
...Happy Reading...
...****************...
Di pagi hari yang cerah, Abizar masih menutup matanya. Kezia lebih dulu menggeliat saat sesuatu terasa berat menimpa tubuhnya. Kedua bola matanya langsung membulat saat melihat wajah Abizar tepat di hadapan wajahnya dengan jarak yang begitu dekat. Guling yang Abizar letakkan di tengah seolah menjerit karena terhimpit tubuh keduanya.
Saking terkejutnya, Kezia langsung mendorong tubuh Abizar hingga tubuh lelaki itu terjatuh ke lantai.
"Aw!" pekik Abizar yang tentu saja kesakitan karena tubuhnya terbentur lantai. "Apa-apaan, sih, Mbak? Sakit tahu!" sentaknya kemudian. Sebelah tangannya ia simpan di pinggang. Merasakan sakit yang teramat di bagian tubuhnya tersebut.
Kezia terduduk dan bersila di atas kasur. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Kenapa kamu jadi tidur di sini? Bukannya semalam kamu tidur di sana?" Kezia menunjuk tempat tidur Abizar yang semula.
Helaan napas kasar pun terdengar. Abizar bangkit dengan tangan masih di pinggang. "Aku sengaja pindah, karena badanku sakit semua kalau tidur di sana," ungkap Abizar.
"Halah, kamu pasti mau curi-curi kesempatan lagi, kan?" tuding Kezia.
"Nggak, lah. Aku cuma mau tidur dengan nyaman aja."
"Heh, kamu jangan ngelak lagi, ya. Buktinya tadi kamu udah berani peluk-peluk aku. Ngapain coba?"
Kezia mencibir dengan penekanan. Menyudutkan Abizar yang kewalahan memberikan alasan.
"Itu karena tempat tidur Mbak terlalu sempit. Makanya Mbak mau diajak pulang sama aku. Di sana tempat tidur aku lebih luas. Aku nggak bakalan meluk-meluk Mbak kayak tadi."
Kezia merotasikan kedua matanya. Berdebat dengan lelaki itu memang selalu ada jawabannya. Ia pun beringsut turun dari tempat tidur. Berniat untuk mandi.
"Udah, ah. Males berdebat sama kamu. Lebih baik kamu pulang duluan. Aku baru mau pulang kalau kamu pergi ke Jepang," tutur Kezia sambil berjalan melewati Abizar.
__ADS_1
Dengan cepat Abizar menangkap tangan Kezia, membuat perempuan tersebut menghentikan langkahnya. "Mbak, jangan egois gitu, dong! Bukannya Papa Surya juga udah nyuruh Mbak pulang sama aku hari ini," protes Abizar.
"Aku nggak egois. Aku cuma mau menghindari kejadian kayak tadi aja. Terlalu sering berduaan sama kamu di dalam kamar yang sama, itu bisa bahaya. Kamu, kan, orangnya mudah terpancing."
"Terpancing?" Abizar mengerutkan kening.
"Iya, kamu terlalu sensitif. Nggak bisa terlalu deket sama perempuan. Otak messum!" ledek Kezia, lalu tertawa kecil setelah mengatakan itu.
Entah kenapa ledekan dari Kezia membuat hati Abizar sedikit panas. Ia tidak mau dikatakan seperti itu. Dengan kekuatan penuh Abizar menarik tangan Kezia hingga menempel pada tubuhnya.
Kezia terhenyak beberapa saat, dan baru sadar saat bibir Abizar tiba-tiba sudah menempel dengan bibir miliknya. Kedua matanya terbuka sempurna saking terkejutnya. Ia pun dengan cepat mendorong tubuh Abizar dengan sekuat tenaga.
Namun, usaha Kezia tidak membuahkan hasil sama sekali. Abizar malah dengan sengaja menekankan tengkuk leher Kezia hingga memperdalam tautan bibir mereka. Lelaki itu bahkan berani mendorong tubuh Kezia dan mengungkung tubuh perempuan itu di atas tempat tidur. Mencekal tangan Kezia dan disimpan di atas kepalanya. Membuat Kezia tidak berdaya, bahkan untuk berkata saja susah. Bekapan bibir Abizar tidak mau lepas dari bibirnya. Dengan cekatan Abizar mengeksplor kepiawaiannya dalam hal berciuman.
