
...Happy Reading...
...****************...
"Abang yang ngapain di sini sama perempuan ini? Ini restoran langganan aku kalau makan siang. Abang, kan, biasanya ke restoran masakan Indonesia?" cecar Aludra. Sudah satu bulan lelaki yang masih kuliah di semester akhir itu membantu kakaknya bekerja di perusahaan sang papa. Meskipun tidak full dalam satu minggu, Aludra ingin belajar mengenal dunia kerja lebih awal.
Abizar semakin gugup. Apalagi saat Aludra mengamati wajah Selena. "Eh, perasaan aku pernah lihat kamu, deh?" Aludra mengernyitkan kening, "kamu, kan, perempuan yang ditabrak Bang Abi di Zao itu," tebak Aludra yang sudah mengingat kembali wajah Selena. Perempuan itu pun tersenyum kikuk sambil mengangguk.
"Ikut gue, Al!" Belum sempat Aludra berkata lagi pada Selena, Abizar sudah menarik tangannya agar menjauh dari tempat mereka. Namun, baru saja tubuh mereka menjangkau pintu restoran itu, Abizar menyuruh Aludra untuk menunggu.
"Tunggu sebentar di sini!" titah Abizar pada adik kandungnya. Ia pun kembali masuk ke dalam restoran untuk menemui Selena. Dia lupa belum pamitan kepada kekasihnya. Abizar pun pamit kepada kekasihnya dan meminta maaf karena tidak bisa menemani Selena makan siang. Ada hal yang perlu diselesaikan. Dengan tahunya Aludra, berarti Abizar tengah berada dalam masalah besar.
Selena pun mengerti. Dia yang sudah tahu tentang perjodohan yang dihadapi oleh kekasihnya tentu saja memaklumi. Ia pun berkata sebelum Abizar pergi meninggalkannya, "Kak Abizar jangan khawatir! Aku tidak akan marah dan akan tetap mencintai Kak Abi. Kalau Kak Abi butuh bantuan aku untuk bicara sama mama dan papanya Kak Abi, aku siap membantu."
Abizar tentu saja menolak tawaran tersebut. Jika itu terjadi, masalahnya akan lebih rumit lagi.
"Ayo!" Beberapa saat kemudian Abizar kembali pada Aludra. Menggiring lelaki itu untuk kembali ke kantor mereka. Beruntung Aludra sudah selesai makan, sehingga lelaki itu tidak melewati makan siangnya. Tidak dengan Abizar, lelaki yang baru saja kepergok selingkuh itu belum sempat menyentuh makanannya.
*****
"Sekarang Abang jelasin sama aku? Ada hubungan apa Abang sama perempuan itu?" cecar Aludra setelah sampai di ruangan kerja Abizar.
"Kami cuma berteman," kilah Abizar sambil duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Aludra duduk di kursi yang berhadapan dengan kakaknya, tetapi terhalang oleh meja saja.
"Bohong. Aku lihat sendiri kalian bertingkah begitu mesra. Memangnya aku buta?" sanggah Aludra. Tatapannya memicing penuh rasa curiga.
__ADS_1
Abizar mengusung tatapan bingung kepada adiknya. Lelaki di hadapannya tersebut memang bukan anak kecil yang bisa dia bohongi mengenai hubungan yang terjadi antara dirinya dan Selena. Apalagi selama ini Aludra sudah sering bertanya, tentang ke mana saja kakaknya pergi jika hari libur kerja mereka. Sudah lama Aludra curiga tentang kelakuan kakaknya tersebut, tetapi dia tidak mau berprasangka buruk, sebelum ada bukti di depan mata.
"Oke, gue akui kalau selama ini kami berpacaran, tapi lo jangan bilang sama mama dan papa!" aku Abizar pada akhirnya.
"Gila! Jadi selama ini Abang selingkuh dari Mbak Kezia?" Aludra membelalakkan mata.
"Gue udah pacaran sama Selena sebelum menikah dengan Mbak Zee."
Aludra semakin tertohok mendengarnya.
"Tapi Abang udah merenggut kehormatan Mbak Kezia sebelum pergi ke Jepang, dan baru bertemu Selena di sini. Iya, kan?" Aludra menekan Abizar.
Abizar terdiam. Hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh adiknya tersebut.
