Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 53. Tak Bisa Terselamatkan


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Langit berwarna biru sudah berganti dengan warna kelam. Lantaran sinar mentari sudah tak lagi menyinari alam. Abizar sudah kelelahan setelah seharian mencari keberadaan istrinya. Ia sudah mendatangi semua rumah sakit yang ada di kota itu, tetapi tak juga menemukan istrinya.


Hal itu dikarenakan semua informasi tentang Kezia sudah ditutup oleh Devan. Lelaki itu sengaja menginstruksikan kepada petugas rumah sakit untuk tidak memberikan informasi tentang Kezia kepada siapa pun juga.


"Gue mesti cari ke mana lagi? Mana mama ngomel-ngomel terus dari tadi." Abizar menyugar rambutnya dengan kasar. Ia bingung harus ke mana lagi mencari Kezia. Ke rumah Devan juga sudah, tetapi Devan tidak ada di rumahnya, hanya ada asisten rumah tangga saja.


Setelah Angelina tahu jika Kezia tidak bersama Abizar. Perempuan paruh baya itu sangat mengkhawatirkan menantunya. Tak urung di setiap jam, Abizar selalu diteror oleh sang mama. 'Jangan pulang tanpa membawa menantu mama!' Begitulah titah ibu ratu yang mulia.


Merasa buntu, Abizar pun terpaksa pulang tanpa Kezia. Tidak peduli dengan omelan mamanya. Abizar sudah terlalu lelah mencari istrinya.


"Mana Kezia, Bi?" Baru saja Abizar menapakkan kakinya di lantai depan rumah, Angelina sudah melontarkan pertanyaan itu. Ia sengaja menunggu kepulangan Abizar, karena merasa tidak tenang menantunya hilang.


Abizar menggeleng lemah. Kepalanya menunduk tak mau menatap sang mama.


"Kamu gimana, sih? Masa istri kamu bisa hilang di kantor sendiri!" Angelina mengomel lagi. "Kamu yakin kalau Kezia pergi sama Devan?" tanya Angelina tidak percaya.


"Iya, Mama. Tadi temen Abi ada yang lihat bang Devan gendong perempuan hamil. Siapa lagi kalau bukan mbak Zee, soalnya karyawan perempuan di kantor itu nggak ada yang hamil," jawab Abizar setelah mendongakkan pandangan menatap wajah Angelina.


"Memangnya kamu nggak ketemu Kezia sama sekali?"

__ADS_1


"Enggak," jawab Devan sambil menggelengkan kepalanya.


"Udah telepon Devan?"


"Nggak aktif."


"Kalau ke rumahnya?"


"Nggak ada siapa-siapa. Cuma ada pembantunya."


"Bagaimana dengan rumah orang tua Kezia atau rumahnya Aruna? Mungkin Kezia pulang ke sana," cecar Angelina lagi.


"Udah, Ma ... udah. Abi udah datangi semuanya, tapi mbak Zee tetep nggak ada. Malahan rumah mereka kosong semua. Katanya mereka lagi pergi pas Abi datang ke sana. Nggak tahu ke mana. Satpam bilang mereka pergi dari siang," terang Abizar.


Angelina menghela napasnya. "Abi ... Abi ... kenapa bisa kayak gini, sih? Pasti kamu nyakitin Kezia lagi. Iya, kan?" Angelina memojokkan Abizar dengan nada penuh penekanan. Ia merasa gemas dengan sikap anaknya yang sangat ceroboh.


"Habisnya mama kesal sama anak kamu ini, Pa. Nggak ada abis-abisnya bikin ulah. Udah mama bilang, jagain istrinya. Ini malah kehilangan jejaknya dia. Gimana sama nasib menantu kita, Pa?" Tangis Angelina pun pecah di pelukan suaminya.


"Iya, papa ngerti. Tapi papa yakin Kezia nggak akan kenapa-napa, kok," ucap Jiro menenangkan istrinya, sedangkan Abizar hanya bisa terdiam seribu bahasa. Tak ada pembelaan lagi yang keluar dari mulutnya. Pikirannya penuh dengan banyak pertanyaan. Di mana Kezia? Kenapa seakan bumi menelan perempuan itu? Serta kenapa Devan harus menutupi keberadaan istrinya tersebut?


*


*

__ADS_1


*


Di tempat yang berbeda, Devan bersama dengan keluarga Kezia tengah menunggu operasi Caesar yang dijalani oleh Kezia. Setelah Devan menghubungi Aruna, keluarga Kezia yang terdiri dari Surya, Erna, dan Putri langsung menyusul ke rumah sakit tempat Kezia dirawat, sedangkan Juno belum diberi tahu. Tak lupa Devan memberitahu tentang ultimatum Kezia perihal tidak boleh memberi kabar kepada keluarga Abizar. Tentu saja alasannya membuat keluarga Kezia geram, dan setelah Kezia melahirkan mereka berjanji akan membuat perhitungan.


Raut wajah khawatir tercetak di wajah masing-masing. Tidak ada kata yang terucap dari bibir.


Senyap. Semua pandangan tertuju pada daun pintu yang berwarna putih tulang. Ketika lampu yang menyala di atas pintu itu padam, tanda operasi telah selesai, semua orang langsung berdiri dengan perasaan tegang. Dokter kandungan pun keluar tak lama setelahnya.


"Bagaimana, Dokter? Apa anaknya sudah lahir? Ibu dan anaknya selamat, kan?" Erna yang menunjukkan wajah paling panik di antara mereka pun langsung bertanya.


Muram pada wajah dokter membuat keresahan menyibak hati keluarga Kezia. Surya, Putri, dan Aruna pun mendekati sang mama yang tengah berhadapan dengan dokter. Sedangkan Devan masih bergeming sambil berdiri. Entah kenapa hatinya begitu nyeri.


"Operasinya berhasil dan anaknya sudah lahir. Tapi ...."


"Kenapa ada kata 'tapi', Dok? Tidak ada hal buruk yang terjadi, kan?" Erna memotong perkataan dokter yang terlihat gugup dan menegangkan.


"Maaf, Bu. Dengan berat hati saya harus menyampaikan ini. Kami sudah berusaha menyelamatkan keduanya, tapi kami hanya bisa menyelamatkan ibunya saja. Bayi ibu Kezia sudah meninggal sebelum dilahirkan."


Anak Kezia tidak bisa terselamatkan, karena dari awal memang sudah mempunyai kelainan. Terlebih kondisi mental Kezia yang terguncang, membuat kondisi fisiknya jadi tidak seimbang.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


Sambil menunggu up, bisa mampir baca dulu di novel othor keceh ini, yuk!



__ADS_2