
...Happy Reading...
...****************...
"Sayang, kok, berhenti? Ayo, lanjutkan nyuapin akunya!" Teguran dari Abizar membuat pandangan Kezia dan Devan buyar. Kezia tersentak saat tangan Abizar menarik lengannya. Ia pun menoleh pada Abizar lagi.
"Ayo, suapin lagi!" seru Abizar, lalu membuka mulutnya dengan manja. Hal itu tentu saja dilakukan dengan sengaja oleh Abizar, agar Devan cemburu kepada kemesraan mereka.
Namun, di saat seperti itu Kezia malah canggung sendiri. Ditatap seperti itu oleh Devan, membuat hatinya sedikit gemetar. Ia tahu jika Devan masih mencintainya. Ia takut jika kemesraan pura-puranya kali ini akan sangat menyakiti lelaki itu.
"Ini tinggal dikit, kamu aja sendiri!" Kezia memberikan piring makan Abizar dengan paksa ke tangan lelaki tersebut.
Abizar mendengkus, "Katanya mau cari pahala!" gerutunya kesal. Kezia mendengarnya, tetapi ia hanya melirik saja tanpa berkomentar apa-apa. Tatapannya kembali pada Devan.
"Sini, Van. Udah sarapan belum? Kita sarapan bareng." Erna lebih dulu memberikan tawaran pada lelaki yang masih berdiri itu. Ditimpali oleh Surya yang masih duduk walaupun sudah selesai dengan sarapannya.
"Iya, Van. Duduk sini." Setelah berkata seperti itu, dering ponsel milik Surya terdengar menggema. Ia pun lantas menerima panggilan tersebut yang berasal dari kliennya, "sebentar, ya. Papa angkat telepon dulu." Surya segera bangkit dan menjauh dari tempat makan mereka.
Sedangkan Devan sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Kezia hanya saja terhalang oleh meja. Tatapannya masih menghunus pada wajah Kezia, seolah meminta penjelasan kepada perempuan tersebut tentang apa yang dilakukannya tadi. Dalam beberapa detik, keheningan sejenak menghampiri.
"Bang Devan ngapain ke sini pagi-pagi?" tanya Abizar pertama kali. Mengalihkan perhatian Devan dari wajah Kezia.
"Tadi sekalian lewat, tadinya mau lihat keadaan Kezia. Katanya dia pulang lagi rumahnya, karena sedang ada masalah."
Kening Abizar berkerut sambil menoleh kepada Kezia. "Sayang, apa kamu cerita tentang masalah kita ke Bang Devan juga?" tanyanya sengaja dikeraskan di hadapan Erna. Berharap mertuanya itu akan memberikan teguran kepada Kezia.
Pelototan mata Kezia tidak dihiraukan oleh Abizar. Senyum seringai di bibirnya seolah meledek peringatan Kezia.
__ADS_1
"Kezia sahabat gue sebelum dan setelah lo menikahi dia, Bi. Jadi, nggak ada salahnya kalau dia cerita tentang apa pun masalah dia sama gue." Devan yang menjawab pertanyaan Abizar.
Abizar melengos, tatapan mereka terlihat sengit saat beradu pandang. Jika saja mereka berada di dalam dunia komik, mungkin kilatan listrik akan tergambar dari masing-masing mata mereka. Sungguh, membuat suasana semakin tegang saja.
"Tapi jika seorang perempuan sudah menikah, mungkin sudah mulai membatasi diri untuk bersahabat dengan seorang laki-laki. Iya, kan, Ma?" tanya Abizar yang ditujukan pada mertuanya. Seolah meminta dukungan dari perempuan tersebut.
"Betul, Abi. Tapi mungkin Kezia masih terbiasa selalu cerita sama Devan. Mereka memang udah sahabatan dari semenjak SMA. Mungkin seiring berjalannya waktu, dan terus bersama kamu, Kezia tidak akan melakukan itu."
Abizar sedikit kecewa karena perkataan Erna seolah mendukung kedekatan Kezia dengan Devan. Namun, ia tidak akan tinggal diam. Entah kenapa dia tidak suka jika Devan terus menempel dengan istrinya.
*****
Tiga hari kemudian
Sudah waktunya Abizar harus kembali ke Jepang, karena tugasnya di sana belum selesai. Dalam tiga hari itu Abizar terus menempel pada Kezia. Berusaha mengikis kesempatan bagi Devan untuk mendekati istrinya. Abizar selalu mewanti-wanti kepada Kezia agar perempuan itu tidak terlalu dengan Devan untuk menjaga nama baik keluarganya. Setidaknya selama mereka masih berstatus suami istri.
