
...Happy Reading...
...****************...
Abizar tak ada pilihan lain selain menjemput istrinya setelah sarapan, karena Angelina tidak mau berhenti mengingatkan Abizar untuk segera pergi, walaupun hari masih pagi. Walaupun malas, lelaki itu harus menjemput sang istri.
Hiruk pikuk aktivitas di pagi hari membuat jalanan pasti ramai. Segala kegiatan baru saja dimulai. Tentu saja hal itu membuat kemacetan tidak bisa dihindarkan, dan membuat Abizar semakin kesal.
"Gue bilang juga apa. Pagi-pagi gini jalanan pasti macet, kan. Mama jahat banget, sih, sama anaknya," gerutu Abizar di belakang kemudinya. Namun, hal itu tidak lantas membuat kemacetan langsung mengurai. Lelaki itu harus tetap bersabar merayapi padatnya jalanan.
Sesampainya di rumah Kezia, Abizar langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu. Sejenak menarik napas panjang, lalu mengeluarkan perlahan. Seolah dirinya sedang mengumpulkan keberanian. Mungkin di dalam sana, sang mertua sudah siap dengan senjatanya. Abizar yakin jika Kezia sudah mengadu yang tidak-tidak tentang dirinya. Bukankah sekarang Abizar seperti sedang menantang kematian?
Tingtong!
Suara bel pun terdengar. Abizar memberanikan diri menekan tombol kotak persegi kecil yang menempel di atas pintu. Walaupun detak jantungnya masih bertalu-talu. Berharap sang mertua tidak menggetoknya dengan palu.
"Abi?"
Abizar mengulas senyuman pada sosok perempuan lembut dan anggun yang membukakan pintu. Tentu saja dia adalah ibu mertuanya yang baik hati dan terkenal penyabar itu.
"Kamu mau jemput Kezia, ya?" imbuh Erna bertanya pada Abizar. Abizar mengangguk mengiyakan.
"Iya, Ma. Abi boleh masuk?" tanyanya.
"Boleh, dong. Ayo, masuk!" Erna segera menggiring tubuh menantunya ke dalam rumah, "Zee ada di kamarnya. Masuk aja, gih!" imbuh Erna mempersilakan.
"Papa ada, Ma?" tanya Abizar. Dia ingin memastikan papa mertuanya tidak keberatan jika dirinya menjemput Kezia sekarang.
"Papa kerja. Tadi sempat nitip pesan sama mama, kalau kamu nanti ke sini jemput Zee, kamu disuruh nunggu papa pulang dulu. Papa mau bicara dulu sama kamu. Baru setelah itu, kamu bisa bawa Zee pulang," papar Erna.
Abizar menelan salivanya kelat. Sejenak tadi ia merasa lega karena papanya sudah berangkat bekerja, tetapi perkataan Erna membuat rasa takut kembali menyergap jantungnya. Papa mertuanya pasti akan habis-habisan memarahinya.
"I—iya, Ma. Abi ke kamar dulu, ya," pamit Abizar. Erna menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyuman.
"Selesaikan masalah kalian baik-baik, ya! Mama harap kamu bisa lebih dewasa, walaupun usia kamu jauh lebih muda dari Kezia," seru Erna sambil menepuk pundak Abizar. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan menantunya seorang diri.
__ADS_1
Abizar mengayunkan kakinya menuju kamar Kezia. Sejenak terdiam ketika pria itu sudah berada di depan pintu kamar tersebut. Tangannya ragu untuk menyentuh gagang pintu. Setelah menarik napas panjang ia pun memutuskan untuk mengetuk pintu itu.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" tanya Kezia dari dalam kamar. Tak ada jawaban dari Abizar. Lelaki itu tidak berani melontarkan suaranya.
Kezia pun penasaran karena pintu itu kembali diketuk dari luar kamarnya, tetapi tak ada jawaban lagi setelah dia bertanya siapa.
Ceklek! Pintu pun dibuka.
"Kamu?" Kezia terkesiap melihat suami berondongnya yang berdiri di depan pintu kamar. Lelaki itu terlihat menyunggingkan senyuman pelik.
"Hai, Mbak," sapanya sedikit malu.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Kezia ketus.
"Mau jemput Mbak."
