Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 16. Orang Asing


__ADS_3

Pemandangan yang indah dimata kini telah menjauhinya. Dini yang biasa membantu dan menyemangatinya saat mengangkat sayur-sayur dan buah-buahan, kini ia malah menjauh dan memilih untuk mengamati yang lainnya.


"Hah....", Tejo menarik napas panjang.


Kini lelahnya akan terasa lebih lama di bandingkan saat ia masih bisa melihat Dini yang tersenyum padanya. Tejo masih bertanya-tanya di hatinya, apakah Dini masih benar-benar mencintai Wahyu sampai dirinya terus berdekatan dengan Wahyu. Atau mungkinkah ada alasan lain? Tapi, semua itu belum bisa terjawab.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Wahyu pun datang ke kebun Abah. Tejo kemana arah Wahyu berjalan yang tidak lain adalah menemui Dini. Tapi, sebelum ke sana Tejo telah menghalangi Wahyu.


"Katanya kamu pegawai di kantor kepala desa. Tapi, kenapa ya tiap hari kamu kesini terus? Kayak nggak punya kerjaan lain aja!", ucap Tejo ketus.


Dari jauh Dini melihat Wahyu dan Tejo sedang mengobrol. Dini pun merasa penasaran dan berjalan ke arah mereka.


"Dengar ya Pak Wahyu! Anda dilarang datang ke sini apalagi untuk menemui Dinda. Hubungan anda dan Dini sudah berakhir. Dan anda juga harus ingat, kalau anda telah memiliki istri!", jelas Tejo dengan tegas.


Namun, Wahyu hanya tersenyum dan tidak berniat untuk membalas semua yang Tejo ucapkan. Itu karena Wahyu ingin menjaga citranya di depan Dini. Ya, Wahyu melihat Dini yang datang ke arah mereka. Tentu Wahyu tidak ingin gegabah lagi dan menghilangkan kesempatan untuk bersama kembali kepada Dini.


"Lebih baik anda pergi dari sini sekarang juga. Dan anda perlu tahu anda tidak pantas untuk Dini....", belum lagi selesai yang Tejo ingin katakan.


"Apa maksud kamu Jo? Kenapa kamu marah-marah pada Wahyu?", potong Dini sambil berjalan ke arah mereka.


"Aku cuma memperingatkan dia agar tidak datang kesini lagi dan mengganggu kamu", jawab Tejo santai.

__ADS_1


Seketika wajah Wahyu tampak sendu. Ia tampak seperti pria polos tanpa dosa. Ia tersenyum pada Dini lalu pamit untuk segera pergi karena dirinya telah di usir. Tapi, Dini menghentikan langkah Wahyu. Ia meminta Wahyu untuk tetap di sana. Wahyu pun tersenyum tanpa diketahui oleh Tejo dan Dini.


Wahyu malah berdalih, bahwa ia tidak ingin membuat keributan. Dia hanya ingin bertemu dengan Dini, cuma itu saja dan tidak ada maksud lain. Tapi, karena dirinya dilarang datang ke situ ya sudah ia pun akan segera pergi.


"Siapa yang melarangmu datang kesini?", tanya Dini.


"Tadi Tejo yang mengatakannya", jawab Wahyu.


"Din, aku bilang begitu karena....", Belum sempat Tejo menjelaskan.


"Cukup ya Jo! Di sini aku bosnya. Jangan seolah-olah kamulah pemilik kebun ini!" bentak Dini yang geram dengan sikap sewenang-wenang Tejo. "Oh, atau beginilah kamu aslinya?"


Dalam hati Wahyu, ia begitu senang karena Dini tidak lagi membela Tejo. Lalu ia mencoba menangkan Dini agar tidak terbawa emosi. Dini bukanlah orang yang gampang untuk marah. Begitulah Wahyu membujuk Dini dengan kata-kata indahnya.


Tapi, Tejo sangat tidak suka keduanya bermesraan. Selain cemburu, ia pun merasa takut kalau Dini nantinya akan di cap sebagai perusak rumah tangga orang. Tejo langsung memisahkan kedua tangan yang saling terpaut itu dengan kasar. Dan dilanjutkan dengan meninju pipi Wahyu.