"Benar, kan, Bang?" desak Aludra lagi. Kepalanya menggeleng tidak percaya jika kelakuan kakaknya begitu bejat rupanya, "apa Abang nggak kasihan sama Mbak Kezia dan anak yang dikandungnya?" imbuh Aludra menyudutkan sang kakak.
"Tapi gue mencintai Selena, dan nggak pernah mencintai Mbak Kezia. Gue akui gue salah waktu itu, tapi lo jangan hanya mengecam gue yang paling salah. Kalau seandainya Mbak Kezia nggak nolak waktu gue mau tanggung jawab, mungkin gue nggak akan pernah bertemu Selena. Walaupun sama-sama terpaksa, setidaknya gue bisa nerima dia dengan hati yang belum mempunyai cinta pada siapa pun juga," beber Abizar panjang lebar.
Kali ini giliran Aludra yang terdiam sambil menatap wajah bingung kakaknya. "Aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan di sini. Tapi menurutku perbuatan Abang sekarang itu tidak benar. Selama ini papa kita selalu menjunjung tinggi yang namanya kesetiaan. Apa pun alasannya, dia tidak akan membenarkan perselingkuhan," terangnya.
"Makanya lo jangan bilang sama papa!"
"Nggak bisa. Papa dan Mama harus tahu kelakuan Abang," tolak Aludra dengan tegas.
Abizar berpikir sejenak. "Asal lo tahu, Al. Mbak Kezia juga tidak mau pernikahan ini terjadi. Kami sudah membuat kesepakatan, hanya sampai anak itu lahir, kami akan segera bercerai. Jadi, nggak ada salahnya kalau sekarang gue masih berhubungan dengan Selena. Toh, pada akhirnya kami akan menikah juga."
__ADS_1
"Jodoh seseorang siapa yang tahu, Bang. Mungkin saja di tengah jalan, cinta Abang malah berpaling ke Mbak Kezia," cetus Aludra.
"Nggak mungkin, lah. Kami, kan, jarang bertemu. Lagipula perasaan gue udah mantap dengan Selena. Hati gue nggak bisa berpaling dari dia."
Aludra mencebikkan bibirnya. Dalam hatinya dia berkata, "Kita lihat saja nanti. Jika hal itu benar terjadi, Abang bakalan malu karena sudah menjilat ludah sendiri."
"Oke, aku tidak akan bilang sama mama dan papa, tapi ada syaratnya," ucap Aludra.
"Apa?" Abizar bertanya antusias. Mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan meja.
"Setengah dari warisan Abang buat aku."
"Enak aja!" Abizar langsung menolak syarat dari adiknya tersebut. Tentu saja lelaki pelit itu lebih rela kehilangan cintanya daripada kehilangan warisan. Walaupun itu cuma setengah bagian.
Aludra menarik salah satu sudut bibirnya, dan membentuk senyuman miring di sana.
"Sudah kuduga. Abang lebih sayang sama warisan daripada Selena. Itu artinya Abang belum benar-benar jatuh cinta sama dia," pungkas Aludra.
Hening seketika menyapa. Raut kegalauan kembali muncul di wajah Abizar. Apa benar yang dikatakan oleh Aludra, jika dirinya tidak benar-benar jatuh cinta pada Selena? Lalu apa arti perasaannya yang selalu merasa senang jika bertemu dengan perempuan itu?
"Jangan sok tahu, kamu! Gue yang merasakan rasa cinta itu. Memangnya lo pernah merasakan jatuh cinta juga?" sungut Abizar. Setahu Abizar, Aludra juga belum pernah berpacaran.
Aludra pun tertawa sumbang. "Dih, apa Abang lupa kalau aku mengambil program kuliah double major? Selain bisnis, aku juga mengambil kelas psikologi dalam universitas yang sama. Tentu Abang juga tidak lupa dengan kepintaran yang aku punya, kan?" Aludra menyombongkan dirinya yang mempunyai tingkat IQ di atas rata-rata. Bahkan saat dirinya belum lulus dari kuliahnya, adik kandung dari Abizar itu sudah bisa membantu kakaknya bekerja di perusahaan sang papa.
Abizar semakin tidak bisa berkutik di hadapan Aludra yang seperti cenayang itu. Pikirannya semakin gamang di saat harus memilih antara cinta dan harta warisan. Hatinya pun mulai sedikit meragukan, apakah cintanya kepada Selena hanya sekadar kekaguman?
__ADS_1
...****************...
...To be continued...