Kezia mengkerut kening. "Pasti disuruh mama," tebak Kezia. Abizar menganggukkan kepalanya. Lantas menerobos tubuh Kezia dan masuk ke dalam kamar.
"Heh, siapa yang ngizinin kamu masuk?" protes Kezia sambil menyimpan kedua tangannya di pinggang.
Kezia merotasikan kedua bola matanya, malas, sambil menghela napas. "Aku nggak mau pulang sekarang." Kezia berucap demikian setelah menurunkan kedua tangannya dari pinggang.
"Aku minta maaf dengan perkataanku semalam, jadi Mbak harus ikut aku pulang sekarang."
"Enak banget minta maaf. Kamu pikir ucapan kamu itu bisa dilupakan dengan mudah, hah?" tampik Kezia mencibir.
"Mbak jangan jadi orang pendendam, dong. Aku, kan, udah minta maaf dengan tulus."
"Beneran tulus? Kamu pikir aku ini bodoh, ya? Aku tahu kamu terpaksa jemput aku karena dimarahin Mama Angel. Iya, kan?" cecar Kezia.
Abizar mencebik, lalu beranjak berdiri dan menghampiri Kezia lagi. Tatapan mereka pun bertemu, hingga Abizar berdiri tepat di depan istrinya itu. "Aku memang terpaksa jemput Mbak karena dimarahin mama, tapi permintaan maafku tadi benar-benar berasal dari hati. Aku menyesal karena sudah berkata kasar sama Mbak, dan menuduh Mbak berselingkuh dengan Bang Devan. Mbak mau maafin aku, kan?"
Kezia hanya bisa kicep mendengar Abizar berkata seperti itu. Melihat tatapan sendu yang sama sekali tidak terlihat palsu. "A—ku ...." Kata-kata Kezia seolah tercekat di tenggorokan. Ia tidak tahu harus menanggapi apa.
__ADS_1
"Aku juga percaya kalau anak itu anak aku, Mbak," tambah Abizar lagi.
Kezia semakin melongo takjub mendengarnya. Abizar kerasukan apa hingga dengan cepat berubah pikiran.
"Baiklah, aku udah maafin kamu, tapi aku tetap nggak bisa pulang sekarang," putus Kezia.
"Kenapa?"
"Aku masih mau di sini. Nanti kalau Aruna dan Juno pulang dari bulan madunya, baru aku kembali ke rumah kamu."
"Nggak bisa. Mbak harus pulang hari ini juga." Abizar kembali memaksa.
"Kamu mau maksa aku lagi? Bukannya tadi sudah minta maaf?" Emosi Kezia tersulut lagi. Perubahan sikap Abizar terlalu cepat berganti.
"Bukan begitu, Mbak. Masalahnya aku nggak boleh pulang sama mama kalau nggak bisa bawa Mbak pulang sekalian."
Gelak tawa langsung terlontar dari mulut Kezia. Ia tahu mama mertuanya juga pemaksa. Mungkin sikap Abizar juga menurun dari sang mama.
"Kenapa ketawa? Mbak seneng, ya, kalau aku nginep di sini?"
"Eh, nggak juga," sanggah Kezia. Tawanya sontak mereda.
"Lalu kenapa Mbak malah ketawa?"
"Ya, lucu aja. Mama kamu tegas juga, ya, sama kamu. Dikit-dikit ngancam." Kezia tertawa lagi setelah berkata seperti itu.
Abizar berdecak sebal melihat istrinya begitu puas menertawakan dirinya. "Jadinya Mbak mau pulang sekarang, nggak?" tanyanya lagi.
"Nggak." Kezia masih kekeuh menolak.
"Ayolah, Mbak! Aku nggak mau nginep di sini. Nanti aku tidur di lantai lagi," mohon Abizar.
"Siapa juga yang nyuruh kamu nginep di sini. Kamu, kan, bisa tidur di tempat lain. Bisa di kafe atau di tempatnya Devan."
Keputusan Kezia tidak bisa diganggu gugat. Abizar sudah tidak bisa lagi mengeluarkan pendapat. Otaknya berpikir keras harus melakukan apa. Dia tidak mungkin pergi ke rumah Devan untuk ikut tidur di sana. Mungkin malam ini ia akan tidur di kafe saja.
__ADS_1
...****************...
...To be continued...