Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 43. Merasakan Kenyamanan


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Ekhem!" Suara deheman yang terdengar tegas membuat Kezia tersentak. Tentu ia hafal dengan suara suaminya. Seperti kepergok selingkuh, Kezia terlihat kalang kabut. Ia langsung menarik tangannya yang digenggam oleh Devan, lalu menoleh ke arah belakang.


"Abi, kenapa pulang lagi?" tanya Kezia berusaha bersikap biasa saja dengan melengkungkan senyuman tipis di sudut bibirnya.


"Ada yang ketinggalan," jawab Abizar datar. Tatapan sinis dilayangkan pada Devan.


Abizar memang geram mendengar perkataan Devan kepada istrinya tadi, tetapi ia tidak mau membuat keributan di rumahnya pagi-pagi. Takut sang mama akan tahu tentang permasalahan mereka. Bisa-bisa Angelina akan pingsan saat tahu kenyataannya. Nanti saja Abizar akan membuat perhitungan dengan Devan dan Kezia saat amarahnya sedikit mereda.


"Bang Devan nggak kerja? Pagi-pagi udah ngapelin istri orang aja," tanya Abizar sembari mencibir Devan.


"Gue mau berangkat kerja, kok," jawab Devan ketus, lalu beralih pada Kezia lagi, "gue berangkat, ya. Ingat perkataan gue tadi, jaga diri dan jaga hati!" pesannya pada Kezia.


"Cih, pesan macam apa itu! Nggak tahu malu!" Abizar berdecih meledek Devan.


Suasana hati Devan sekarang sedang dalam kondisi menyenangkan. Ia tidak ingin merusak kesenangannya itu dengan meladeni Abizar. Dia pun pergi begitu saja setelah pamit terhadap Kezia.


"Ikut aku, Mbak!" Abizar menarik tangan Kezia.


"Mau ke mana?"


"Kamar."


"Hah, ngapain?" Kezia tersentak. Pikirannya sudah melantur pada hal yang membuat jantungnya berdebar kencang. Dia pikir Abizar mau mengajaknya olahraga di ranjang.


"Aku mau bicara. Kalau di sini takut kedengeran mama," sahut Abizar.

__ADS_1


Semburat merah terpancar dari kedua pipi Kezia. Betapa malunya dia, karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Beruntung Abizar tidak peka, sehingga Kezia bisa menutupi rasa malunya. Ia pun mengikuti Abizar ke kamar mereka.


...*****...


"Kenapa Mbak ngomong kayak gitu sama Bang Devan?" Di dalam kamar, Abizar langsung meluapkan amarahnya. Ia marah kepada Kezia yang memberikan kesempatan untuk Devan menjaga hatinya untuk Abizar.


"Memangnya aku ngomong apa?" Kezia pura-pura tidak paham.


"Aku denger semuanya, Mbak. Mbak mau memberikan harapan sama Bang Devan, kan? Mbak mau ninggalin aku!" Nada bicara Abizar begitu tinggi, amarahnya terlihat kentara sekali.


Hal itu membuat Kezia mengernyitkan keningnya. Dia bingung kenapa Abizar bisa semarah itu, padahal mereka sudah sepakat untuk menyudahi pernikahan mereka saat Kezia melahirkan anaknya. Jadi apa salahnya jika Kezia memberikan harapan kepada Devan, dan tentu saja akan meninggalkan Abizar.


"Bukannya kita memang akan berpisah? Dan setelah itu, aku bebas memberikan harapan kepada lelaki yang aku sukai. Kenapa kamu bisa semarah ini?" cecar Kezia.


Abizar semakin geram mendengarnya. Fokusnya pada kalimat 'lelaki yang aku sukai'. Abizar berpikir jika Kezia juga menyukai Devan.


"Itu bukan urusan kamu. Lagipula kenapa kamu jadi marah? Kita udah sepakat akan bercerai. Dengan siapa aku menjalin hubungan nantinya, terserah aku, lah."


