Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 55. Bertemu Kezia


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Kesakitan yang tiada terkira ketika seorang ibu melahirkan anaknya. Namun, robekan dalam daging itu tak ada apa-apanya saat sang ibu melihat anaknya lahir ke dunia. Semua rasa sakit itu mendadak sirna, lalu mendatangkan rasa bahagia.


Mungkin hal itu yang seharusnya Kezia rasakan saat ini, tetapi perempuan itu harus mengalami rasa sakitnya dua kali. Kehilangan sang buah hati membuatnya seakan mau mati. Kezia begitu terpuruk dengan kenyataan pahit yang menimpanya secara bertubi-tubi.


Tiga hari mendapatkan perawatan, Kezia pun diperbolehkan pulang, sedangkan Abizar terus berusaha meminta permohonan maaf, tetapi selalu gagal. Orang tua Kezia tidak mengizinkan lelaki untuk bertemu dengan anaknya. Jangankan meminta maaf, mau bertemu saja sudah dicegat.


Seperti hari ini, Abizar mencoba sekali lagi. Lelaki itu tidak putus asa ingin bertemu dengan sang istri. Ia yang sudah tahu jika istrinya sudah pulang dari rumah sakit pun menyambangi rumah mertuanya di sore hari.


"Aku mohon, Ma. Izinkan aku bertemu sama istriku!"


Masih mendapatkan penolakan, Abizar tidak patah arang. Dia terus memohon kepada Erna—mamanya Kezia. Hati perempuan ini sedikit lebih lunak daripada papa mertuanya. Abizar cukup bersikap keras kepala dan merayu mertuanya itu. Semoga saja bisa bertemu.


"Udah mama bilang papa Surya nggak ngizinin kamu ketemu sama Kezia, Abi. Mama harus ngomong apalagi sama kamu, biar kamu ngerti. Kalau papa tahu, dia bisa marah besar," ucap Erna dengan nada rendah, tetapi penuh penekanan. Ia sudah jenuh menjawab pertanyaan yang sama untuk ke lima kalinya.


"Sebentar saja. Mumpung papanya lagi nggak ada. Boleh, ya, Ma? Setidaknya biarkan Abi masuk dulu. Abi ngomong di depan kamarnya aja juga nggak pa-pa, deh," bujuk Abizar lagi. Kedua matanya berkelipan oleh cairan bening yang menggenang di pelupuk mata. Sorot memohon tersirat di dalamnya. Melihat itu Erna pun jadi tidak tega.


Embusan napas kasar pun terlontar dari indera penciuman perempuan itu. Dengan terpaksa Erna pun berkata, "baiklah, tapi jangan lama-lama! Nanti keburu papanya Kezia pulang kerja. Kalau sampai dia tahu, kamu tanggung sendiri akibatnya."


Abizar menganggukkan kepalanya diiringi senyuman yang mengembang. "Abi janji, Ma. Hanya sebentar, kok," ucapnya senang.


Erna mempersilakan Abizar masuk ke rumahnya. Lelaki itu langsung berlari menuju kamar yang pernah ditempatinya bersama Kezia saat malam pertama pernikahan.

__ADS_1


Di dalam kamar itu ada Kezia ditemani oleh Aruna. Adiknya itu tidak pernah meninggalkan kakaknya yang tengah terpuruk dalam kesedihan. Aruna selalu setia menjadi bahu untuk kakaknya bersandar.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa?" Aruna yang bertanya kepada seseorang yang mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Ini aku ... Abi."


Kezia sontak terperanjat mendengar suara lelaki yang sangat dikenalnya itu. "Abi?" ucapnya lirih. Tatapannya sendu menatap daun pintu.


"Kalau Kakak nggak mau ketemu dia, biar aku usir sekarang juga," cetus Aruna.


Kezia menganggukkan kepalanya lemah, tanda menyetujui perkataan Aruna. "Bilang sama dia, aku tidak butuh penjelasan apa-apa, dan tolong urus surat cerai dengan segera."


