
...Happy Reading...
...****************...
Setelah berbicara empat mata, Abizar dan Kezia kembali menghadap hakim mediator. Seulas senyuman tak luput dari bibir keduanya. Tangan yang saling bertautan dengan mesra, membuat sang hakim langsung menyunggingkan senyumannya. Pikirannya tentu mengarah pada keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana? Apa sidang ini akan dilanjutkan lagi?" kata hakim pura-pura tidak mengerti dengan perubahan sikap dari pasangan tersebut.
"Nggak usah, Pak. Saya nggak mau jadi duda," celetuk Abizar yang membuat hakim itu tertawa.
"Jadi mau rujuk aja, nih?" goda hakim tersebut.
Abizar menjawab 'iya' dengan lantang, sedangkan Kezia hanya menundukkan kepala. Perempuan itu tersipu malu, dan berusaha menutupi wajahnya yang memerah seperti buah jambu.
"Baguslah kalau begitu. Inilah fungsi mediasi, jadi setiap pasangan yang mau bercerai hendaknya dibicarakan baik-baik lagi. Mungkin saja ada jalan keluar lain selain bercerai, karena bahwasanya perceraian itu adalah perkara halal yang sangat dibenci oleh Tuhan," tutur Pak Hakim. Kezia dan Abizar pun mengangguk paham.
Setelah mengurus beberapa prosedur yang mesti Abizar selesaikan untuk pembatalan perceraian, ia pun keluar ruangan mediasi bersama dengan Kezia.
Saat pintunya terbuka, pihak keluarga yang menunggu di luar langsung beranjak berdiri. Raut wajah mereka terlihat penasaran sekali.
Awalnya Abizar dan Kezia pura-pura memasang raut sedih. Pegangan tangan mereka pun terlepas dengan sengaja. Erna yang sangat penasaran pun bertanya kepada anaknya tentang bagaimana hasil mediasi mereka.
Kezia membalasnya dengan senyuman saja. Senyuman yang terbit di bibir Kezia itu, menandakan hasil yang inginkan mamanya terlaksana. Erna pun mengerti dan bisa bernapas lega. Perempuan paruh baya itu memang menginginkan rumah tangga anaknya baik-baik saja.
"Do'a Mama dikabulkan sama Allah. Kezia nggak jadi berstatus janda," kelakar Kezia sambil memeluk mamanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mama senang dengernya, Nak. Kamu lebih mendengarkan kata hati kamu, daripada orang lain."
Kezia mengurai pelukannya, lalu menatap wajah sang mama. "Iya, Mama bener, bahagia dan sedih itu kita yang rasa. Kezia berusaha untuk tidak mendengarkan opini orang lain tentang masalah yang Kezia terima, karena mereka cuma memberikan pendapat dari apa yang dia lihat pada hasilnya saja, tanpa ingin tahu prosesnya bagaimana. Padahal di balik sikap buruknya seseorang, mungkin ada alasan yang harus dia sembunyikan demi kebaikan," tutur Kezia dengan bijak.
Erna tersenyum mendengarnya. Ia bahagia dengan keputusan anaknya. Bukan berarti ia menentang pada suaminya, hanya saja semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Erna bisa melihat ketulusan cinta Abizar kepada Kezia, melalui tekad yang dimiliki pria itu saat meminta maaf. Begitupun sebaliknya, sorot mata Kezia juga masih menunjukkan rasa cinta terhadap suaminya.
Puas dengan berbagi kebahagiaan pada sang mama, Kezia beralih pada papanya. Air mukanya langsung berubah, lantaran wajah sang papa terlihat ditekuk tidak suka. Di saat seperti itu, Abizar mendekati Kezia lalu menggenggam sebelah tangannya. Pandangan Kezia pun beralih pada tangan yang digenggam Abizar.
Abizar tersenyum manakala pandangan Kezia beralih pada wajahnya. Senyuman yang diiringi anggukan kepala itu seolah sebuah kode yang berkata, "Jangan takut! Ada aku."