"Tapi kita masih suami istri. Mbak nggak bisa menjalin hubungan dengan laki-laki lain," tukas Abizar dengan cepat.


"Kata siapa kami menjalani hubungan sekarang? Aku bilang nanti, Abi. Nanti!" Kezia menyangkal dengan menegaskan suaranya. Dia sedikit kesal dengan sikap suaminya yang tiba-tiba menuduhnya seperti itu.


Abizar diam tidak bisa berkutik. Dia bingung harus bagaimana mengutarakan rasa keberatannya tentang hubungan Kezia dan Devan. Entah itu nanti ataupun sekarang sama saja bagi Abizar. Hatinya diliputi rasa takut. Ia tidak mau kehilangan Kezia dan anaknya. Sepertinya Abizar sudah merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Ia ingin mengungkapkan itu semua, tetapi rasanya lidah itu sangat sulit untuk mengeluarkan suara. Abizar sudah terjebak cintanya Kezia.


"Pokoknya aku nggak setuju. Mau sekarang ataupun nanti sama saja!" cetus Abizar. Kalimat itu terdengar ambigu di kepala Kezia. Ia semakin bingung dengan sikap suaminya.


"Iya, tapi kenapa?" cecar Kezia lagi. Sorot matanya terlihat mengintimidasi. Ia ingin kejelasan dari sikap sang suami.


"Karena aku ...."

__ADS_1


Hening! Abizar masih belum berani mengutarakan isi hatinya yang terpendam. Debar di jantungnya mulai tidak bisa dikendalikan. Wajah Abizar pun terlihat kemerahan.


"Aku apa?" desak Kezia. Ia memiringkan kepalanya, sekadar untuk menatap wajah Abizar yang kini menghadap ke arah kiri. Lelaki itu tidak berani menatap wajah sang istri.


Abizar menoleh, lalu menatap lekat manik legam yang sejak tadi menunggu jawaban darinya itu. "Aku ...." Keringat dingin sudah membasahi kening Abizar. Entah ke mana keberanian lelaki itu?


Dulu, saat Abizar mengungkapkan rasa cintanya kepada Selena, Abizar tidak merasa takut. Bahkan tanpa ragu ia langsung mengatakan cinta walaupun baru beberapa kali mereka bertemu.


Kini, perasaan Abizar terhadap Selena perlahan memudar. Selama tinggal dengan Kezia, hatinya terasa nyaman. Kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan bersama Selena. Mungkin benar kata adiknya—Aludra, waktu itu. Perasaannya terhadap Selena hanya sebatas kekaguman saja.


"Apa, sih?" Kezia yang tidak sabar mengedikkan dagu. Keningnya mengernyit begitu dalam.


"Aku ... aku rasa udah jatuh cinta sama Mbak."


Tak ada balasan dari Kezia. Kerutan di keningnya perlahan terurai. Berganti dengan kedua matanya yang terbuka lebar. Bibirnya terbuka secelah. Kezia terperangah.


"Mbak, denger aku ngomong, nggak?" Melihat istrinya yang diam saja, giliran Abizar yang merasa kesal. Ia sudah mati-matian mengumpulkan keberanian untuk menyatakan cintanya, tetapi istrinya malah diam saja.


"De—nger." Kezia tersentak. Membentuk senyuman pelik di bibirnya. Ia bingung harus berkata apa. Tidak bisa dipungkiri hatinya juga merasakan denyut yang sama. Semenjak sikap Abizar yang selalu lembut terhadapnya, Kezia juga merasakan kenyamanan di hatinya.


...****************...


...To be continued...


...Hai, aku kembali lagi. Maafkan diriku, ya, manteman baru up lagi 🙏. InsyaAllah setelah ini rutin tiap hari. Makasih banget buat yang masih stay. Love you so much pokonamah 🤭🥰...


Sambil nunggu update bab aku, mampir di novel sohib aku, yuk!


__ADS_1


__ADS_2