Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
39. Merasa Bersalah


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Abizar merasa otaknya sudah tidak beres. Berulang kali dia berusaha menepis pikiran kotor yang membelenggu dirinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Tubuh Kezia seperti magnet di Kutub Utara yang membuat hawa tubuhnya sedingin es. Menarik tubuh Abizar yang butuh kehangatan saat itu juga, sehingga ia rela menenggelamkan rasa gengsinya dan merayu Kezia untuk menuntaskan apa yang menuntut dalam tubuhnya tersebut.


"Mau, ya, Mbak? Dosa, loh, nolak keinginan suami." Abizar terus merengek seperti anak kecil yang minta sesuatu. Kezia semakin bingung dibuatnya. Sebenarnya dia juga membutuhkannya.


"Tapi—"


"Ini demi kebaikan Mbak dan anak kita juga, loh," potong Abizar tidak mengizinkan Kezia melontarkan kata penolakan.


Kezia pun menghela napas kasar, lalu memejamkan kedua matanya sejenak sekadar untuk menampung keberanian untuk berkata, "Baiklah, tapi pelan-pelan!"


Seulas senyuman cerah pun terbit di bibir Abizar. Lelaki itu langsung mendaratkan sebuah kecupan manis di kepala Kezia sebagai bentuk terima kasihnya. Setelah itu, ia membaringkan tubuh Kezia di sampingnya dengan perlahan. Kedua matanya membidik wajah Kezia dengan seksama. Tangannya mengusap lembut wajah itu, lalu menyusurinya sampai ke dagu.


Kezia sempat tersentak saat bibirnya mendapatkan serangan mendadak. Sentuhan lembut nan kenyal itu membuat darahnya berdesir hebat. Jantungnya pun bergejolak seolah berdetak lebih cepat. Kezia pun memejamkan kedua matanya erat.


Tak ingin membuang waktu lebih lama. Abizar dengan cekatan mengambil alih tubuh Kezia, mendominasinya dengan perlahan hingga tiba saatnya penyatuan. Seperti seorang ahli dalam pertempuran, Abizar tahu harus bagaimana memperlakukan seorang ibu hamil dalam tawanan cintanya.


Kezia yang memang butuh sentuhan pun terbuai dalam permainan Abizar. Tubuhnya tidak pernah mendapatkan kenyamanan seperti itu sebelumnya, lantaran saat pertama kali disentuh Abizar, perempuan itu kehilangan kesadaran.


****


Ketika sang fajar menyapa dunia, Kezia merasakan hal yang berbeda dengan isi perutnya. Ia merasakan rasa sakit di bagian bawah perutnya. Perut Kezia mengalami keram dan sakit seperti hendak melahirkan anaknya.

__ADS_1


"Ah, sakit banget!" keluh Kezia sambil memegangi perutnya. Kezia juga memberikan usapan lembut di sana, berusaha menenangkan bayi yang ada di dalam perutnya, "kamu nggak apa-apa, kan, Nak? Kenapa perut mama sakit sekali?" Kezia bertanya lirih pada si jabang bayi yang belum bisa menjawabnya.


Guncangan di tempat tidur dari gerakan Kezia yang kerap menggulirkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menahan sakitnya, membuat Abizar mengerjapkan mata. Keningnya berkerut dengan kedua mata menyipit, sesaat ketika pancaran bola lampu menusuk retinanya.


"Kenapa, Mbak?" tanya Abizar saat kedua matanya terbuka sempurna. Tubuhnya beranjak duduk dan bersila menghadap Kezia.


"Perutku sepertinya keram, Bi," jawab Kezia sambil meringis.


Abizar mengernyit khawatir, lalu mengusap perut Kezia dengan lembut. "Kamu nggak apa-apa, kan, Nak? Papa nggak nyakitin kamu, kan?" Abizar seolah bertanya kepada anaknya. Ia merasa bersalah karena sudah melakukan sesuatu yang mungkin mengganggu anaknya di dalam sana. Abizar takut jika kejadian semalam adalah penyebab Kezia kesakitan.


"Kita ke dokter aja, Mbak!" ajak Abizar karena kondisi wajah Kezia yang terlihat pucat. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit perempuan hamil tersebut.


"Sakit, Bi!" Bukannya menjawab, Kezia malah semakin meringis kesakitan. Abizar pun semakin kelabakan.


"Aduh, apa mungkin Mbak mau lahiran?" seru Abizar panik.


