
...Happy Reading...
...****************...
"Lo?"
"Abi?"
Kedua lelaki itu saling menunjuk wajah satu sama lain. Sorot kebencian kemudian terpancar dari tatapan Abizar. Urat kemarahan pun tercetak di lehernya, sebelum ia meraih kerah baju lelaki di hadapannya tersebut.
"Brengsek lo, ya! Ke mana aja lo? Mana juga si Sona sama si Komar? Gue belum bikin perhitungan sama kalian, ya!"
Lelaki itu ternyata adalah Agung—teman kampusnya yang pernah menipu Abizar kala itu. Semenjak kejadian itu, ketiga sahabatnya tersebut memang selalu menghindar jika berpapasan dengan Abizar. Membuat lelaki itu menyimpan rasa dendam.
"Ampun, Bi, ampun! Itu semua rencananya Sona. Gue cuma ikutan aja." Agung berusaha melepaskan tangan Abizar yang mencengkram kerah bajunya. Kedua matanya melirik pada pintu lift, berharap benda persegi panjang itu lekas terbuka. Sehingga dirinya bisa kabur dari sana.
"Halah, alasan aja lo. Kalian bertiga emang sama brengseknya!"
"Yaelah, Bi. Cuma duit segitu aja, lo sampe segitunya dendam sama kita. Gue ganti, deh," celetuk Agung membuat Abizar mendengkus kesal.
Pasalnya, hari itu selalu melekat di kepala Abizar, dan sudah ia nobatkan sebagai hari tersial dalam hidupnya. Yakni hari di mana ia harus berurusan dengan Kezia, sehingga Abizar selalu melampiaskan kesialannya tersebut terhadap ketiga sahabatnya. Kalau bukan karena mereka menguras isi dompetnya kala itu, mungkin Abizar tidak akan mau menemani Kezia minum malam itu,
"Oke. Lo ganti sepuluh kali lipat!" sungut Abizar.
"Ah, gila! Yang bener aja! Gue makannya nggak banyak waktu itu," tolak Agung.
"Kerugian gue bukan cuma duit soalnya. Jiwa dan batin gue juga kena."
Agung mengernyit bingung. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Abizar yang terkesan lebay.
"Masa sampe segitunya, Bi? Lo frustrasi gara-gara kehilangan duit recehan? Beneran bakhil lo ...." Agung berasumsi tanpa sadar.
"Apa lo bilang?" Abizar semakin menguatkan cengkeramannya pada kerah baju Agung. Berbarengan dengan pintu lift yang terbuka dan hal itu membuat Agung merasa lega. Mereka sudah sampai di lantai lima.
Abizar sontak melepaskan kerah baju Agung, tetapi dengan sigap memegangi lengan lelaki itu dengan kencang, lalu membawanya menuju ruangan kerja Abizar. Kali ini dia harus melampiaskan rasa kesalnya pada salah satu sahabat yang sudah menipunya tersebut.
...*****...
Di sebuah restoran terkenal dengan makanan yang serba mahal, Abizar bersama kedua temannya—Agung dan Komar sudah janjian makan siang. Sesuai perintah Abizar, Agung menghubungi Komar yang juga bekerja di perusahaan milik Juno, sedangkan Sona tidak bisa datang lantaran bekerja di perusahaan keluarganya di luar kota.
__ADS_1
"Jadi lo berdua kerja di perusahaan Bang Juno pake nama gue juga?" Abizar mencecar dua sahabatnya, setelah mereka bercerita kenapa bisa bekerja di perusahaan sepupunya tersebut.
"Iyalah. Abang lo, kan, baik hati dan tidak pelit. Kita juga sering ketemu dia waktu kita masih kuliah. Masa iya nggak kenal sama kita?" sahut Agung.
"Sialan, lo pada! Temen macam apa yang suka manfaatin temennya sendiri!" sungut Abizar. Agung dan Komar hanya tersenyum pelik tanpa berkomentar.
"Gue denger lo kerja di Jepang, makanya kita berani melamar kerja di perusahaan sepupu lo," celetuk Agung sambil menyengir kuda, lalu diangguki oleh Komar.
"Sorry, ya, Bi. Sebenarnya gue udah punya niat mau balikin duit lo, kalau lo pulang, kok."
"Sekarang gue udah pulang," cetus Abizar dengan ketus menatap Komar.
"Iya, kita bakalan ganti. Lo tenang aja!"
Helaan napas kasar terlontar ke udara. Sebenarnya bukan masalah uangnya. Abizar hanya ingin melampiaskan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Anggap saja kedua sahabatnya itu sebagai bahan pelampiasan. Kan, lumayan?
"Gue nggak butuh duit. Gue minta kalian penuhin kemauan gue aja. Saat gue butuh kalian, kalian harus ada."