Seolah mendapatkan kekuatannya, Kezia memasang senyuman termanis yang dia punya untuk menghadapi papanya. "Pa, Kezia minta maaf kalau Kezia memutuskan untuk tetap bersama Abi," ucapnya dengan tegas.
Surya bergeming sesaat, sebelum mengeluarkan napas berat. Selain menerima, Surya bisa apa. Sebagai seorang ayah, ia hanya ingin anaknya bahagia.
"Papa nggak bisa melarang kamu lagi, Zee. Kamu sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Papa hanya berpesan sama kamu, jangan sampai emosi mendahului hati nurani ketika ada masalah yang terjadi," pesannya pada sang anak.
"Dan buat kamu, Abi. Tolong jaga Kezia dan jangan sakiti hatinya lagi! Jika kamu tidak bisa membahagiakan dia, kembalikan dia sama papa!"
Ucapan penuh peringatan itu tak membuat Abizar gentar. Ia sudah yakin dengan perasaannya terhadap Kezia. Jadi sudah tentu lelaki itu akan berusaha untuk membahagiakannya.
"Papa tenang saja. Aku akan berusaha membahagiakan istriku dengan segenap jiwa dan raga," dalih Abizar sambil membusungkan dadanya, berlagak seperti sedang membacakan puisi untuk mertuanya. Kezia dan yang lainnya pun tertawa melihat tingkah Abizar. Dalam situasi seperti itu pun, ia sempat-sempatnya bercanda.
"Nggak apa-apa, Om. Kalau si Abi nggak bisa bahagiain Kezia, ada aku yang akan jadi penggantinya ... aduh!" Devan yang menukas perkataan Abizar pun terkena pukulan di kepala. Tentu saja Abizarlah pelakunya.
"Tuh, mulut jangan sampe gue bejek-bejek, nya!" sungut Abizar sambil melototkan kedua matanya.
__ADS_1
"Nggak sopan lo sama orang tua. Gini-gini gue abang lo juga." Devan tidak terima kepalanya dipukul oleh adik sepupunya tersebut. Namun, Abizar tidak merasa takut. Salah siapa membuat amarahnya jadi tersulut.
"Bodo!" cibir Abizar dengan menjulurkan lidahnya meledek Devan.
"Wah, makin kurang ajar nih, anak!"
"Apa? Apa? Ayo, sini kalau berani!" Tanpa rasa malu di depan mertuanya, Abizar malah memasang kuda-kuda hendak meladeni Devan. Kezia pun menepuk keningnya, lalu menghela napas kasar melihat kelakuan suaminya.
Tidak ingin ada pertengkaran, Kezia pun pasang badan. Ia menahan tubuh Abizar yang sudah bersiap akan menyerang. "Kamu ini apa-apa, sih? Nggak malu apa, sama mama dan papa? Kayak anak kecil aja!" hardik Kezia.
"Dia yang mulai duluan, Mbak," kilah Abizar sambil menunjuk pada Devan.
"Emang masih bocah, masih mau aja lo sama dia Zee," celetuk Devan yang sukses membuat amarah Abizar semakin berkobar. Kezia sampai kewalahan membendung tubuh Abizar.
"Kejar gue kalau bisa!" Devan berlari meninggalkan tempat itu sambil tertawa, memang seperti anak kecil yang saling meledek satu sama lain, lalu saling kejar-kejaran.
Devan melakukan itu hanya untuk membiaskan rasa sakit di hatinya. Meskipun ia sudah tahu apa keputusan Kezia, hatinya tetap saja terluka. Bongkahan daging itu masih menyimpan rasa cintanya. Malangnya, ia selalu mengalami patah hati untuk kesekian kalinya pada orang yang sama.
...****************...
...The end...
Hai, guys. Kayaknya udah sampai sini aja, ya, kisahnya Abi. Masalah mereka dah kelar, dan nggak jadi bercerai. Seneng, kan, si Abi nggak jadi duda? 😂
Sambil nunggu bonus chapter, mampir di novel temenku, yuk.
__ADS_1