
...Happy Reading...
...****************...
"Bi, tamu kita sebentar lagi datang. Lo udah siapin semua materinya, kan?" Juno bertanya kepada Abizar yang tengah duduk di ruang kerjanya.
Abizar mendongakkan pandangan dari laptop pada sepupunya yang baru datang. "Udah, Bang. Semuanya udah siap," jawabnya.
Juno merangsek masuk ke ruangan, lalu duduk di kursi yang berada di depan meja Abizar. "Good job! Kalau lo bisa dapatin projek mereka, gue kasih lo bonus gede bulan ini," katanya.
"Beneran, ya."
"Iyalah, masa gue bohong. Ini perusahaan gue, ya, kalau lo lupa," sarkas Juno menyombongkan diri.
Abizar merotasikan kedua matanya, malas. "Iya, Bos besar," cibirnya.
Juno berdiri kembali setelah melihat jam yang melingkar di tangannya. "Gue balik ke ruangan gue dulu, lah. Nunggu tamu kita di sana. Nanti gue telepon lo kalau rapatnya mau mulai," katanya lalu berjalan keluar dari ruangan Abizar.
Abizar menghela napas panjang lantas mengeluarkannya perlahan. Ini kali pertamanya ia menghadapi klien penting selama dirinya bekerja di perusahaan Juno. Di dunia bisnis, Abizar memang masih awam. Ia masih harus banyak belajar.
"Gue pasti bisa," ucapnya optimis. Kedua matanya terpejam sejenak, di situ bayangan wajah Kezia tiba-tiba tercetak. Senyuman terukir mengiringi kelopak matanya yang terbuka. Hatinya menghangat saat mengenang wajah istrinya.
"Ah, iya. Bukannya Mbak Zee mau ke sini," ucap Abizar, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Abizar hendak menghubungi istrinya.
"Lagi ngapain, sih? Kenapa nggak diangkat-angkat?" Setelah menempelkan benda pipih itu di telinga, panggilannya tak kunjung mendapatkan jawaban dari si empunya nomor. "Apa lagi di jalan? Tapi, kan, dia diantar sopir. Masa nggak kedengeran suara ponsel," gerutu Abizar lagi.
__ADS_1
Berkali-kali ia melakukan panggilan terhadap istrinya tersebut, tetapi hasilnya masih tetap sama. Abizar hanya bisa mengelus dada. "Coba sekali lagi, deh. Kalau kali ini masih nggak diangkat, berarti gue dapat hadiah piring cantik gara-gara udah sebelas kali telepon nggak diangkat terus." Abizar terus menghubungi istrinya tanpa putus asa.
Namun, lama-lama Abizar pun bosan juga. Akhirnya dia menelepon sang mama.
"Kezia berangkat ke kantor kamu bareng mama."
Begitulah jawaban Angelina saat Abizar bertanya, 'Apa Kezia sudah pergi dari rumah mereka?'
"Loh, kenapa? Mama ngidam mau makan siang bareng sama Abi juga?" celetuk Abizar.
"Ngaco, kamu. Ya enggak, lah. Sopir kita nggak bisa antar Kezia, karena hari ini oma mau terapi. Jadinya kami berangkat bareng. Mama anterin Kezia dulu ke kantor kamu, abis itu ke tempat terapi oma," terang Angelina.
Abizar menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Oh, kirain ...," kekehnya, "eh, terus kenapa tadi aku telepon Mbak Zee berkali-kali, tapi nggak diangkat?" tanyanya minta penjelasan.
"Denger sendiri, kan?" tanya Angelina pada anaknya yang masih menelepon.
"Iya, denger. Aku mau bicara sama Mbak Zee, dong. Dua telinga aja."
"Maksudnya?" Angelina tidak mengerti perkataan aneh anaknya.
"Maksudnya aku mau ngomong berdua aja, nggak usah diloudspeaker. Kasih HPnya ke Mbak Zee, Ma."
Kezia tertawa pelan mendengar suaminya berkata seperti itu pada sang mama, sedangkan Angelina menghela napas kasar. "Dasar aneh!" sembur Angelina lalu memberikan ponselnya kepada Kezia. Tak lupa menekan tombol unloudspeaker untuk mengecilkan suara lawan bicaranya.
Namun, di saat yang berbarengan, telepon di atas meja Abizar berdering kencang. Lelaki itu pun lantas mengangkatnya setelah meminta Kezia untuk menunggu.
__ADS_1
"Oh, iya, Bang. Sebentar lagi aku ke sana." Telepon itu berasal dari Juno. Atasan sekaligus sepupunya itu mengabarkan jika klien mereka sudah datang, dan rapat penting akan segera dimulai. Panggilan dengan Juno pun selesai, lalu Abizar kembali pada panggilan teleponnya bersama Kezia.
"Sayang, aku harus rapat sekarang. Nanti kalau kamu sudah sampai kantor, langsung ke ruangan kerja aku aja, ya. Tunggu jam istirahat tiba, kita makan bareng, oke."
Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, panggilan telepon mereka pun berakhir. Abizar menelepon temannya—Agung, untuk menjemput Kezia di lobi. Takut istrinya nyasar, Abizar pun mengirim pengawal.
Abizar pun bergegas menyiapkan semua bahan materi yang akan dia presentasikan di depan klien. Namun, saat semua berkas sudah siap, Juno menelepon lagi. Katanya rapatnya diundur setelah makan siang nanti.
"Ah, brengsek emang! Rambut gue udah ikut berdiri gara-gara tegang mau ketemu klien penting. Ini malah seenak jidatnya bilang nggak jadi. Kenapa nggak bilang dari tadi, Onta!" sungut Abizar yang tentu saja dilontarkan setelah panggilan teleponnya selesai.
"Tapi nggak apa-apa, lah. Bukannya istri gue udah deket, ya. Berarti bisa makan siang bareng dulu sama dia." Seperti orang gila, Abizar yang semula marah-marah, kini malah tersenyum bahagia. Ia pun menunggu sambil melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Beberapa menit menunggu, terdengar suara ketukan pintu. "Nah, itu pasti Mbak Zee, tapi kok, cepet banget, ya?" Dengan semangat Abizar langsung melangkahkan kakinya menuju pintu hendak menyambut istri tercintanya. Namun, saat pintu itu terbuka, kedua matanya juga ikut terbuka sempurna. Ia melihat sosok lain di sana. Bukan Kezia, melainkan ....
"Selena?"
...****************...
...To be continued...
Guys, mampir di novel temen aku, yuk
Judulnya:
__ADS_1