
...Happy Reading...
...****************...
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa kepergian Abizar ke Jepang sudah berjalan tiga bulan lamanya. Kini kehamilan Kezia pun sudah semakin membesar. Kezia memang menurut untuk menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki lain selama dirinya masih berstatus istri Abizar. Bukan berarti dia sudah mencintai Abizar. Ia hanya ingin menjaga nama baik kedua keluarga besar.
Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Abizar. Lelaki itu malah semakin sibuk membangun percintaannya dengan Selena. Dengan begitu, hubungan mereka malah semakin lengket saja.
"Sayang, kapan aku dikenalin sama orang tua kamu," kata Selena di satu kesempatan. Mereka tengah asyik berkencan di sebuah kafe yang menyajikan keindahan pantai dengan birunya langit sebagai tudungnya. Mereka sengaja datang ke sana untuk menghabiskan waktu akhir pekan seperti biasa.
Ditanya seperti itu oleh kekasihnya, Abizar tidak langsung menjawab. Tentu saja dia bingung harus beralasan apalagi untuk mengundur waktu saat menunggu perceraiannya dengan Kezia. Sebelum dirinya bercerai dengan Kezia, Abizar tidak bisa mengenalkan Selena pada keluarganya.
"Nanti dulu, ya, Sayang. Kamu harus sabar. Mama dan Papa, kan, masih di Indonesia," jawab Abizar membuat alasan yang sama. Selena sudah mempertanyakan hal tersebut beberapa kali, dan jawaban seperti itu yang selalu ia dengar dari mulut Abizar. Ya, Jiro juga memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Lelaki bucin itu tidak akan tahan jika berpisah lama dengan istrinya. Bisnisnya di Jepang, ia alihkan pada Abizar dan orang kepercayaannya.
"Kenapa kamu tidak membawaku ke Indonesia saja? Sekalian jalan-jalan ke sana," rengek Selena sambil menggelayut manja pada lengan Abizar. Kepalanya pun sengaja disandarkan pada bahu lelaki itu.
Buliran keringat dingin menetes dari dahi Abizar. Tubuhnya terasa panas menyembunyikan rasa bingung. Terik di pantai tersebut membuat volume keringatnya lebih meningkat saja. Semakin ke sini, Selena semakin menuntut keseriusannya.
"Aku belum bisa mengajakmu ke sana. Nanti kalau sudah waktunya, aku pasti akan mengajakmu ke Indonesia dan tinggal di sana juga setelah kita menikah," bujuk Abizar sambil memasang senyuman palsu. Tangannya mengusap pipi Selena dengan lembut.
"Iya, tapi kapan, Kak?" Kita sudah berbulan-bulan berhubungan, tapi kamu nggak pernah ngenalin aku ke orang tua kamu. Ngajak main ke rumah kamu aja belum pernah." Selena mengangkat kepalanya dari bahu Abizar, lalu menegakkan duduknya. Menatap Abizar dengan tatapan curiga, "apa jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dari aku, ya? Kamu udah dijodohin sama orang tua kamu, Kak?" tuding Selena.
__ADS_1
Abizar menelan ludahnya dengan kelat. Kenapa tudingan perempuan itu sedikit mendekati kebenaran. Haruskah dia jujur sekarang?
"Tuh, kan, diem. Berarti benar kamu udah dijodohkan." Melihat gurat kebingungan yang terpancar dari raut wajah Abizar, Selena pun bisa mengambil kesimpulan.
Namun, saat Abizar hendak menyangkal, Selena menangkup kedua pipi Abizar dan berkata lagi, "Kak, kalau kamu merasa keberatan dengan perjodohan itu, ayo kita jelasin bersama pada orang tua kamu! Kita ini saling mencintai, orang tua kamu pasti ngerti."
Abizar melongo takjub mendengar hal itu. Ternyata Selena tidak marah, dan malah mau berjuang untuk mempertahankan cinta mereka. Pikirannya pun semakin kalut saja. Hubungannya dengan Kezia tidak semudah yang dipikirkan Selena. Andai saja perempuan itu tahu jika Abizar sudah mau mempunyai anak dari Kezia, mungkin perempuan itu akan marah besar kepadanya.
