
...Happy Reading...
...****************...
"Jangan keterlaluan, Abi! Anak yang dikandung Kezia itu anak kamu. Jadi kamu yang harus menikahi dia," sungut Jiro.
"Belum tentu, Pa. Mungkin saja bukan. Sebelumnya aku nggak pernah kenal sama Mbak Kezia, jadi mungkin saja aku bukan laki-laki satu-satunya—"
Bugh!
Satu pukulan tak dapat dihadang, dan berhasil mengenai wajahnya Abizar. "Kezia bukan perempuan seperti itu!" sentak Devan.
"Tapi aku tidak percaya sebelum tes DNA dilakukan," tantang Abizar lagi.
"Lo, ya—"
"Cukup!" Angelina memekik histeris mencegah keinginan Devan untuk melayangkan satu pukulan lagi, "sampai kapan kalian berdebat tentang masalah ini?" sembur Angelina, lalu beralih pada Abizar dan menatapnya tajam.
"Abi, kamu sudah setuju menikah dengan Kezia, karena kamu mengakui pernah tidur dengannya. Apalagi yang kamu ragukan, hah?" cecar Angelina pada anaknya.
Abizar tidak bisa menjawab. Ia masih bergeming sambil memegang sebelah pipinya yang terasa kebas akibat pukulan Devan.
"Kamu tenang aja, Van. Kami akan memastikan Abizar bertanggung jawab terhadap Kezia. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah karena sudah meninggalkan Kezia waktu itu," ujar Jiro sambil menepuk pundak Devan.
Devan belum puas, karena bukan itu yang membuatnya ingin memberikan pelajaran kepada Abizar. Lelaki marah, karena Abizar sudah berani menyentuh cinta pertamanya.
****
Pagi yang cerah membuat semua orang tampak semangat. Hari ini rencananya adalah pertemuan antara dua keluarga. Yakni keluarga Abizar dan keluarga Kezia. Lebih tepatnya mereka akan melakukan prosesi lamaran. Sedari pagi buta, keluarga Abizar sudah menyiapkan segala keperluannya.
"Ya ampun, Bang! Kok, masih tidur?" Aludra yang disuruh memanggil kakaknya sontak memekik. Lantaran sang kakak belum melakukan persiapan apa-apa, padahal di luar sana semuanya sudah bersiap berangkat.
"Apaan, sih, Al? Gue masih ngantuk," decak Abizar yang terganggu oleh guncangan di bahunya.
__ADS_1
"Kamu mau lamaran, Bang. Mama dan yang lain udah siap di depan."
Mendengar itu kedua mata Abizar sontak terbuka, lalu terduduk dan bersila. "Sial! Kenapa gue bisa lupa?" rutuk Abizar sambil mengacak rambutnya kasar.
"Cepetan mandi! Jangan sampai nanti mama yang ke sini."
Setelah berkata seperti itu Aludra pun pergi, sedangkan Abizar hanya menatap nanar punggung Aludra yang menghilang di balik pintu kamar. Abizar menghela napas kasar, sebelum dirinya beranjak dari ranjang. Hatinya benar-benar gamang, karena sedari kemarin wajah Selena selalu terbayang.
"Gimana kalau Selena tahu? Apa dia bakalan mutusin gue?" cicit Abizar. Embusan napasnya terdengar kasar, saat kakinya menyentuh lantai. Dengan terpaksa Abizar menyiapkan diri untuk acara lamaran.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Abizar keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Kemeja berwarna putih yang dipadukan dengan jas berwarna abu muda, serta celana formal berwarna hitam menjadi style pilihan yang dia kenakan. Pakaian itu sangat cocok dipakai untuk acara lamaran.
"Lama banget, sih!" gerutu Juno yang ingin ikut menghadiri acara tersebut. Sudah pasti lelaki itu ingin bertemu dengan kekasih hatinya. Jadi sekalian saja.
Abizar tidak mau menanggapi. Ia hanya mencebikkan bibirnya saja. Seolah tidak peduli dengan kekesalan keluarganya yang sudah menunggu lama.
"Udah, ah. Ayo, berangkat!" tukas Angelina. Lalu menggandeng tangan Abizar, "anak mama ganteng banget, sih," ucap Angelina memuji. Abizar hanya tersenyum tipis, tetapi kedua bola matanya berotasi, malas.
