Terjebak Cinta Mbak-Mbak

Terjebak Cinta Mbak-Mbak
22. Perintah Sang Mama


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Sepeninggal Kezia, Abizar tercenung sendirian. Hatinya dirundung rasa menyesal. Kenapa mulutnya begitu lancang berkata seperti tadi kepada istrinya?


Setelah berpikir panjang, Abizar merenungkan kesalahannya dan mencerna semua perkataan Kezia. Semua yang dikatakan perempuan itu mengena di hati dan pikirannya. Di sudut relung hatinya yang terdalam, dia bisa menarik sedikit kesimpulan, jika Kezia sama sekali tidak berbohong tentang hubungannya dengan Devan, pun dengan anak yang dikandung Kezia. Abizar sedikit yakin, jika itu adalah anaknya.


"Kenapa mulut gue jahat banget sama Mba Zee, ya? Pasti dia marah banget terus nggak mau pulang lagi ke sini. Haih ... Gue mesti gimana? Gue emang kesel, sih, gara-gara dia deket-deket terus sama Bang Devan. Kadang-kadang perempuan dewasa emang keras kepala juga, sih. Udah gue larang tetep dilakuin aja."


Abizar menghela napas kasar, sambil mengacak rambutnya kesal. Lalu terbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Di saat seperti itu, entah kenapa pikirannya menerawang jauh pada kejadian malam panasnya bersama Kezia. Abizar membayangkan betapa polosnya wajah Kezia saat dikuasai olehnya dulu.


"Tapi waktu itu dia manis banget. Gue jadi nggak bisa nahan diri buat nggak nyentuh dia." Abizar tersenyum sendiri membayangkan hal itu, tetapi sejurus kemudian dirinya sadar dengan apa yang dia bayangkan. Sungguh tak sesuai dengan perasaannya terhadap Kezia sekarang.


"Kenapa gue jadi bayangin kejadian malam itu, sih? Sial!" decak Abizar sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ego dalam hatinya kembali bertahta, ia pun memilih untuk masa bodoh dengan kepergian Kezia.


"Bodo amat, lah, dia mau balik lagi ke sini atau nggak. Yang penting, kan, gue udah berusaha ngelarang dia. Justru lebih bagus kalau dia nggak pulang lagi, dengan begitu gue bisa cepet terlepas dari pernikahan ini," tutur Abizar sambil menyunggingkan senyuman miring.


Setelah itu, Abizar memilih untuk tidur. Tanpa Kezia, ia bisa bebas memilih tempat untuk tidur dengan nyaman. Tanpa Zona terlarang dan batas wilayah kekuasaan. Dengan kepergian Kezia, Abizar bisa tidur dengan tenang.


*****


Kicauan burung-burung kecil terdengar di balik dahan pepohonan. Sayup-sayup suaranya begitu merdu menembus jendela kamar. Seolah mengiringi cahaya mentari pagi yang gagah menyinari. Pertanda malam hari telah berganti.


Abizar bangun pagi dengan wajah lebih segar. Sepertinya kepergian Kezia tak membuat lelaki itu kepikiran dan tidak bisa tidur. Ia malah terlihat biasa saja tanpa beban dan rasa bersalah. Lelaki itu keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan keluarga untuk mendapatkan sarapannya.


"Kezia belum bangun, Bi? Kenapa nggak diajak sarapan sekalian?"


Mendapat pertanyaan seperti itu dari sang mama, Abizar sedikit kelimpungan. Dia lupa jika istrinya telah kabur semalam. Lelaki itu berpikir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Abi, ditanya malah ngelamun!" sentak sang mama yang merasa heran.


"Ehm ... itu, Ma. Anu ...."


"Anu apa, sih?" Angelina semakin bingung dengan sikap anaknya tersebut.


"Mungkin mereka habis menghabiskan malam bersama, Ma. Jadi Kezia masih capek dan belum bangun sampai sekarang. Mama kayak nggak pernah muda aja. Mereka, kan, baru ketemu setelah sekian lama berpisah," celetuk Jiro sambil terkekeh kecil, lalu meneguk minuman berwarna putih dari gelas yang dia pegang.


Angelina pun ikut terkekeh mendengar kelakar suaminya, "Bener itu, Bi? Kalau begitu nanti bawain sarapan Kezia ke kamar aja, ya!" titah Angelina setelah beralih pada anaknya lagi.


"Eh, bu—bukan gitu, Ma, Pa. Sebenarnya ... semalam Mbak Zee pulang ke rumahnya sendirian." Abizar berkata gugup sambil menundukkan kepalanya.