"Ehm ... tebakanmu benar, Sayang. Kak Abi memang dijodohkan, tapi Kak Abi nggak pernah mencintai perempuan itu, karena Kak Abi sangat mencintai kamu." Abizar pun mengiyakan prasangka Selena. Menurutnya lebih baik Selena berpikir seperti itu. Itu lebih baik, agar kekasihnya tidak lagi menuntut untuk bertemu orang tuanya dalam waktu dekat.
"Tapi kamu tenang saja. Perempuan yang dijodohkan dengan Kak Abi juga keberatan dengan perjodohan ini. Kami berdua sepakat untuk membatalkan ikatan ini dengan segera. Makanya kamu harus sabar dulu, ya!" imbuh Abizar yang juga menangkup kedua pipi Selena.
Abizar pun tersenyum senang, hingga beberapa detik mereka saling pandang. Tatapan mereka pun jadi terkunci dengan sorot penuh arti. Kabut asmara pun tiba-tiba menyelimuti. Perlahan kepala Abizar mengikis jarak di antara wajah mereka. Tatapannya membidik bibir berwarna merah delima.
Tak membutuhkan waktu lama. Bidikannya melesat dan menancap di bibir itu. Cukup lama mereka menyatu. Abizar cukup lincah mengeksplor setiap ruang yang membuatnya candu.
Beberapa saat kemudian tautan itu terlepas, karena keduanya sama-sama kehabisan napas. Menarik oksigen sebanyak-banyaknya mereka lakukan dengan bebas. Diiringi kedua bahu yang turun naik dengan napas yang memburu. Beruntung Abizar masih bisa menahan napsu, sehingga ia tidak akan melakukan hal yang lebih dari itu.
*****
Sedangkan di negeri yang terkenal dengan ragam budayanya yang berbeda-beda. Devan sudah mendapatkan penolakan berkali-kali dari Kezia, tetapi lelaki itu masih tetap memberikan perhatiannya. Katanya, ia tidak akan berhenti mendekati Kezia sampai perempuan itu merasakan jatuh cinta lagi pada seorang pria. Entah itu Devan atau pria yang lainnya. Andai saja Kezia sudah jatuh cinta pada laki-laki lain, maka Devan akan berhenti mengusik perempuan itu lagi.
__ADS_1
"Gue nggak akan maksa lo buat jatuh cinta sama gue, Zee. Jadi, jangan menghindari gue karena alasan takut gue sakit hati. Dengan lo membiarkan gue terus berada di sisi lo aja, gue udah seneng. Justru sebaliknya saat lo ngehindarin gue. Itu membuat hati gue sakit," tutur Devan.
Hari ini Devan diminta oleh Angelina untuk menemani Kezia kontrol ke dokter kandungan, karena Angelina dan Jiro harus menemani ibunya terapi di luar kota. Hal tersebut dijadikan kesempatan bagi Devan untuk berbicara kepada Kezia, karena selama ini Kezia selalu menghindari lelaki itu.
"Aku cuma nggak mau ngasih harapan palsu sama kamu, Van, karena aku sekarang adalah istri orang."
Mendengar itu Devan malah tertawa, menoleh sejenak pada Kezia yang duduk di samping kemudinya. "Asal lo tahu, Zee. Gue udah lama memendam rasa cinta gue sama lo. Lebih tepatnya saat kita masih duduk di bangku SMA. Saat itu lo nggak pernah tahu, tapi gue tetap bertahan di sisi lo, kan? Itu karena gue senang melakukan itu, Zee," ungkapnya.
Baru pertama kali Devan mengakui perasaannya yang selama ini terpendam dalam hati. Kezia pun terkesiap mendengar itu. Ia tidak menyangka Devan sudah memendam perasaannya begitu lama.
"Kenapa ... kamu nggak bilang dari dulu?" tanya Kezia sedikit ragu.
"Karena waktu itu lo udah tergila-gila sama Juno. Makanya gue milih buat nunggu lo sadar, kalau Juno bukan laki-laki yang tepat buat lo kejar. Kan, gue juga udah pernah bilang waktu gue ngajak lo kabur di hari pernikahan lo sama Abi."
Kezia tercenung sejenak. Mengingat kembali perkataan Devan saat pertama kali mengungkapkan perasaannya.
"Iya, andai saja hati bisa diajak kerjasama saat cinta mencari tahtanya, mungkin tidak akan ada kata patah hati dan terluka," tutur Kezia sambil menundukkan kepala.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1