Aruna terbelalak mata. Walaupun dia sudah mengira akan seperti ini akhirnya, Aruna menyayangkan keputusan kakaknya. Apa tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik saja? Kata cerai adalah hal yang paling dibencinya, tetapi perselingkuhan Abizar juga tak layak dimaafkan. Aruna jadi bingung harus memberi tanggapan apa, lalu memutuskan untuk mengikuti permintaan kakaknya saja.


Mendengar suara kunci terbuka, Abizar langsung mendorong pintu tersebut. Aruna sampai terhuyung ke belakang tak mampu menahan tenaga Abizar.


"Heh, main dorong aja, sih!" hardik Aruna sambil memegang dahinya yang terbentur pintu.


"Eh, maaf-maaf. Aku nggak sengaja," sesal Abizar sambil meringis. Aruna pun mendengkus.


Kezia sedikit terlonjak karena ulah Abizar tersebut. Ia pun berdiri sambil menatap nanar pria yang tengah meminta maaf kepada Aruna. Namun, Kezia sudah tidak aneh melihat kecerobohan Abizar seperti itu. Tingkahnya yang selalu terburu-buru adalah ciri khas lelaki itu.


"Kamu ...."

__ADS_1


Suara Aruna menggantung saat ia tahu Abizar sudah tak lagi menanggapinya. Lelaki itu langsung beralih pada Kezia. Namun, pikiran Aruna terbuka saat sadar akan kegigihan Abizar. Ia pun memilih untuk keluar. Membiarkan kedua insan yang tengah salah paham itu menyelesaikan masalah mereka dengan berbincang.


Abizar melangkah pelan, menatap nanar istrinya yang terlihat lemah dan lelah. Kedua matanya sembab, dengan kantung mata bergelayut di kelopak matanya. Persis seperti mata panda. Remuk hati Abizar melihat kondisi istrinya. Andai saja waktu itu dia tidak mengizinkan Kezia ke kantornya, mungkin kondisi Kezia masih baik-baik saja, dan anaknya tidak akan meninggal dunia.


Namun, takdir ditulis sebelum manusia lahir, dan kematian adalah salah satu takdir yang tidak bisa dianulir.


"Mbak," panggil Abizar dengan lirih.


Kezia tak menjawab. Tatapannya cukup menjelaskan jika perempuan itu malas berbicara. Tatapan mereka bertemu dalam suasana duka. Ingin sekali rasanya Abizar memeluk perempuan yang sudah bertakhta dalam jiwanya, tetapi ia takut Kezia menolaknya.


"Aku mau menjelaskan sesuatu, Mbak. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Aku sungguh nggak tahu dengan kedatangan Selena waktu itu." Tanpa menunggu Kezia bersuara, Abizar langsung melontarkan kalimat yang sudah mengumpul di benaknya.


Kezia masih terdiam seraya mencerna kalimat Abizar. Beberapa detik kemudian ia pun berkomentar.


"Apa itu penting untuk dijelaskan sekarang, Bi?" Suara Kezia terdengar serak dan lirih. Perempuan itu terlalu lelah menangisi kemalangannya saat ini.


"Aku perlu menjelaskan itu, Mbak. Karena Mbak pasti mengira kalau aku masih mencintai dia, padahal nggak. Aku sangat mencintai Mbak."


Senyuman pahit terukir di sudut bibir Kezia. "Aku lebih percaya dengan penglihatanku sendiri, Abi. Perempuan itu memelukmu dengan senyuman yang sangat manis dan tanpa beban. Itu terlihat seperti kebahagiaan yang tersirat penuh kerinduan. Apa kamu pikir seorang perempuan yang patah hati akan bersikap seperti itu? Mungkin kamu memang tidak mengundang dia datang ke kantor, tapi mungkin Selena sengaja memberikan kejutan untuk kekasihnya yang sudah lama tak bertemu," papar Kezia panjang lebar.


...****************...


...To be continued...


Sambil nunggu update, mampir baca di novel keren ini, yuk...

__ADS_1



__ADS_2