"Kurang ajar! Beraninya kamu merayu Dini! Sadar dong kamu sudah punya istri!", ucap Tejo sambil mencengkram kerah baju Wahyu.


"Tejo cukup!" Teriak Dini sambil berusaha melepas cengkraman Tejo. "Kamulah yang sadar diri! Kamu cuma orang asing disini! Jaga sopan santun mu!"


Tejo memandang tajam pada Dini. Ia tidak percaya jika Dini bisa mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sakit hati. Dini yang dia kenal kini tak lagi dia kenali. Padahal sebelumnya Dini ingin berusaha melupakan Wahyu. Tapi, sekarang ia malah membela Wahyu dan menghina Tejo.

__ADS_1


"Oh, oke aku cuma orang asing", ucap Tejo yang kecewa. "Sekarang terserah! Terserah kalian mau berbuat apa!", lanjut Tejo tak kalah marah dengan Dini.


"Ya, memang seharusnya begitukan? Kamu nggak perlu ikut campur urusanku!", Teriak Dini yang masih marah.


"Ya... oke, oke! Mulai saat ini aku nggak akan ikut campur dengan hubungan kalian! Karena apa? Karena aku tidak perduli lagi!", jawab Tejo dan setelah itu ia pergi meninggalkan Dini dan Wahyu untuk kembali bekerja mengangkat sayur dan buah lagi.


Hal ini sungguh mengejutkan bagi Wahyu. Ia tidak menyangka Dini dan Tejo akan berperang seperti itu. Tapi, Wahyu sangat pandai. Ia menyimpan rasa senangnya melihat kedua orang itu bertengkar. Malah ia memperlihatkan wajah yang simpatik pada Dini.


"Din", ucap Wahyu sambil memegang pundak Dini. "Udah ya Din. Sabar-sabar aja menghadapi Tejo. Kamu sudah benar kok Din, menegur dia seperti itu. Kalau tidak, bisa-bisa dia merasa paling berkuasa disini", lanjut Wahyu mempengaruhi Dini.


Dini tersenyum pada Wahyu dan menganggukkan kepalanya. Tapi, tidak dipungkiri ada rasa bersalah pada Tejo. Sampai-sampai Tejo mengucapkan dirinya tidak akan perduli lagi. Benarkah Tejo tidak perduli lagi padanya? Begitulah pikir Dini.


Untuk membuat Dini kembali senang, Wahyu mau mengajak Dini makan di warung yang tidak jauh dari perkebunan. Karena Dini merasa tidak sibuk ia pun menerima ajakan Wahyu. Wahyu begitu senang karena Dini sudah seperti dulu saat menjalin kasih padanya. Kini Wahyu bisa berdekatan lagi dengan Dini seperti dahulu.


Dari tempat Dini berdiri, ia melihat kearah Tejo yang sedang bekerja mengangkat sayuran dan buah. Tejo benar-benar fokus pada pekerjaannya. Sedikitpun Tejo tidak melihat kearahnya. Entah mengapa hati Dini terasa sangat perih melihat itu.


"Din, kamu nggak perlu khawatir. Walaupun dia hilang ingatan, dia itu sudah dewasa. Yuk, katanya tadi mau aku traktir di warung", ucap Wahyu yang sedikit cemburu melihat Dini terus melihat Tejo.


Dini tersenyum kembali dan merekapun pergi ke warung yang dimaksud Wahyu dengan sepeda motor Wahyu. Dini tahu orang-orang sedang memperhatikan mereka. Dini merasa khawatir kalau orang-orang akan berpikir yang bukan-bukan tentangnya. Tapi, mau bagaimana lagi ini adalah jalan yang telah diambilnya.


Sesampainya di warung tersebut, mereka pun makan bersama walupun banyak orang yang berbisik-bisik dan itu mungkin saja mengenai kedekatan mereka. Dini tidak memperdulikannya. Ia hanya mencoba berpura-pura tidak tahu. Dini merasa jalan yang dia ambil sudahlah benar. Karena tidak ada salah untuk mencoba. Apalagi untuk menentukan siapa sebenarnya pemilik hatinya.

__ADS_1


**z


__ADS_2