Malam ini Abizar akan pergi, tetapi sebelum itu, sore harinya Alfath meminta kedua sahabatnya untuk berkumpul di Kafe Homeless. Sebelum Abizar pergi ke Jepang, Alfath ingin berkangen ria bersama kedua sahabatnya tersebut, sekaligus memperkenalkan menu barunya untuk dicoba oleh mereka. Walaupun personil mereka kurang lengkap, karena Juno masih sibuk berbulan madu sebagai pengantin baru.
Sebenarnya Abizar malas bertemu dengan Devan, tetapi karena Devan juga salah satu pemilik saham kafe tersebut, dan untuk menghargai persahabatan mereka, ia pun mau berada dalam satu ruangan yang sama dengan Devan. Dalam kesempatan itu, Devan pun mengeluarkan unek-uneknya selama ini kepada Abizar. Mumpung Alfath masih sibuk dengan masakannya di pantry.
"Bi, gue mau ngomong," seru Devan membuka percakapan. Sudah beberapa menit mereka saling diam. Tepatnya setelah Alfath pamit ke pantry, hendak menyiapkan menu terbarunya untuk diberikan kepada dua sahabatnya tersebut.
"Ngomong aja. Susah amat," ucap Abizar, tetapi pandangannya tetap fokus pada ponsel di tangannya.
"Sebenernya perasaan lo sama Kezia itu bagaimana? Apa lo udah mulai jatuh cinta sama dia?" tanya Devan langsung pada intinya.
Abizar sontak mendongakkan pandangannya dari layar ponsel pada wajah Devan. Sejenak terdiam lalu tertawa terbahak-bahak. "Jatuh cinta sama Mbak Zee? Yang benar saja, nggak mungkin, lah," sanggah Abizar di sela tawanya.
__ADS_1
Devan mendengkus. Jika memang Abizar tidak mencintai Kezia, lalu kenapa lelaki selalu berusaha untuk menjauhkan Devan dari Kezia?
"Terus kenapa lo selalu berusaha menjauhkan gue sama Kezia?"
"Karena gue dan Mbak Zee masih berstatus suami istri. Jadi, sebelum kami sah bercerai, Bang Devan nggak boleh mendekati Mbak Kezia dulu. Itu semua demi nama baik keluarga kita, dan gue juga nggak mau mama kenapa-kenapa. Dia bakalan sedih kalau tahu menantunya selingkuh sama lo."
Penjelasan Abizar bisa dicerna dengan cepat oleh Devan. Ia tentu tahu diri. "Gue tahu batasan, Bi. Gue cuma mau menggantikan posisi lo saat lo pergi ke Jepang. Gue kasihan sama Kezia dan anaknya. Di saat hamil kayak gitu, seharusnya dia butuh perhatian lebih."
"Sama aja. Itu namanya lo cari-cari kesempatan, dan itu juga bakalan menarik perhatian banyak orang. Orang lain yang nggak tahu apa-apa pasti berpikir kalian punya hubungan saat gue nggak ada," pungkas Abizar.
"Lalu siapa yang mau jagain dia saat lo nggak ada?"
"Lo nggak usah mikirin itu. Ada keluarga gue yang siap melindungi Mbak Zee dan anak kami."
Entah kenapa hati Devan terasa nyeri ketika mendengar kata 'anak kami' tercetus dari mulut Abizar barusan. Dadanya tiba-tiba sesak dan tenggorokannya seperti tersedak. Ia lantas mengambil minuman berwarna merah yang sengaja dia bawa dari bar counter yang ada di cafe tersebut.
"Kenapa lo nggak lepasin dia sekarang aja, Bi? Gue bisa kasih lo apa aja, asalkan lo mau lepasin dia sekarang juga," cetus Devan setelah menenggak satu gelas minumannya.
Abizar menatap keseriusan di kedua netra Devan. Dia tidak menemukan sedikit pun keraguan dalam sorot mata itu. Ada rasa kasihan yang menyelinap masuk ke dasar kalbunya. Sebegitu besarnya cinta Devan terhadap Kezia, padahal perempuan itu sudah mengandung anak orang lain.
"Lo benar-benar mencintai Mbak Zee?" tanya Abizar dengan lirih.
"Ya, gue bisa lakuin apa aja buat dia. Gue juga bakalan nerima anak lo," jawab Devan serius.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1