Komar dan Agung serempak mengernyitkan kening.
"Lo mau kita jadi jongos lo?" celetuk Agung.
"Sama aja," cebik Komar.
"Kalau kalian nggak mau, gue bisa aja bilang ke Bang Juno buat mecat kalian dari perusahaan."
"Kok, mainannya ngancam?" Agung mendelik kesal.
"Nggak ngancam, cuma kasih pilihan." Abizar mengedikkan bahunya tidak peduli.
Agung dan Komar pun saling pandang. Lelaki itu memang bisa super tega walaupun dengan teman sendiri.
"Gimana?" Agung bertanya pada Komar sambil menaikkan dagunya.
Komar menghela napasnya, selain menyetujui, dia tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak mau kehilangan pekerjaannya.
"Gue, sih, mau aja. Asal permintaan lo jangan keterlaluan aja," ujar Komar menatap Abizar.
Abizar tersenyum penuh kemenangan. "Nah, gitu, dong. Itu baru namanya temen," ujarnya. Lalu beralih pada Agung yang belum memberikan keputusan, "lo gimana, Gung? Mau ngikutin permintaan gue, apa lo mau kerja ditempat lain?" tanyanya sedikit mengancam.
__ADS_1
"Ck, dasar licik, lo!" Agung berdecak kesal, "gue ngikut juga, lah!" cetusnya dengan terpaksa. Abizar tersenyum lagi menanggapinya.
"Oke, berarti sepakat, ya! Mulai sekarang kalau gue butuh bantuan, kalian harus siap sedia!"
"Hmmm," gumam Agung sambil mencebikkan bibirnya, sedangkan Komar hanya menganggukkan kepalanya.
Perbincangan mereka pun berlanjut sambil menyantap makanan yang sudah dipesan. Mereka mengobrol panjang lebar termasuk masalah pribadi masing-masing, karena pada dasarnya mereka adalah sahabat satu frekuensi. Mereka kerap bercerita apa saja, bahkan bisa bercerita tentang hal pribadi sekalipun. Abizar juga tidak sungkan menceritakan tentang pernikahannya dengan Kezia, serta alasan dia kembali ke Indonesia.
"Itu, sih, beneran apes, Bi." Agung mengomentari cerita Abizar.
"Menurut gue mah nggak. Orang dia udah enak duluan. Ya, wajar lah kalau sekarang dia bertanggung jawab," timpal Komar.
"Iya juga. Lo udah enak, Bi. Masa abis enak langsung lo buang?"
"Berisik, lo!" ketus Abizar.
Agung pun tertawa kecil meledek Abizar, sedangkan Komar hanya menyunggingkan senyuman. Tidak ada bahan perbincangan
setelahnya. Beberapa saat mereka hanya fokus pada makanannya.
"Eh, Bi. Istri lo, kan, lagi hamil besar. Anak lo harus sering ditengokin, tuh. Biar nanti proses lahirannya lancar," celetuk Agung setelah beberapa saat tidak ada bahan perbincangan.
"Ditengokin? Di dalam perut? Gimana caranya?" tanya Abizar sekaligus. Keningnya berkerut berusaha mencerna perkataan sahabatnya tersebut.
"Lo pura-pura bego, apa emang bego beneran? Masa kayak gitu aja nggak tahu. Gue aja yang belum nikah tahu," seru Agung, lalu meminum air untuk melegakan tenggorokannya.
"Gue beneran nggak tahu. Lagian lo tahu dari mana kalau belum punya pengalaman. Jangan sok tahu, ya?" cetus Abizar.
"Dih, gini-gini gue selalu update, dong." Agung berujar dengan bangga, "kalau lo nggak percaya, lo tanya aja sama Komar! Dia kan udah pengalaman." Dagu Agung mengarah pada Komar yang memang sudah dinikahkan oleh orang tuanya semenjak kuliah, lantaran ada perjanjian di antara keluarga mereka.
Abizar menolehkan kepala kepada Komar. Ia baru ingat jika temannya tersebut sudah mempunyai seorang anak perempuan yang masih berumur dua tahun. Seharusnya dia banyak belajar dari lelaki itu.
"Gimana caranya, Mar?" tanya Abizar penasaran.
"Ehm ... itu ..., lo sama istri lo harus sering berhubungan badan, karena di saat istri hamil, terus udah masuk trimester ketiga, butuh rangsangan buat meregangkan otot jalan lahir bagi bayi," terang Komar sedikit malu. Sebelum berkata pun dia harus menoleh dulu ke sekitar, takut-takut ada orang lain yang mendengar. Komar memang sedikit pemalu dan paling kalem di antara mereka.
...Happy Reading...
...****************...
__ADS_1