Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
Bab 58. Mengaku Kalah


__ADS_3

...Happy Reading...


...----------------...


Abizar mengalami dilema, terjebak dalam dua pilihan antara perempuan yang dicintainya, dan perempuan yang menjadi ladang surganya. Ia harus memilih siapa? Keduanya sangat penting bagi Abizar.


"Mama jangan memaksaku menjadi anak durhaka?" seru Abizar.


"Jadi kamu mau memilih pergi menemui Kezia?"


Abizar tercenung lagi. Dia memang mencintai Kezia, tetapi kehilangan sang mama juga berat baginya.


"Apa Mama tega melihat aku menderita? Mama juga tahu kalau aku sangat mencintai mbak Zee."


"Mama tahu, Nak."


"Lalu kenapa Mama melarang aku untuk menemui dia? Lebih baik Mama bunuh aku aja daripada menyuruhku membuat pilihan seperti tadi. Aku nggak bisa memilih. Kalian sama pentingnya bagi aku." Abizar meraung dengan mata berkaca-kaca. Napasnya tersengal menahan rasa sesak yang melingkupi dadanya.


"Mama bukan melarang kamu menemui Kezia, tapi mama cuma takut kamu terluka. Cukup sekali mama lihat kamu dipukuli seperti waktu itu ...." Angelina mengusap wajah Abizar dengan lembut, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, "lebih baik kamu ceraikan Kezia, ya! Mungkin jodohmu bukan dia. Orang tua Kezia sudah tidak mau kalian bersama."


"Nggak!" Abizar menepis tangan Angelina sedikit kasar. Tubuhnya mundur beberapa langkah untuk memberikan jarak dengan ibunya. "Aku nggak akan menceraikan Kezia, Ma," tambahnya dengan tegas.


Angelina meraung sedih. Bulir air matanya tak bisa ditahan lagi, dibiarkan mengalir deras melewati pipi.


Tak ingin berdebat lebih jauh dengan mamanya, Abizar segera berbalik dan melangkah pergi. Namun, suara lirih Angelina yang terdengar kesakitan saat memanggilnya namanya, membuat Abizar penasaran lalu berbalik pandangan.


"Mama!"

__ADS_1


Abizar memekik sambil berlari ingin meraih tubuh mamanya yang limbung di tempat. Angelina kehilangan kesadarannya.


...******...


Suara roda brankar rumah sakit yang didorong menggema di lorong sebuah rumah sakit. Angelina tergeletak sebagai penghuninya. Ketegangan pun melekat pada wajah orang-orang yang berlarian di samping kiri dan kanannya. Di antara orang-orang tersebut, tentu saja adalah Jiro dan Abizar.


"Maaf, Pak. Sebaiknya kalian tunggu di luar saja!" Sesampainya di depan pintu ruangan IGD, Abizar dan Jiro dihadang oleh perawat. Mereka pun terpaksa menunggu di luar dengan perasaan cemas.


Cukup lama mereka menunggu, Jiro sudah mondar-mandir tidak sabar di depan pintu, sedangkan Abizar hanya duduk termangu. Pikirannya terasa buntu.


Hingga saat pintu terbuka, Jiro langsung menemui seorang dokter yang keluar dari sana. Dari penjelasan dokter tersebut Jiro dan Abizar mendapatkan kabar buruk. Angelina mengalami pecah pembuluh darah. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi fisik Angelina, karena mereka harus melakukan operasi bedah saraf mikro untuk menyelamatkan perempuan tersebut. Jika tidak ada kendala operasi akan segera dilakukan.


Hal tersebut membuat Jiro dan Abizar seolah mendapatkan pukulan, terlebih Abizar yang merasa bersalah dengan kondisi parah yang dialami mamanya tersebut. Abizar gamang dengan apa yang mesti ia lakukan. Perasaan putus asa tiba-tiba melintas di pikirannya, rasanya ingin mati saja.


"Maafkan Abi, Pa. Gara-gara Abi mama jadi kayak gini," sesal Abizar sesaat setelah Jiro selesai mengurus administrasi perawatan sang istri.


Jiro menghela napasnya, lalu menepuk bahu kiri Abizar sebelum berkata, "Sudahlah, Nak, semuanya sudah terjadi. Papa nggak nyalahin kamu. Kita berdo'a saja semoga mama kamu baik-baik saja, ya."


Dada Abizar terasa sakit setelah mengatakan hal itu. Rasanya seperti dilempar ribuan batu. Pupus sudah harapannya untuk mempertahankan cintanya terhadap Kezia. Demi kesehatan sang mama, Abizar rela menelan kesedihan.


*


*


*


Hari-hari yang membosankan dilalui tanpa kenangan. Seperti itulah kehidupan yang kini dialami Abizar. Setelah mengajukan gugatan perceraian terhadap Kezia ke pengadilan, Abizar seperti tidak punya pendirian. Lelaki itu seringkali menghabiskan waktunya dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan.

__ADS_1


Ya, Abizar telah mengaku kalah. Pada akhirnya dialah yang mengakhiri semuanya. Tentu saja hal tersebut membuat Kezia sedikit kecewa. Ia yang tidak tahu alasan sebenarnya, jadi berpikir jika Abizar lebih memilih Selena. Kini, mereka sedang menunggu hari persidangan tiba.


"Heh, ngelamun aja. Nih, buat lo."


Kezia yang tengah duduk di atas pasir di tepi pantai pun tersentak, saat Devan menyenggolnya lalu menyodorkan sebuah ice cream tepat di depan hidungnya. Kezia tersenyum kecut lalu menerima ice cream tersebut. Entah sejak kapan lelaki itu datang lalu duduk di samping Kezia. Kezia terlalu sibuk menatap deburan ombak yang berlarian ke tepian pantai. Liburan yang dijanjikan Devan pun jadi kenyataan.


Seperti hatinya yang ditarik ulur oleh Abizar, Kezia merasa dirinya seperti ombak yang dibiarkan menggapai daratan, setelah itu kembali ditelan oleh lautan. Cintanya adalah daratan itu, dan lautan adalah keegoisan Abizar.


"Makasih," ucap Kezia. Pandangannya pun kembali ke arah lautan.


"Lo nggak ikut Putri nyari kerang?" tanya Devan membuka perbincangan.


"Nggak, ah. Itu kerjaan anak kecil," kata Kezia.


Devan tersenyum sambil menatap Putri yang terlihat sibuk mengumpulkan cangkang kerang dan beberapa jenis hewan laut yang ditemukannya di pantai. Lalu pandangannya beralih kepada Kezia, senyum itu pun redup seketika.


Ditatapnya dengan lekat Wajah Kezia. Wajah yang selalu dihiasi oleh senyuman itu kini selalu terlihat bermuram durja. Ia yakin jika Kezia masih memikirkan Abizar.


"Kata om Surya, dua hari yang lalu Abi sudah lebih dulu menggugat cerai lo. Menurut lo kenapa Abizar melakukan itu?"


"Uhuk! Uhuk!" Kezia tersedak ice cream yang dimakannya saat mendengar pertanyaan Devan. Kepalanya menoleh dengan tatapan tajam.


Devan seperti sedang menabur garam di atas lukanya. Sekuat hati Kezia berusaha untuk tidak membahas hal tersebut. Ia ingin melupakan Abizar seiring berjalannya waktu. Lalu, kenapa tiba-tiba Devan membahas hal itu?


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


Sambil nunggu up, mampir di novel temenku, yuk



__ADS_2