"Kalau gitu kita ke dokter sekarang!"


Abizar bergerak cepat mengantarkan Kezia ke dokter kandungan. Rasa khawatir sekaligus ketakutan seolah mencekiknya saat ini. Kesakitan Kezia pasti ada hubungannya dengan adegan panas mereka malam tadi.


****


"Bagaimana, Dok? Apa istri saya dan kandungannya nggak apa-apa?" Abizar bertanya kepada dokter yang tengah memeriksa kandungan Kezia.


"Semalam kami melakukan hubungan suami istri. Apa gara-gara itu perut istri saya jadi sakit, Dok?" Belum sempat dokter menjawabnya, Abizar sudah melayangkan pertanyaan keduanya.

__ADS_1


Kezia sempat ternganga mendengar pertanyaan Abizar yang terlalu polos menurutnya. Tentu hal tersebut jadi bahan tertawaan dokter dan perawatnya. Walaupun mereka hanya melemparkan senyuman saja. Sungguh, ingin rasanya Kezia melarikan diri. Kenapa suaminya jujur sekali?


Rasa malu seolah hilang dari sosok Abizar. Lelaki itu merasa bersalah ketika mendapati perut istrinya keram setelah dirinya mengajak berhubungan badan.


"Sebenarnya berhubungan intim antara suami istri di masa kehamilan itu wajar dilakukan, Pak. Tapi harus pelan-pelan. Bahkan melakukan hubungan suami istri menjelang kelahiran lebih dianjurkan untuk memperlancar jalan kelahiran. Karena melakukan hubungan suami istri dengan penetrasi juga tidak akan mengganggu bayi di dalam kandungan, karena Si Kecil sudah terlindungi oleh kantung ketuban,


"Juga dengan berhubungan intim, tubuh seseorang akan banyak melepas hormon. Seperti hormon endorphin, oksitosin, dan DHEA. Nah, hormon oksitosin sendiri merupakan hormon yang berguna mendorong pengerahan serat-serat otot yang banyak digunakan saat terjadi kontraksi, serta dapat menginduksi persalinan. Hal ini dikarenakan orgasme merangsang rahim untuk bekerja, memicu oksitosin, dan peran ****** yang melembutkan serviks untuk membuka jalur persalinan," terang dokter perempuan yang bernama Dokter Lusi itu panjang lebar.


"Jadi nggak akan memicu janin keguguran, kan?" Abizar menyela dengan pertanyaan. Dokter Lusi pun menggeleng pelan.


"Pada kehamilan yang sehat, berhubungan intim di masa akhir kehamilan tidaklah memicu keguguran, juga tidak memicu kelahiran prematur. Tapi ...." Dokter Lusi terjeda sejenak. Ia seolah ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ekor matanya melirik ke arah Kezia. Sekilas Kezia menggelengkan kepalanya. Dokter itu pun terdiam lalu beralih lagi kepada Abizar.


"Tapi apa, Dokter? Kenapa nggak diteruskan?" Tentu saja Abizar penasaran dan bertanya demikian.


Dokter Lusi tersenyum pelik, embusan napasnya pun terdengar kasar. "Tapi biasanya, penyebab keguguran itu karena adanya kelainan dalam kehamilan atau perkembangan janinnya, Pak," jawabnya.


"Maaf, Dok. Selama ini saya belum pernah mengantarkan istri saya periksa kandungan. Apa perkembangan anak saya baik? Bagaimana dengan jenis kelaminnya?" Abizar terlihat antusias bertanya tentang kondisi anaknya. Padahal ia tidak pernah bertanya kepada Kezia sekali pun.


"Sejauh ini masih baik. Asalkan Bu Kezia bisa menjaga pola makan, dan banyak istirahat saja. Jika hal ini terjadi lagi, saya sarankan agar Bapak bisa menahan diri untuk tidak meminta jatahnya dulu pada Ibu Kezia, dan untuk jenis kelaminnya adalah laki-laki."


Abizar terdiam sejenak. Rasa bersalahnya semakin menyeruak. "Iya, Dok," jawabnya sambil tertunduk lesu, lalu menoleh pada Kezia yang masih berbaring di ranjang pemeriksaan. Kezia hanya terdiam menatap Abizar.


Beberapa saat kemudian, pemeriksaan itu pun selesai. Keduanya pulang dengan beban pikiran yang tidak sama. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kezia. Perempuan itu sedari tadi hanya diam saja.


...To be continued...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2