Tubuh Kezia yang awalnya terus memberontak, perlahan melemah. Perempuan itu seperti menikmati setiap sentuhan yang Abizar berikan pada tubuhnya. Ia terlena.
"Kenapa? Nggak rela aku lepasin Mbak?" Abizar bertanya tanpa melepas senyuman jahilnya. Menatap wajah kemerahan yang tercetak di bawah kungkungannya. Napas Kezia yang masih tersengal menahan gejolak panas yang mengalir dalam darahnya. Terlihat lucu dan menggemaskan di mata Abizar.
"Jadi, sekarang terbukti, kan, siapa yang lebih sensitif, dan nggak bisa menahan diri saat nerima sentuhan." Cibiran itu sontak membuat Kezia sadar, jika Abizar sedang mempermainkan dirinya.
"Kamu? Dasar brengsek!" umpat Kezia. Semburat merah semakin menguar di balik wajah cantiknya. Antara marah, malu, dan napsu, semua rasa itu bercampur menjadi satu.
Abizar melepaskan tangan Kezia, lalu berdiri tegak sambil tergelak. Ia merasa puas karena sudah mempermalukan istrinya. Berharap dengan begitu, perempuan itu tidak akan pernah mengatakan yang tidak-tidak tentang dirinya lagi.
Kezia pun beranjak duduk. Kilatan emosi di kedua matanya menghunus tajam seolah ingin menghujam jantung Abizar. Kedua tangannya meremat dengan kuat. Lantas berdiri dan langsung mendaratkan tamparan keras di wajah suaminya itu.
"Mbak, enteng banget tuh, tangan! KDRT tau!" berang Abizar sambil mengusap pipinya yang terasa kebas.
__ADS_1
"Kenapa, mau laporin aku ke polisi. Silakan! Harusnya kamu malu melakukan hal itu, karena aku sedang hamil." Kezia meraung emosi, cairan bening yang sudah mendesak di pelupuk matanya pun tidak bisa dibendung lagi. Tangisnya pecah tanpa permisi.
Abizar berdiri kaku melihat istrinya menangis. Ia lupa jika Kezia tengah hamil anaknya. Mungkin saja itu pengaruh dari kehamilan Kezia. Istrinya akan jadi lebih sensitif dan mudah menangis. Hal itu pernah ia dengar dari mamanya.
"Mbak ...."
Abizar sedikit menyesal, tangannya yang hendak menyentuh bahu Kezia langsung ditepis oleh istrinya tersebut.
"Keluar kamu dari sini!"
Abizar semakin membeku di tempatnya. Tidak menyangka jika keisengannya akan membuat Kezia benar-benar marah seperti itu.
"Aku minta maaf, Mbak." Permintaan maaf Abizar seperti angin yang diabaikan oleh Kezia. Perempuan itu masih melayangkan tatapan penuh luka pada suaminya tersebut.
"Keluar!" sentak Kezia lagi.
Abizar sampai berjingkat mendengar itu. Ludahnya terasa kelat saat dia telan. Ia bingung harus bagaimana meredam emosi istrinya sekarang. Bagaimanapun juga ia harus membawa istri tersebut pulang ke rumahnya.
Melihat suaminya masih bergeming di tempat, Kezia pun mengambil bantal. Abizar kelabakan karena ia tahu bantal itu pasti akan dibuat senjata untuk memukuli dirinya.
"Oke, oke, Mbak. Aku keluar sekarang, tapi aku nggak akan pulang. Aku tunggu Mbak di luar, ya. Kita pulang bareng ke rumah mama. Aku lebih baik lihat Mbak marah, ketimbang nggak dapat warisan dari papa." Masih kekeuh dengan keinginannya membawa Kezia pulang, Abizar tidak peduli dengan kemarahan perempuan itu kepadanya. Menurutnya, lebih baik menghadapi kemarahan Kezia, daripada harus menghadapi kemarahan sang mama, apalagi ancaman papanya.
Tentu saja perkataan itu membuat emosi Kezia semakin menyambar. Tak segan perempuan itu melesatkan bantal yang dia pegang ke arah Abizar. Membuat Abizar berlari tunggang langgang.
"Abi ... nyebelin banget, sih!" pekik Kezia menjerit kesal. Suaminya benar-benar keterlaluan.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...