Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
34. Minta Bantuan


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Selena memejamkan matanya saat wajah Abizar perlahan mendekatinya, tetapi setelah beberapa saat menunggu, kepala Abizar malah mendarat di samping telinganya. Kedua mata Selena sontak terbuka, melirik kepala Abizar dengan kerut kebingungan yang tergambar di keningnya.


Suara dengkuran halus dengan napas yang teratur yang terdengar di telinga Selena, membuat perempuan itu menghela napasnya kasar. Ia yakin jika Abizar malah tertidur di atas tubuhnya.


"Ish, malah tidur!" decak Selena, lalu mendorong tubuh Abizar agar bergulir ke samping kanannya. Sejenak Selena menatap wajah polos Abizar yang terpejam. Senyuman tipis terbesit di bibir Selena. Walaupun dia tidak jadi milik Abizar malam ini, Selena tidak marah pada lelaki itu.


"Manis banget, sih!" ucap Selena sambil menyusuri wajah Abizar dari kening hingga ujung bibir. Perempuan itu dengan lancang menempelkan bibirnya di bibir Abizar. Hanya sebentar, tetapi begitu saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar.


Selena yang awalnya berniat pulang meninggalkan Abizar di penginapan, mengurungkan niatnya tersebut. Perempuan itu malah membaringkan tubuhnya di samping Abizar sambil memeluk tubuh kekasihnya. Tak lama rasa kantuk pun menyerang kelopak matanya. Mereka berdua pun tertidur bersama.


...******...


Esok paginya, kedua mata Abizar mengerjap lebih dulu. Suatu yang menimpa tubuhnya terasa mengganggu. Sayup-sayup pandangannya mulai berkumpul dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Tangan yang melingkar di perutnya yang semula terlihat berbayang kini menjadi jelas kelihatan. Sontak saja kedua mata Abizar terbuka lebar. Kepalanya menoleh ke samping, tempat Selena yang masih tertidur sambil memeluknya dengan kencang.


"Astaga ... apa yang gue lakukan? Apa semalam gue sama Selena ...." Abizar menepuk keningnya frustrasi. Ia benar-benar lupa dengan kejadian malam tadi. Memory ingatannya hanya sebatas waktu Selena menelpon dirinya di bar, setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.


"Kak Abi?" Suara serak Selena mengembalikan pikiran Abizar yang sempat berputar ke mana-mana.


Abizar menoleh lalu bertanya, "Selena ... apa semalam kita ...?" Abizar tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia terlalu takut jika semalam ternyata dirinya khilaf lagi. Ancaman Aludra mungkin akan terjadi.


Selena beranjak duduk lalu bersandar di kepala ranjang. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Membuat hati Abizar semakin kacau tak beraturan. Tatapannya pun memicing menunggu penjelasan. Tubuhnya duduk tegak menghadap Selena.


"Kita nggak ngapa-ngapain, kan?" desak Abizar merasa tidak sabar. Selena malah tertawa melihat kepanikan yang tersirat di raut wajah kekasihnya.


"Tenang aja, Kak. Kita nggak ngapa-ngapain, kok. Cuma tidur bersama," terang Selena setelah tawanya reda. Abizar pun menghela napas lega sambil mengelus dada.


"Syukurlah, kalau begitu," ucap Abizar sambil mengusap wajah bantalnya.

__ADS_1


Reaksi Abizar tersebut membuat Selena sedikit aneh. Entah kenapa hatinya sedikit sakit karena Abizar seolah tidak sudi menyentuh dirinya.


"Kenapa, Kak? Apa segitunya kamu tidak mau menyentuh aku?" tanya Selena dengan tatapan curiga.


"Hah?" Abizar menggaruk pelipisnya sedikit bingung, "bu—bukan begitu, Sayang. Aku hanya nggak mau merusak kamu aja sebelum kita menikah. Kamu ngerti, kan?" kilahnya.


Selena tersenyum lalu memeluk tubuh Abizar, "Makasih, Kak. Aku makin cinta sama kamu," ucapnya di balik punggung lelaki itu.


Abizar kembali menghela napas lega. Alasan seperti itu saja sudah membuat Selena percaya. Beberapa detik berpelukan, Abizar mengurai pelukan tersebut. Kedua tangannya masih bertahan di bahu Selena, membuat mereka saling bertatap muka.


