedihan seorang istri akan membuat hati suami tidak tenang. Ini merupakan anugrah indah dari sang Maha Cinta. Walaupun, terkadang seorang suami menafikan rasa ini sebab egonya.
__ADS_1
Perlahan Alan melangkahkan kakinya lagi. Walaupun hatinya tidak tenang namun, nafsu untuk bertemu dengan Sonia teramat besar di hatinya. Ia tidak akan memperdulikan bisikan hatinya. Yang ia inginkan malam itu adalah bertemu dengan Sonia.
***