
...Happy Reading...
...****************...
"Lebih baik kamu pulang dulu ke tempat kamu, Sel. Nanti kita bicarakan lagi masalah kita. Biar teman aku yang nganter kamu pulang. Aku harus nyari istri aku sekarang," pintanya pada Selena.
"Tapi, Kak ...." lirih Selena. Ia menatap Abizar dengan sendu.Rembas air mata sudah tidak dia pedulikan. Mengalir dengan deras membuat pipinya basah. Selena seperti perempuan tidak punya malu yang memohon cintanya Abizar.
"Aku mohon, Sel. Aku harus mencari istriku sekarang. Dia sedang hamil besar. Kamu salah paham sama aku. Rasa cintaku terhadap Kezia bukan pura-pura. Aku mencintai dia dan anak yang tengah dikandungnya."
Deg!
Satu kenyataan lagi yang membuat hati Selena hancur berkeping-keping. Jika memang istri Abizar hamil besar. Itu artinya Abizar sudah membohonginya dari awal. Tadi Abizar hanya meminta maaf karena sudah menikah dengan perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya saja, dan meminta Selena untuk melupakan dirinya.
Selena mengira jika Abizar baru menikahi perempuan itu setelah ia kembali ke Indonesia terakhir kali. Pikirannya baru terbuka kali ini. Lalu, apa artinya kata cinta yang Abizar katakan kepadanya waktu itu? Apakah itu palsu, dan untuk sekadar pelarian Abizar karena jauh dari istrinya saja? Selena mengira Kezia adalah duri dalam hubungannya dengan Abizar. Jika Abizar memang sudah menikah dari awal, berarti dialah pelakornya. Hal itu membuat jiwa Selena seolah terguncang. Kenyataan ini begitu memilukan.
Tanpa mendengar tanggapan Selena, Abizar langsung berbalik dan pergi dengan cepat. Yang ada di pikiran Abizar sekarang hanyalah bagaimana dengan keadaan Kezia dan anaknya. Yang lain mohon maaf saja.
"Abi ... ni cewek gimana urusannya?" Agung pun berteriak di ambang pintu. Saat itu Abizar sudah berada di depan pintu lift dan memencet tombol panah ke bawah.
__ADS_1
"Gue, kan, udah bilang tadi. Lo anterin dia pulang!" Abizar memerintah dengan nada penuh penekanan, lalu masuk ke dalam lift yang sudah terbuka pintunya. Teriakan Agung sudah tidak terdengar.
"Sialan, emang! Dia pikir perusahaan ini punya abang gue, terus gue bisa pulang seenaknya di jam kerja. Dia, sih, enak emang sepupunya yang punya, lah gue ...." Agung berdecak lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian melongok lagi ke dalam ruangan.
Dilihatnya Selena tengah terpekur sambil merenung sendiri. Tubuhnya lemas menopang pada sandaran kursi. Pikirannya kosong entah ke mana, air matanya masih mengalir tanpa henti. Selena terlihat hancur dan menyedihkan. Agung sampai bingung mau berbuat apa. Walaupun dia seorang penggoda wanita, tetapi hatinya lemah saat melihat wanita menangis di hadapannya.
...*******...
"Ck, angkat dong, Bang! Lo budeg apa gimana?" Abizar yang tengah mengemudi mencoba menghubungi Devan berkali-kali dengan menggunakan handsfree. Namun, karena Kezia tidak mengizinkan Devan untuk memberitahu Abizar tentang keadaannya, sepertinya Devan sengaja tak mau merespon panggilan Abizar. Bahkan lelaki itu malah mematikan daya ponsel miliknya. Mau menghubungi ponsel Kezia juga percuma, karena Abizar tahu ponsel perempuan itu tidak dibawa.
"Brengsek! Malah dimatiin HPnya," berang Abizar sambil memukul setir kemudi. "Lo bawa ke mana istri gue? Lihat aja kalau udah ketemu. Gue bikin perhitungan sama lo, bang!" Abizar menggerutu kesal, sampai urat di lehernya pun kelihatan.
Keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya. Baru kali ini dia mengalami rasa takut kehilangan. Firasatnya sudah menjurus ke arah sana. Namun, Abizar tidak terpikir jika Kezia sudah melihat Selena. Ia hanya mengira jika Kezia tiba-tiba akan melahirkan saja, dan Devan berusaha menutupinya.
Tidak ada jalan lain selain menghubungi sang mama, karena mungkin Kezia sudah kembali ke rumah.
Namun, bukannya mendapat petunjuk, Abizar malah kena amuk. Lelaki itu dituduh teledor terhadap Kezia. Bukannya tadi Kezia pamit untuk menemui suaminya, dan sekarang Abizar malah balik bertanya tentang keberadaan istrinya.
Kebingungan Abizar semakin kentara saat dia tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa tentang di mana Kezia berada. Ia sudah menghubungi Aruna, bahkan mertuanya. Hasilnya mereka juga tidak tahu apa-apa, malah membuat orang yang khawatir jadi bertambah banyak.
__ADS_1
"Aaaaaargh!"
Teriakan kencang Abizar lontarkan di dalam mobilnya. Penampilannya sudah terlihat lusuh. Dasi yang membelit lehernya pun sudah tak serapih tadi pagi, rambutnya pun acak-acakan sekali. Dengan wajah frustrasi, Abizar pun menepi, lalu menumpukan wajahnya pada tangan yang memeluk setir kemudi. Berhenti sejenak berharap otaknya bisa sedikit berpikir jernih.
*******
Di salah satu rumah sakit, Devan tengah duduk termangu sambil menunggu di kursi tunggu. Di depannya adalah ruangan bersalin, di mana Kezia tengah berjuang untuk melahirkan anaknya Abizar.
Devan bangkit saat pintu itu terbuka, lalu keluar seorang dokter perempuan dari sana.
"Bagaimana, Dokter?" Devan langsung melontarkan pertanyaan.
"Maaf, Pak. Tubuh bu Kezia sangat lemah. Dia tidak bisa melahirkan secara spontan. Jadi, kami terpaksa harus melakukan tindakan operasi. Tolong segera urus administrasinya, Pak. Sebelum kami melakukan tindakan."
Devan terkesiap mendengar itu. Ia tidak tahu harus bertindak bagaimana. Sebagai orang luar, Devan tidak punya wewenang. Ia pun memutuskan untuk menghubungi orang tua Kezia.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1
Sambil nunggu update lagi, Yuk mampir di novel temen aku. Keren juga, loh.