
...****************...
...Happy Reading...
"Musibah, ya? Lalu kamu pikir menikahi kamu itu sebuah anugerah? Jangan sok keren, kamu!" cibir Kezia.
Abizar melipat tangannya di depan dada sambil mendongakkan kepala, bersikap angkuh di depan istrinya. "Tentu saja. Setidaknya Mbak bisa menikahi daun muda. Bukannya itu merupakan hal yang luar biasa," ucapnya bangga.
"Ck, narsis!" Kezia berdecak malas sambil merotasikan kedua bola matanya. Sikap Abizar membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya.
"Iya, lah, Mbak seharusnya beruntung mempunyai suami setampan dan semuda aku. Bukannya berselingkuh saat suaminya kerja di luar negeri. Lagi hamil juga nggak tahu diri."
Mulut Abizar seolah tidak mempunyai saringan. Semakin lancang dia menghina Kezia dengan perkataan menyakitkan.
"Cukup, Abi! Aku nggak pernah selingkuh sama Devan. Yang ada kamu yang selingkuh dengan perempuan lain di Jepang sana. Jangan memutarbalikkan fakta!"
"Aku nggak memutarbalikkan fakta. Aku jujur sudah selingkuh, tapi selingkuh dari pacar aku dan menikahi Mbak, karena kita menikah setelah aku berpacaran dengan Selena. Pacar aku pasti akan sakit hati kalau sampai tahu. Kalau saja waktu itu mama nggak pingsan, aku juga akan kabur dari pernikahan."
Bibir Kezia sedikit ternganga dengan pemikiran Abizar. Sebenarnya apa yang di dalam otak lelaki itu. Sudah jelas hubungan mereka lebih tinggi derajatnya dari sekadar pacaran. Mereka sudah mengucapkan janji pernikahan atas nama Tuhan, dan diakui oleh seluruh orang yang menyaksikan. Namun, lelaki itu malah menganggap pernikahan suci itu sebagai perselingkuhan dari hubungan pertamanya yang masih berstatus pacaran.
"Kenapa nggak kamu lakuin aja, hah?" sentak Kezia, membuat Abizar berjingkat seketika. Dia terkejut tentu saja.
"Aku beneran nggak ngerti sama pikiran kamu, Abi. Kalau aku bisa memilih siapa yang pantas menjadi ayah dari bayiku ini, sudah tentu aku akan memilih Devan. Namun, sayangnya dia terlalu baik untuk menanggung kesalahan aku dan kamu. Devan memang pernah menawarkan diri untuk bertanggung jawab sebelum kita menikah, tetapi aku menolak karena ini bukan tanggung jawab dia. Jika tahu akan begini, aku pasti akan menerima tawaran Devan saat itu," sambung Kezia lagi. Ia tersenyum pelik saat mengenang kebaikan Devan. Pikirannya menerawang jauh membayangkan perlakuan manis lelaki itu saat memberikan perhatian. Sungguh berbeda dengan sikap Abizar.
Melihat suaminya diam saja tanpa membantah perkataannya, Kezia lantas menuju lemari pakaian, mengambil koper dan mengisinya dengan pakaian miliknya. Hal itu membuat Abizar mengernyit heran.
"Mbak mau ngapain?" tanya Abizar.
__ADS_1
"Mau pulang ke rumah orang tua aku," jawab Kezia tanpa menghentikan aktivitasnya memasukkan baju.
"Jangan!" cegah Abizar cepat. Membuat kepala Kezia sontak mendongak.
"Kenapa? Bukannya keberadaan aku hanya musibah buat kamu?"
Abizar bergeming, menatap pancaran bening yang berkilat di kedua netra istrinya. Sepertinya perempuan itu tengah menahan tangisnya. Hingga cairan itu memupuk di sudut matanya.
"Nanti aku bisa dimarahin mama, kalau dia tahu kamu pergi begitu aja."
Kezia menghela napas kasar. Alasan itu sungguh tidak masuk di akal dan sangat membuatnya kesal. Ternyata Abizar hanya mementingkan dirinya sendiri dan perasaan ibunya saja.
"Bodo amat!" Kezia mengalihkan pandangannya lagi pada kopernya tadi. Melanjutkan aktivitasnya memasukkan pakaian yang akan dia bawa pergi.