"Ada yang ingin aku katakan sama kamu," ucap Abizar setelah terdiam beberapa saat.


"Apa?"


"Hari ini ... aku akan kembali ke Indonesia. Orang tua aku menyuruhku untuk kembali tinggal di sana, dan sepertinya akan lama."


Selena terhenyak mendengar itu. Tatapannya pun berubah sendu. "Lalu bagaimana dengan aku?" tanyanya sedih.


"Aku akan berusaha untuk menjelaskan kepada mama dan papa tentang hubungan kita, Sayang. Jika masalah perjodohan itu selesai, aku akan meminta restu kepada mereka pelan-pelan. Aku harap kamu bisa bersabar sampai aku menjemputmu untuk bertemu mereka, ya!"


"Sungguh?" Selena melepaskan diri dari pelukan Abizar. Tatapannya menelisik kesungguhan yang terpancar dari sorot mata lelaki itu.


Abizar pun mengangguk mengiyakan. Selena kembali masuk dalam rengkuhan.


"Makasih, Kak. Aku akan selalu bersabar menunggu kamu di sini. Jemput aku saat sudah mendapatkan restu!" ujar Selena penuh harap.


Kedua mata Abizar menerawang jauh ke depan. Entah yang diucapkannya adalah sebuah harapan atau sebuah kebohongan. Lelaki itu tidak bisa memastikan.


...******...


Pukul 17.30 WIB, pesawat yang ditumpangi oleh Abizar mendarat dengan sempurna di Bandara Soekarno-Hatta. Abizar melenggang santai sambil menarik koper miliknya di area jalan keluar. Tak jauh dari sana seorang Juno sudah menunggu kedatangannya sambil melambaikan tangan. Abizar pun lekas menemui lelaki tersebut.

__ADS_1


"Hei, Bi. Gimana perjalanannya? Lo pasti seneng karena disuruh pulang dan tinggal lagi di Indonesia?" Juno memberikan pelukan selamat datang kepada sahabat sekaligus saudara sepupunya tersebut dengan senyum mengembang.


Namun, saat melihat raut wajah Abizar yang terlihat suram, senyuman itu pun langsung padam. Kening Juno pun mengernyit heran.


"Lo kenapa, sih? Kayak nggak senang pulang ke Indonesia lagi? Bukannya ini mimpi lo selama ini?" cecar Juno dengan tatapan penuh selidik.


Helaan napas kasar terlontar dari hidung Abizar. "Gue lagi bingung, Bang," ucapnya kemudian.


"Bingung kenapa? Lo ngerasa belum menguasai ilmu bisnis keluarga lo, karena kepulangan lo terlalu cepat?" lontar Juno menduga-duga.


"Itu salah satunya."


"Lalu?" Juno sedikit ingin tahu.


"Pernikahan gue sama Mbak Kezia sepertinya tidak bisa dilanjutkan lagi, Bang. Kami harus segera bercerai."


Pernyataan itu tentu saja membuat Juno membelalakkan matanya. "Lo jangan main-main, Bi! Orang tua lo nyuruh lo pulang buat jagain Kezia yang sebentar lagi akan melahirkan. Bagaimana lo bisa berpikir untuk menceraikan dia sekarang? Bahkan anak lo aja belum lahir ke dunia," ungkap Juno.


"Tapi gue udah janji sama seseorang untuk segera kembali ke Jepang. Kali ini gue mohon bantuan lo, Bang. Gue benar-benar nggak cinta sama Mbak Kezia. Pernikahan ini hanya akan membuang-buang waktu saja, karena pada akhirnya kami tetap akan berpisah juga."


Abizar secara terang-terangan meminta bantuan Juno untuk menyelesaikan masalah percintaan segitiganya tersebut. Membuat Juno sangat terkejut.


"Jadi selama ini lo masih berhubungan dengan pacar lo itu?"


Abizar mengangguk. "Gue nggak rela melepaskan dia, karena dia terlalu sempurna," tuturnya.


Juno berdecak kesal, tetapi tidak bisa menyalahkan Abizar. Lelaki itu tahu betul jika cinta memang tidak bisa dipaksakan.


"Ayolah, Bang! Cuma lo yang bisa gue andalkan. Tolong bantu bicara sama papa, agar gue bisa kembali ke Jepang. Setidaknya sampai Mbak Zee melahirkan, dan kami bisa langsung bercerai saat itu," mohon Abizar lagi.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2