"Apa? Pulang ke rumahnya? Bukannya semalam dia pulang ke sini bareng kita?" cecar Angelina. Dia terkejut mendengar hal itu, begitupun dengan Jiro yang langsung menopang dagu menunggu penjelasan anaknya lagi.


"Dia memang pulang ke sini, tapi semalam kami bertengkar dan Mbak Zee memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Abi udah larang, kok, Ma. Mbak Zee—nya aja yang keras kepala. Dia pergi tanpa memedulikan larangan Abi. Istri macam apa dia?" terang Abi, dan berpura-pura bersikap tegas laksana suami bertanggung jawab pada umumnya.


"Kamu yang suami macam apa? Ngebiarin istri yang sedang hamil pulang sendirian malam-malam."


"Tapi, Ma. Mbak Zee yang maksa pulang sendiri. Dia nggak mau dianterin Abi," kilah Abizar membela diri.


"Mama nggak mau tahu, pokoknya kamu harus menjemput Kezia sekarang juga! Kalau dia nggak mau pulang ke sini, kamu juga nggak usah pulang sekalian," ancam Angelina tak mau ada bantahan.


"Kok, Mama gitu, sih? Sebenarnya yang anak Mama itu aku apa Mbak Zee?" Abizar protes dengan keputusan mamanya.


"Ya, kamu, lah, anak mama. Tapi di perutnya Kezia ada cucu mama juga. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama cucu mama, ya!" tegas Angelina.


Abizar mendengkus. Sepertinya dia tidak bisa membantah perintah sang mama.


"Iya, iya. Nanti siang Abi jemput Mbak Zee ke rumahnya." Abizar akhirnya pasrah dan bersedia.

__ADS_1


"Abis sarapan. Kalau siang kelamaan."


"Ma ...." Abizar merengek seperti anak kecil. Ini masih malas kalau harus pergi pagi-pagi.


Namun, rengekan Abizar tidak dipedulikan oleh Angelina. Perempuan paruh baya itu terlihat sibuk menuangkan makanan di piring Jiro, sambil bercengkrama tanpa menoleh pada anaknya. Abizar menghela napas kasar, mau minta bantuan sang papa juga percuma. Lelaki bucin itu tidak akan membelot dari istrinya. Apa pun kata sang mama, papanya selalu menurutinya.


*****


Sedangkan di tempat yang berbeda, Kezia yang pulang ke rumahnya tentu dicecar dengan banyak pertanyaan juga oleh orang tuanya juga.


"Kenapa kamu tiba-tiba pulang semalam, Zee? Bukannya kamu pulang ke rumah mertua kamu, ya?" tanya Surya menginterogasi anaknya setelah sesi sarapan selesai.


Kezia menundukkan kepalanya. Otaknya berpikir keras untuk melontarkan jawaban yang tepat dari pertanyaan tersebut. "Semalam Zee sama Abi sedikit berselisih, Pa," jawab Kezia yang merasa buntu tidak menemukan alasan lain lagi. Akhirnya dia hanya bisa berkata jujur.


"Berselisih tentang apa?"


Kezia mendongak menatap wajah sang papa. Kali ini dia tidak mungkin jujur, jika suaminya telah menuduh anak yang dikandungnya adalah anak Devan. Hal itu hanya akan mengundang kemarahan Surya, dan tentu saja akan langsung melabrak Abizar.


"Hanya masalah kecil, Pa. Kami berdua hanya butuh introspeksi diri aja. Jika suasana hati Zee udah tenang, Zee bakal balik lagi ke sana, kok."


Surya menghela napasnya mendengar alasan Kezia. Usapan lembut ia berikan di puncak kepala anak perempuannya itu. "Apa pun masalah kamu, papa harap kamu bisa menyelesaikannya dengan pikiran jernih, Nak. Dalam rumah tangga, pasti akan ada perselisihan di antara suami istri. Apalagi kalian baru saling mengenal. Pasti ada perbedaan pendapat yang harus kalian luruskan. Itulah fungsi pernikahan. Kamu harus tetap sabar!"


Kezia mengerjap kaku sambil merenungkan petuah dari papanya. Pernikahan seperti itu mungkin wajar bagi kebanyakan pasangan, tetapi tidak dengan pernikahannya bersama Abizar. Pernikahan mereka hanya berlandaskan keterpaksaan.


...****************...


...To be continued...


Diminta tolong buat promosi novel temen, padahal novel sendiri juga masih sepi. Semoga novel kami sama-sama banyak yang baca, ya 😁

__ADS_1



Silakan mampir, Teman-teman. 🥰


__ADS_2