"Mbak, jangan kayak anak kecil, deh! Kalau ada masalah solusinya pasti kabur dari rumah." Abizar menghentikan langkah Kezia yang hendak keluar kamar.
"Lalu aku harus bilang apa sama mama dan papa kalau mereka tanya?"
"Terserah kamu mau bilang apa. Bukannya tadi kamu bilang juga terserah aku mau lakuin apa aja," jawab Kezia.
"Tapi nggak pulang ke rumah Mbak sekarang juga. Kita baru sampai. Pasti jadi pertanyaan orang tua aku, kalau mereka tahu. Aku harus jelasin apa? Pasti mereka akan menyalahkan aku, kalau aku bilang Mbak kabur dari rumah." Abizar berjalan ke arah pintu. Menjadikan tubuhnya sebagai tameng agar Kezia tidak bisa keluar dari ruangan itu.
"Minggir, nggak?" Seperti anak kecil yang melarang temannya pergi. Abizar merentangkan kedua tangannya menghalangi tubuh Kezia.
"Nggak bisa. Langkahin dulu mayatku!"
"Heh! Jangan lebay, deh. Dasar bocah!" pekik Kezia. Ia menerobos tubuh Abizar, tetapi lelaki itu berusaha untuk tetap kuat setegar batu karang.
__ADS_1
Abizar malah memeluk tubuh Kezia dengan kencang, lalu menggiringnya kembali ke dalam. Dikarenakan tubuh Kezia yang terus memberontak, kaki mereka pun terantuk badan ranjang dan hilang keseimbangan. Hingga keduanya terjengkang, lalu jatuh ke atas tempat tidur, dengan posisi Kezia berada di bawah kungkungan Abizar.
Sejenak keheningan menguasai ruangan tersebut. Keduanya sama-sama terkejut dengan tatapan saling bertaut. Satu detik, dua detik, hingga beberapa detik mereka lewati tanpa suara. Hingga akal sehat Kezia kembali dan langsung mendorong tubuh Abizar dengan kuat. Tubuh Abizar pun bergulir ke samping Kezia, lantas perempuan hamil itu langsung bangkit dari posisinya.
"Kamu pasti cari kesempatan lagi, kan? Dasar messum!" umpat Kezia.
"Dih, PeDe banget, sih! Kalau aja tadi Mbak nggak dorong-dorong aku, kita juga nggak akan terjungkal ke tempat tidur. Lagian dulu juga kalau bukan Mbak yang godain aku duluan, mana mau aku menyentuh perempuan tua kayak Mbak."
"Apa kamu bilang? Aku perempuan tua?" Amarah Kezia semakin tersulut dengan perkataan Abizar. Gurat kemarahan terpancar jelas pada wajahnya yang terlihat kemerahan seperti terbakar.
"Iya, lah. Nggak nyadar." Tanpa rasa bersalah, Abizar bicara dengan nada santai.
Kezia semakin berang, ia mengambil bantal lalu memukuli Abizar secara membabi buta.
"Aduduh, Mbak. Sakit! Apa-apaan, sih!" Berteriak seperti itu, tak membuat pukulan demi pukulan berhenti mengenai tubuhnya. Hingga puas Kezia melakukannya, dia pun melemparkan bantal tersebut tepat ke wajah Abizar.
"Aku benar-benar muak lihat wajah kamu, Abi!" Setelah berkata seperti itu, Kezia langsung berbalik hendak pergi.
"Mbak, jangan pergi!" cegah Abizar, "setidaknya jangan sekarang, besok pagi aja aku antar. Biar aku bisa kasih alasan yang tepat sama mama," ralatnya cepat.
Kezia berdecak. "Nggak mau. Aku maunya sekarang, dan akan kembali kalau kamu pergi lagi ke Jepang. Kalau kamu berani menghalangi aku lagi, aku akan berteriak dengan kencang, biar sekalian orang tua kamu dengar dan datang ke sini sekarang."
Abizar membungkam mendengar ancaman Kezia, sehingga lelaki itu tidak berani untuk berkata lagi.
Melihat suaminya terdiam, Kezia pun melengos pergi. Meninggalkan Abizar yang masih bergeming di tempatnya. Beruntung orang tua Abizar sudah masuk ke kamar mereka, sehingga mereka tidak tahu Kezia pergi dari rumah itu.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...