
...Happy Reading...
......................
Selang beberapa lama setelah mereka kembali melanjutkan sarapannya. Kedatangan Devan pun menjadi pusat perhatian.
"Selamat pagi semuanya," sapa Devan dengan senyuman yang mengembang.
"Selamat pagi juga, Bang Devan." Hanya Putri yang membalas sapaan Devan dengan suara, sedangkan Surya, Kezia, dan Erna hanya tersenyum saja melihat kedatangan pria tampan itu. Aruna tidak berada di sana karena sudah pulang ke rumahnya. Dia juga harus mengurusi suaminya.
"Kamu udah sarapan?" Kini giliran Erna yang bertanya.
Devan pun menggelengkan kepalanya. "Belum, Tante. Aku sengaja datang ke sini mau numpang sarapan," kekehnya sambil tersenyum lebar.
"Dih, kebiasaan buruk Bang Devan," celetuk Putri yang sontak mendapatkan teguran berupa senggolan di bahu kiri. Pelakunya adalah Erna. Perempuan itu menggelengkan kepalanya, seolah memberikan pengertian kepada anaknya, jika yang dilakukannya itu tidaklah benar.
"Maaf, Ma," sesal Putri kemudian. Erna pun mengangguk paham.
"Ayo, duduk, Van! Tante bikin nasi goreng spesial, loh," ajak Erna setelah mengalihkan pandangannya lagi kepada Devan, lalu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng untuk diberikan kepada tamunya tersebut.
"Makasih, Tante," ucap Devan tanpa sungkan.
Devan menarik kursi kosong di sebelah Kezia. Sedikit penasaran kenapa perempuan itu dari tadi hanya diam saja. Ia pun bertanya, "Lo kenapa?"
Membuat Kezia sontak terperanjat. Pandangannya pun beralih pada Devan. "Nggak apa-apa," jawabnya singkat.
Devan mendengkus. Semenjak kehilangan anaknya, Kezia jadi sosok yang pendiam seperti ini. Devan pun berpikir untuk melakukan sesuatu, agar bisa membuat Kezia ceria seperti dulu.
"Akhir pekan ini ada rencana liburan ke mana, Om?" tanya Devan pura-pura mengalihkan pertanyaan.
"Kayaknya nggak ada, Van. Memangnya kenapa?" Surya menjawab dengan balik bertanya.
__ADS_1
"Kalau nggak ada, aku mau ngajak kalian jalan-jalan. Bagaimana?" Devan mengajak semua orang, tetapi tatapannya hanya mengarah pada Kezia.
"Horeeee ... Putri mau jalan-jalan, Pa," seru Putri bersorak semangat.
Namun, ternyata penglihatan Surya lebih peka sebagai seorang ayah. Surya tahu jika Devan ingin menghibur Kezia.
"Maaf, Sayang. Papa nggak bisa ikut jalan-jalan. Papa mau istirahat di rumah aja," ucap Surya kepada anak angkatnya tersebut, sekaligus bentuk penolakan terhadap ajakan Devan.
"Yaaah, Mama gimana?"
Putri beralih pada sang mama. Erna juga mengikuti jawaban suaminya. Putri pun tambah kecewa. Bibirnya maju beberapa senti sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kamu, kan, bisa pergi sama Kak Zee dan Bang Devan aja, Put," usul Devan.
Membuat Kezia sontak mendongakkan pandangan menatap wajah sahabatnya tersebut. "Aku juga nggak bisa," ucapnya menolak juga.
"Kenapa? Memangnya lo nggak bosen di rumah terus?"
"Gue nggak akan ngajakin lo jalan-jalan naik gunung, kok. Kita ke tempat yang enjoy aja, yang nggak perlu makan tenaga."
"Aku bilang nggak mau," kekeuh Kezia.
"Ke pantai aja, Bang. Putri suka pantai."
Devan tersenyum mendengar sahutan Putri yang menyela perbincangannya dengan Kezia. Lewat anak kecil itu, mungkin dirinya bisa membujuk Kezia.
"Bang Devan setuju banget. Kebetulan Bang Devan juga suka pantai," timpal Devan, "Tapi sayangnya kakak kamunya nggak mau," lanjut Devan pura-pura lesu.
Putri pun beralih pada Kezia, memasang wajah manis sembari sedikit meringis. "Kak Zee mau, ya? Please ...," rengeknya penuh permohonan.
Kezia menghela napas kasar, kedua bola mata berputar malas. Lalu menatap Devan dengan tatapan bengis. Ia sangat kenal dengan kelicikan lelaki itu.
__ADS_1
"Iya, Kak Zee ikut jalan-jalan," ujar Kezia mengalah.
"Yeee ... Putri sayang sama Kak Zee," seru Putri bersorak senang, sedangkan Surya, Erna, dan Devan hanya mengulas senyuman.
Bahwasanya dari dulu orang tua Kezia sudah mengetahui tentang perasaan Devan terhadap anaknya, tetapi tiba-tiba Devan ditikung oleh saudaranya sendiri. Kini, saat pernikahan Kezia harus berakhir karena orang ketiga, orang tua Kezia pun kembali mendukung Devan untuk mengejar cinta anaknya.
******
Lama tak bertemu Kezia membuat Abizar seperti orang linglung. Bolak-balik ke rumah istrinya itu juga selalu tidak beruntung. Abizar tak hanya mendapatkan penolakan, lelaki itu bahkan pernah mendapatkan beberapa pukulan.
Semenjak Surya tahu jika Abizar pernah diizinkan masuk oleh Erna tanpa sepengetahuannya, Surya jadi lebih protektif menjaga anaknya. Ia sengaja menyewa tukang pukul untuk menjaga rumahnya. Alhasil, Abizar mendapatkan banyak kejutan di tubuhnya, lantaran memaksa ingin bertemu Kezia.
"Kamu mau ke mana, Bi?" tanya Angelina saat melihat anaknya sudah bersiap untuk pergi. Tatapannya penuh selidik, khawatir Abizar akan menemui Kezia lagi.
"Jangan bilang kamu mau ke rumah Kezia lagi!" Abizar yang diam saja membuat Angelina tambah curiga.
"Memangnya kenapa, Ma? Dia istri aku, wajarlah kalau aku ingin menemuinya," seloroh Abizar.
"Ngga, Sayang. Nanti kamu dipukuli lagi." Angelina menghadang putranya dengan merentangkan kedua tangan.
"Abi nggak peduli." Abizar menerobos tubuh Angelina. Telinganya seolah tuli jika disuruh menjauhi Kezia.
"Abi! Kalau kamu bersikeras untuk pergi, jangan harap kamu bisa melihat mama lagi!"
Ancaman sang mama sukses membuat langkah Abizar tertahan. Lalu berbalik badan menghadap mamanya lagi. Tatapannya dingin tidak suka mendengar ancaman mamanya.
...To be continued...
...****************...
Sambil nunggu up, mampir ke novel temenku dulu yuk.
__ADS_1