Baru sampai di depan teras, keluarga Abizar kembali tertahan oleh kedatangan Devan. Angelina langsung pasang badan di depan anaknya. Takut-takut Abizar kembali diserang.
"Nggak, gue cuma mau bicara sesuatu aja," jawab Devan. Mendengar itu, Angelina semakin menghalangi tubuh anaknya.
"Tante tenang aja! Aku nggak akan mukulin Abi lagi. Aku ke sini cuma mau minta maaf, karena kemarin aku sempat emosi." ungkap Devan saat melihat kekhawatiran yang cukup kentara di wajah tantenya itu. Dia masih menutup rapat perasaannya terhadap Kezia. Tidak ingin terlalu banyak orang yang tahu tentang itu.
Angelina dan keluarganya bisa bernapas lega. Sebagai saudara, semestinya memang saling memaafkan jika terjadi kesalahpahaman. Dengan senang hati, mereka pun memaafkan kesalahan Devan.
******
Membutuhkan waktu setengah jam untuk menempuh perjalanan menuju rumahnya Kezia. Abizar dan keluarganya disambut hangat oleh mereka. Keluarga sudah menerima dengan hati terbuka, karena sebelumnya perwakilan dari keluarga Abizar sudah terlebih dulu mengunjungi mereka. Yakni Jonathan dan Ara.
"Jadi bagaimana, Pak Surya? Apa sudah bisa ditentukan hari pernikahan mereka?" tanya Jiro setelah sejenak berbasa-basi, dan mengobrol ke sana ke mari.
"Kami ingin secepatnya saja, Pak Jiro. Karena kita tidak mungkin menunggu perut Kezia semakin besar."
__ADS_1
"Itu benar. Kami setuju saja kapan pun waktu yang kalian tentukan," pungkas Jiro.
"Bagaimana kalau dua hari lagi?"
"Apa nggak terlalu mendadak, Pak? Dua hari mana cukup untuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan?" tukas Angelina menimpali.
"Maaf, Tante." Kezia ikut menginterupsi, "aku tidak mau ada acara resepsi. Kita cukup menikah secara sederhana saja. Cuma dihadiri oleh tetangga dekat dan keluarga besar saja," pinta Kezia.
"Kamu yakin?" Angelina mengerutkan keningnya mendengar keputusan Kezia. Perempuan itu pun menganggukkan kepala tanda mengiyakan.
"Lalu bagaimana dengan kamu, Bi?" tanya Angelina yang beralih pada anaknya. Berbarengan dengan datangnya sebuah pesan masuk ke aplikasi WA-nya. Abizar jadi tidak fokus lantaran membaca pesan tersebut.
"Abi?" Jiro menyenggol putranya yang duduk di sebelahnya, "mamamu tanya itu," imbuhnya saat Abizar menolehkan kepala.
"Nanya apa, Ma?" Abizar beralih pada sang mama.
"Itu, Kezia maunya menikah tanpa resepsi. Kamu setuju, nggak?"
Abizar terdiam sejenak. Bukan karena permintaan Kezia, melainkan karena pesan dari pesan singkat yang tadi dia baca.
"Maaf, sepertinya pernikahan ini tidak akan terjadi."
"Apa maksud kamu?" Surya sontak membentak, mendengar Abizar yang tiba-tiba menolak.
"Abi, kamu ini ngomong apa? Jangan bikin malu keluarga kita, Nak!" sergah Jiro menegur anaknya.
"Maaf, Pa. Abi beneran nggak bisa. Kalaupun nanti Abi menikahi Mbak Zee. Abi nggak akan bisa bahagiakan dia. Jadi, menurut Abi, biarkan dia menikah dengan orang yang mencintainya. Abi janji akan tetap bertanggung jawab dengan anak yang dikandungnya."
Rasa sesak sontak menyergap paru-paru Kezia. Jantungnya seperti berhenti berdetak, dan pandangannya sedikit kabur karena genangan cairan bening sudah memupuk di sudut matanya. Kezia kecewa dengan keputusan Abizar yang terkesan mendadak. Jika memang lelaki itu hendak menolak, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja saat keluarganya menuntut tanggung jawab.
"Mama!" Abizar, Jiro, dan Aludra menjerit histeris secara bersamaan saat sang mama tiba-tiba jatuh pingsan. Hati dan pikiran perempuan itu terlalu terguncang dengan keputusan Abizar yang mempermalukan keluarga mereka di depan calon besan.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...